Kamis, 29 Januari 2009

Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Quran

by: Agus Haryo Sudarmojo
Al-Quran is always one step ahead of science. Hal ini dapat diartikan bahwa Al-Quran selalu selangkah di depan penemuan-penemuan sains modern masa kini. Setiap kali ada penemuan-penemuan hebat pada setiap abad, ternyata Al-Quran sudah menjelaskannya terlebih dahulu.

Al-Quran banyak berisi ayat-ayat mutasyabihat yang menjelaskan mengenai sains. Ada yang tesirat secara jelas maupun tersamar di dalamnya. Oleh karena itu, pemahaman makna yang terkandung dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak dapat dijadikan dasar hukum, tetapi dapat diletakkan sebagai sumber inspirasi ilmiah.

Dalam buku ini, penulis menggunakan gaya bahasa sains populer yang merupakan hasil sebuah penelusuran dan pemahaman dari banyak bukti ilmiah yang terhampar di depan kita.


www.dinamikaebooks.com

Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Quran

by: Agus Haryo Sudarmojo
Al-Quran is always one step ahead of science. Hal ini dapat diartikan bahwa Al-Quran selalu selangkah di depan penemuan-penemuan sains modern masa kini. Setiap kali ada penemuan-penemuan hebat pada setiap abad, ternyata Al-Quran sudah menjelaskannya terlebih dahulu.

Al-Quran banyak berisi ayat-ayat mutasyabihat yang menjelaskan mengenai sains. Ada yang tesirat secara jelas maupun tersamar di dalamnya. Oleh karena itu, pemahaman makna yang terkandung dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak dapat dijadikan dasar hukum, tetapi dapat diletakkan sebagai sumber inspirasi ilmiah.

Dalam buku ini, penulis menggunakan gaya bahasa sains populer yang merupakan hasil sebuah penelusuran dan pemahaman dari banyak bukti ilmiah yang terhampar di depan kita.


www.dinamikaebooks.com

The Dragon Scroll

by: I.J. Parker
Sugawara Akitada, seorang bangsawan miskin dari Klan Sugawara yang terkenal, mendapat tugas resmi untuk menyelidiki hilangnya pengiriman pajak dari propinsi Kazusa.

Di dunia politik yang kelam, di mana kebenaran selalu disalahkan, menjadikan penyelidikan ini bertambah berat. Namun, Akitada bersama Seimei dan Tora berjuang untuk menuntaskan kasus ini dan berusaha untuk menguak apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Kazusa, propinsi yang penuh dengan intrik politik dan kasus pembunuhan berantai.

The Dragon Scroll akan memperkenalkan Anda pada seorang samurai detektif baru dan sebuah kisah misteri yang berlatar belakang keeksotisan Jepang di abad ke sebelas.


www.dinamikaebooks.com

The Dragon Scroll

by: I.J. Parker
Sugawara Akitada, seorang bangsawan miskin dari Klan Sugawara yang terkenal, mendapat tugas resmi untuk menyelidiki hilangnya pengiriman pajak dari propinsi Kazusa.

Di dunia politik yang kelam, di mana kebenaran selalu disalahkan, menjadikan penyelidikan ini bertambah berat. Namun, Akitada bersama Seimei dan Tora berjuang untuk menuntaskan kasus ini dan berusaha untuk menguak apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Kazusa, propinsi yang penuh dengan intrik politik dan kasus pembunuhan berantai.

The Dragon Scroll akan memperkenalkan Anda pada seorang samurai detektif baru dan sebuah kisah misteri yang berlatar belakang keeksotisan Jepang di abad ke sebelas.


www.dinamikaebooks.com

Rabu, 28 Januari 2009

[resensi buku] Saat Realitas Benturan Budaya Dibungkus Jenaka

Media Indonesia, 27 Desember 2008

Seandainya boleh memilih, pastinya kita akan menghindari konflik. Lalu bagaimana bila di tengah konflik terdapat satu kata lain, yakni cinta? Bingung? Itulah sekilas gambaran novel kedua Ben Sohib. Dinamika konflik yang kompleks akibat benturan latar belakang agama dan budaya menjadi bahasan menarik. Novel ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul The Da Peci Code. Bestseller yang menjungkalkan tradisi memakai peci putih.

