Senin, 02 Februari 2009

Senangnya Membantu Ibu

by: Dian A. Dewi
Buku ini menceritakan Sali dan Saliha yang senang membantu ibu.
 
Karena senang membantu, ibu makin sayang kepada mereka.


www.dinamikaebooks.com

Senangnya Membantu Ibu

by: Dian A. Dewi
Buku ini menceritakan Sali dan Saliha yang senang membantu ibu.
 
Karena senang membantu, ibu makin sayang kepada mereka.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Edensor: Ironi yang Menjadi Parodi

Lampung Post, Selasa, 8 April 2008

\"AKU ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: Meletup tidak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan.\"

\"Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!\"

Demikian, petikan dari novel Andrea Hirata yang berjudul Edensor, buku ketiga dari rangkaian empat novel yang dinamakan Tetralogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov).

Berbeda dengan setting cerita Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Edensor mengambil setting di luar negeri saat tokoh-tokoh utamanya, Ikal dan Arai, mendapat beasiswa untuk sekolah di Inggris dan Prancis. Dalam novel Edensor, Andrea makin mapan dengan ciri khasnya, mengelola kisah ironi menjadi parodi dan menertawakan kesedihan dengan berbalut pandangan-pandangan yang penuh inteligensia tentang culture shock ketika kedua tokoh utama tersebut (yang berasal dari pedalaman Melayu di Pulau Belitong) tiba-tiba berada di Paris.

Seperti novel-novel Andrea sebelumnya, Edensor memiliki kekuatan filosofis yang menebarkan semangat dan inspirasi bagi pembacanya. Tim Redaksi/S-2



www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Edensor: Ironi yang Menjadi Parodi

Lampung Post, Selasa, 8 April 2008

\"AKU ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: Meletup tidak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan.\"

\"Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!\"

Demikian, petikan dari novel Andrea Hirata yang berjudul Edensor, buku ketiga dari rangkaian empat novel yang dinamakan Tetralogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov).

Berbeda dengan setting cerita Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Edensor mengambil setting di luar negeri saat tokoh-tokoh utamanya, Ikal dan Arai, mendapat beasiswa untuk sekolah di Inggris dan Prancis. Dalam novel Edensor, Andrea makin mapan dengan ciri khasnya, mengelola kisah ironi menjadi parodi dan menertawakan kesedihan dengan berbalut pandangan-pandangan yang penuh inteligensia tentang culture shock ketika kedua tokoh utama tersebut (yang berasal dari pedalaman Melayu di Pulau Belitong) tiba-tiba berada di Paris.

Seperti novel-novel Andrea sebelumnya, Edensor memiliki kekuatan filosofis yang menebarkan semangat dan inspirasi bagi pembacanya. Tim Redaksi/S-2



www.dinamikaebooks.com

[artikel dinamika] Laskar Pelangi Unjuk Gigi di Asian Film Awards

Lampung Post, Kamis, 29 Januari 2009

FILM Laskar Pelangi dinominasikan menjadi Film Terbaik di Asian Film Awards 2009. Pada kategori tersebut, film garapan Riri Riza itu akan berhadapan dengan film garapan John Woo, Red Cliff.

Seperti keterangan pers yang diterima dari Milespublicist, Selasa (27-1), Selain Red Cliff, di kategori Film Terbaik, Laskar Pelangi akan bersaing dengan empat film lain dari wilayah Asia. Di antaranya, Forever Enthralled, The Good, The Bad, The Weird, Ponyo on the Cliff, dan Tokyo Sonata.

Laskar Pelangi juga berhasil mengantarkan Waluyo Ichwandiardono sebagai nomine Editor Terbaik di ajang penghargaan itu. Waluyo akan memperebutkan piala tersebut dengan Chan Ki-Hop, William Suk-Ping Chang, Darya Danilova dan Kim Sun-Min asal Korea Selatan.

Selain Asian Film Awards 2009, Laskar Pelangi juga akan unjuk gigi di Berlin International Film Festival yang berlangsung pada 5--15 Februari ini. Film yang diproduseri Mira Lesmana itu akan tampil di kategori Panorama.

Asian Film Awards merupakan ajang kompetisi yang berkesinambungan dengan Hong Kong International Film Festival (HKIFF). HKIFF akan berlangsung pada 22 Maret--13 April 2009. Dalam festival tersebut Laskar Pelangi juga ikut.

