Senin, 16 Februari 2009

[resensi buku] Diri, Asal-Usul, Ras, dan Cita-Cita

Lampung Post, 9 November 2008

OBAMA berada dalam lingkaran diri, asal-usul, ras, dan cita-cita besar Amerika Serikat: American Dream! Lingkaran yang menghadirkan diri-pribadi yang kuat, yang memosisikan Obama sebagai pusat perhatian dunia.

-----

Lahir dari ayah asal Kenya, 4 Agustus 1961 di Honolulu, AmerikaSerikat (AS), 47 tahun kemudian, Barack Obama menjadi pusat perhatian dunia. Selasa malam, 4 November 2008, warga Amerika blasteran Afrika ini memenangkan pemilihan presiden ke-44 AS. \"Rakyat Amerika telah memilih perubahan, keterbukaan, dan optimisme,\" seru Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, begitu capres Partai Demokrat itu mengalahkan John McCain dari Partai Republik. \"Akan ada cahaya kecil di horizon. Saya berharap Obama akan menyalakan cahaya itu,\" ujar Presiden Venezuela, Hugo Chavez, yang dikenal sebagai penentang setia Amerika.

Semua menyambut kedatangan Obama. Mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro pun memujinya. Dunia tahu Castro adalah salah satu pemimpin yang kukuh mengibarkan komunisme di Amerika Latin dan menentang dominasi Amerika Serikat.


Presiden China Hu Jintao, sebagai pemimpin negeri besar di Asia, juga menyampaikan harap Obama membawa perubahan bilateral AS-China, seperti juga disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Sebegitu besarkah Barack Obama hingga pemimpin-pemimpin dunia tergerak memberi apresiasi? Buku Barack Obama Menerjang Harapan, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih memberi gambaran seperti apa sosok Obama yang kini menjadi pembicaraan dunia.


Buku berjudul asli The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaming The American Dream ini ditulis Obama tahun 2006. Sebagai tulisan yang memuat gagasan, kesadaran, dan konsepsi Obama, buku yang terbit pertama dalam edisi bahasa Indonesia bulan April 2007 ini tetap kontekstual kita bicarakan.


Seperti disampaikan Obama, The Audacity of Hope berkembang dari berbagai percakapan dan perjalanan kampanyenya. Sebelas tahun sebelumnya, ia menulis Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance. Dalam catatan The New York Times, dua buku ini masuk daftar karya terlaris selama beberapa pekan.


Membaca The Audacity of Hope--dan tentunya Dreams for My Father--adalah membaca Obama itu sendiri. Diksi pada judul kedua buku itu menuntun kita membayangkan seperti apa sosok Barack Obama. Kata \"the hope\", \"thoughts\", dan \"reclaming the American Dream\" pada buku Barack Obama Menerjang Harapan memiliki padanan konsepsi dengan kata \"dreams\", \"my father\", dan \"story of race and inheritance\" pada Dreams from My Father. Ada visi di dalamnya, juga kesadaran tentang diri, kenyataan, dan tatanan yang digeluti Obama.


Dan faktanya, Obama memang dalam lingkaran itu: diri, asal-usul, ras, dan cita-cita besar Amerika Serikat: American Dream! Lingkaran itu juga yang menghadirkan Barack Obama sebagai diri-pribadi yang kuat, yang akhirnya memosisikan ia sebagai pusat perhatian dunia.


***


Pada mulanya adalah diri, Obama menyadari konsepsi ini. The Audacity of Hope, yang ditulis dengan teknik narasi bergaya life history, memaparkan kesadaran itu: Bahwa Obama adalah seorang lelaki yang lahir dari ayah Kenya-Afrika dan ibu asal Kansas City-AS, minoritas Afro-American terpelajar lulusan University of Hawaii dan Harvard University. Ia juga senator Negara Bagian Illinois, yang melangkahkan kaki ke Capitol Hill, Washington D.C., atas dasar kesadaran minoritas.


Obama juga seorang suami dan ayah dua orang anak. Michelle, sang istri, dan anak perempuannya: Malia dan Sasha. Tidak hanya itu, Obama juga seorang warga AS yang memiliki saudara tiri berdarah Kenya dan Indonesia. Ia pernah hidup di Jakarta, dari tahun 1967 sampai 1971 ketika berusia enam tahun. Dan, Obama menyadari bahwa ayahnya, Barack Obama Senior, adalah keturunan suku Luo-Luo di Kenya dan seorang muslim; sekalipun meyakini ayahnya juga seorang muslim skeptis!


Soal kesadaran sebagai diri minortas, dalam The Audacity tof Hope, Obama menulis, \"Saya tidak punya pilihan lain selain meyakini visi Amerika yang ini. Sebagai anak dari seorang pria kulit hitam dan seorang wanita kulit putih, seorang yang dilahirkan dalam kancah peleburan rasial di Hawaii...\" (hlm. 197). Kesadaran ini juga yang melatari pernyataan Obama: Tidak ada Amerika hitam, Amerika putih, Amerika Latin atau Amerika Asia. Yang ada hanya Amerika Serikat!


Kata-kata itu kembali disampaikan Obama di hadapan ratusan ribu pendukungnya ketika memberi pidato kemenangan di Chicago usai pemilihan presiden. Dengan kesadaran itu juga Obama menolak ideologi konservatif yang dinilai telah membelah Amerika Serikat dalam dikotomi \"kami\" dan \"mereka\". Ini mungkin salah satu \"reclaming\" Obama atas American Dream, bahwa tidak ada perbedaan di Amerika Serikat.


