Jumat, 30 Januari 2009

Body Of Lies

by: David Ignatius
Dari tombol Amman, Amsterdam meledak!

Investasi AS di Dubai luluh lantak.

Kota Incirlik Turki menjadi "jembatan" Sang teroris untuk memporak-porandakan sistem inteligen di Washington!

London menyalahkan Gedung Putih!

Kota Dar'a Syria harus diperhitungkan! Siapa sangka!

CIA kalah! Ribuan agennya tak pulang ke negeri asalnya. Satelit mahalnya tak mampu mendeteksi, bahkan anjing milik Suleman Sang teroris sekalipun. Lalu apa hasil spionase CIA yang menelan biaya ratusan milyar dolar! Tak ada. Kecuali satu; runtuhnya ekonomi Amerika.

Misteri, teror, kekecewaan, ketakutan. Semuanya memuakkan! Beirut, Balad hingga Bagdad merasakan derita itu. Amman, Ankara, Roma, Jenewa, Virginia dicitrakan tunduk kepada Washington! Padahal tidak. Betapa memalukan; justru milisi Suria dan Yordania membuat CIA ling lung.


www.dinamikaebooks.com

Body Of Lies

by: David Ignatius
Dari tombol Amman, Amsterdam meledak!

Investasi AS di Dubai luluh lantak.

Kota Incirlik Turki menjadi "jembatan" Sang teroris untuk memporak-porandakan sistem inteligen di Washington!

London menyalahkan Gedung Putih!

Kota Dar'a Syria harus diperhitungkan! Siapa sangka!

CIA kalah! Ribuan agennya tak pulang ke negeri asalnya. Satelit mahalnya tak mampu mendeteksi, bahkan anjing milik Suleman Sang teroris sekalipun. Lalu apa hasil spionase CIA yang menelan biaya ratusan milyar dolar! Tak ada. Kecuali satu; runtuhnya ekonomi Amerika.

Misteri, teror, kekecewaan, ketakutan. Semuanya memuakkan! Beirut, Balad hingga Bagdad merasakan derita itu. Amman, Ankara, Roma, Jenewa, Virginia dicitrakan tunduk kepada Washington! Padahal tidak. Betapa memalukan; justru milisi Suria dan Yordania membuat CIA ling lung.


www.dinamikaebooks.com

Kamis, 29 Januari 2009

[resensi buku] Maryamah Karpov - Mimpi-mimpi Lintang

Hernadi Tanzil, Blog Buku Yang Kubaca

Maryamah Karpov adalah novel pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi. Bagi para pembaca Laskar Pelangi kehadiran novel ini sangatlah ditunggu-tunggu. Setelah mengalamai beberapa kali penundaan akhirnya novel ini terbit pada akhir November 2008 lalu saat emosi pembacanya membuncah seiring dengan diputarnya film Laskar Pelangi di bioskop-bioskop tanah air . Penerbit Bentang pun tampaknya tak menyia-nyiakan momen ini dengan segera menerbitkannya. Mereka optimis bahwa Maryamah Karpov akan meledak di pasaran seperti ketiga buku sebelumnya, karenanya untuk edisi pertamanya saja Bentang langsung mencetak 100 ribu kopi ! Jumlah yang fantastis dalam sejarah penerbitan buku fiksi di Indonesia.

Jauh hari sebelum novel ini terbit, tepatnya di buku kedua "Sang Pemimpi" (2006), pada bagian Epilog, Andrea telah memberikan sebersit informasi mengenai tema utama Maryamah Karpov yang sat itu sedang ditulisnya, cover buku Maryamah Karpov sendiri telah dipajang di novel ketiganya (Edensor,2007), dan semenjak itu muncul pula di cetakan-cetakan berikutnya baik di buku pertama hingga ketiga.

Berbagai bocoran informasi mengenai novel keempatnya dan suksesnya ketiga novel Laskar Pelangi ini tentu semakin membuat pembacanya semakin penasaran dengan novel terakhir dari tetralogi ini. Situasi ini juga dimanfaatkan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa bulan sebelum novel ini terbit, beredar novel palsu Maryamah Karpov dengan cover yang sama persis dengan yang diiklankan, selain itu beredar pula bersi digitalnya (ebook). Menanggapi hal ini, Renjana Organizer selaku manajemen Andrea Hirata sampai perlu mengeluarkan pernyataan yang diedarkan di milis-milis perbukuan dan sastra bahwa novel yang beredar tersebut adalah palsu.

Kini hampir dua bulan sudah Maryamah Karpov terbit dan telah dibaca oleh banyak orang. Berbagai komentar bermunculan . Ada yang memuji namun tak sedikit yang kecewa dengan novel pamungkas Laskar Pelangi ini. Di novel keempatnya yang lebih tebal dibanding ketiga novel lainnya Andrea masih menggunakan pola yang sama dengan dua novel terdahulunya yaitu dengan membagi kisah-kisahnya dalam bab-bab pendek atau yang ia tulis sebagai mozaik.

Pada separuh buku pertama, Andrea nyaris tak menghadirkan plot dengan sebuah konflik utama layaknya sebuah novel, masing-masing mozaik berdiri sendiri layaknya cerpen. Dengan bebas Andrea menyuguhkan berbagai kisah dari satu mozaik ke mozaik berikutnya. Benang merahnya adalah tokoh Ikal ketika telah berada di Belitong setelah menyelesaikan studinya dengan gemilang sebagai Master di bidang Ekonomi Telekomunikasi di Sorbone Perancis. Sayangnya karena ilmu yang dipelajarinya tak sesuai dengan kondisi kampung halamannya maka ia terpaksa menganggur.

Barulah di separuh buku berikutnya mulai terbentuk sebuah plot cerita dengan sebuah konflik utama yaitu pencarian Aling yang dikaguminya sedari kecil. Hal ini berawal ketika para nelayan menemukan beberapa mayat bertato gambar kupu-kupu yang merupakan tanda dari sebuah trah keluarga Tionghoa. Aling yang berasal dari trah keluarga tersebut juga memiliki tato yang sama pada lengannya.

Banyak yang menduga bahwa mayat-mayat itu adalah para pelintas batas yang sedang menuju Singapura yang dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut oleh bajak laut di kawasan Batuan yang bernama Tambok. Ikal menduga Aling dan seluruh keluarganya turut dalam rombongan para pelintas batas itu dan berharap masih hidup dalam tawanan Tambok di pulau Batuan.

Ikal bertekad mencari Aling hingga ke Batuan. Tak mampu untuk menyewa perahu, ia memutuskan untuk membuat perahu sendiri! Bagaimana mungkin?, untunglah Ikal mendapat bantuan dari si jenius Lintang yang dengan dalil-dalil fisika dan matematikanya mampu memberikan rumusan-rumusan matematis untuk membuat sebuah perahu. Selain itu Ikal juga dibantu oleh teman-teman Laskar Pelanginya yang tanpa pamrih menolong Ikal membuat perahu untuk mencari pujaan hatinya. Sebagai penghargaan terhadap Lintang maka perahunya tersebut diberi nama , "Mimpi-mimpi Lintang".

Kisah Ikal berjuang membuat perahu yang penuh rintangan hingga pelayarannya bersama Mahar dan dua orang kawannya untuk mencari Aling terus mengalir dari bab ke bab dengan seru dan menegangkan. Sayangnya setelah kisah petualangan ini berakhir, tiba-tiba di bab berikutnya tersaji kisah yang tak ada hubungannya dengan kisah sebelumnya. Suspend yang begitu kuat yang telah dibangun Andrea dalam kisah petualangan Ikal mencari Aling tiba-tiba anjlok karena Andrea malah memilih kisah lain. Padahal masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab mengenai kepergian Aling. Alih-alih membuat kisah yang melatarbelakangi bagaimana Aling hingga berlayar ke Singapura atau bagaimana kisah Aling selama dalam tawanan bajak laut, Andrea malah bercerita tentang Ikal yang harus mengatasi traumanya memasuki klinik gigi.

Walau demikian seperti di novel-novel terdahulunya kepiawaian Andrea dalam mengolah kalimat dengan metafora-metaforanya yang indah membuat novel ini begitu menarik, menghibur, dan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan memotivasi pembacanya untuk melakukan hal-hal yang besar untuk mengejar mimpi. Kepiawaian Andrea memilih kalimat-kalimat dan merangkai kata dalam mendeskripsikan berbagai kisah mampu mengikat pembacanya untuk membaca novel ini hingga tuntas . Untuk urusan ini Andrea memang jempolan dan pendongeng yang baik.

Lalu siapa sesungguhnya Maryamah Karpov yang dijadikan judul dalam novel ini? Uniknya kisah si pemilik nama berbau Rusia ini hanya muncul beberapa kalimat saja, itupun baru muncul di pertengahan buku ini. Andrea hanya menyebutkan bahwa pemilik nama tersebut adalah Cik Maryamah yang karena kemahirannya mengajarkan permainan catur dengan langkah-langkah Karpov (Grand Master Catur Dunia) maka sesuai dengan kebiasaan Melayu yang sering memberikan julukan di belakang nama aslinya, maka diberilah nama Maryamah Karpov. Hanya itu, selebihnya nama dan kisah Maryamah tak lagi muncul dalam novel ini. Jika demikian mengapa nama wanita ini yang dijadikan judul?

Menyimak komentar dari banyak pembaca yang telah menuntaskan buku ini , soal judul inilah yang paling dipertanyakan oleh para pembacanya. Selain itu, tema umum dari novel ini juga menjadi tanda tanya besar karena meleset jauh dari tema soal perempuan yang sering telah diungkapkan Andrea dalam berbagai kesempatan. Di buku Sang Pemimpi (2006), Andrea dalam epilognya mengungkapkan bahwa, Maryamah Karpov akan membahas tentang " penghormatan kepada kaum perempuan" (Sang Pemimpi, hal 277). Pertanyaannya kini, bagian manakah dalam novel ini yang mengandung penghormatan terhadap perempuan? Bukankah ini hanyalah sebuah kisah romantika Ikal mencari Aling yang dibungkus petualangan seru.

Kejanggalan tersebut dan juga endingnya yang menggantung pada akhirnya memunculkan spekulasi bahwa akan ada Maryamah Karpov jilid 2. Untuk itu saya mencoba mengkonfirmasikan hal ini langsung pada Andrea Hirata. Dalam perbincangan telponnya, Andrea menegaskan bahwa Maryamah Karpov memang dibuat menjadi dua jilid. Jilid pertama yang sekarang telah terbit memang tak banyak membicarakan Maryamah Karpov karena di jilid ini Andrea bermaksud membangun karakter tokoh-tokoh yang kelak akan dimatangkan di jilid keduanya. Dan di jilid keduanyalah Maryamah Karpov akan banyak berperan.

Namun sangat disayangkan, dengan tegas Andrea menyatakan bahwa hingga saat ini jilid 2 Maryamah Karpov tidak akan diterbitkan !. Andrea mengungkapkan bahwa ada berbagai pertimbangan yang menyebabkan ia terpaksa menolak untuk menerbitkan Maryamah Karpov jilid 2 dan memilih 'menghilang' sementara dari dunia kepenulisan. Pertimbangan apa? Daripada saya salah mengutip pernyataan Andrea yang disampaikan pada saya lewat telpon, biarlah Andrea atau Renjana Organizer sendiri yang akan menjelaskannya pada publik kelak karena pembaca Tetralogi Laskar Pelangi butuh penjelasan yang tuntas dari penulis mengenai tidak tuntasnya novel pamungkas ini.

Selain soal keterkaitan antara judul dan isi, soal logika juga menjadi hal yang cukup mengganggu. Misalnya ketika Lintang yang hanya dengan mencoret-coret di atas pasir mampu memberikan rumusan ukuran-ukuran yang tepat untuk membuat sebuah perahu. Berdasarkan rumusan tersebut Ikal dan kawan-kawannya bisa membuat perahu, padahal kenyataannya dibutuhkan keahlian khusus dan pengalaman bertahun-tahun bagi seseorang untuk membuat perahu. Lalu bagaimana pula sebuah perahu kuno yang telah terkubur ratusan tahun dalam sungai bisa diangkat ke permukaan berkat ilmu fisika Lintang yang hanya tamatan SMP. Novel ini tak memberi penjelasan logis bagaimana Lintang yang tinggal di pulau terpencil sebagai petani kelapa bisa mengasah ilmunya hingga kini.

Seperti di tiga novel sebelumnya, Andrea juga masih menyajikan selipan berbagai kultur dan budaya Melayu dan suku-suku lain yang hidup berdampingan seperti Suku Sawang, Tionghoa, dan orang-orang bersarung. Karenanya Gangsar Sukrisno selaku CEO Penerbit Bentang Pustaka mengatakan bahwa tetralogi LP merupakan cultural literary non fiction yaitu sebuah karya non fiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya.

Berlebihankah? Hal ini membuka peluang untuk didiskusikan lebih lanjut. Jika memang demikian, maka Andrea telah menyumbangkan sesuatu yang berharga dalam khazanah sastra kita. Dan sangat disayangkan jika setelah menuntaskan Tetraloginya ini Andrea dikabarkan akan 'menghilang' untuk sementara. Apakah Andrea sedang mematangkan kelanjutan dari Maryamah Karpov yang memang belum selesai, atau ia sedang mempersiapkan karya yang lebih monumental? Semoga.

@h_tanzil


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Maryamah Karpov - Mimpi-mimpi Lintang

Hernadi Tanzil, Blog Buku Yang Kubaca

Maryamah Karpov adalah novel pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi. Bagi para pembaca Laskar Pelangi kehadiran novel ini sangatlah ditunggu-tunggu. Setelah mengalamai beberapa kali penundaan akhirnya novel ini terbit pada akhir November 2008 lalu saat emosi pembacanya membuncah seiring dengan diputarnya film Laskar Pelangi di bioskop-bioskop tanah air . Penerbit Bentang pun tampaknya tak menyia-nyiakan momen ini dengan segera menerbitkannya. Mereka optimis bahwa Maryamah Karpov akan meledak di pasaran seperti ketiga buku sebelumnya, karenanya untuk edisi pertamanya saja Bentang langsung mencetak 100 ribu kopi ! Jumlah yang fantastis dalam sejarah penerbitan buku fiksi di Indonesia.

Jauh hari sebelum novel ini terbit, tepatnya di buku kedua "Sang Pemimpi" (2006), pada bagian Epilog, Andrea telah memberikan sebersit informasi mengenai tema utama Maryamah Karpov yang sat itu sedang ditulisnya, cover buku Maryamah Karpov sendiri telah dipajang di novel ketiganya (Edensor,2007), dan semenjak itu muncul pula di cetakan-cetakan berikutnya baik di buku pertama hingga ketiga.

Berbagai bocoran informasi mengenai novel keempatnya dan suksesnya ketiga novel Laskar Pelangi ini tentu semakin membuat pembacanya semakin penasaran dengan novel terakhir dari tetralogi ini. Situasi ini juga dimanfaatkan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa bulan sebelum novel ini terbit, beredar novel palsu Maryamah Karpov dengan cover yang sama persis dengan yang diiklankan, selain itu beredar pula bersi digitalnya (ebook). Menanggapi hal ini, Renjana Organizer selaku manajemen Andrea Hirata sampai perlu mengeluarkan pernyataan yang diedarkan di milis-milis perbukuan dan sastra bahwa novel yang beredar tersebut adalah palsu.

Kini hampir dua bulan sudah Maryamah Karpov terbit dan telah dibaca oleh banyak orang. Berbagai komentar bermunculan . Ada yang memuji namun tak sedikit yang kecewa dengan novel pamungkas Laskar Pelangi ini. Di novel keempatnya yang lebih tebal dibanding ketiga novel lainnya Andrea masih menggunakan pola yang sama dengan dua novel terdahulunya yaitu dengan membagi kisah-kisahnya dalam bab-bab pendek atau yang ia tulis sebagai mozaik.

Pada separuh buku pertama, Andrea nyaris tak menghadirkan plot dengan sebuah konflik utama layaknya sebuah novel, masing-masing mozaik berdiri sendiri layaknya cerpen. Dengan bebas Andrea menyuguhkan berbagai kisah dari satu mozaik ke mozaik berikutnya. Benang merahnya adalah tokoh Ikal ketika telah berada di Belitong setelah menyelesaikan studinya dengan gemilang sebagai Master di bidang Ekonomi Telekomunikasi di Sorbone Perancis. Sayangnya karena ilmu yang dipelajarinya tak sesuai dengan kondisi kampung halamannya maka ia terpaksa menganggur.

Barulah di separuh buku berikutnya mulai terbentuk sebuah plot cerita dengan sebuah konflik utama yaitu pencarian Aling yang dikaguminya sedari kecil. Hal ini berawal ketika para nelayan menemukan beberapa mayat bertato gambar kupu-kupu yang merupakan tanda dari sebuah trah keluarga Tionghoa. Aling yang berasal dari trah keluarga tersebut juga memiliki tato yang sama pada lengannya.

Banyak yang menduga bahwa mayat-mayat itu adalah para pelintas batas yang sedang menuju Singapura yang dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut oleh bajak laut di kawasan Batuan yang bernama Tambok. Ikal menduga Aling dan seluruh keluarganya turut dalam rombongan para pelintas batas itu dan berharap masih hidup dalam tawanan Tambok di pulau Batuan.

Ikal bertekad mencari Aling hingga ke Batuan. Tak mampu untuk menyewa perahu, ia memutuskan untuk membuat perahu sendiri! Bagaimana mungkin?, untunglah Ikal mendapat bantuan dari si jenius Lintang yang dengan dalil-dalil fisika dan matematikanya mampu memberikan rumusan-rumusan matematis untuk membuat sebuah perahu. Selain itu Ikal juga dibantu oleh teman-teman Laskar Pelanginya yang tanpa pamrih menolong Ikal membuat perahu untuk mencari pujaan hatinya. Sebagai penghargaan terhadap Lintang maka perahunya tersebut diberi nama , "Mimpi-mimpi Lintang".

Kisah Ikal berjuang membuat perahu yang penuh rintangan hingga pelayarannya bersama Mahar dan dua orang kawannya untuk mencari Aling terus mengalir dari bab ke bab dengan seru dan menegangkan. Sayangnya setelah kisah petualangan ini berakhir, tiba-tiba di bab berikutnya tersaji kisah yang tak ada hubungannya dengan kisah sebelumnya. Suspend yang begitu kuat yang telah dibangun Andrea dalam kisah petualangan Ikal mencari Aling tiba-tiba anjlok karena Andrea malah memilih kisah lain. Padahal masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab mengenai kepergian Aling. Alih-alih membuat kisah yang melatarbelakangi bagaimana Aling hingga berlayar ke Singapura atau bagaimana kisah Aling selama dalam tawanan bajak laut, Andrea malah bercerita tentang Ikal yang harus mengatasi traumanya memasuki klinik gigi.

Walau demikian seperti di novel-novel terdahulunya kepiawaian Andrea dalam mengolah kalimat dengan metafora-metaforanya yang indah membuat novel ini begitu menarik, menghibur, dan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan memotivasi pembacanya untuk melakukan hal-hal yang besar untuk mengejar mimpi. Kepiawaian Andrea memilih kalimat-kalimat dan merangkai kata dalam mendeskripsikan berbagai kisah mampu mengikat pembacanya untuk membaca novel ini hingga tuntas . Untuk urusan ini Andrea memang jempolan dan pendongeng yang baik.

Lalu siapa sesungguhnya Maryamah Karpov yang dijadikan judul dalam novel ini? Uniknya kisah si pemilik nama berbau Rusia ini hanya muncul beberapa kalimat saja, itupun baru muncul di pertengahan buku ini. Andrea hanya menyebutkan bahwa pemilik nama tersebut adalah Cik Maryamah yang karena kemahirannya mengajarkan permainan catur dengan langkah-langkah Karpov (Grand Master Catur Dunia) maka sesuai dengan kebiasaan Melayu yang sering memberikan julukan di belakang nama aslinya, maka diberilah nama Maryamah Karpov. Hanya itu, selebihnya nama dan kisah Maryamah tak lagi muncul dalam novel ini. Jika demikian mengapa nama wanita ini yang dijadikan judul?

Menyimak komentar dari banyak pembaca yang telah menuntaskan buku ini , soal judul inilah yang paling dipertanyakan oleh para pembacanya. Selain itu, tema umum dari novel ini juga menjadi tanda tanya besar karena meleset jauh dari tema soal perempuan yang sering telah diungkapkan Andrea dalam berbagai kesempatan. Di buku Sang Pemimpi (2006), Andrea dalam epilognya mengungkapkan bahwa, Maryamah Karpov akan membahas tentang " penghormatan kepada kaum perempuan" (Sang Pemimpi, hal 277). Pertanyaannya kini, bagian manakah dalam novel ini yang mengandung penghormatan terhadap perempuan? Bukankah ini hanyalah sebuah kisah romantika Ikal mencari Aling yang dibungkus petualangan seru.

Kejanggalan tersebut dan juga endingnya yang menggantung pada akhirnya memunculkan spekulasi bahwa akan ada Maryamah Karpov jilid 2. Untuk itu saya mencoba mengkonfirmasikan hal ini langsung pada Andrea Hirata. Dalam perbincangan telponnya, Andrea menegaskan bahwa Maryamah Karpov memang dibuat menjadi dua jilid. Jilid pertama yang sekarang telah terbit memang tak banyak membicarakan Maryamah Karpov karena di jilid ini Andrea bermaksud membangun karakter tokoh-tokoh yang kelak akan dimatangkan di jilid keduanya. Dan di jilid keduanyalah Maryamah Karpov akan banyak berperan.

Namun sangat disayangkan, dengan tegas Andrea menyatakan bahwa hingga saat ini jilid 2 Maryamah Karpov tidak akan diterbitkan !. Andrea mengungkapkan bahwa ada berbagai pertimbangan yang menyebabkan ia terpaksa menolak untuk menerbitkan Maryamah Karpov jilid 2 dan memilih 'menghilang' sementara dari dunia kepenulisan. Pertimbangan apa? Daripada saya salah mengutip pernyataan Andrea yang disampaikan pada saya lewat telpon, biarlah Andrea atau Renjana Organizer sendiri yang akan menjelaskannya pada publik kelak karena pembaca Tetralogi Laskar Pelangi butuh penjelasan yang tuntas dari penulis mengenai tidak tuntasnya novel pamungkas ini.

Selain soal keterkaitan antara judul dan isi, soal logika juga menjadi hal yang cukup mengganggu. Misalnya ketika Lintang yang hanya dengan mencoret-coret di atas pasir mampu memberikan rumusan ukuran-ukuran yang tepat untuk membuat sebuah perahu. Berdasarkan rumusan tersebut Ikal dan kawan-kawannya bisa membuat perahu, padahal kenyataannya dibutuhkan keahlian khusus dan pengalaman bertahun-tahun bagi seseorang untuk membuat perahu. Lalu bagaimana pula sebuah perahu kuno yang telah terkubur ratusan tahun dalam sungai bisa diangkat ke permukaan berkat ilmu fisika Lintang yang hanya tamatan SMP. Novel ini tak memberi penjelasan logis bagaimana Lintang yang tinggal di pulau terpencil sebagai petani kelapa bisa mengasah ilmunya hingga kini.

Seperti di tiga novel sebelumnya, Andrea juga masih menyajikan selipan berbagai kultur dan budaya Melayu dan suku-suku lain yang hidup berdampingan seperti Suku Sawang, Tionghoa, dan orang-orang bersarung. Karenanya Gangsar Sukrisno selaku CEO Penerbit Bentang Pustaka mengatakan bahwa tetralogi LP merupakan cultural literary non fiction yaitu sebuah karya non fiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya.

Berlebihankah? Hal ini membuka peluang untuk didiskusikan lebih lanjut. Jika memang demikian, maka Andrea telah menyumbangkan sesuatu yang berharga dalam khazanah sastra kita. Dan sangat disayangkan jika setelah menuntaskan Tetraloginya ini Andrea dikabarkan akan 'menghilang' untuk sementara. Apakah Andrea sedang mematangkan kelanjutan dari Maryamah Karpov yang memang belum selesai, atau ia sedang mempersiapkan karya yang lebih monumental? Semoga.

@h_tanzil


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] SALAM SEPATU untuk Bush

HERNADI TANZIL, Koran Tempo, 28 January 2009

Siapa yang menyangka, seorang Presiden negara adidaya yang terhormat di akhir masa jabatannya akan dipermalukan harkat dan martabatnya oleh seorang wartawan dari negara yang di'jajah'nya. Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS yang paling bergengsi di dunia "Air Force One".

Selain ingin berpamitan dengan tentara AS di Irak, tujuan utama Bush adalah untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak yang sempat direvisi beberapa kali dan ditentang oleh sebagian faksi di parlemen Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki melakukan konferensi pers. Dan saat itulah Bush menerima perlakuan memalukan yang bakal dikenang sepanjang masa baik oleh Bush pribadi maupun seluruh masyarakat dunia.

Karena peristiwa penandatangan pakta keamanan ini demikian penting, dan konferensi pers tersebut telah diagendakan sebelumnya, tentunya peristiwa ini dihadiri oleh para wartawan dalam dan luar negeri dengan kamera televisi yang siap menayangkannya secara live. Seluruh petugas Secret Service juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum lengkap dengan peralatan canggihnya. Telah dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada, bom, pistol, atau apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba peristiwa luar biasa terjadi. Seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar Al-Zaidi tiba-tiba melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , "Good bye, dog!". Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, Al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, untung Bush pandai berkelit sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Walau luput dari lemparan sepatu, namun peristiwa memalukan yang diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia itu telah tersebar dengan cepat, menghibur banyak pemirsa dan segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjangi sejarah kepresidenan AS karena tapak sepatu adalah simbol penghinaaan pamungkas dalam budaya Arab. Setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad pada April 2003, banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka.

Jika selama ini kita hanya membaca dan melihat peristiwa tersebut melalui koran-koran, televisi, streaming video di internet, dll. Kini kita bisa membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku yang ditulis oleh Muhsin Labib, jurnalis, cendekiawan muslim, salah satu penulis buku best seller "Ahmadinejad! David di tengah angkara Goliath Dunia " (Hikmah, 2006). Buku ini tampaknya memang sengaja dibuat secara cepat oleh penerbitnya agar kisah sepatu itu masih segar dalam ingatan kita. Jika diistilahkan mungkin buku ini disebut dengan 'flash book' atau ada juga yang menyebutnya 'magazine book' , buku yang dibuat untuk menangkap sebuah moment peristiwa yang sedang trend secara cepat. Biasanya buku jenis ini tak terlalu tebal dan hanya menyarikan dari berita-berita yang beredar di media masa.

Menurut penerbitnya (Rajut Publishing) Buku Goodbye Bush! ini mungkin merupakan salah satu buku tercepat yang pernah dibuat. Diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Apa yang bisa dihasilkan dengan buku yang dibuat secepat demikian? Walau dibuat secara cepat tampaknya buku ini tidak dibuat secara serampangan karena nama penulisnya dan penerbit tentu saja dipertaruhkan di buku ini. Oleh penulisnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama memuat serangkaian peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak dan polemik-polemiknya . Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut akan terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Bagian kedua memapar peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntahar al-Zaidi yang nyaris mengenai wajah George W. Bush. Lalu peristiwa-peristiwa susulan, atau respon dunia internasional pasca insiden memalukan itu. Di bagian ini akan terungkap hal-hal menarik dan lucu akibat aksi pelemparan sepatu tersebut, seperti bagaimana kini sepatu usang dengan model tahun 99 itu jadi sepatu yang paling dicari sampai-sampai ada yang menawarnya hingga 110 milyar hanya untuk satu buah sepatu.

Dimana kini sepatu itu berada? Jawabannya bisa ditemui di buku ini. Yang pasti kini pabrik pembuat sepatu tersebut kebanjiran order karena pesanan jenis sepatu tersebut naik hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Selain itu terungkap pula bahwa kejaidan aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut. Banyak hal-hal menarik dan lucu di bagian ini tentunya saya tak akan mengungkapkannya dalam tulisan ini agar pembaca merasakan sendiri sensasi kelucuan dan keterkejutan membaca fakta-fakta yang ada akibat insiden ini.

Di Bagian ketiga memuat profil singkat pelempar sepatu, Munthadar dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan, hingga ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi. Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawawan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para infitadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu!

Pada intinya buku kecil yang juga dilengkapi dengan foto-foto ini memuat secara kronologis latar belakang, sebelum, saat, dan berbagai reaksi setelah insiden pelemparan sepatu terjadi. Tak ada analisis komprehensif atau abstraksi intelektual tingkat tinggi dalam buku ini karena memang bukan untuk tujuan itu buku ini dibuat. Buku ini hanya merangkum berbagai berita dan kisah insiden ini yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun cyber sehingga buku ini sangat renyah, enak dibaca, dan dapat tuntas hanya dalam sekali duduk.

Namun bukan berarti buku ini sekedar 'buku kacangan'. Tampaknya ini buku pertama di Indonesia (bahkan mungkin di dunia?) yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak hal positif yang mungkin bisa diperoleh dalam buku ini. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh dalam sebuah buku, melalui buku kini kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

 HERNADI TANZIL
  • BOOK BLOGGER & BOOK REVIEWER
  • PENGELOLA SITUS HTTP://BUKUYGKUBACA.BLOGSPOT.COM


    www.dinamikaebooks.com

    [resensi buku] SALAM SEPATU untuk Bush

    HERNADI TANZIL, Koran Tempo, 28 January 2009

    Siapa yang menyangka, seorang Presiden negara adidaya yang terhormat di akhir masa jabatannya akan dipermalukan harkat dan martabatnya oleh seorang wartawan dari negara yang di'jajah'nya. Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS yang paling bergengsi di dunia "Air Force One".

    Selain ingin berpamitan dengan tentara AS di Irak, tujuan utama Bush adalah untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak yang sempat direvisi beberapa kali dan ditentang oleh sebagian faksi di parlemen Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki melakukan konferensi pers. Dan saat itulah Bush menerima perlakuan memalukan yang bakal dikenang sepanjang masa baik oleh Bush pribadi maupun seluruh masyarakat dunia.

    Karena peristiwa penandatangan pakta keamanan ini demikian penting, dan konferensi pers tersebut telah diagendakan sebelumnya, tentunya peristiwa ini dihadiri oleh para wartawan dalam dan luar negeri dengan kamera televisi yang siap menayangkannya secara live. Seluruh petugas Secret Service juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum lengkap dengan peralatan canggihnya. Telah dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada, bom, pistol, atau apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

    Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba peristiwa luar biasa terjadi. Seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar Al-Zaidi tiba-tiba melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , "Good bye, dog!". Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, Al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, untung Bush pandai berkelit sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

    Walau luput dari lemparan sepatu, namun peristiwa memalukan yang diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia itu telah tersebar dengan cepat, menghibur banyak pemirsa dan segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjangi sejarah kepresidenan AS karena tapak sepatu adalah simbol penghinaaan pamungkas dalam budaya Arab. Setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad pada April 2003, banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka.

    Jika selama ini kita hanya membaca dan melihat peristiwa tersebut melalui koran-koran, televisi, streaming video di internet, dll. Kini kita bisa membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku yang ditulis oleh Muhsin Labib, jurnalis, cendekiawan muslim, salah satu penulis buku best seller "Ahmadinejad! David di tengah angkara Goliath Dunia " (Hikmah, 2006). Buku ini tampaknya memang sengaja dibuat secara cepat oleh penerbitnya agar kisah sepatu itu masih segar dalam ingatan kita. Jika diistilahkan mungkin buku ini disebut dengan 'flash book' atau ada juga yang menyebutnya 'magazine book' , buku yang dibuat untuk menangkap sebuah moment peristiwa yang sedang trend secara cepat. Biasanya buku jenis ini tak terlalu tebal dan hanya menyarikan dari berita-berita yang beredar di media masa.

    Menurut penerbitnya (Rajut Publishing) Buku Goodbye Bush! ini mungkin merupakan salah satu buku tercepat yang pernah dibuat. Diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Apa yang bisa dihasilkan dengan buku yang dibuat secepat demikian? Walau dibuat secara cepat tampaknya buku ini tidak dibuat secara serampangan karena nama penulisnya dan penerbit tentu saja dipertaruhkan di buku ini. Oleh penulisnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama memuat serangkaian peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak dan polemik-polemiknya . Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut akan terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

    Bagian kedua memapar peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntahar al-Zaidi yang nyaris mengenai wajah George W. Bush. Lalu peristiwa-peristiwa susulan, atau respon dunia internasional pasca insiden memalukan itu. Di bagian ini akan terungkap hal-hal menarik dan lucu akibat aksi pelemparan sepatu tersebut, seperti bagaimana kini sepatu usang dengan model tahun 99 itu jadi sepatu yang paling dicari sampai-sampai ada yang menawarnya hingga 110 milyar hanya untuk satu buah sepatu.

    Dimana kini sepatu itu berada? Jawabannya bisa ditemui di buku ini. Yang pasti kini pabrik pembuat sepatu tersebut kebanjiran order karena pesanan jenis sepatu tersebut naik hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

    Selain itu terungkap pula bahwa kejaidan aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut. Banyak hal-hal menarik dan lucu di bagian ini tentunya saya tak akan mengungkapkannya dalam tulisan ini agar pembaca merasakan sendiri sensasi kelucuan dan keterkejutan membaca fakta-fakta yang ada akibat insiden ini.

    Di Bagian ketiga memuat profil singkat pelempar sepatu, Munthadar dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan, hingga ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi. Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawawan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para infitadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu!

    Pada intinya buku kecil yang juga dilengkapi dengan foto-foto ini memuat secara kronologis latar belakang, sebelum, saat, dan berbagai reaksi setelah insiden pelemparan sepatu terjadi. Tak ada analisis komprehensif atau abstraksi intelektual tingkat tinggi dalam buku ini karena memang bukan untuk tujuan itu buku ini dibuat. Buku ini hanya merangkum berbagai berita dan kisah insiden ini yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun cyber sehingga buku ini sangat renyah, enak dibaca, dan dapat tuntas hanya dalam sekali duduk.

    Namun bukan berarti buku ini sekedar 'buku kacangan'. Tampaknya ini buku pertama di Indonesia (bahkan mungkin di dunia?) yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak hal positif yang mungkin bisa diperoleh dalam buku ini. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh dalam sebuah buku, melalui buku kini kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

     HERNADI TANZIL
  • BOOK BLOGGER & BOOK REVIEWER
  • PENGELOLA SITUS HTTP://BUKUYGKUBACA.BLOGSPOT.COM


    www.dinamikaebooks.com

    [resensi buku] Menyelami Dasa-Dasar Kemanusiaan

    Sumber: Padang Ekspres (Minggu, 04 Januari 2009)

    Maka terbuktilah semuanya. Bahwa hidup seseorang selalu berdekatan dengan kesepian. Dan itu sesungguhnya terjadi dalam diri siapa saja. Pun seorang presiden! Baharuddin Joesoef Habibie merasakan itu ketika suatu malam rantai sejarah itu melingkarinya, ia sangat kesepian. Pengakuan pria bertubuh kecil itu diungkapkan dalam Detik-Detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (THC Mandiri, 2006).

    Sedangkan maha karya Roman Klasik yang Menggugah ini, David Herbert Lawrence (1885-1930) menyuguhkan tentang kesepian yang sangat dalam. Jauh di bawah ngarai yang sepi. Bahkan lebih. Siapapun tokoh di dalamnya, semuanya ingin mengungkapkan tentang kesepian itu. Seberapa dekatnya, seberapa pun intimnya kehidupan itu terjadi, kesepian tetaplah ada dalam sudut hati seseorang. Itulah sebuah dasar dari semua dasar di dalam jiwa manusia.

    Tetapi bagaimana semua itu tidak kelihatan di permukaan? Manusia sepertinya sangat bahagia dalam hidupnya. Tiada lain adalah penipuan. Penipuan terhadap diri sendiri dan tipuan terhadap lingkungannya. Begitulah Lawrence mengatakannya dengan jujur.

    Roman klasik ini mengalami revisi sebanyak tiga kali. Memiliki perjalanan yang rumit. Di Amerika sempat ditolak, tetapi cetakan bajakannya tetap beredar. Malahan Lawrence mencicipi royaltinya yang dikirim oleh pemilik sebuah toko buku. Dengan karya ini pula, Lawrence dipandang terlalu vulgar mengungkapkan hal purba dalam hidup manusia. Seks. Tetapi sebenarnya Lawrence ingin mengatakan sebuah kejujuran hakiki dalam hidup ini. Tidak ada tipuan dengan mengatasnamakan kekuasaan, daerah biru, dengan bingkai kehormatan. Jika itu terjadi, betapa keroposnya jiwa manusia itu.

    Lawrence seperti bersependapat dengan Sigmunt Freud. Hidup adalah seks. Jangan dustai itu. Jika ada yang melewatinya dengan seribu alasan seperti dikatakan Clifford maka hal itu adalah pelarian semata. Cliford mencoba untuk lari dari kenyataan. Hidup dalam angan-angan abadinya. Padahal, realitas dan harmoni itu memaksa untuk berjalan. Bahwa hidup manusia butuh seks! Namun apalah daya dirinya yang impoten dan lumpuh dengan segudang harta di Wragby? Tiada yang patut dibanggakan dan tak mesti dibanggakan, jika hal yang paling mendasar dalam hidup tidak mampu lagi dicapai.

    Demikianlah sang isteri tercinta, putri Chatterley\\\'s, Connie yang kesepian itu. Lari dan berlari. Jauh dan menjauh. Mencari dan mencari. Walau akhirnya ia dapatkan dari seorang tukang kebun, karyawan Clifford ia tetap bahagia. Merasakan benar-benar jadi perempuan! Perempuan yang sempurna. Maka pada waktu itulah, tidak ada lagi norma, kelas, yang hanya menjadi tipu daya bagi orang-orang yang tak mampu membahagiakan dirinya.

    Tetapi kebahagiaan selalu harus diperjuangkan. Harus ada yang dikorbankan. Connie mencampakkan kehormatan yang disandangnya di Wragby Hall. Sebuah istana yang angkuh. Ia menemukan di pondok kecil di tengah hutan. Di antara pohon oak dan bunga-bunga liar. Sementara, di Wragby Hall ia hanya mendapatkan kehormatan semu yang menjemu.

    Roman ini sudah sangat tua. Tetapi realitasnya selalu ada di depan mata kita. Betapa manusia selalu lari dari kenyataan. Menutupi fitrah itu dengan sempurna. Lalu fitrah itu seakan-akan tabu adanya.

    Ditulis dengan segudang narasi persoalan sosial, novel ini dianggap vulgar ketika ia bersentuhan dengan pencarian kenikmatan. Sangat vulgar. Tetapi demikianlah gaya Lawrence mengajak pembaca masuk dalam kehidupan Michealis dan Connie yang begitu jujur dan telanjang. Rasa Inggris yang romantis sangat kental, kritik sosialnya sangat tajam, begitu lihai Lawrence meletak posisi dan presisi.

    Buku ini patut dibaca oleh orang-orang ambisi terhadap segenap kehormatan dan kekuasaan semu. Agar tahu, hidup pada dasarnya adalah menunggu kematian. Mempertahankan hidup merupakan pekerjaan yang sudah ditetapkan. Meneruskan generasi adalah fitrah. Sedangkan seks adalah perihal utama dalam hidup ini.

    Sebuah buku yang sangat merusak gendang telinga kaum bangsawan. Anti kemapanan. Mempersoalkan keangkuhan. Karena memang, secara jujur dikatakan, cinta, seks, kepuasan batin adalah pencarian yang hakiki dari hidup ini.

    Bila ada pendapat, teks sastra berkualitas akan mampu hidup mandiri, salah satunya pembuktian itu adalah karya DH Lawrence ini. Ia memang lekat dan akrab dengan cara manusia untuk bertahan hidup. Bertahan hidup dengan segala cara. [abdullah khusair]


    www.dinamikaebooks.com

    [resensi buku] Menyelami Dasa-Dasar Kemanusiaan

    Sumber: Padang Ekspres (Minggu, 04 Januari 2009)

    Maka terbuktilah semuanya. Bahwa hidup seseorang selalu berdekatan dengan kesepian. Dan itu sesungguhnya terjadi dalam diri siapa saja. Pun seorang presiden! Baharuddin Joesoef Habibie merasakan itu ketika suatu malam rantai sejarah itu melingkarinya, ia sangat kesepian. Pengakuan pria bertubuh kecil itu diungkapkan dalam Detik-Detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (THC Mandiri, 2006).

    Sedangkan maha karya Roman Klasik yang Menggugah ini, David Herbert Lawrence (1885-1930) menyuguhkan tentang kesepian yang sangat dalam. Jauh di bawah ngarai yang sepi. Bahkan lebih. Siapapun tokoh di dalamnya, semuanya ingin mengungkapkan tentang kesepian itu. Seberapa dekatnya, seberapa pun intimnya kehidupan itu terjadi, kesepian tetaplah ada dalam sudut hati seseorang. Itulah sebuah dasar dari semua dasar di dalam jiwa manusia.

    Tetapi bagaimana semua itu tidak kelihatan di permukaan? Manusia sepertinya sangat bahagia dalam hidupnya. Tiada lain adalah penipuan. Penipuan terhadap diri sendiri dan tipuan terhadap lingkungannya. Begitulah Lawrence mengatakannya dengan jujur.

    Roman klasik ini mengalami revisi sebanyak tiga kali. Memiliki perjalanan yang rumit. Di Amerika sempat ditolak, tetapi cetakan bajakannya tetap beredar. Malahan Lawrence mencicipi royaltinya yang dikirim oleh pemilik sebuah toko buku. Dengan karya ini pula, Lawrence dipandang terlalu vulgar mengungkapkan hal purba dalam hidup manusia. Seks. Tetapi sebenarnya Lawrence ingin mengatakan sebuah kejujuran hakiki dalam hidup ini. Tidak ada tipuan dengan mengatasnamakan kekuasaan, daerah biru, dengan bingkai kehormatan. Jika itu terjadi, betapa keroposnya jiwa manusia itu.

    Lawrence seperti bersependapat dengan Sigmunt Freud. Hidup adalah seks. Jangan dustai itu. Jika ada yang melewatinya dengan seribu alasan seperti dikatakan Clifford maka hal itu adalah pelarian semata. Cliford mencoba untuk lari dari kenyataan. Hidup dalam angan-angan abadinya. Padahal, realitas dan harmoni itu memaksa untuk berjalan. Bahwa hidup manusia butuh seks! Namun apalah daya dirinya yang impoten dan lumpuh dengan segudang harta di Wragby? Tiada yang patut dibanggakan dan tak mesti dibanggakan, jika hal yang paling mendasar dalam hidup tidak mampu lagi dicapai.

    Demikianlah sang isteri tercinta, putri Chatterley\\\'s, Connie yang kesepian itu. Lari dan berlari. Jauh dan menjauh. Mencari dan mencari. Walau akhirnya ia dapatkan dari seorang tukang kebun, karyawan Clifford ia tetap bahagia. Merasakan benar-benar jadi perempuan! Perempuan yang sempurna. Maka pada waktu itulah, tidak ada lagi norma, kelas, yang hanya menjadi tipu daya bagi orang-orang yang tak mampu membahagiakan dirinya.

    Tetapi kebahagiaan selalu harus diperjuangkan. Harus ada yang dikorbankan. Connie mencampakkan kehormatan yang disandangnya di Wragby Hall. Sebuah istana yang angkuh. Ia menemukan di pondok kecil di tengah hutan. Di antara pohon oak dan bunga-bunga liar. Sementara, di Wragby Hall ia hanya mendapatkan kehormatan semu yang menjemu.

    Roman ini sudah sangat tua. Tetapi realitasnya selalu ada di depan mata kita. Betapa manusia selalu lari dari kenyataan. Menutupi fitrah itu dengan sempurna. Lalu fitrah itu seakan-akan tabu adanya.

    Ditulis dengan segudang narasi persoalan sosial, novel ini dianggap vulgar ketika ia bersentuhan dengan pencarian kenikmatan. Sangat vulgar. Tetapi demikianlah gaya Lawrence mengajak pembaca masuk dalam kehidupan Michealis dan Connie yang begitu jujur dan telanjang. Rasa Inggris yang romantis sangat kental, kritik sosialnya sangat tajam, begitu lihai Lawrence meletak posisi dan presisi.

    Buku ini patut dibaca oleh orang-orang ambisi terhadap segenap kehormatan dan kekuasaan semu. Agar tahu, hidup pada dasarnya adalah menunggu kematian. Mempertahankan hidup merupakan pekerjaan yang sudah ditetapkan. Meneruskan generasi adalah fitrah. Sedangkan seks adalah perihal utama dalam hidup ini.

    Sebuah buku yang sangat merusak gendang telinga kaum bangsawan. Anti kemapanan. Mempersoalkan keangkuhan. Karena memang, secara jujur dikatakan, cinta, seks, kepuasan batin adalah pencarian yang hakiki dari hidup ini.

    Bila ada pendapat, teks sastra berkualitas akan mampu hidup mandiri, salah satunya pembuktian itu adalah karya DH Lawrence ini. Ia memang lekat dan akrab dengan cara manusia untuk bertahan hidup. Bertahan hidup dengan segala cara. [abdullah khusair]


    www.dinamikaebooks.com

    [resensi buku] Jenghis Khan, Menziarahi yang Dipilih Langit Abadi

    Sumber: Ruang Baca Koran Tempo (Edisi 57, Januari 2009)

    MONGOLIA adalah hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Tersuruk di jantung Asia, berbatasan dengan Rusia di Utara dan Republik Rakyat Cina di Selatan, wilayah ini bukanlah kawasan yang ramah dihuni. Dikepung pengunungan di Barat dan Utara serta Gurun Gobi di Selatan, mayoritas penduduknya menjalani kehidupan pengembara sebagai pengembala dan pemburu. Alam yang keras menempa orang-orang Mongol. Siksaan lalat yang menyerbu di musim panas, atau gigil menembus sumsum di musim dingin, hanya ujian kecil bagi ketangguhan mereka. Di banyak kisah, orang Mongol dilukiskan sangat mahir menunggang kuda dan melesatkan anak panah dari busur berujung lengkung paduan tanduk, kayu, dan otot hewan.

    Dari hamparan padang rumput yang kini dikenal sebagai Avraga (di kaki pengunungan Khenti, dialiri dua sungai, Onon dan Kherlen) di Mongolia Tengah, di bawah pimpinan Temujin yang kelak dikenal dengan nama Jenghis Khan--atau Genghis Khan--lebih delapan abad silam para prajurit Mongol menyerbu wilayah sekitar. Menancapkan kekuasan, mendirikan kerajaan daratan terbesar yang pernah dikenal peradaban, yang di abad ke-21 ini meliputi negara-negara di Asia Tengah, Cina, Tibet, Rusia, Iran, Afganistan, Turki, Syiria, Ukraina, Hungaria, hingga Polandia.

    Apakah rahasianya karena busur yang di zamannya tergolong temuan jenius dipadu kepiawaian menunggang kuda? Ketangguhan hasil tempaan budaya padang rumput? Ataukah bangsa Mongol, lewat Temujin, memang ditakdirkan oleh kekuasaan Langit Abadi menjadi penguasa dunia? Berbekal manuskrip Sejarah Rahasia Bangsa Mongol (The Secret History of the Mongols) yang diperkirakan ditulis pada 1228 oleh Shigi, di musim panas 2002 sejarawan dan travel writer Inggris, John Man, menjejak ibu kota Mongolia, Ulan Bator, lalu ke Avraga mengawali napak-tilas jejak Jenghis Khan dan sejarah penalukkan yang dipatri bangsanya.

    Di kalangan yang meminati studi tentang Mongol dan Asia umumnya (terutama Cina), Man adalah sejarawan dan penulis yang dihormati. Buku-buku yang dia tulis, semisal Gobi: Tracking the Desert (Yale University Press, 2001) atau Gutenberg: How One Man Remade the World with Words (Wiley, 2002), dipuji karena penulisannya yang menjalinkan masa lalu lewat riset pustaka saksama dengan kenyataan in situ hari ini di mana peristiwa sejarahnya terjadi. Boleh dibilang, di tangan Man fakta sejarah tetap dingin dan rigid, tapi peristiwa yang mengiringinya menjadi hidup dan berwarna.

    Jenghis Khan: Legenda Sang penakluk dari Mongolia ditulis dengan pendekatan yang kurang lebih sama. Man memang menjadikan Sejarah Rahasia Bangsa Mongol sebagai rujukan utama, namun dengan ditopang sejumlah literatur kredibel, termasuk riset terakhir pemetaan DNA yang tersebar di seluruh Eurasia. Dan yang terpenting: napak-tilasnya menelusuri jejak Temujin dari bayi yang lahir dengan segumpal darah di tangan, menjadi Jenghis Khan, hingga kematian dan makamnya yang tetap jadi misteri.

    Man membawa kita memasuki dunia Mongol dan padang rumputnya, tempat Temujin dilahirkan sekitar 1206 dari pasangan Yesugai dan Hoelun, dengan menggambarkan langit biru tenang yang sesekali dipecah oleh nyanyian burung skylark, sekumpulan ger (tenda khas Mongol), kuda-kuda, dan hewan gembalaan. Yang makanan terlezat adalah Kaserol Marmut dipadu vodka.

    Kehilangan ayah yang tewas diracun di usia delapan tahun, Temujin bersama lima saudaranya hanya diasuh sang Ibu dalam tekanan kemiskinan dan kelaparan. Begitu miskinnya, bahkan hanya karena memperebutkan burung lark dan ikan kecil tangkapannya, diusia 11 tahun Temujin tega membunuh saudara seayahnya, Begter.

    Di usia 12 tahun dia nyaris tewas saat melarikan diri dari penahanan suku lawan. Keberuntungan yang sama berulang saat berusia 20 tahun sukunya diserang salah satu suku terkuat, Merkit. Kendati Temujin berhasil meloloskan diri, istrinya, Borte, ditangkap dan ditawan.

    Peristiwa itu menjadi titik balik lahirnya Jenghis Khan, yang dalam pelariannya mendaki puncak Burkhan Kaldun, mengakui, "Aku adalah seekor kutu.... Tapi aku dilindungi." Sang "Kutu" inilah yang lalu mengumpulkan pengikut dan menyerang balik Suku Merkit, memorak-porandakan mereka, membebaskan Borte, dan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin klan kedua terkuat di Mongolia di usia 30 tahun.

    Setelah itu Temujin bagai tak terhentikan. Bersama para sekutu dia menaklukkan dan menyatukan klan-klan lain lewat pertempuran yang sekali lagi hampir membuatnya terbunuh. Penyatuan inilah yang kemudian manahbiskan dia sebagai pemimpin tertinggi bangsa Mongol dengan gelar Jenghis Khan.

    Sukses menyatukan seluruh suku di Mongolia, Jenghis Khan memalingkan sasaran ke Kerajaan Xi Xia, yang terletak di sisi lain Gurun Gobi. Sejaran mencatat, kutip Man, penaklukkan Xi Xia adalah etnosida sangat sukses karena nyaris berhasil menghilangkan jejak apa pun yang berkaitan dengan kerajaan ini, termasuk bahasanya.

    Usai memapas Xi Xia, Jenghis Khan melabrak Kerajaan Jin yang berpusat di Beijing. Bergerak cepat dengan kuda-kuda kecil tapi gesit, bersenjata panah busur lengkung, pasukan Mongol mendesak penguasa Jin melarikan diri, meninggalkan kota-kota yang porak-poranda dan tumpukan mayat menggunung.

    Dari Beijing, Jenghis Khan menoleh ke dunia muslim yang ketika itu berpusat di Baghad, ke kerajaan yang dikenal dengan nama Khwarezm (saat ini meliputi sebagian besar wilayah perbatasan antara Uzbekistan dan Turkmenistan serta sebagian Iran dan Afganistan). Tak terhentikan, terutama karena kebodohan dan kepongahan penguasa, tentara Mongol menginvasi kota-kota utama pusat peradaban Islam: Samarkand, Bukhara, Urgench, Khojend, Merv, Nishapur, dan Gurganj.

    Di Merv pasukan Mongol bukan hanya membumi-hanguskan kota ini, tetapi juga membantai tak kurang dari 1,3 juta penduduknya. Jumlah yang kurang lebih sama juga menimpa Urgench. Begitu besarnya jumlah manusia yang tewas, dengan motivasi bukan karena ras atau agama, melainkan bersifat lokal dan strategis, Man mendifinisikan pembantaian jutaan pemeluk Islam itu bukan genosida, melainkan urbisida.

    Setelah menaklukkan Khwarezm, Jenghis Khan berpaling ke Eropa, menginvasi kota-kota utama di Rusia, Polandia, dan Hungaria, mendominasi wilayah yang membentang dari Samudera Pasifik hingga Laut Kaspia. Hanya kematiannyalah (diperkirakan terjadi pada 1227) yang sejenak menghentikan operasi penalukkan Mongol -- kemudian dilanjutkan pewarisnya, Ogedei, kemudian cucunya, Kublai (Khubilai) Khan, yang nantinya menjadi pendiri salah satu dinasti terbesar Cina, Dinasti Yuan.

    Kematian dan juga tempat Jenghis Khan dikuburkan diakui Man tetap merupakan teka-teki tak terpecahkan. Konon dia tewas oleh sebab luka tikam dari perempuan yang dipersembahkan untuknya. Versi lain menyebut Jenghis Khan pralaya karena diare akut.

    Penyebab kematian Jenghis Khan tak beda dengan kesimpang-siuran letak makamnya. Salah satu versi menyebutkan, kemungkinan dia dikubur di Ordos, di sebelah selatan lengkungan besar Sungai Kuning, di mana saat ini berdiri Mausoleum Jenghis Khan. Spekulasi lain adalah di Burkhan Khaldun.

    Misteri di balik kematian dan makamnya justru memperkokoh kepercayaan orang Mongol, terutama para penganut "Sekte Jenghis Khan", yang kini memujanya sebagai Nabi atau Manusia Setengah Dewa. Mengutip teolog Sekte Jenghis Khan, Sharaldai, Man menulis: "Jenghis Khan adalah ruh bagi kita semua. Kita diciptakan oleh Langit Abadi. Jika kita mengikuti jalannya, kita semua akan menjadi abadi."

    Man, tak pelak, memang mengajak kita bertamasya memahami Mongolia, budaya, spiritualismenya, dan akhirnya menemukan jawaban mengapa "sang Kutu" Temujin akhirnya bermetamorfosis menjadi Nabi Langit Abadi. Mengapa Jenghis Khan menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga dongeng bukan hanya bagi bangsa Mongol. Mengapa dia jadi sosok paradoksal: antara kejam, disiplin, cerdas, ahli strategis, sederhana, bersahaya, dan visioner. Dan mengapa Rusia dan Cina yang bergantian menguasai Mongolia modern tak kuasa mengurangi pengaruh Jenghis Khan, berabad setelah kematiannya.

    Dari kualitas riset, buku ini belum sebanding dengan 1421: Saat China Menemukan Dunia (Alvabet, 2007) yang ditulis Gavin Menzies. Namun keunggulan Man adalah pada pilihan gaya penulisan yang membuat buku ini sama indahnya dengan sejarah Nabi Muhammad yang ditulis Martin Lings, Muhammad (Serambi, Cetakan V, 2008) atau riwayat penderita skizofrenia penerima Nobel Ekonomi 1994, John Forbes Nash, Jr., karya Sylvia Nasar, A Beautiful Mind (Gramedia Pustaka Utama, 2005).

    Keunggulan lain Man adalah dia masih terus mengekplorasi Jenghis Khan dan para penerusnya. Yang terakhir--semoga tak lama lagi beredar dalam edisi Indonesia--tentang sang cucu pendiri Dinasti Yuan, Kublai Khan, yang diterbitkan Bantam Press pada 2007.

    * Katamsi Ginano, praktisi komunikasi dan business development, juga pecinta buku.


    www.dinamikaebooks.com

    [resensi buku] Jenghis Khan, Menziarahi yang Dipilih Langit Abadi

    Sumber: Ruang Baca Koran Tempo (Edisi 57, Januari 2009)

    MONGOLIA adalah hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Tersuruk di jantung Asia, berbatasan dengan Rusia di Utara dan Republik Rakyat Cina di Selatan, wilayah ini bukanlah kawasan yang ramah dihuni. Dikepung pengunungan di Barat dan Utara serta Gurun Gobi di Selatan, mayoritas penduduknya menjalani kehidupan pengembara sebagai pengembala dan pemburu. Alam yang keras menempa orang-orang Mongol. Siksaan lalat yang menyerbu di musim panas, atau gigil menembus sumsum di musim dingin, hanya ujian kecil bagi ketangguhan mereka. Di banyak kisah, orang Mongol dilukiskan sangat mahir menunggang kuda dan melesatkan anak panah dari busur berujung lengkung paduan tanduk, kayu, dan otot hewan.

    Dari hamparan padang rumput yang kini dikenal sebagai Avraga (di kaki pengunungan Khenti, dialiri dua sungai, Onon dan Kherlen) di Mongolia Tengah, di bawah pimpinan Temujin yang kelak dikenal dengan nama Jenghis Khan--atau Genghis Khan--lebih delapan abad silam para prajurit Mongol menyerbu wilayah sekitar. Menancapkan kekuasan, mendirikan kerajaan daratan terbesar yang pernah dikenal peradaban, yang di abad ke-21 ini meliputi negara-negara di Asia Tengah, Cina, Tibet, Rusia, Iran, Afganistan, Turki, Syiria, Ukraina, Hungaria, hingga Polandia.

    Apakah rahasianya karena busur yang di zamannya tergolong temuan jenius dipadu kepiawaian menunggang kuda? Ketangguhan hasil tempaan budaya padang rumput? Ataukah bangsa Mongol, lewat Temujin, memang ditakdirkan oleh kekuasaan Langit Abadi menjadi penguasa dunia? Berbekal manuskrip Sejarah Rahasia Bangsa Mongol (The Secret History of the Mongols) yang diperkirakan ditulis pada 1228 oleh Shigi, di musim panas 2002 sejarawan dan travel writer Inggris, John Man, menjejak ibu kota Mongolia, Ulan Bator, lalu ke Avraga mengawali napak-tilas jejak Jenghis Khan dan sejarah penalukkan yang dipatri bangsanya.

    Di kalangan yang meminati studi tentang Mongol dan Asia umumnya (terutama Cina), Man adalah sejarawan dan penulis yang dihormati. Buku-buku yang dia tulis, semisal Gobi: Tracking the Desert (Yale University Press, 2001) atau Gutenberg: How One Man Remade the World with Words (Wiley, 2002), dipuji karena penulisannya yang menjalinkan masa lalu lewat riset pustaka saksama dengan kenyataan in situ hari ini di mana peristiwa sejarahnya terjadi. Boleh dibilang, di tangan Man fakta sejarah tetap dingin dan rigid, tapi peristiwa yang mengiringinya menjadi hidup dan berwarna.

    Jenghis Khan: Legenda Sang penakluk dari Mongolia ditulis dengan pendekatan yang kurang lebih sama. Man memang menjadikan Sejarah Rahasia Bangsa Mongol sebagai rujukan utama, namun dengan ditopang sejumlah literatur kredibel, termasuk riset terakhir pemetaan DNA yang tersebar di seluruh Eurasia. Dan yang terpenting: napak-tilasnya menelusuri jejak Temujin dari bayi yang lahir dengan segumpal darah di tangan, menjadi Jenghis Khan, hingga kematian dan makamnya yang tetap jadi misteri.

    Man membawa kita memasuki dunia Mongol dan padang rumputnya, tempat Temujin dilahirkan sekitar 1206 dari pasangan Yesugai dan Hoelun, dengan menggambarkan langit biru tenang yang sesekali dipecah oleh nyanyian burung skylark, sekumpulan ger (tenda khas Mongol), kuda-kuda, dan hewan gembalaan. Yang makanan terlezat adalah Kaserol Marmut dipadu vodka.

    Kehilangan ayah yang tewas diracun di usia delapan tahun, Temujin bersama lima saudaranya hanya diasuh sang Ibu dalam tekanan kemiskinan dan kelaparan. Begitu miskinnya, bahkan hanya karena memperebutkan burung lark dan ikan kecil tangkapannya, diusia 11 tahun Temujin tega membunuh saudara seayahnya, Begter.

    Di usia 12 tahun dia nyaris tewas saat melarikan diri dari penahanan suku lawan. Keberuntungan yang sama berulang saat berusia 20 tahun sukunya diserang salah satu suku terkuat, Merkit. Kendati Temujin berhasil meloloskan diri, istrinya, Borte, ditangkap dan ditawan.

    Peristiwa itu menjadi titik balik lahirnya Jenghis Khan, yang dalam pelariannya mendaki puncak Burkhan Kaldun, mengakui, "Aku adalah seekor kutu.... Tapi aku dilindungi." Sang "Kutu" inilah yang lalu mengumpulkan pengikut dan menyerang balik Suku Merkit, memorak-porandakan mereka, membebaskan Borte, dan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin klan kedua terkuat di Mongolia di usia 30 tahun.

    Setelah itu Temujin bagai tak terhentikan. Bersama para sekutu dia menaklukkan dan menyatukan klan-klan lain lewat pertempuran yang sekali lagi hampir membuatnya terbunuh. Penyatuan inilah yang kemudian manahbiskan dia sebagai pemimpin tertinggi bangsa Mongol dengan gelar Jenghis Khan.

    Sukses menyatukan seluruh suku di Mongolia, Jenghis Khan memalingkan sasaran ke Kerajaan Xi Xia, yang terletak di sisi lain Gurun Gobi. Sejaran mencatat, kutip Man, penaklukkan Xi Xia adalah etnosida sangat sukses karena nyaris berhasil menghilangkan jejak apa pun yang berkaitan dengan kerajaan ini, termasuk bahasanya.

    Usai memapas Xi Xia, Jenghis Khan melabrak Kerajaan Jin yang berpusat di Beijing. Bergerak cepat dengan kuda-kuda kecil tapi gesit, bersenjata panah busur lengkung, pasukan Mongol mendesak penguasa Jin melarikan diri, meninggalkan kota-kota yang porak-poranda dan tumpukan mayat menggunung.

    Dari Beijing, Jenghis Khan menoleh ke dunia muslim yang ketika itu berpusat di Baghad, ke kerajaan yang dikenal dengan nama Khwarezm (saat ini meliputi sebagian besar wilayah perbatasan antara Uzbekistan dan Turkmenistan serta sebagian Iran dan Afganistan). Tak terhentikan, terutama karena kebodohan dan kepongahan penguasa, tentara Mongol menginvasi kota-kota utama pusat peradaban Islam: Samarkand, Bukhara, Urgench, Khojend, Merv, Nishapur, dan Gurganj.

    Di Merv pasukan Mongol bukan hanya membumi-hanguskan kota ini, tetapi juga membantai tak kurang dari 1,3 juta penduduknya. Jumlah yang kurang lebih sama juga menimpa Urgench. Begitu besarnya jumlah manusia yang tewas, dengan motivasi bukan karena ras atau agama, melainkan bersifat lokal dan strategis, Man mendifinisikan pembantaian jutaan pemeluk Islam itu bukan genosida, melainkan urbisida.

    Setelah menaklukkan Khwarezm, Jenghis Khan berpaling ke Eropa, menginvasi kota-kota utama di Rusia, Polandia, dan Hungaria, mendominasi wilayah yang membentang dari Samudera Pasifik hingga Laut Kaspia. Hanya kematiannyalah (diperkirakan terjadi pada 1227) yang sejenak menghentikan operasi penalukkan Mongol -- kemudian dilanjutkan pewarisnya, Ogedei, kemudian cucunya, Kublai (Khubilai) Khan, yang nantinya menjadi pendiri salah satu dinasti terbesar Cina, Dinasti Yuan.

    Kematian dan juga tempat Jenghis Khan dikuburkan diakui Man tetap merupakan teka-teki tak terpecahkan. Konon dia tewas oleh sebab luka tikam dari perempuan yang dipersembahkan untuknya. Versi lain menyebut Jenghis Khan pralaya karena diare akut.

    Penyebab kematian Jenghis Khan tak beda dengan kesimpang-siuran letak makamnya. Salah satu versi menyebutkan, kemungkinan dia dikubur di Ordos, di sebelah selatan lengkungan besar Sungai Kuning, di mana saat ini berdiri Mausoleum Jenghis Khan. Spekulasi lain adalah di Burkhan Khaldun.

    Misteri di balik kematian dan makamnya justru memperkokoh kepercayaan orang Mongol, terutama para penganut "Sekte Jenghis Khan", yang kini memujanya sebagai Nabi atau Manusia Setengah Dewa. Mengutip teolog Sekte Jenghis Khan, Sharaldai, Man menulis: "Jenghis Khan adalah ruh bagi kita semua. Kita diciptakan oleh Langit Abadi. Jika kita mengikuti jalannya, kita semua akan menjadi abadi."

    Man, tak pelak, memang mengajak kita bertamasya memahami Mongolia, budaya, spiritualismenya, dan akhirnya menemukan jawaban mengapa "sang Kutu" Temujin akhirnya bermetamorfosis menjadi Nabi Langit Abadi. Mengapa Jenghis Khan menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga dongeng bukan hanya bagi bangsa Mongol. Mengapa dia jadi sosok paradoksal: antara kejam, disiplin, cerdas, ahli strategis, sederhana, bersahaya, dan visioner. Dan mengapa Rusia dan Cina yang bergantian menguasai Mongolia modern tak kuasa mengurangi pengaruh Jenghis Khan, berabad setelah kematiannya.

    Dari kualitas riset, buku ini belum sebanding dengan 1421: Saat China Menemukan Dunia (Alvabet, 2007) yang ditulis Gavin Menzies. Namun keunggulan Man adalah pada pilihan gaya penulisan yang membuat buku ini sama indahnya dengan sejarah Nabi Muhammad yang ditulis Martin Lings, Muhammad (Serambi, Cetakan V, 2008) atau riwayat penderita skizofrenia penerima Nobel Ekonomi 1994, John Forbes Nash, Jr., karya Sylvia Nasar, A Beautiful Mind (Gramedia Pustaka Utama, 2005).

    Keunggulan lain Man adalah dia masih terus mengekplorasi Jenghis Khan dan para penerusnya. Yang terakhir--semoga tak lama lagi beredar dalam edisi Indonesia--tentang sang cucu pendiri Dinasti Yuan, Kublai Khan, yang diterbitkan Bantam Press pada 2007.

    * Katamsi Ginano, praktisi komunikasi dan business development, juga pecinta buku.


    www.dinamikaebooks.com