Konflik bermula ketika Rosid dan Delia yang berbeda keyakinan memutuskan untuk menikah. Kentalnya tradisi serta kepercayaan keluarga Rosid yang keturunan Arab-Betawi berbentur dengan latar belakang Delia yang notabene Katolik. Alhasil, percintaan dengan latar belakang Betawi Condet ini mendapat penolakan ayah Rosid, Mansur al-Gibran yang muslim tulen.

\"Kegelisahan Mansur berujung dengan memburu ramuan ajaib untuk memisahkan hubungan percintaan Rosid dengan Delia. Saya namakan ramuan Bui Jabal Bui,\" kata pemain sinetron Happy Salma di sela peluncuran novel kedua Ben Sohib, Rosid dan Delia, di kawasan Menteng, Jakarta (19/12).

Menurut Happy, novel kedua karya sosok kelahiran Condet ini mengandung realitas seni yang multiinterpretasi. Happy memuji keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar tanpa harus mengekor novel bestseller lainnya.

Di sisi lain Hikmat Kurniawan, pengamat Kebudayaan Betawi, menilai novel ini mampu mengisahkan khasanah sastra dunia, terutama Indonesia lewat sosok Rosid dan Delia. Pada kesempatan itu pula, Hikmat memuji keberanian Ben Sohib mengisahkan realitas sosial dan budaya yang dinilainya sebagai masalah yang gawat.

Gawat karena masyarakat jarang membicarakan hal tersebut. Ben mampu menggambarkan realitas benturan, seperti benturan jodoh, agama, serta budaya dengan bahasa yang simpel. Apalagi novel ini dikemas dengan tata bahasa yang dilematis, menggelitik, jenaka, sekaligus menggoda. (*/M-l)


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Saat Realitas Benturan Budaya Dibungkus Jenaka

Media Indonesia, 27 Desember 2008

Seandainya boleh memilih, pastinya kita akan menghindari konflik. Lalu bagaimana bila di tengah konflik terdapat satu kata lain, yakni cinta? Bingung? Itulah sekilas gambaran novel kedua Ben Sohib. Dinamika konflik yang kompleks akibat benturan latar belakang agama dan budaya menjadi bahasan menarik. Novel ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul The Da Peci Code. Bestseller yang menjungkalkan tradisi memakai peci putih.

Konflik bermula ketika Rosid dan Delia yang berbeda keyakinan memutuskan untuk menikah. Kentalnya tradisi serta kepercayaan keluarga Rosid yang keturunan Arab-Betawi berbentur dengan latar belakang Delia yang notabene Katolik. Alhasil, percintaan dengan latar belakang Betawi Condet ini mendapat penolakan ayah Rosid, Mansur al-Gibran yang muslim tulen.

\"Kegelisahan Mansur berujung dengan memburu ramuan ajaib untuk memisahkan hubungan percintaan Rosid dengan Delia. Saya namakan ramuan Bui Jabal Bui,\" kata pemain sinetron Happy Salma di sela peluncuran novel kedua Ben Sohib, Rosid dan Delia, di kawasan Menteng, Jakarta (19/12).

Menurut Happy, novel kedua karya sosok kelahiran Condet ini mengandung realitas seni yang multiinterpretasi. Happy memuji keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar tanpa harus mengekor novel bestseller lainnya.

Di sisi lain Hikmat Kurniawan, pengamat Kebudayaan Betawi, menilai novel ini mampu mengisahkan khasanah sastra dunia, terutama Indonesia lewat sosok Rosid dan Delia. Pada kesempatan itu pula, Hikmat memuji keberanian Ben Sohib mengisahkan realitas sosial dan budaya yang dinilainya sebagai masalah yang gawat.

Gawat karena masyarakat jarang membicarakan hal tersebut. Ben mampu menggambarkan realitas benturan, seperti benturan jodoh, agama, serta budaya dengan bahasa yang simpel. Apalagi novel ini dikemas dengan tata bahasa yang dilematis, menggelitik, jenaka, sekaligus menggoda. (*/M-l)


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Ibnu Saud Sang Penguasa Arab

Republika, Januari 2009

Ibnu Saud adalah salah satu tokoh terpenting dalam perkembangan masyarakat Arab hingga saat ini. Dia adalah raja Arab Saudi yang pertama kali. Di dalam kekuasaannya dia menyatukan suku-suku di Arab yang sebelumnya terpecah-pecah. Dimulai dari mengambil kembali kekuasaannya di Riyadh dari Kabilah Shammar yang dipim¬pin oleh Muhammad bin Rashid, dia mulai \\\' melebarkan sayapnya hingga ke Kota Suci Makkah.

Di bawah kepemimpinannya\\\', dia melarang segala macam penjarahan bagi para peziarah Muslim yang hendak berhaji di Makkah. Sebelumnya aksi penjarahan oleh kabilah-kabilah tertentu dan dari kaum Baduwi marak terjadi sebagai salah satu cara hidup di gurun yang gersang.

Terlahir di tahun 1880-dengan nama Abdul Aziz, dia merupakan salah satu keturunan Saud yang Agung, yang kemudian juga digu¬nakan sebagai namanya, Ibn Saud, Dia adalah seorang wahabi pertama yang mengenalkan benda-benda modern, seperti telepon, tepada bangsa Arab. Bahkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dia membuka peluang pada perusahaan asing untuk mengambil minyak dari tanah kekuasaannya.

Kisah heroik sang pemimpin bangsa Arab ini kemudian dituangkan dalam tulisan oleh HC Armstrong dalam bukunya Lord of Arabia Ibn Saud. Dalam edisi bahasa Indonesia, diberi judul Sang Penjegal, Kisah Ibn Saud Menguasai Arabia. Dalam penulisannya HC Armstrong mengakui bahwa dia mengalami kesulitan dalam pengumpulan data tentang kehidupan Ibn Saud.

Untuk merangkum kehidupan Sang Raja yang tumbuh dalam peperangan itu, dia mengumpulkan bukti dari mulut ke mulut. Selain menggunakan buku karya St John Philiby, seorang Muslim Inggris yang sekarang melakukan bisnis di Arab sebagai penghubung dengan perusahaan Inggris dan Amerika, HC Armstrong juga memakai buku karya Amee.n Rihani, seorang Arab yang berkebangsaan Amerika

Hasilnya, tidak sekadar mengungkap biografi Ibn Saud dari sudut pandang sejarah, namun HC Armstrong juga mengungkapnya dengan penceritaan yang hidup, seolah penguasa Arab itu hadir kembali dan berjuang bersama para pengikutnya. Latar belakang kehidupan masyarakat Arab dia tampilkan dengan jeli. Seperti tentang kaum Wahabi yang merupakan kumpulan orang saleh yang taat sekaligus keras.

\"...Mereka adalah pria yang keras, dengan tubuh yang kurus dan pandangan yang tajam. Mereka memandang setiap kehidupan dengan tatapan fanatik yang tak\\\'mengenal kompromi. Mereka menolak kenyamanan bagi diri sendiri. Rumah-rumah mereka kosong dan amat bersahaja, masjid-masjid mereka tanpa menara, kubah, atau dekorasi lain. Mereka menampik semua hal yang menyenangkan: Anggrus, makanan yang lezat, tembakau, pakaian yang lembut. Mereka melarang nyanyian dan musik, bahkan mencela tertawa. Mereka menyingkirkan semua kesenangan hidup, agar pikiran mereka tidak teralihkan dari konsentrasi kepada Tuhan.:.,\" tulis HC Armstrong.

Dalam kelompok Wahabi,\\\' para ulama mereka mengatur dengan ketat segala peraturan sesuai dengan syariat agama Islam. Ayah Ibn Saud, Abdur Rahman, merupakan imam kaum tersebut.