Sebagai diri-pribadi, Obama sangat menyakini keluarga sebagai satu unit sosial yang dibutuhkan manusia. Ia yakin perkawinan dan keluarga sebagai institusi sosial tidak akan hilang dari Amerika Serikat. Ia juga yakin keluarga tidak akan tergerus sekalipun film-film Hollywood dan liberalisasi kehidupan sangat kuat menyerang masyarakat AS.


Namun, kesadaran tidak bisa dipaksakan. Ini juga yang diyakini Obama. Maka, ia menolak cara-cara konservatif yang menekankan praktik masa lalu dengan mengekalkan kembali hukuman pada pelaku seks bebas dan larangan selibasi. Bagi Obama, seks dan pernikahan adalah wilayah privat yang hanya bisa didekati melalui proses kultural. Bukan paksaan apalagi sampai melibatkan negara dalam urusan ranjang.


Kesadaran diri sebagai anak, suami, dan ayah ini begitu kental dalam diri Obama. Sama kentalnya dengan kesadatan Obama tentang benturan wilayah privat dan publik ketika ia harus menjalani peran sebagai senator dan politikus Partai Demokrat tanpa harus mengorbankan anak-istri apalagi berpisah dengan mereka. Bagi Obama, totalitas di dunia publik tidak harus berarti mengorbankan keluarga. Maka, ketika mengabari istrinya suatu urusan senator, Obama pun tidak kuasa menampik permintaan Michelle: Ada semut di tempat kita, kata Michelle. \"Aku ingin kau membeli beberapa jebakan semut saat pulang besok. Jangan lupa dan belikan lebih dari satu. Oke sayang.\"


Obama harus melayani permintaan tersebut sekalipun saat itu ia sedang menceritakan pada Michelle tentang keberhasilannya memproses undang-undang proliferasi. Ia membayangkan Michelle akan menyanjung keberhasilannya menyelesaikan permasalahan senjata nuklir di dunia ini melalui UU tersebut. Namun, Michelle tidak mengapresiasi itu, malah meminta ia segera pulang dan membeli jebakan semut. \"Saya bertanya-tanya, apakah Ted Kennedy dan John McCain membeli jebakan semut dalam perjalanan pulang mereka dari tempat kerja?\" Obama hanya bisa bertanya-tanya setelah merenungi perkataan Michelle itu.


Privatif-publik dalam diri Obama bukan sebatas konsepsi. Ini ia tunjukkan di hadapan ratusan ribu pendukungnya yang memadati Grant Park, Chicago, usai pemilihan Selasa malam lalu. Obama mengajak Michelle serta dua anaknya, Malia dan Sasha ke panggung, menghadap para pendukung; seakan berpesan pada warga AS, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan keluargamu!


Kesadaran ini juga yang mengantar menguatkan Obama me-reclaming nilai-nilai Amerika. Ia tidak yakin keluarga akan hilang dari Amerika Serikat. Ini sama tidak yakinnya Obama dengan wanita bekerja dan hidup sendiri karena feminisme. Bagi Obama, wanita bekerja juga karena tuntutan ekonomi bukan semata-mata ideologi feminisme seperti dikira banyak kalangan. Ini tentu sebuah reclaming yang sangat menarik karena disampaikan seorang tokoh Amerika Serikat, yang notabene adalah presiden AS terpilih.


***


Dari ruang privat, kesadaran Obama merambah wilayah publik dan ideologis. Pijakannya satu: Privat-publik-ideologis adalah tatanan tak terpisahkan. Dan ini dipaparkan Obama dengan mendalam dan kuat dalam The Audacity of Hope melalui model penulisan autobiografi naratif.


Untuk membahas masalah publik, Obama tidak harus meninggalkan Michelle, istrinya. Ia bisa masuk pembicaraan politik di Capitol Hill dan politik luar negeri AS melalui percakapan dengan Michelle serta kedekataan dengan Malia dan Sasha. Dari sini, ia bercerita tentang arti penting keluarga dan agama. Ia juga bercerita tentang benturan keluarga AS ketika suami harus menghadapi tuntutan istri yang tidak ingin melulu mengurusi anak dan rumah.


Reclaming Obama atas American Dream pun terasa seperti kisah hidup seorang manusia yang begitu memahami dunianya. Ketika merumuskan politik luar negeri AS dan peran negeranya dalam pentas dunia, latar minoritasnya sebagai Afro-American terasa begitu kental. Bagi Obama, AS tidak bisa memaksakan kebijakan pada dunia ketiga di Afrika maupun Asia seperti polisi dunia. Semestinya, ujar Obama, Amerika skeptis bahwa negara-negara dunia ketiga sangat membutuhkan pertolongan AS mengentaskan masalah dalam negerinya. Bagi Obama, ke depan Amerika Serikat adalah negeri yang mengundang orang lain menerima kebijakan Amerika Serikat tanpa paksaan. Dan ini hanya bisa dilakukan melalui pola-pola diplomasi, bukan politik perang dan militer.


Begitu juga dalam sistem keuangan internasional, Obama tidak ingin ada lembaga semacam Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang akhirnya memaksa negara ketiga terjebak utang. Di bawah kendali Washington, IMF dan Bank Dunia memaksa debitur menjalani penyesuaian yang. Dan ini sangat menyakitkan rakyat negeri itu karena pemerintahnya harus meningkatkan suku bunga, memotong belanja sosial, dan menekan subsidi. Dan ini adalah keprihatinan Obama pada Indonesia yang terlilit hutang karena dominasi kebijakan keuangan internasional Washington.


Apakah keprihatinan ini lantaran Obama semasa kecil pernah menetap di kawasan Menteng, Jakarta Pusat?


n Rahmat Sudirman, Wartawan Lampung Post



www.dinamikaebooks.com

0 komentar: