Senin, 16 Februari 2009

[resensi buku] Istanbul: Renungan tentang Manusia, Ruang, dan Waktu

Anton Kurnia, Koran Jakarta, 14 Februari 2009

Berlainan dengan buku-buku Orhan Pamuk lainnya yang kebanyakan ber-genre novel, ini adalah buku non-fiksi atau lebih tepatnya sebuah memoar yang menyingkap kehidupan pribadi Pamuk dengan benang merah kota tempat ia dibesarkan, Istanbul. Namun, gaya sastrawi Pamuk, pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006, tetap mewarnai buku ini dan membuatnya enak dibaca, indah, sekaligus memiliki "kedalaman".

Di Indonesia, sebelumnya Pamuk dikenal melalui terjemahan empat novelnya yang diterbitkan oleh penerbit Serambi: My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi), White Castle, Snow (Di Balik Keheningan Salju), dan The New Life (Kehidupan Baru).

Berbeda dengan kebanyakan memoar lain yang cenderung mengekplorasi satu "kejadian penting" dalam kehidupan si pencerita, buku ini justru menjadikan Pamuk yang merupakan si penulis memoar hanya sebagai narator bagi sebuah kota dan segala yang berkaitan dengannya. Kurang lebih mirip seperti saat dia bercerita atas nama benda-benda dalam My Name is Red: sesosok mayat, sekeping uang emas, warna merah kirmizi, anjing, gambar.

Sebagai sebuah memoar, buku ini memiliki beberapa kata kunci, antara lain "melankoli" (kesedihan) dan "memori" (kenangan). Sebagaimana tersirat dalam novel-novelnya, Pamuk memandang kehidupan dengan muram, tetapi tidak cengeng. Dia selalu menyiratkan pengharapan dan "penghormatan" terhadap kehidupan. Pamuk memiliki istilah khusus tentang melankoli ini, yakni huzun—sebuah kata dalam bahasa Turki yang berakar dari bahasa Arab. Dia juga memberi makna lain terhadap kenangan seorang individu: sebagai sebuah jejak sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan kolektif sebuah bangsa, bahkan sebuah peradaban.

Melalui buku ini, kita juga bisa memahami alasan-alasan "kemuraman" Pamuk dalam memandang dunia, melankoli yang menyelubunginya, serta kenangan-kenangan masa silam yang menjadi ilham bagi karya-karyanya—setelah dibaurkan dan dibenturkan dengan realitas kekinian, antara lain pertentangan kultural antara Barat dan Timur.

Pamuk memandang kota kelahirannya, Istanbul, sebagai reruntuhan sebuah kota tua yang menyisakan jejak peradaban masa silam Turki yang ditinggalkan "ruh" modernitas. Dari cara bertutur, sebagai sastrawan dan pencerita yang hebat, Pamuk secara cemerlang mampu membuat memoar ini jauh dari membosankan kendati dia sebetulnya bercerita tentang hal-hal sederhana dan kenang-kenangan masa silam kota kelahirannya yang terkadang amat sangat personal.

Dia kerap menghubungkan benda-benda, lanskap, penanda kota, bangunan kuno, sungai, rumah, buku, jalan-jalan bisu dengan berbagai dongeng, mitos, kisah fantasi, legenda, fakta historis, kisah cinta, tragedi kehidupan, sengketa politik, biografi orang ternama, dan berbagai khazanah tersembunyi lainnya. Kita jadi segera teringat pada novel-novelnya, terutama My Name is Red. Di satu sisi, membaca buku ini seperti membaca kumpulan cerita yang mengasyikkan, tetapi tersirat perenungan filosofis yang dalam tentang hubungan menarik antara manusia, ruang, dan waktu.

Dalam buku ini diungkap pula kehidupan pribadi Pamuk, termasuk kehidupan keluarganya yang dijadikan ilham dalam menulis My Name is Red. Nama tokoh-tokoh utama dalam novel itu merupakan nama Pamuk dan keluarganya sendiri: Orhan (dirinya), Shevket (kakaknya), Shekure (ibunya). Juga alasannya meninggalkan bangku kuliah arsitektur untuk menekuni seni lukis dan kemudian beralih ke sastra. Tak ketinggalan juga diungkap kisah-kisah cintanya, terutama dalam bab "Cinta Pertama".

Buku ini sangat patut dibaca, baik oleh para pembaca sastra maupun kalangan yang lebih luas. Banyak khazanah tersembunyi dan hikmah terselubung yang bisa dipetik dari buku yang dihiasi sangat banyak gambar menarik ini, termasuk foto-foto masa kecil Pamuk dan keluarganya.

Anton Kurnia, penulis.


www.dinamikaebooks.com

0 komentar: