Kata-kata yang dilontarkan Dr Antonia LaPlagia itu membuat Ikal melonjak kegirangan. Pernyataan petinggi Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Sorbonne itu seolah menjadi fatwa yang menyatakan Ikal lulus dari program master perguruan tinggi bergengsi di Prancis tersebut.
Tapi, setelah meraih gelar master itu, Ikal tak segera pulang ke Indonesia. Ia malah memutuskan melakukan napak tilas, menyusuri kota-kota yang pernah ia singgahi selama di Eropa. Kisah pengembaraan Ikal itu menjadi pembuka cerita novel Maryamah Karpov, bagian terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang diluncurkan pada Jumat dua pekan lalu.
Maryamah berkisah tentang kembalinya Ikal ke tanah Belitong, setelah ia menempuh studi di Jakarta dan Eropa. Boleh dibilang, kisah yang disajikan dalam novel setebal 510 halaman ini mirip novel pertamanya, Laskar Pelangi. Sama-sama menceritakan kehidupan masyarakat Belitong serta kebersamaan anggota Laskar Pelangi.
Ikal menceritakan kembali rasa kebersamaan di antara anggota Laskar Pelangi sebagaimana saat mereka masih bersama di SD Muhammadiyah Gantong. Lintang, Mahar, Samson, Akiong, Syahdan, Sahara, Kucai, Flo, Trapani, dan Harun muncul saat Ikal dirundung masalah.
Usahanya mencari A Ling dipastikan tak semanis ketika dia menyelesaikan studinya di Eropa. Gadis bertato kupu-kupu di lengannya itu diduga ditahan oleh kelompok bajak laut pimpinan Tambok di Pulau Batuan dalam perjalanannya ke Singapura.
Perjalanan menuju pulau itu harus ditempuh menggunakan perahu. Tak ada yang berani mengantar atau meminjamkan perahunya kepada Ikal. Mereka takut akan kekuatan Tuk Bayan Tula, dukun ilmu hitam yang berada di sebuah pulau dekat Belitong. Kelompok bajak laut pimpinan Tambok, yang menguasai Selat Malaka, juga menjadi alasan lainnya.
Tak ada pilihan bagi Ikal selain membuat perahu sendiri. Tak ayal, niat itu justru mendapat cemoohan dari warga dan menjadi taruhan pria-pria di warung kopi \"Usah Kau Kenang Lagi\". Budaya taruhan memang menjadi tradisi di Gantong, kampung halaman Ikal.
Lintang, sang ilmuwan idola Ikal, berperan dalam proses awal pembuatan perahu. Dengan analisis fisika, Lintang membuatkan perhitungan desain, dimensi, dan ukuran perahu. Kecemerlangan otak Lintang kembali muncul ketika Ikal akan mengangkat perahu Lanun kuno yang terbenam puluhan meter di dasar sungai.
Dengan kemampuan analitisnya, Lintang mengurai rumus tekanan dan momentum untuk mengangkat perahu yang telah terbenam puluhan tahun itu. Cerita tentang Lintang inilah kemudian yang terasa hiperbolis. \"Kecerdasan saya mungkin di atas rata-rata. Tapi Lintang lebih pandai daripada saya,\" kata Andrea.
Mahar, si pemuja ilmu hitam, diandalkan Ikal untuk mengatasi Tuk Bayan Tula saat mereka menempuh perjalanan ke Pulau Batuan. Dengan berbagai gaya diplomasi, antara lain, memberikan televisi bekas yang tak ada gambarnya, akhirnya Tuk Bayan Tula bersedia membantu Ikal melobi Tambok.
Lalu siapa Maryamah Karpov? Jangan menebak bahwa itu nama seorang gadis remaja yang mengisi hati Ikal. Maryamah adalah seorang ibu pemilik warung kopi \"Usah Kau Kenang Lagi\". Karena dia biasa mengajari bermain catur dengan langkah-langkah Karpov, dia kemudian mendapat julukan Maryamah Karpov.
Adapun gambar perempuan yang memainkan biola pada sampul Maryamah adalah Nurmi, putri Maryamah Karpov. Kehadiran Nurmi tentu membawa pertanyaan, kepada siapa cinta Ikal kemudian berlabuh?
Begitulah. Yang jelas, dibanding tiga novel sebelumnya, alur Maryamah Karpov terasa lebih lambat. Lalu yang agak mengganggu, dalam novel keempatnya ini, Andrea tak lagi lihai memainkan kata-kata. Banyak dijumpai kata \"menggelinjang-gelinjang\" untuk menggambarkan riak ombak atau menggambarkan dia yang tengah dibekap tangan-tangan pria perkasa, dan juga menggambarkan perahunya yang pertama kali menyentuh air.
Selain itu, mirip tiga novel sebelumnya, di sekujur Maryamah masih bertebaran istilah-istilah Latin. Di dalam novel ini, Andrea juga banyak membumbui tulisannya dengan gaya hiperbola. \"Hiperbola itu elemen dalam teknik penulisan nonfiksi,\" Andrea menjelaskan.
Chief Executive Officer Penerbit Bentang, Gangsar Sukrisno, menyebut novel yang ditulis Andrea sekitar satu bulan ini sebagai cultural literary non-fiction. Maksudnya, sebuah karya nonfiksi yang digarap secara sastra dengan pendekatan budaya.
Mungkin yang istimewa dari novel keempat Andrea ini, dia bisa menyampaikan bukan hanya budaya atau tradisi yang terjadi di masyarakat, melainkan juga tak meratanya pembangunan di Indonesia. Kritik yang ia sampaikan bisa jadi akan membuat merah kuping pejabat berwenang.
Andrea menggambarkan betapa buruknya manajemen transportasi kita saat dia hendak menjejakkan kakinya kembali ke Belitong. Dia bersama penumpang kapal Lawit terpaksa bergelantungan di tangga tali curam setinggi 30 meter, sementara di bawahnya ombak ganas siap menerkam, untuk menuju perahu yang akan membawanya ke daratan.
Setelah Maryamah Karpov, Andrea memutuskan mengundurkan diri dari dunia penulisan. Bukan untuk selamanya, tapi Andrea tak tahu akan sampai kapan. Dia merasa belum puas dengan tetraloginya. \"Saya ingin belajar (menulis) lagi,\" katanya.
Erwin Dariyanto

www.dinamikaebooks.com


0 komentar:
Posting Komentar