Jumat, 06 Februari 2009

[resensi buku] Tips Meraih Sukses di Dunia Kerja

N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008

Dunia kerja, mungkin bisa diibaratkan mirip sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah lautan. Tidak mustahil, kalau badai sewaktu-waktu bisa datang menghadang. Batu karang bisa pula akan menghalangi laju kapal yang mengarungi lautan hendak ke tempat tujuan. Jikalau, Anda sebagai anak buah kapal, tentu Anda akan berkerja keras untuk membantu sang nahkoda mengarungi lautan yang penuh dengan tantangan.

Demikian juga dengan dunia kerja. Tak jarang, Anda dihadapkan dengan seribu rintangan. Memang, setiap orang yang memasuki dunia kerja mengharap karier melaju mulus, gaji tinggi, rekan kerja yang menyenangkan dan bos (pimpinan) yang empati.

Tapi mimpi Anda itu bisa jadi akan terbentur dengan kenyataan pahit yang tak pernah Anda harapkan. Anda bisa jadi pendapatkan bos yang pemarah, sudah kerja bertahun-tahun, tapi karier tersandung batu. Selain itu, gaji Anda bisa jadi tidak kunjung naik. Lebih tragis, Anda tak bisa bekerja dengan nyaman karena kerap diperlakukan tak adil, punya rekan kerja menyebalkan dan seribu persoalan lain lagi.

Bagaimanakah menghadapi semua persoalan di tempat kerja yang tidak seperti Anda harapkan di atas? Buku yang ditulis Windya Novita --seorang wartawan yang hobi menulis fiksi dan juga non-fiksi- ini akan membantu Anda menjawab berbagai persoalan pelik yang kerap dialami sebagian besar karyawan di dunia kerja. Dengan mengangkat 13 kasus masalah di dunia kerja, penulis tidak hanya menggali akar masalah yang terjadi melainkan juga memberikan solusi dan tips jitu sebagai jalan keluar.

Dunia kerja, kadang memang kejam. Bisa jadi, Anda mengalami karier mentok meski Anda sudah kerja 5 tahun. Apa yang Anda lakukan? Dengan jeli, penulis meminta Anda untuk menggali penyebab di balik semua itu. Apa akar masalah itu dari interent diri Anda atau eksteren dari perusahan? Jika asap itu datang dari diri Anda, maka Anda harus cepat berbenah; misal mengukir prestasi dan bekerja dengan maksimal. Tapi jika dari perusahan, tak menutup kemungkinan Anda harus "menangkap" peluang mencari kapal baru yang bisa memberikan kesempatan karier ke depan, kendati pun tak harus gegabah dengan segera pindah kerja.

Selain menawarkan tips jitu tatkala Anda mengalami karier mentok, buku ini juga menawarkan kiat-kiat sukses keluar dari masalah yang berhubungan dengan bos, misal ketika Anda memiliki bos yang pemarah, berlaku tidak adil, dan bagaimana cara sukses mengajukan kritik dan meminta kenaikan gaji. Juga masalah lain di dunia kerja seperti menghadapi senioritas dengan teman kerja, bekerja sekantor dengan pasangan, serta kiat menghadapi rekan kerja yang tidak kooperatif dan lain-lain.

Kunci untuk bisa suskses di dunia kerja, memang tidak semata-mata tergantung kepandaian otak belaka melainkan ditunjang kemampuan Anda berhubungan dengan orang lain. Tak salah, buku yang mengupas 13 jurus jitu agar Anda bisa sukses di tempat kerja ini serasa mengajak Anda pandai-pandai bergaul (menjalin komunikasi) dengan orang lain, terumata bos dan rekan kerja Anda.

Akhir kata, sekali pun buku ini tergolong tipis, tetap saja tak bisa Anda sepelekan, karena buku ini bisa jadi akan membawa Anda keluar dari kemelut yang Anda alami di dunia kerja sehingga Anda mampu bangkit, selamat dari kerudung masalah dan meraih sukses --jadi pemenang-- di tempat kerja.

N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Tips Meraih Sukses di Dunia Kerja

N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008

Dunia kerja, mungkin bisa diibaratkan mirip sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah lautan. Tidak mustahil, kalau badai sewaktu-waktu bisa datang menghadang. Batu karang bisa pula akan menghalangi laju kapal yang mengarungi lautan hendak ke tempat tujuan. Jikalau, Anda sebagai anak buah kapal, tentu Anda akan berkerja keras untuk membantu sang nahkoda mengarungi lautan yang penuh dengan tantangan.

Demikian juga dengan dunia kerja. Tak jarang, Anda dihadapkan dengan seribu rintangan. Memang, setiap orang yang memasuki dunia kerja mengharap karier melaju mulus, gaji tinggi, rekan kerja yang menyenangkan dan bos (pimpinan) yang empati.

Tapi mimpi Anda itu bisa jadi akan terbentur dengan kenyataan pahit yang tak pernah Anda harapkan. Anda bisa jadi pendapatkan bos yang pemarah, sudah kerja bertahun-tahun, tapi karier tersandung batu. Selain itu, gaji Anda bisa jadi tidak kunjung naik. Lebih tragis, Anda tak bisa bekerja dengan nyaman karena kerap diperlakukan tak adil, punya rekan kerja menyebalkan dan seribu persoalan lain lagi.

Bagaimanakah menghadapi semua persoalan di tempat kerja yang tidak seperti Anda harapkan di atas? Buku yang ditulis Windya Novita --seorang wartawan yang hobi menulis fiksi dan juga non-fiksi- ini akan membantu Anda menjawab berbagai persoalan pelik yang kerap dialami sebagian besar karyawan di dunia kerja. Dengan mengangkat 13 kasus masalah di dunia kerja, penulis tidak hanya menggali akar masalah yang terjadi melainkan juga memberikan solusi dan tips jitu sebagai jalan keluar.