Dalam penceritaan, sang penulis lebih menekankan pada bentuk perjuangan Raja Arab Saudi itu untuk mendapatkan kekuasaannya melalui peperangan. Dia menggambarkan bagaimana Ibn Saud tumbuh menjadi seorang pria Arab dengan sifat Baduwi yang kental. Bertahan hidup hanya dengan beberapa genggam kurma dan susu yang mengental, merampas harta benda, perkelahian yang brutal, menyerang dengan cepat, lalu kembali bersembunyi di balik debu gurun yang tebal merupakan peristiwa yang sangat menonjol dalam buku Ini. Sehingga detail-detail latar belakang kehidupan budaya Arab, seperti kehidupan para wahabi, suku-suku nomaden, dan perlakuan terhadap wanita yang diungkapkan oleh HC Amstrong, menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk terus tenggelam dalam perualangan Ibn Saud yang sarat dengan pertumpahan darah.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Ibnu Saud Sang Penguasa Arab

Republika, Januari 2009

Ibnu Saud adalah salah satu tokoh terpenting dalam perkembangan masyarakat Arab hingga saat ini. Dia adalah raja Arab Saudi yang pertama kali. Di dalam kekuasaannya dia menyatukan suku-suku di Arab yang sebelumnya terpecah-pecah. Dimulai dari mengambil kembali kekuasaannya di Riyadh dari Kabilah Shammar yang dipim¬pin oleh Muhammad bin Rashid, dia mulai \\\' melebarkan sayapnya hingga ke Kota Suci Makkah.

Di bawah kepemimpinannya\\\', dia melarang segala macam penjarahan bagi para peziarah Muslim yang hendak berhaji di Makkah. Sebelumnya aksi penjarahan oleh kabilah-kabilah tertentu dan dari kaum Baduwi marak terjadi sebagai salah satu cara hidup di gurun yang gersang.

Terlahir di tahun 1880-dengan nama Abdul Aziz, dia merupakan salah satu keturunan Saud yang Agung, yang kemudian juga digu¬nakan sebagai namanya, Ibn Saud, Dia adalah seorang wahabi pertama yang mengenalkan benda-benda modern, seperti telepon, tepada bangsa Arab. Bahkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dia membuka peluang pada perusahaan asing untuk mengambil minyak dari tanah kekuasaannya.

Kisah heroik sang pemimpin bangsa Arab ini kemudian dituangkan dalam tulisan oleh HC Armstrong dalam bukunya Lord of Arabia Ibn Saud. Dalam edisi bahasa Indonesia, diberi judul Sang Penjegal, Kisah Ibn Saud Menguasai Arabia. Dalam penulisannya HC Armstrong mengakui bahwa dia mengalami kesulitan dalam pengumpulan data tentang kehidupan Ibn Saud.

Untuk merangkum kehidupan Sang Raja yang tumbuh dalam peperangan itu, dia mengumpulkan bukti dari mulut ke mulut. Selain menggunakan buku karya St John Philiby, seorang Muslim Inggris yang sekarang melakukan bisnis di Arab sebagai penghubung dengan perusahaan Inggris dan Amerika, HC Armstrong juga memakai buku karya Amee.n Rihani, seorang Arab yang berkebangsaan Amerika

Hasilnya, tidak sekadar mengungkap biografi Ibn Saud dari sudut pandang sejarah, namun HC Armstrong juga mengungkapnya dengan penceritaan yang hidup, seolah penguasa Arab itu hadir kembali dan berjuang bersama para pengikutnya. Latar belakang kehidupan masyarakat Arab dia tampilkan dengan jeli. Seperti tentang kaum Wahabi yang merupakan kumpulan orang saleh yang taat sekaligus keras.

\"...Mereka adalah pria yang keras, dengan tubuh yang kurus dan pandangan yang tajam. Mereka memandang setiap kehidupan dengan tatapan fanatik yang tak\\\'mengenal kompromi. Mereka menolak kenyamanan bagi diri sendiri. Rumah-rumah mereka kosong dan amat bersahaja, masjid-masjid mereka tanpa menara, kubah, atau dekorasi lain. Mereka menampik semua hal yang menyenangkan: Anggrus, makanan yang lezat, tembakau, pakaian yang lembut. Mereka melarang nyanyian dan musik, bahkan mencela tertawa. Mereka menyingkirkan semua kesenangan hidup, agar pikiran mereka tidak teralihkan dari konsentrasi kepada Tuhan.:.,\" tulis HC Armstrong.

Dalam kelompok Wahabi,\\\' para ulama mereka mengatur dengan ketat segala peraturan sesuai dengan syariat agama Islam. Ayah Ibn Saud, Abdur Rahman, merupakan imam kaum tersebut.

Dalam penceritaan, sang penulis lebih menekankan pada bentuk perjuangan Raja Arab Saudi itu untuk mendapatkan kekuasaannya melalui peperangan. Dia menggambarkan bagaimana Ibn Saud tumbuh menjadi seorang pria Arab dengan sifat Baduwi yang kental. Bertahan hidup hanya dengan beberapa genggam kurma dan susu yang mengental, merampas harta benda, perkelahian yang brutal, menyerang dengan cepat, lalu kembali bersembunyi di balik debu gurun yang tebal merupakan peristiwa yang sangat menonjol dalam buku Ini. Sehingga detail-detail latar belakang kehidupan budaya Arab, seperti kehidupan para wahabi, suku-suku nomaden, dan perlakuan terhadap wanita yang diungkapkan oleh HC Amstrong, menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk terus tenggelam dalam perualangan Ibn Saud yang sarat dengan pertumpahan darah.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Moralitas Dari Senayan

ADIL No.39 | III | 20 November-17 Desember 2008

Abu Semar adalah nama samaran seorang anggota parlemen negeri ini yang mengutarakan kisahnya dan kisah teman-temannya sesama wakil rakyat. Lahirlah buku Parlemen Undercover yang menceritakan kisah-kisah sontoloyo wakil rakyat. Buku ini lucu, menggelitik, namun terkadang menyebalkan. Lucu karena para wakil rakyat ternyata juga manusia. Ambil kisah \"toilet kafir\". Kiai Badruzzaman adalah anggota parlemen dari daerah terpencil yang terkaget-kaget masuk ke hotel mewah dan tak tahu cara menggunakan toilet.

Menggelitik sebab berbagai kisah mereka yang memancing rasa ingin tahu atau membuat kita tersenyum. Seperti kisah \"karaoke karo kowe\" dimana sang wakil rakyat diajak untuk berkaraoke plus-plus. Anggota parlemen ini panas dingin karena tak terbiasa dan menolak halus. Juga cerita parlementarian yang membakar fotonya menghadiri tarian perut karena pers \"akan berpikir pekerjaan anggota parlemen hanya kelayapan di kafe-kafe untuk menonton tari perut\" (h.36)

Menyebalkan karena para wakil rakyat terkesan lebih banyak membuang waktu untuk bersenang-senang tinimbang berdarma bakti untuk rakyat dan negeri. Mulai dari pengangkatan \"sekretaris selembar benang\" yang dipilih karena lekuk badan yang aduhai. Atau kisah wakil rakyat yang memiliki artis pemain sinetron sebagai \"anak asuh\". Demikian pula kisah pemerasan oleh asisten atau selingkuh para wakil rakyat. Pun cerita tentang bagaimana staf Departemen Luar Negeri mengeluh karena susah melayani para istri anggota parlemen yang sibuk berbelanja barang bermerek dan hanya \"menjadi beban para diplomat kita di luar negeri\" (h.69).

Abu Semarjuga menggambarkan bagaimana masalah kebijakan publik hanya berujung pada masalah duit. Lihatlah kisah \"Nuklir No, Jalan-jalan Yes\". Negeri ini khawatir soal kelangkaan energi. Maka tenaga nuklir mulai dilirik untuk menyuplai listrik. Lalu diusulkanlah kunjungan bagi anggota dewan ke Korea Selatan dan Jepang sebagai dua negara yang sukses dengan program PLTN. Sejumlah nama parlementarian pun diusulkan untuk berangkat. Tiba-tiba, program kunjungan studi ke luar negeri itu menuai protes keras. Tuduhan berdatangan, dari tuduhan pelanggaran etik hingga keberangkatan yang dibiayai oleh para pembuat reaktor. Juga datang keberatan dari LSM dan organisasi non-pemerintah (ornop).

Namun ternyata kehebohan masalah itu bukan disebabkan oleh kepedulian kepada rakyat atau bahaya reaktor nuklir. Melainkan semata karena kecemburuan beberapa anggota dewan yang tidak diajak berangkat studi ke Jepang dan Korea Selatan. Mereka lah yang menggerakkan protes yang lebih besar dari bahaya bencana nuklir itu. Duh, celaka.