Film yang menggugah dan bercerita kehidupan dan perjuangan untuk mengenyam pendidikan ini diambil dari novel karya Andrea Hirata. Novel tersebut diangkat dari pengalaman masa kecil penulis ditambah dengan fiksi dan diramu sedemikian sehingga alur ceritanya mengalir dan mudah diikuti pembaca. DTC/L-1

www.mediabuku.com

[artikel dinamika] Laskar Pelangi Unjuk Gigi di Asian Film Awards

Lampung Post, Kamis, 29 Januari 2009

FILM Laskar Pelangi dinominasikan menjadi Film Terbaik di Asian Film Awards 2009. Pada kategori tersebut, film garapan Riri Riza itu akan berhadapan dengan film garapan John Woo, Red Cliff.

Seperti keterangan pers yang diterima dari Milespublicist, Selasa (27-1), Selain Red Cliff, di kategori Film Terbaik, Laskar Pelangi akan bersaing dengan empat film lain dari wilayah Asia. Di antaranya, Forever Enthralled, The Good, The Bad, The Weird, Ponyo on the Cliff, dan Tokyo Sonata.

Laskar Pelangi juga berhasil mengantarkan Waluyo Ichwandiardono sebagai nomine Editor Terbaik di ajang penghargaan itu. Waluyo akan memperebutkan piala tersebut dengan Chan Ki-Hop, William Suk-Ping Chang, Darya Danilova dan Kim Sun-Min asal Korea Selatan.

Selain Asian Film Awards 2009, Laskar Pelangi juga akan unjuk gigi di Berlin International Film Festival yang berlangsung pada 5--15 Februari ini. Film yang diproduseri Mira Lesmana itu akan tampil di kategori Panorama.

Asian Film Awards merupakan ajang kompetisi yang berkesinambungan dengan Hong Kong International Film Festival (HKIFF). HKIFF akan berlangsung pada 22 Maret--13 April 2009. Dalam festival tersebut Laskar Pelangi juga ikut.

Film yang menggugah dan bercerita kehidupan dan perjuangan untuk mengenyam pendidikan ini diambil dari novel karya Andrea Hirata. Novel tersebut diangkat dari pengalaman masa kecil penulis ditambah dengan fiksi dan diramu sedemikian sehingga alur ceritanya mengalir dan mudah diikuti pembaca. DTC/L-1

www.mediabuku.com

Jumat, 30 Januari 2009

[resensi buku] Mengangkat Budaya Betawi Dalam Khasanah Sastra Indonesia

Investor Daily, Januari 2009

Novel-novel yang melibatkan aspek sosiologi atau realitas masyarakat tampaknya kini makin digemari. Lihat saja, Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata terjual lebih dari satu juta eksemplar. Novel ini mengangkat realitas masyarakat dan budaya Pulau Belitung. Begitu pula novel Ayat-Ayat Cinta yang mengangkat realitas mahasiswa Indonesia di Mesir, terjual 450.000 eksemplar.

Kendati tidak sefenomenal dua novel tersebut, novel Da Peci Code mencuri perhatian pasar novel Indonesia. Novel karangan Ben Sohib itu terjual 30.000 eksemplar sejak dirilis pada September 2006. \"Saya bersyukur dengan penjualan sebesar itu,\" kata Ben Sohib kepada Investor Dailyusai peluncuran sekuel kedua novel ini Rosyid dan Delia, di Jakarta, Jumat (19/12).

Sepintas, novel ini \\\'mendompleng\\\' ketenaran novel Da Vinci Code, karangan penulis Amerika Serikat Dan Brown Tapi isinya beda sekali. Da Vinci Code mengisahkan misteri legenda cawan suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen, teori-teori yang oleh Kristen dipertimbangkan sebagai ajaran sesat dan telah dikritik sebagai sejarah yang tidak akurat.

Sementara itu, Da Peci Code mengisahkan perseteruan antara ayah (Mansur) dan anaknya (Rosyid). Di novel best seller itu, Rosyid menjungkalkan tradisi memakai peci putih di masyarakat Betawi-Arab. Permasalahan itu dihadirkan Ben dengan cerita yang lucu dan menghibur namun kritis.