Dunia kerja, kadang memang kejam. Bisa jadi, Anda mengalami karier mentok meski Anda sudah kerja 5 tahun. Apa yang Anda lakukan? Dengan jeli, penulis meminta Anda untuk menggali penyebab di balik semua itu. Apa akar masalah itu dari interent diri Anda atau eksteren dari perusahan? Jika asap itu datang dari diri Anda, maka Anda harus cepat berbenah; misal mengukir prestasi dan bekerja dengan maksimal. Tapi jika dari perusahan, tak menutup kemungkinan Anda harus "menangkap" peluang mencari kapal baru yang bisa memberikan kesempatan karier ke depan, kendati pun tak harus gegabah dengan segera pindah kerja.

Selain menawarkan tips jitu tatkala Anda mengalami karier mentok, buku ini juga menawarkan kiat-kiat sukses keluar dari masalah yang berhubungan dengan bos, misal ketika Anda memiliki bos yang pemarah, berlaku tidak adil, dan bagaimana cara sukses mengajukan kritik dan meminta kenaikan gaji. Juga masalah lain di dunia kerja seperti menghadapi senioritas dengan teman kerja, bekerja sekantor dengan pasangan, serta kiat menghadapi rekan kerja yang tidak kooperatif dan lain-lain.

Kunci untuk bisa suskses di dunia kerja, memang tidak semata-mata tergantung kepandaian otak belaka melainkan ditunjang kemampuan Anda berhubungan dengan orang lain. Tak salah, buku yang mengupas 13 jurus jitu agar Anda bisa sukses di tempat kerja ini serasa mengajak Anda pandai-pandai bergaul (menjalin komunikasi) dengan orang lain, terumata bos dan rekan kerja Anda.

Akhir kata, sekali pun buku ini tergolong tipis, tetap saja tak bisa Anda sepelekan, karena buku ini bisa jadi akan membawa Anda keluar dari kemelut yang Anda alami di dunia kerja sehingga Anda mampu bangkit, selamat dari kerudung masalah dan meraih sukses --jadi pemenang-- di tempat kerja.

N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Sepatu Spesial untuk Bush

M.Iqbal Dawami, Media Indonesia 24 Januari 2009

Masih ingatkah anda dengan peristiwa lemparan sepatu milik wartawan al-Zaidi kepada Presiden Bush, di Irak? Peristiwa 'sepatu buat Bush' itu telah mengantarkan Muntahar al Zaidi menjadi terkenal di dunia.

Peristiwa yang ikut menandai lengsernya Presiden George Walker Bush Junior itu, akan selalu dikenang dunia. Dan, nama al Zaidi kini menjadi hero di Irak, bahkan di negara-negara arab lainnya. Al Zaidi muncul sebagai tokoh pembangkang yang berani melawan Bush-Amerika. Saking tingginya daya tarik peristiwa itu, kini tahukah anda sepatu tersebut dilelang dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 110 miliar.

Bagaimana kronologi peristiwa pelemparan sepatu tersebut? Siapa sesungguhnya Muntahar al-Zaidi? Terus, bagaimana reaksi setelah peristiwa itu? Dalam buku inilah ketiga pertanyaan di atas dapat ditemukan jawabannya.


Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS, Air Force One. Tujuan utama Bush adalah, selain hendak pamitan, untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki hendak melakukan konferensi pers. Seluruh petugas di situ juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum yang lengkap dengan peralatan canggihnya. Maka, hampir dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada bom, pistol, atau barang apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar al-Zaidi melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , "Good bye, dog!" Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, beruntunglah Bush dapat menghindarinya sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Peristiwa tersebut diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia. Dan dapat dipastikan berita itu telah tersebar dengan cepat, dan menghibur banyak pemirsa, serta segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjang sejarah kepresidenan AS.

Dalam budaya arab, tapak kaki (serta yang membungkusnya: Sandal dan sepatu) adalah sebuah penghinaan. Kita tahu, setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka. Nah, Bush pun mengalami nasib yang sama dengan Sadam.

Pelemparan sepatu Zaidi merupakan perlawanan simbolik untuk merontokkan kewibawaan Bush. Pesan yang disampaikan tindakan itu adalah hegemoni politik Amerika tidak bisa serta merta beroperasi secara total bagi seluruh rakyat Irak. Negara bisa ditawan dan dikuasai, namun tidak untuk seluruh rakyatnya. Al Zaidi merupakan martir simbolik. Wajar jika kemudian rakyat Irak memberikan dukungan atas tindakan al Zaidi tersebut.
Saat ini kita dapat membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku. Buku karangan Mushin Labib ini disertai pula pelbagai informasi yang mengitari peristiwa 'pelemparan sepatu tersebut'. Buku ini disebut dengan 'flash book', dengan dibuat secara cepat untuk menangkap sebuah momen yang masih aktual, yang mampu diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Sungguh luar biasa.

Di awal buku ini diperlihatkan peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak beserta polemik-polemiknya. Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Tampaknya ini buku pertama di Indonesia yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak informasi yang mungkin hanya bisa diperoleh dalam buku ini saja. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh, melalui buku ini pula kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

Di Bagian ketiga dalam buku ini memuat profil singkat pelempar sepatu, Muntahar al Zaidi dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan. Terkait dengan dirinya, beberapa fenomena menarik juga direkam dalam buku ini, seperti banyak ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi, pabrik pembuat sepatu yang mereknya sama dengan yang digunakan al Zaidi kebanjiran order, sehingga pesanan jenis sepatu tersebut dinaikkan hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawanan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para intifadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu.

Selain itu terungkap pula bahwa sejatinya kejadian aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut.

Kasus 'sepatu al Zaidi' itu memang tidak otomatis merontokkan kewibawaan Amerika baik secara ekonomi, politik, militer dan budaya. Sebagaimana yang dikatakan Indra Tranggono, budayawan Jogja, bahwa mereka terlalu digdaya. Namun, lanjutnya, secara politik dan kultural peristiwa itu telah menjadi interupsi penting bagi Amerika bahwa sebuah bangsa dan negara mempunyai harga diri yang tidak bisa diperlakukan secara semena-mena. Semoga kasus ini menjadi bahan renungan bagi Barrack Obama.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Sepatu Spesial untuk Bush

M.Iqbal Dawami, Media Indonesia 24 Januari 2009

Masih ingatkah anda dengan peristiwa lemparan sepatu milik wartawan al-Zaidi kepada Presiden Bush, di Irak? Peristiwa 'sepatu buat Bush' itu telah mengantarkan Muntahar al Zaidi menjadi terkenal di dunia.

Peristiwa yang ikut menandai lengsernya Presiden George Walker Bush Junior itu, akan selalu dikenang dunia. Dan, nama al Zaidi kini menjadi hero di Irak, bahkan di negara-negara arab lainnya. Al Zaidi muncul sebagai tokoh pembangkang yang berani melawan Bush-Amerika. Saking tingginya daya tarik peristiwa itu, kini tahukah anda sepatu tersebut dilelang dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 110 miliar.

Bagaimana kronologi peristiwa pelemparan sepatu tersebut? Siapa sesungguhnya Muntahar al-Zaidi? Terus, bagaimana reaksi setelah peristiwa itu? Dalam buku inilah ketiga pertanyaan di atas dapat ditemukan jawabannya.


Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS, Air Force One. Tujuan utama Bush adalah, selain hendak pamitan, untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki hendak melakukan konferensi pers. Seluruh petugas di situ juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum yang lengkap dengan peralatan canggihnya. Maka, hampir dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada bom, pistol, atau barang apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar al-Zaidi melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , "Good bye, dog!" Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, beruntunglah Bush dapat menghindarinya sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Peristiwa tersebut diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia. Dan dapat dipastikan berita itu telah tersebar dengan cepat, dan menghibur banyak pemirsa, serta segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjang sejarah kepresidenan AS.

Dalam budaya arab, tapak kaki (serta yang membungkusnya: Sandal dan sepatu) adalah sebuah penghinaan. Kita tahu, setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka. Nah, Bush pun mengalami nasib yang sama dengan Sadam.

Pelemparan sepatu Zaidi merupakan perlawanan simbolik untuk merontokkan kewibawaan Bush. Pesan yang disampaikan tindakan itu adalah hegemoni politik Amerika tidak bisa serta merta beroperasi secara total bagi seluruh rakyat Irak. Negara bisa ditawan dan dikuasai, namun tidak untuk seluruh rakyatnya. Al Zaidi merupakan martir simbolik. Wajar jika kemudian rakyat Irak memberikan dukungan atas tindakan al Zaidi tersebut.
Saat ini kita dapat membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku. Buku karangan Mushin Labib ini disertai pula pelbagai informasi yang mengitari peristiwa 'pelemparan sepatu tersebut'. Buku ini disebut dengan 'flash book', dengan dibuat secara cepat untuk menangkap sebuah momen yang masih aktual, yang mampu diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Sungguh luar biasa.

Di awal buku ini diperlihatkan peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak beserta polemik-polemiknya. Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Tampaknya ini buku pertama di Indonesia yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak informasi yang mungkin hanya bisa diperoleh dalam buku ini saja. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh, melalui buku ini pula kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

Di Bagian ketiga dalam buku ini memuat profil singkat pelempar sepatu, Muntahar al Zaidi dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan. Terkait dengan dirinya, beberapa fenomena menarik juga direkam dalam buku ini, seperti banyak ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi, pabrik pembuat sepatu yang mereknya sama dengan yang digunakan al Zaidi kebanjiran order, sehingga pesanan jenis sepatu tersebut dinaikkan hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawanan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para intifadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu.

Selain itu terungkap pula bahwa sejatinya kejadian aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut.

Kasus 'sepatu al Zaidi' itu memang tidak otomatis merontokkan kewibawaan Amerika baik secara ekonomi, politik, militer dan budaya. Sebagaimana yang dikatakan Indra Tranggono, budayawan Jogja, bahwa mereka terlalu digdaya. Namun, lanjutnya, secara politik dan kultural peristiwa itu telah menjadi interupsi penting bagi Amerika bahwa sebuah bangsa dan negara mempunyai harga diri yang tidak bisa diperlakukan secara semena-mena. Semoga kasus ini menjadi bahan renungan bagi Barrack Obama.


www.dinamikaebooks.com

The Mysterious Benedict Society (Persekutuan Misterius Benedict)

by: Trenton Lee Stewart
Awalnya, ada sebuah iklan suratkabar yang berisi:

APAKAH KAU SEORANG ANAK BERBAKAT YANG MENCARI KESEMPATAN ISTIMEWA?

Reynie, Sticky, Kate, dan Constance merespons iklan misterius tersebut. Setelah lulus dari serangkaian tes yang menguras otak, mereka diminta untuk berpartisipasi dalam sebuah misi berbahaya yang hanya bisa diselesaikan oleh anak-anak paling cerdas dan paling kreatif. Meskipun kepribadian masing-masing anak sangat berbeda, mereka memiliki tiga kesamaan. Mereka semua sangat berbakat. Mereka semua sangat jujur. Dan mereka semua adalah yatim piatu.

Maka terbentuklah Persekutuan Misterius Benedict.

Mengikuti tradisi kisah klasik yang baik, buku ini menampilkan keingintahuan, imajinasi, dan kreativitas anak-anak dalam menyelesaikan masalah. Bertemakan kesepian, kebaikan versus kejahatan, dan kekuatan persahabatan, Trenton Lee Stewart membawa para pembaca ke dalam petualangan menakjubkan yang mendorong teman, keluarga, dan musuh untuk diuji.

APAKAH KAU SIAP MENERIMA TANTANGAN?

***

New York Times Bestseller
Publishers Weekly Bestseller
2008 E.B. White Read Aloud Award for Older Readers.
2008 ALA Notable Book
Top Ten Children's Book Sense Pick
2007 School Library Journal Best Book


www.dinamikaebooks.com

The Mysterious Benedict Society (Persekutuan Misterius Benedict)

by: Trenton Lee Stewart
Awalnya, ada sebuah iklan suratkabar yang berisi:

APAKAH KAU SEORANG ANAK BERBAKAT YANG MENCARI KESEMPATAN ISTIMEWA?

Reynie, Sticky, Kate, dan Constance merespons iklan misterius tersebut. Setelah lulus dari serangkaian tes yang menguras otak, mereka diminta untuk berpartisipasi dalam sebuah misi berbahaya yang hanya bisa diselesaikan oleh anak-anak paling cerdas dan paling kreatif. Meskipun kepribadian masing-masing anak sangat berbeda, mereka memiliki tiga kesamaan. Mereka semua sangat berbakat. Mereka semua sangat jujur. Dan mereka semua adalah yatim piatu.

Maka terbentuklah Persekutuan Misterius Benedict.

Mengikuti tradisi kisah klasik yang baik, buku ini menampilkan keingintahuan, imajinasi, dan kreativitas anak-anak dalam menyelesaikan masalah. Bertemakan kesepian, kebaikan versus kejahatan, dan kekuatan persahabatan, Trenton Lee Stewart membawa para pembaca ke dalam petualangan menakjubkan yang mendorong teman, keluarga, dan musuh untuk diuji.

APAKAH KAU SIAP MENERIMA TANTANGAN?

***

New York Times Bestseller
Publishers Weekly Bestseller
2008 E.B. White Read Aloud Award for Older Readers.
2008 ALA Notable Book
Top Ten Children's Book Sense Pick
2007 School Library Journal Best Book


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Jalan Panjang Pangeran Islam Mongol

Sumber: jodypojoh.blogdrive.com

Meskipun ada, tidak banyak penulis fiksi Indonesia yang memanfaatkan sejarah bangsa lain untuk dihadirkan dalam karya-karyanya. Padahal, penulis-penulis luar, terutama dari negara berbahasa Inggris, banyak mendedahkan masa lalu bangsa lain dalam karya-karyanya. Sebut saja Lian Hearn, penulis Kisah Klan Otori atau Lesley Downer, penulis The Last Concubine.

Sinta Yudisia Wisudanti, kelahiran Yogyakarta 18 Februari 1974, yang telah menghasilkan hampir 40 buku, antara lain Lafadz Cinta dan Pink, melesat keluar dari kerumunan penulis fiksi Indonesia dan dengan berani menyeret masa lalu bangsa Mongol untuk dijadikan panggung konflik novel anyarnya, The Road to The Empire. Pemenang berbagai lomba menulis fiksi ini menghidupkan kembali salah satu penguasa berdarah Mongol bernama Takudar Khan yang dikenal sebagai pemeluk agama Islam. Sebelumnya ia telah menulis kisah Takudar dalam Sebuah Janji (Takudar 1) dan The Lost Prince (Takudar 2). Bisa dikatakan keduanya menjadi Trilogi Takudar jika digabungkan dengan The Road to The Empire.

Kisah dalam Takudar 3 ini dimulai dari Tuqluq Timur Khan, seorang keturunan Jenghiz Khan yang menguasai imperium Mongol suatu masa (tidak dijelaskan latar waktu cerita ini). Timur Khan memiliki tiga anak lelaki: Takudar, Arghun, dan Buzun. Dalam perburuan di Gurun Gobi, ia bertemu dengan sekelompok musafir di bawah kepemimpinan Syaikh Jamaluddin. Karena mengganggu keasyikan sang kaisar, para musafir itu diputuskan akan dipancung. Namun sebelum terjadi, keislaman Syaikh Jamaluddin telah memikat Timur Khan. Bahkan sesudah mengenal Syaikh Jamaluddin, Timur Khan berjanji akan memeluk Islam, setelah ia sukses mempersatukan Mongol. Kesepakatan dijalin antara mereka: jika kelak tidak bisa bertemu, Rasyiduddin, putra Jamaluddin, dan Takudar, putra Timur Khan, yang akan menyaksikan janji itu digenapi. Benar saja, sebelum Timur Khan melaksanakan janjinya, ia tewas dibunuh bersama permaisurinya, Ilkhata.

Sebelum benar-benar direnggut maut, Ilkhata meminta Takudar untuk meninggalkan Ulan Bataar. Takudar pun melarikan diri, pergi ke arah barat (pembaca tidak diberikan peta untuk memahami detail perjalanan Takudar) ditemani gadis Mongol dari klan Tar Muleng bernama Ying Chin. Dalam perjalanan selanjutnya, Takudar akan dikenal sebagai Baruji sedangkan Ying Chin akan dikenal sebagai Almamuchi dan Uchatadara.

Setelah Takudar menghilang, Arghun Khan, adiknya, menduduki singgasana yang seharusnya menjadi haknya. Arghun malih menjadi seorang kaisar yang sangat ambisius, bersemangat tinggi menguasai dunia, dan berhasrat meneruskan apa yang telah dirintis leluhurnya, Jenghiz Khan. Ambisi terpuncaknya adalah menaklukkan Yerusalem. Sedangkan Buzun, si bungsu, mengabdi di kekaisaran sebagai kepala perbendaharaan negara. Tanpa gembar-gembor, ia merindukan abangnya dan tidak berhenti berusaha mencari di mana Takudar berada.

Pelarian Takudar berakhir di Madrasah Baabussalaam, Syakhrisyabz, ketika ia bertemu Rasyiduddin (Salim), putra Syaikh Jamaluddin. Di dalam diri Baruji, Takudar ingin melupakan masa lalu. Tetapi para syaikh, gubernur Muslim, dan para pendekar dengan cita-cita yang sama, terus mengobarkan semangatnya untuk mengambil kembali tahta Mongol. Membayangkan akan adanya pertumpahan darah dalam perang melawan saudara-saudaranya, Takudar yang welas asih menjadi bimbang. Meskipun begitu, ia tetap bertekad belajar strategi perang. Ia meminta bantuan Almamuchi untuk mendapatkan Kitab Rahasia Sejarah yang merupakan kisah perjalanan hidup kaisar paling ditakuti kaum Muslim, Jenghiz Khan. Almamuchi menitipkan Takudar kepada Karadiza, gadis Muslim temperamental dari Tabriz, dan pergi meninggalkan Syakhrisyabz.

Di istana Mongol, atas saran Yan Che, Arghun terpikir untuk mencari permaisuri. Selama ini ia telah mencintai Urghana, putri Panglima Albuqa Khan –yang telah mendukungnya menuju singgasana. Sayangnya, gadis itu tidak pernah merespons cintanya. Hati si jelita telah kadung tertambat di diri Buzun.  Pun ketika Arghun memutuskan menyeleksi istri dari perempuan-perempuan cantik Mongol, Urghana tetap bergeming. Ia tak menghiraukan dorongan Ankhnyam, ibunya, untuk bersaing dengan kedua adik perempuannya. Ia bahkan minta Arghun agar tidak mengusik adik-adiknya. Namun ditolak, bahkan akhirnya disekap dalam penjara karena mencoba menantang kaisar.

Han Shiang, selir Timur Khan yang memiliki sepasang anak, tidak tinggal diam. Ia berambisi menjadikan Bayduna sebagai istri Arghun walaupun keduanya masih sedarah. Sebelum merealisasikan ambisi ini, ia menyerahkan diri kepada Panglima Albuqa Khan untuk dijadikan selir. Dan tidak cukup hanya merancang jalan putrinya ke peraduan kaisar Mongol, ia juga mendorong putranya, Uljaytu, bergabung dalam kesatuan prajurit Mongol dengan harapan bisa menjadi perwira tinggi.

Melalui perjuangan yang tidak ringan, Almamuchi berhasil mendapatkan Kitab Rahasia Sejarah di Tseterleg. Perjalanan kembali ke Syakhrisyabz tertunda karena ia  bertemu Hoelun, ibunya, terlebih dahulu. Ia meminta ibunya untuk pergi bersama, tetapi menerima penolakan tegas. Setibanya di madrasah, ia mendapati Baruji dan Salim telah pergi menuju markas para pejuang di Khotar. Madrasah dihancurkan, orang-orang dibunuh, dan perempuan-perempuan diperkosa. Almamuchi harus melarikan diri untuk tidak jatuh sebagai korban kebiadaban prajurit Mongol. Karadiza -yang ditugaskan menunggunya- menolongnya meski langsung memusuhinya lantaran terlambat datang.

Sementara itu, rombongan penaklukan Jerusalem meninggalkan Ulan Bataar. Keputusan ini sontak menjadi ancaman bagi masyarakat Muslim. Sebab, dalam perjalanan, Arghun Khan tak tahan untuk tidak menyerang daerah-daerah Muslim. Maka Takudar harus menangguhkan diri, menggetaskan belas kasih yang tumbuh untuk adiknya Arghun, yang tidak tanggung-tanggung menyakiti masyarakat Muslim.

Di Tanah Cekung Turpan yang berbentuk piring, akhirnya Takudar bertemu Arghun. Sejarah berkelebat di benak Takudar: Jenghiz Khan dikalahkan pangeran Muslim Jaladdin yang menghabisi 30 ribu pasukannya di daerah Balwan yang berbentuk piring. Apakah ia akan seberuntung Jaladdin? Jawabannya tentu saja sudah bisa dirumuskan.

Riset dunia maya memberikan suplai data mengenai Takudar, yang dalam bahasa Mongol berarti 'sempurna'. Tidak banyak, namun cukup membuat saya mempertanyakan latar sejarah yang digunakan Sinta Yudisia. Yang saya temukan, Takudar atau Ahmad Tegüder atau Ahmad Takudar Oghlu (1247-1284) bukanlah kaisar  imperium Mongol sebagaimana Jenghiz Khan. Ia adalah penguasa ketiga dari Dinasti Il-Khanid yang didirikan ayahnya -Hulagu Khan, sebagai wilayah pecahan Kekaisaran Mongol. Hulagu Khan adalah saudara Khubilai Khan (1260-1294), pendiri Dinasti Yuan dan cucu Jenghiz Khan.  Setelah Hulagu meninggal 8 Februari 1265, Abaqa Khan, putra sulungnya menggantikan posisinya (1265-1282).

Selanjutnya, Takudar -saudara Abaqa, menggantikan abangnya dan berkuasa tahun 1282-1284. Takudar yang dibabtis dengan nama Nicholas, setelah berkuasa memproklamasikan dirinya sebagai Muslim dan menganiaya orang Kristen. Ia-lah yang pergi ke Khorasan dengan angkatan perang untuk menangkap Arghun Khan, keponakannya, dan pangeran-pangeran Mongol lain dengan tujuan membunuh mereka. Tetapi setelah pengikutnya meninggalkannya, ia ditangkap dan dibunuh atas perintah Arghun tahun 1284. Arghun yang adalah putra Abaqa pun merebut kekuasaan Takudar dan memerintah tahun 1284-1291. Ia mencoba meneruskan keinginan pendahulunya untuk menginvasi Syria dan Palestina serta merebut Jerusalem. Untuk itu, ia minta pertolongan raja-raja Barat (Byzantium, Italia, Prancis, dan Inggris). Hingga meninggal pada 10 Maret 1291, ia  tak pernah merealisaikan keinginan itu. Ia digantikan saudaranya Gaykhatu yang berkuasa tahun 1291-1295.

Sebagai tambahan, Gaykhatu digantikan Ghazan, putra Arghun (1295-1304). Setelah beberapa bulan pada tahun 1295 sempat dipegang Baydu, sepupu Gaykhatu, kekuasaan beralih ke tangan Uljaytu, saudara Ghazan (1304-1316). Uljaytu menjadi ayah Abu Sa'id yang menggantikan dirinya pada tahun 1316 dan menjadi penguasa dinasti Il-Khanid hingga dinasti itu berakhir pada tahun 1335.

Apakah Takudar yang saya sebutkan di atas yang dimaksud Sinta Yudisia? Apakah Arghun Khan pengganti Takudar yang dijadikan Sinta sebagai adik Takudar? Ataukah Sinta memiliki catatan sejarah yang berbeda?

Apapun yang telah ditulis Sinta Yudisia, ia telah menampilkan bakat menulis epik yang patut dibanggakan. Benar tidak sejarah yang dipinjam Sinta, ia sudah menunjukkan keberanian menulis kisah heroik yang sedap dibaca. Secara sinematis, Sinta berhasil mendedahkan panorama Mongolia yang eksotis di bawah naungan Hoh Tenger dengan budayanya yang khas, memberi kesempatan pembaca berimajinasi akan del indah memesona, tarian bielgee dan nyanyian jangar diiringi petikan moriin khuur. Semuanya dihadirkan dalam pergelutan karakter-karakter pria yang berambisi menduduki singgasana serigala. Yang pada gilirannya menjadikan Mongol seting bangkitnya heroisme, pudarnya persaudaraan, bergelimangnya intrik dan siasat perang, maraknya konspirasi, dan hilangnya keunikan perempuan di tangan lelaki bejat.

Bagi Sinta, Takudar adalah seorang pahlawan. Lewat karakter ini, Sinta seperti hendak menghadirkan sosok hero baru di ranah fiksi Indonesia. Takudar yang lembut hati dan menghindari kegegabahan serta meletakkan persaudaraan di atas kepentingan pribadi tampaknya bisa menjadi model yang pas.

Terlepas dari keraguan saya tentang sosok Takudar Khan, saya mengacungkan dua jempol kepada Sinta Yudisia. Selain cerita heroik bermuatan pesan-pesan moral yang berguna, ia juga telah merangkai kalimat-kalimat  bernas yang sedap dibaca. Walau ada yang kurang mengena seperti ungkapan: "Dada Takudar menggelembung berisi air mata dan kesedihan..." (hlm. 523). Mungkin, kejelian penyunting harus tetap dipertahankan supaya tidak mengendur di bab-bab terakhir dalam novel yang cukup gemuk ini. Saya masih menemukan kata "mengubah" ditulis "merubah", misalnya.

Pertanyaan terakhir: benarkah Albuqa Khan bukan dalang pembunuhan Timur Khan dan permaisuri Ilkhata seperti yang tersirat dalam dialognya dengan Takudar? (hlm. 528). Saya berharap bisa mendapatkan ketegasan jawaban  dalam  novel ini.


Salam,
Jody
http://jodypojoh.blogdrive.com
http://percikanku.multiply.com

DATA BUKU:
Judul buku: The Road to the Empire
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Taufan E. Prast
Tebal: 584 hlm; 13 x 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, Desember 2008
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Jalan Panjang Pangeran Islam Mongol

Sumber: jodypojoh.blogdrive.com

Meskipun ada, tidak banyak penulis fiksi Indonesia yang memanfaatkan sejarah bangsa lain untuk dihadirkan dalam karya-karyanya. Padahal, penulis-penulis luar, terutama dari negara berbahasa Inggris, banyak mendedahkan masa lalu bangsa lain dalam karya-karyanya. Sebut saja Lian Hearn, penulis Kisah Klan Otori atau Lesley Downer, penulis The Last Concubine.

Sinta Yudisia Wisudanti, kelahiran Yogyakarta 18 Februari 1974, yang telah menghasilkan hampir 40 buku, antara lain Lafadz Cinta dan Pink, melesat keluar dari kerumunan penulis fiksi Indonesia dan dengan berani menyeret masa lalu bangsa Mongol untuk dijadikan panggung konflik novel anyarnya, The Road to The Empire. Pemenang berbagai lomba menulis fiksi ini menghidupkan kembali salah satu penguasa berdarah Mongol bernama Takudar Khan yang dikenal sebagai pemeluk agama Islam. Sebelumnya ia telah menulis kisah Takudar dalam Sebuah Janji (Takudar 1) dan The Lost Prince (Takudar 2). Bisa dikatakan keduanya menjadi Trilogi Takudar jika digabungkan dengan The Road to The Empire.

Kisah dalam Takudar 3 ini dimulai dari Tuqluq Timur Khan, seorang keturunan Jenghiz Khan yang menguasai imperium Mongol suatu masa (tidak dijelaskan latar waktu cerita ini). Timur Khan memiliki tiga anak lelaki: Takudar, Arghun, dan Buzun. Dalam perburuan di Gurun Gobi, ia bertemu dengan sekelompok musafir di bawah kepemimpinan Syaikh Jamaluddin. Karena mengganggu keasyikan sang kaisar, para musafir itu diputuskan akan dipancung. Namun sebelum terjadi, keislaman Syaikh Jamaluddin telah memikat Timur Khan. Bahkan sesudah mengenal Syaikh Jamaluddin, Timur Khan berjanji akan memeluk Islam, setelah ia sukses mempersatukan Mongol. Kesepakatan dijalin antara mereka: jika kelak tidak bisa bertemu, Rasyiduddin, putra Jamaluddin, dan Takudar, putra Timur Khan, yang akan menyaksikan janji itu digenapi. Benar saja, sebelum Timur Khan melaksanakan janjinya, ia tewas dibunuh bersama permaisurinya, Ilkhata.

Sebelum benar-benar direnggut maut, Ilkhata meminta Takudar untuk meninggalkan Ulan Bataar. Takudar pun melarikan diri, pergi ke arah barat (pembaca tidak diberikan peta untuk memahami detail perjalanan Takudar) ditemani gadis Mongol dari klan Tar Muleng bernama Ying Chin. Dalam perjalanan selanjutnya, Takudar akan dikenal sebagai Baruji sedangkan Ying Chin akan dikenal sebagai Almamuchi dan Uchatadara.

Setelah Takudar menghilang, Arghun Khan, adiknya, menduduki singgasana yang seharusnya menjadi haknya. Arghun malih menjadi seorang kaisar yang sangat ambisius, bersemangat tinggi menguasai dunia, dan berhasrat meneruskan apa yang telah dirintis leluhurnya, Jenghiz Khan. Ambisi terpuncaknya adalah menaklukkan Yerusalem. Sedangkan Buzun, si bungsu, mengabdi di kekaisaran sebagai kepala perbendaharaan negara. Tanpa gembar-gembor, ia merindukan abangnya dan tidak berhenti berusaha mencari di mana Takudar berada.

Pelarian Takudar berakhir di Madrasah Baabussalaam, Syakhrisyabz, ketika ia bertemu Rasyiduddin (Salim), putra Syaikh Jamaluddin. Di dalam diri Baruji, Takudar ingin melupakan masa lalu. Tetapi para syaikh, gubernur Muslim, dan para pendekar dengan cita-cita yang sama, terus mengobarkan semangatnya untuk mengambil kembali tahta Mongol. Membayangkan akan adanya pertumpahan darah dalam perang melawan saudara-saudaranya, Takudar yang welas asih menjadi bimbang. Meskipun begitu, ia tetap bertekad belajar strategi perang. Ia meminta bantuan Almamuchi untuk mendapatkan Kitab Rahasia Sejarah yang merupakan kisah perjalanan hidup kaisar paling ditakuti kaum Muslim, Jenghiz Khan. Almamuchi menitipkan Takudar kepada Karadiza, gadis Muslim temperamental dari Tabriz, dan pergi meninggalkan Syakhrisyabz.

Di istana Mongol, atas saran Yan Che, Arghun terpikir untuk mencari permaisuri. Selama ini ia telah mencintai Urghana, putri Panglima Albuqa Khan –yang telah mendukungnya menuju singgasana. Sayangnya, gadis itu tidak pernah merespons cintanya. Hati si jelita telah kadung tertambat di diri Buzun.  Pun ketika Arghun memutuskan menyeleksi istri dari perempuan-perempuan cantik Mongol, Urghana tetap bergeming. Ia tak menghiraukan dorongan Ankhnyam, ibunya, untuk bersaing dengan kedua adik perempuannya. Ia bahkan minta Arghun agar tidak mengusik adik-adiknya. Namun ditolak, bahkan akhirnya disekap dalam penjara karena mencoba menantang kaisar.

Han Shiang, selir Timur Khan yang memiliki sepasang anak, tidak tinggal diam. Ia berambisi menjadikan Bayduna sebagai istri Arghun walaupun keduanya masih sedarah. Sebelum merealisasikan ambisi ini, ia menyerahkan diri kepada Panglima Albuqa Khan untuk dijadikan selir. Dan tidak cukup hanya merancang jalan putrinya ke peraduan kaisar Mongol, ia juga mendorong putranya, Uljaytu, bergabung dalam kesatuan prajurit Mongol dengan harapan bisa menjadi perwira tinggi.

Melalui perjuangan yang tidak ringan, Almamuchi berhasil mendapatkan Kitab Rahasia Sejarah di Tseterleg. Perjalanan kembali ke Syakhrisyabz tertunda karena ia  bertemu Hoelun, ibunya, terlebih dahulu. Ia meminta ibunya untuk pergi bersama, tetapi menerima penolakan tegas. Setibanya di madrasah, ia mendapati Baruji dan Salim telah pergi menuju markas para pejuang di Khotar. Madrasah dihancurkan, orang-orang dibunuh, dan perempuan-perempuan diperkosa. Almamuchi harus melarikan diri untuk tidak jatuh sebagai korban kebiadaban prajurit Mongol. Karadiza -yang ditugaskan menunggunya- menolongnya meski langsung memusuhinya lantaran terlambat datang.

Sementara itu, rombongan penaklukan Jerusalem meninggalkan Ulan Bataar. Keputusan ini sontak menjadi ancaman bagi masyarakat Muslim. Sebab, dalam perjalanan, Arghun Khan tak tahan untuk tidak menyerang daerah-daerah Muslim. Maka Takudar harus menangguhkan diri, menggetaskan belas kasih yang tumbuh untuk adiknya Arghun, yang tidak tanggung-tanggung menyakiti masyarakat Muslim.

Di Tanah Cekung Turpan yang berbentuk piring, akhirnya Takudar bertemu Arghun. Sejarah berkelebat di benak Takudar: Jenghiz Khan dikalahkan pangeran Muslim Jaladdin yang menghabisi 30 ribu pasukannya di daerah Balwan yang berbentuk piring. Apakah ia akan seberuntung Jaladdin? Jawabannya tentu saja sudah bisa dirumuskan.

Riset dunia maya memberikan suplai data mengenai Takudar, yang dalam bahasa Mongol berarti 'sempurna'. Tidak banyak, namun cukup membuat saya mempertanyakan latar sejarah yang digunakan Sinta Yudisia. Yang saya temukan, Takudar atau Ahmad Tegüder atau Ahmad Takudar Oghlu (1247-1284) bukanlah kaisar  imperium Mongol sebagaimana Jenghiz Khan. Ia adalah penguasa ketiga dari Dinasti Il-Khanid yang didirikan ayahnya -Hulagu Khan, sebagai wilayah pecahan Kekaisaran Mongol. Hulagu Khan adalah saudara Khubilai Khan (1260-1294), pendiri Dinasti Yuan dan cucu Jenghiz Khan.  Setelah Hulagu meninggal 8 Februari 1265, Abaqa Khan, putra sulungnya menggantikan posisinya (1265-1282).

Selanjutnya, Takudar -saudara Abaqa, menggantikan abangnya dan berkuasa tahun 1282-1284. Takudar yang dibabtis dengan nama Nicholas, setelah berkuasa memproklamasikan dirinya sebagai Muslim dan menganiaya orang Kristen. Ia-lah yang pergi ke Khorasan dengan angkatan perang untuk menangkap Arghun Khan, keponakannya, dan pangeran-pangeran Mongol lain dengan tujuan membunuh mereka. Tetapi setelah pengikutnya meninggalkannya, ia ditangkap dan dibunuh atas perintah Arghun tahun 1284. Arghun yang adalah putra Abaqa pun merebut kekuasaan Takudar dan memerintah tahun 1284-1291. Ia mencoba meneruskan keinginan pendahulunya untuk menginvasi Syria dan Palestina serta merebut Jerusalem. Untuk itu, ia minta pertolongan raja-raja Barat (Byzantium, Italia, Prancis, dan Inggris). Hingga meninggal pada 10 Maret 1291, ia  tak pernah merealisaikan keinginan itu. Ia digantikan saudaranya Gaykhatu yang berkuasa tahun 1291-1295.

Sebagai tambahan, Gaykhatu digantikan Ghazan, putra Arghun (1295-1304). Setelah beberapa bulan pada tahun 1295 sempat dipegang Baydu, sepupu Gaykhatu, kekuasaan beralih ke tangan Uljaytu, saudara Ghazan (1304-1316). Uljaytu menjadi ayah Abu Sa'id yang menggantikan dirinya pada tahun 1316 dan menjadi penguasa dinasti Il-Khanid hingga dinasti itu berakhir pada tahun 1335.

Apakah Takudar yang saya sebutkan di atas yang dimaksud Sinta Yudisia? Apakah Arghun Khan pengganti Takudar yang dijadikan Sinta sebagai adik Takudar? Ataukah Sinta memiliki catatan sejarah yang berbeda?

Apapun yang telah ditulis Sinta Yudisia, ia telah menampilkan bakat menulis epik yang patut dibanggakan. Benar tidak sejarah yang dipinjam Sinta, ia sudah menunjukkan keberanian menulis kisah heroik yang sedap dibaca. Secara sinematis, Sinta berhasil mendedahkan panorama Mongolia yang eksotis di bawah naungan Hoh Tenger dengan budayanya yang khas, memberi kesempatan pembaca berimajinasi akan del indah memesona, tarian bielgee dan nyanyian jangar diiringi petikan moriin khuur. Semuanya dihadirkan dalam pergelutan karakter-karakter pria yang berambisi menduduki singgasana serigala. Yang pada gilirannya menjadikan Mongol seting bangkitnya heroisme, pudarnya persaudaraan, bergelimangnya intrik dan siasat perang, maraknya konspirasi, dan hilangnya keunikan perempuan di tangan lelaki bejat.

Bagi Sinta, Takudar adalah seorang pahlawan. Lewat karakter ini, Sinta seperti hendak menghadirkan sosok hero baru di ranah fiksi Indonesia. Takudar yang lembut hati dan menghindari kegegabahan serta meletakkan persaudaraan di atas kepentingan pribadi tampaknya bisa menjadi model yang pas.

Terlepas dari keraguan saya tentang sosok Takudar Khan, saya mengacungkan dua jempol kepada Sinta Yudisia. Selain cerita heroik bermuatan pesan-pesan moral yang berguna, ia juga telah merangkai kalimat-kalimat  bernas yang sedap dibaca. Walau ada yang kurang mengena seperti ungkapan: "Dada Takudar menggelembung berisi air mata dan kesedihan..." (hlm. 523). Mungkin, kejelian penyunting harus tetap dipertahankan supaya tidak mengendur di bab-bab terakhir dalam novel yang cukup gemuk ini. Saya masih menemukan kata "mengubah" ditulis "merubah", misalnya.

Pertanyaan terakhir: benarkah Albuqa Khan bukan dalang pembunuhan Timur Khan dan permaisuri Ilkhata seperti yang tersirat dalam dialognya dengan Takudar? (hlm. 528). Saya berharap bisa mendapatkan ketegasan jawaban  dalam  novel ini.


Salam,
Jody
http://jodypojoh.blogdrive.com
http://percikanku.multiply.com

DATA BUKU:
Judul buku: The Road to the Empire
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Taufan E. Prast
Tebal: 584 hlm; 13 x 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, Desember 2008
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House


www.dinamikaebooks.com

Muhammad Sebagai Pemimpin MIliter

by: Afzalur Rahman
Buku ini memuat profil Nabi Muhammad saw sebagai seorang pemimpin militer.

Kisah yang diangkat dalam buku ini membuktikan bahwa dalam kehidupannya, Nabi kita dapat menjadi contoh kesempurnaan dan keindahan abadi untuk seluruh umat manusia.

Keberhasilannya dalam bidang militer merupakan salah satu bukti nyata atas kebesarannya sebagai seorang pemimpin militer.


www.dinamikaebooks.com

Muhammad Sebagai Pemimpin MIliter

by: Afzalur Rahman
Buku ini memuat profil Nabi Muhammad saw sebagai seorang pemimpin militer.

Kisah yang diangkat dalam buku ini membuktikan bahwa dalam kehidupannya, Nabi kita dapat menjadi contoh kesempurnaan dan keindahan abadi untuk seluruh umat manusia.

Keberhasilannya dalam bidang militer merupakan salah satu bukti nyata atas kebesarannya sebagai seorang pemimpin militer.


www.dinamikaebooks.com