Parlemen Undercover mengungkapkan banyak sisi yang kerap disembunyikan dan sering ditabukan namun lantas disajikan dengan paparan setajam pisau silet. Kelakuan dan kejahatan para wakil rakyat dipampangkan lebar-lebar. Skandal demi skandal diulas dengan lugas, bernas, dan membuat kita menahan nafas. Wajar saja bila kemudian buku ini disajikan dengan nama samaran di negeri samaran, Abu Semar dari negeri Indosiasat.

Menariknya, buku ini seakan menggabungkan Mati Ketawa Cara Rusia dan Jakarta Undercover. Andai dikelola lebih mendalam dan ditelusuri lebih seksama boleh jadi dan bukan tak mungkin buku ini nantinya dapat menguak lebih banyak hal dan menjadikannya sejajar dengan \"Ali President\\\'s Men\" yang menguak tabir persekongkolan politik dalam kasus Watergate dan menurunkan Presiden Nixon.

Tetapi Parlemen Undercover sepertinya memang tak didesain untuk itu melainkan sekadar pemotretan realita yang ada di Senayan dalam konteks ringan dan bersahaja laksana obrolan santai di sore hari. Dalam hal ini Parlemen Undercover sangat sukses. Bahasa yang santai, ringan, dan renyah menjadi kekuatan buku ini. Alur yang disajikan pun tak kalah menarik. Kisah-kisah dibagi-bagi dari mulai yang paling ringan dan sensasional ke masalah-masalah persidangan. Satu demi satu kisah diutarakan dengan cara yang lancar disertai gambaran panoramis di awal plus sedikit kejutan di belakang. Belum lagi pengikutsertaan ilustrasi apik di sela-sela setiap kisah yang benar-benar membantu kita menikmati buku ini dengan santai tanpa kerut kening sembari menyeruput kopi dan sesekali tertawa terbahak-bahak atau pun menyimpul senyum.

Namun Parlemen Undercover juga membawa pesan moral yang sangat berharga. Parlemen negeri Indosiasat sepertinya banyak dihuni oleh orang-orang yang tak kompeten, tak cakap, dan hanya sibuk saling menelikung, berbuat culas, berlomba bejat, beradu siasat. Di gedung mulia itu, para wakil rakyat Indosiasat seakan tak henti mengumbar syahwat: entah syahwat sanggama atau syahwat kuasa. Rakyat masuk konsideran akhir atau malah tak dipedulikan sama sekali. Para wakil rakyat dalam Parlemen Undercover gagal menjadi suara rakyat apalagi mewakili rakyat. Tak heran negeri ini terus tertinggal. ■ md


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Moralitas Dari Senayan

ADIL No.39 | III | 20 November-17 Desember 2008

Abu Semar adalah nama samaran seorang anggota parlemen negeri ini yang mengutarakan kisahnya dan kisah teman-temannya sesama wakil rakyat. Lahirlah buku Parlemen Undercover yang menceritakan kisah-kisah sontoloyo wakil rakyat. Buku ini lucu, menggelitik, namun terkadang menyebalkan. Lucu karena para wakil rakyat ternyata juga manusia. Ambil kisah \"toilet kafir\". Kiai Badruzzaman adalah anggota parlemen dari daerah terpencil yang terkaget-kaget masuk ke hotel mewah dan tak tahu cara menggunakan toilet.

Menggelitik sebab berbagai kisah mereka yang memancing rasa ingin tahu atau membuat kita tersenyum. Seperti kisah \"karaoke karo kowe\" dimana sang wakil rakyat diajak untuk berkaraoke plus-plus. Anggota parlemen ini panas dingin karena tak terbiasa dan menolak halus. Juga cerita parlementarian yang membakar fotonya menghadiri tarian perut karena pers \"akan berpikir pekerjaan anggota parlemen hanya kelayapan di kafe-kafe untuk menonton tari perut\" (h.36)

Menyebalkan karena para wakil rakyat terkesan lebih banyak membuang waktu untuk bersenang-senang tinimbang berdarma bakti untuk rakyat dan negeri. Mulai dari pengangkatan \"sekretaris selembar benang\" yang dipilih karena lekuk badan yang aduhai. Atau kisah wakil rakyat yang memiliki artis pemain sinetron sebagai \"anak asuh\". Demikian pula kisah pemerasan oleh asisten atau selingkuh para wakil rakyat. Pun cerita tentang bagaimana staf Departemen Luar Negeri mengeluh karena susah melayani para istri anggota parlemen yang sibuk berbelanja barang bermerek dan hanya \"menjadi beban para diplomat kita di luar negeri\" (h.69).