Pengamat budaya Betawi Hikmat Darmawan mengacungkan jempol buat Ben Sohib. Menurutnya, Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia. \"Ini poin yang menarik karena Betawi adalah sebuah budaya yang dinamis,\" kata Hikmat.

Ben, lanjutnya, juga mencatat pergulatan yang terjadi antara Betawi tradisional dan modern. Bahkan, beberapa pergulatan yang diangkatnya itu termasuk masalah yang gawat dan sensitif.
"Persoalan preci, itu masalah gawat. Belum lagi di buku kedua dia mengangkat pernikahan beda agama," ujar Hikmat.

Ya, di buku kedua, Rosid&Delia, Ben kembali menghadirkan rosyid yang kritis bersama pacarnya, Delia. Keduanya hadir dengan persoalan yang lebih berat: perkawinan beda agama.

\"Generasi muda Betawi-Arab kini berinteraksi dengan beragam budaya dan agama, bukan tidak mungkin perkawinan beda agama terjadi kata Ben yang menyilakan pembaca mengambil sikap sendiri atas permasalahan yang diangkatnya itu. Mengapa Betawi ? Bukan kebetulan bila Ben Sohib mengangkat budaya Betawi ke dalam khazanah sastra. Betawi, kata Ben, sangat dekat dengan kesehariannya, yang sudah 20 tahun tinggal di daerah Condet-Cililitan, Jakarta Timur. Dari pengamatannya, ada fenomena yang menarik dari masyarakat Condet. Condet, kata .Ben, adalah sebuah prototipe yang sempurna untuk masyarakat Betawi yang bisa dibilang tertinggal, kalau tidak mau dibilang terpinggirkan dari pergerakan zaman.

Dalam perkembangannya, ada perbenturan antara tradisi yang terus dipertahankan dengan budaya yang makin berkembang. "Termasuk tradisi memakai peci putih dan budaya Arab yang berakulturasi dengan budaya Betawi di mana peci putih menjadi simbol identifikasi agama Islam,\" tutur lelaki kelahiran Jember, 1967 itu.

Ben berharap, buku keduanya ini juga laris seperti buku pertamanya. Harapan ini juga dilambungkan Fahmi, dari penerbit Ufuk Publishing House yang menerbitkan dua buku itu. \"Mudah-mudahan Rosyid & Delia jadi best seiler lagi seperti Da Peci Code\" katanya.

Bahkan, Fahmi juga sudah bersiap-siap mengadaptasi Da Peci Code ke layar lebar. \"Beberapa production house sudah menawar, tapi belum ada yang cocok,\" kata Fahmi.

Bila novel ini siap difilmkan, Ben berharap dirinya dilibatkan . dalam produksi film ini, termasuk bila diperlukan dalam penulisan skenarionya."Ini supaya cerita di film nggak melenceng dari novelnya." kata Ben yang belajar menulis secara otodidak.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Mengangkat Budaya Betawi Dalam Khasanah Sastra Indonesia

Investor Daily, Januari 2009

Novel-novel yang melibatkan aspek sosiologi atau realitas masyarakat tampaknya kini makin digemari. Lihat saja, Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata terjual lebih dari satu juta eksemplar. Novel ini mengangkat realitas masyarakat dan budaya Pulau Belitung. Begitu pula novel Ayat-Ayat Cinta yang mengangkat realitas mahasiswa Indonesia di Mesir, terjual 450.000 eksemplar.

Kendati tidak sefenomenal dua novel tersebut, novel Da Peci Code mencuri perhatian pasar novel Indonesia. Novel karangan Ben Sohib itu terjual 30.000 eksemplar sejak dirilis pada September 2006. \"Saya bersyukur dengan penjualan sebesar itu,\" kata Ben Sohib kepada Investor Dailyusai peluncuran sekuel kedua novel ini Rosyid dan Delia, di Jakarta, Jumat (19/12).

Sepintas, novel ini \\\'mendompleng\\\' ketenaran novel Da Vinci Code, karangan penulis Amerika Serikat Dan Brown Tapi isinya beda sekali. Da Vinci Code mengisahkan misteri legenda cawan suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen, teori-teori yang oleh Kristen dipertimbangkan sebagai ajaran sesat dan telah dikritik sebagai sejarah yang tidak akurat.

Sementara itu, Da Peci Code mengisahkan perseteruan antara ayah (Mansur) dan anaknya (Rosyid). Di novel best seller itu, Rosyid menjungkalkan tradisi memakai peci putih di masyarakat Betawi-Arab. Permasalahan itu dihadirkan Ben dengan cerita yang lucu dan menghibur namun kritis.

Pengamat budaya Betawi Hikmat Darmawan mengacungkan jempol buat Ben Sohib. Menurutnya, Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia. \"Ini poin yang menarik karena Betawi adalah sebuah budaya yang dinamis,\" kata Hikmat.

Ben, lanjutnya, juga mencatat pergulatan yang terjadi antara Betawi tradisional dan modern. Bahkan, beberapa pergulatan yang diangkatnya itu termasuk masalah yang gawat dan sensitif.
"Persoalan preci, itu masalah gawat. Belum lagi di buku kedua dia mengangkat pernikahan beda agama," ujar Hikmat.

Ya, di buku kedua, Rosid&Delia, Ben kembali menghadirkan rosyid yang kritis bersama pacarnya, Delia. Keduanya hadir dengan persoalan yang lebih berat: perkawinan beda agama.

\"Generasi muda Betawi-Arab kini berinteraksi dengan beragam budaya dan agama, bukan tidak mungkin perkawinan beda agama terjadi kata Ben yang menyilakan pembaca mengambil sikap sendiri atas permasalahan yang diangkatnya itu. Mengapa Betawi ? Bukan kebetulan bila Ben Sohib mengangkat budaya Betawi ke dalam khazanah sastra. Betawi, kata Ben, sangat dekat dengan kesehariannya, yang sudah 20 tahun tinggal di daerah Condet-Cililitan, Jakarta Timur. Dari pengamatannya, ada fenomena yang menarik dari masyarakat Condet. Condet, kata .Ben, adalah sebuah prototipe yang sempurna untuk masyarakat Betawi yang bisa dibilang tertinggal, kalau tidak mau dibilang terpinggirkan dari pergerakan zaman.

Dalam perkembangannya, ada perbenturan antara tradisi yang terus dipertahankan dengan budaya yang makin berkembang. "Termasuk tradisi memakai peci putih dan budaya Arab yang berakulturasi dengan budaya Betawi di mana peci putih menjadi simbol identifikasi agama Islam,\" tutur lelaki kelahiran Jember, 1967 itu.

Ben berharap, buku keduanya ini juga laris seperti buku pertamanya. Harapan ini juga dilambungkan Fahmi, dari penerbit Ufuk Publishing House yang menerbitkan dua buku itu. \"Mudah-mudahan Rosyid & Delia jadi best seiler lagi seperti Da Peci Code\" katanya.

Bahkan, Fahmi juga sudah bersiap-siap mengadaptasi Da Peci Code ke layar lebar. \"Beberapa production house sudah menawar, tapi belum ada yang cocok,\" kata Fahmi.

Bila novel ini siap difilmkan, Ben berharap dirinya dilibatkan . dalam produksi film ini, termasuk bila diperlukan dalam penulisan skenarionya."Ini supaya cerita di film nggak melenceng dari novelnya." kata Ben yang belajar menulis secara otodidak.


www.dinamikaebooks.com

High Wire (Edgar & Ellen series)

by: Charles Ogden
Rombongan sirkus datang ke Nod’s Limbs. Edgar dan Ellen segera menyadari bahwa mereka dilahirkan untuk menjadi bagiannya.

Apakah si kembar akan bergabung dengan rombongan itu dan pergi meninggalkan kota Nod’s Limbs (demi mengikuti kata hati, sekaligus menghindari kegilaan Heimertz)?

Simak petualangan si kembar di dunia asap dan cermin, tempat yang penuh trik serta tipu muslihat.


www.dinamikaebooks.com

High Wire (Edgar & Ellen series)

by: Charles Ogden
Rombongan sirkus datang ke Nod’s Limbs. Edgar dan Ellen segera menyadari bahwa mereka dilahirkan untuk menjadi bagiannya.

Apakah si kembar akan bergabung dengan rombongan itu dan pergi meninggalkan kota Nod’s Limbs (demi mengikuti kata hati, sekaligus menghindari kegilaan Heimertz)?

Simak petualangan si kembar di dunia asap dan cermin, tempat yang penuh trik serta tipu muslihat.


www.dinamikaebooks.com