Abu Semarjuga menggambarkan bagaimana masalah kebijakan publik hanya berujung pada masalah duit. Lihatlah kisah \"Nuklir No, Jalan-jalan Yes\". Negeri ini khawatir soal kelangkaan energi. Maka tenaga nuklir mulai dilirik untuk menyuplai listrik. Lalu diusulkanlah kunjungan bagi anggota dewan ke Korea Selatan dan Jepang sebagai dua negara yang sukses dengan program PLTN. Sejumlah nama parlementarian pun diusulkan untuk berangkat. Tiba-tiba, program kunjungan studi ke luar negeri itu menuai protes keras. Tuduhan berdatangan, dari tuduhan pelanggaran etik hingga keberangkatan yang dibiayai oleh para pembuat reaktor. Juga datang keberatan dari LSM dan organisasi non-pemerintah (ornop).

Namun ternyata kehebohan masalah itu bukan disebabkan oleh kepedulian kepada rakyat atau bahaya reaktor nuklir. Melainkan semata karena kecemburuan beberapa anggota dewan yang tidak diajak berangkat studi ke Jepang dan Korea Selatan. Mereka lah yang menggerakkan protes yang lebih besar dari bahaya bencana nuklir itu. Duh, celaka.

Parlemen Undercover mengungkapkan banyak sisi yang kerap disembunyikan dan sering ditabukan namun lantas disajikan dengan paparan setajam pisau silet. Kelakuan dan kejahatan para wakil rakyat dipampangkan lebar-lebar. Skandal demi skandal diulas dengan lugas, bernas, dan membuat kita menahan nafas. Wajar saja bila kemudian buku ini disajikan dengan nama samaran di negeri samaran, Abu Semar dari negeri Indosiasat.

Menariknya, buku ini seakan menggabungkan Mati Ketawa Cara Rusia dan Jakarta Undercover. Andai dikelola lebih mendalam dan ditelusuri lebih seksama boleh jadi dan bukan tak mungkin buku ini nantinya dapat menguak lebih banyak hal dan menjadikannya sejajar dengan \"Ali President\\\'s Men\" yang menguak tabir persekongkolan politik dalam kasus Watergate dan menurunkan Presiden Nixon.

Tetapi Parlemen Undercover sepertinya memang tak didesain untuk itu melainkan sekadar pemotretan realita yang ada di Senayan dalam konteks ringan dan bersahaja laksana obrolan santai di sore hari. Dalam hal ini Parlemen Undercover sangat sukses. Bahasa yang santai, ringan, dan renyah menjadi kekuatan buku ini. Alur yang disajikan pun tak kalah menarik. Kisah-kisah dibagi-bagi dari mulai yang paling ringan dan sensasional ke masalah-masalah persidangan. Satu demi satu kisah diutarakan dengan cara yang lancar disertai gambaran panoramis di awal plus sedikit kejutan di belakang. Belum lagi pengikutsertaan ilustrasi apik di sela-sela setiap kisah yang benar-benar membantu kita menikmati buku ini dengan santai tanpa kerut kening sembari menyeruput kopi dan sesekali tertawa terbahak-bahak atau pun menyimpul senyum.

Namun Parlemen Undercover juga membawa pesan moral yang sangat berharga. Parlemen negeri Indosiasat sepertinya banyak dihuni oleh orang-orang yang tak kompeten, tak cakap, dan hanya sibuk saling menelikung, berbuat culas, berlomba bejat, beradu siasat. Di gedung mulia itu, para wakil rakyat Indosiasat seakan tak henti mengumbar syahwat: entah syahwat sanggama atau syahwat kuasa. Rakyat masuk konsideran akhir atau malah tak dipedulikan sama sekali. Para wakil rakyat dalam Parlemen Undercover gagal menjadi suara rakyat apalagi mewakili rakyat. Tak heran negeri ini terus tertinggal. ■ md


www.dinamikaebooks.com