Selasa, 15 September 2009

Perjalanan Akbar Ras Adam

by: Ir. Agus Haryo Sudarmojo
Sudikah kita keturunan kera? Adakah makhluk serupa Adam? Benarkah Adam dan Siti Hawa nenek moyang kita? Di manakah lokasi surga-nya? Bagaimana mekanisme penciptaannya? Benarkah penduduk bumi itu bersaudara? Bagaimana hubungan penciptaan manusia dengan debu ledakan bintang di langit? Iklim bumi pernah berubah secara ekstrem karena letusan gunung Toba? Benarkah penciptaan alam jagat raya dan planet bumi ini diciptakan hanya untuk menunggu kehadiran ras Adam? Siapakah keturunan ras Adam yang ditunggu oleh semesta alam? 
 
Semuanya dijabarkan dengan penjelasan sains dan Quran dan dengan gaya sains popular sehingga mudah dimengerti. 


www.mediabuku.com

Herbal Penyembuh Kanker pada Perempuan

by: Joko Suryo
Sudah sakit, kehilangan seluruh hasil kerja keras, masih harus kehilangan bagian tubuh. Tentu tidak ada yang menginginkan hal itu. Namun, ketika kanker ganas telah menyerang, semua itu bisa terjadi. Anda kehilangan uang untuk berobat dan seringkali masih harus kehilangan bagian tubuh yang terkena kanker. 
 
Di tengah situasi itu, muncul pengobatan herbal sebagai pilihan. Bukan hanya menyembuhkan bagian tubuh yang sakit, herbal juga sanggup memperbaiki sistem tubuh yang rusak sehingga menyebabkan bagian tubuh itu baik, tanpa menghilangkan bagian yang sakit. 
 
Buku ini mengupas khasiat dan tata cara herbal dalam menyembuhkan lima kanker yang paling sering menyerang perempuan. Kanker serviks (leher rahim), kanker rahim, kanker payudara, kanker ovarium (indung telur), dan kanker endometrium. Kelima kanker dibahas dari mulai ciri, deteksi dini, dan stadium-stadiumnya. 
 
Dilengkapi penjelasan lengkap mengenai organ tubuh perempuan yang rentan terkena kanker, titik-titik refleksi penyembuhan, tip meracik sediaan herbal, daftar makanan yang mengandung zat antikanker, dan daftar makanan pemicu kanker, membuat buku ini wajib dibaca oleh semua orang yang peduli kesehatan, terutama perempuan. 


www.mediabuku.com

Senin, 14 September 2009

[resensi buku] Getar Pengharapan di Perantauan

Siti Muyassarotul Hafidzoh*, Kompas.com, 6 September 2009

"Hidup yang tak dipertaruhkan, hidup yang tak dimenangkan." Ungkapan Bung Syahrir ini sangat tepat untuk membaca hikayat orang Indonesia yang bertaruh di negeri perantauan: Belanda. Selama tiga setengah abad Belanda di Indonesia, selama itu pula tersingkap kisah inspiratif kaum pribumi yang mempertaruhkan diri di negeri penjajah. Kisah yang akan menggambarkan hubungan Belanda dan Indonesia, penjajah dan yang dijajah, hegemoni dan koloni, strategi dan siasat intimidasi, serta pengharapan akan sebuah kebebasan di tengah penindasan. Pertaruhan benar-benar menjadi sebuah narasi besar yang sedang dijalankan di tengah kegalauan dan kerisauan.

Sejarawan-Indonesianis, Harry A. Poeze, mencoba menjawab sebuah kisah pengharapan kaum pribumi yang bertaruh di Belanda selama tiga setengah abad (1600-1950). Pengharapan yang terkisah dalam buku ini memang sangat dipertaruhkan, karena menurut Francious Goude (2007), orang pribumi oleh Belanda distigma sebagai "monyet". Sebuah simbol bangsa yang tak berperadaban, jauh dari riuh modernitas, dan mudah dipecundangi. Simbolisasi ini coba digugat kaum pribumi dengan bertaruh secara sungguh di negeri penjajah sendiri.

Mengapa justru di negeri Belanda? Karena dengan menjelajah Belanda, kaum pribumi bisa mengetahui secara detail karakter kebudayaan dan corak peradaban negeri Belanda. Selain bisa belajar untuk mengembangkan kapasitas, bisa juga digunakan sebagai basis gerakan dalam membebaskan Indonesia dari cengkraman kolonialisasi Belanda. Inilah yang dijelajah Poeze dengan memikat dalam bukunya ini.

Poeze mengisahkan bahwa pada awal abad ke-17, untuk pertama kalinya Sultan Aceh mengirimkan tiga duta besar, yakni Abdul Zamat, Laksamana Raja Seri Muhammad, dan kemenakannya Meras San, yang kalau ditulis sekarang menjadi Abdul Hamid, Sri Muhammad, dan Mir Hasan. Mereka menumpang kapal Zelaandia dan Langhe Barche diiringi lima orang pembantu dan seorang juru bahasa, juga sejumlah pedagang Arab (hal. 3).

Perutusan Sultan Aceh tersebut tiba di Aceh pada Juli 1602. Dari ketiganya, Sultan Aceh bisa mengetahui perkembangan peradaban Barat, pola pergaulan masyarakat Eropa, dan bagaimana Sultan Maurits menyembut perutusan tersebut. Perutusan juga berkunjung di berbagai kota pusat peradaban Belanda. Dari gambaran itulah, Sultan Aceh bisa mengetahui cara berdiplomasi dan bekerjasama dengan Belanda, agar tidak tertipu dan terperdaya, walaupun dalam beberapa hal, Belanda masih mencederai kerjasama dengan Sultan.

Kisah perutusan Aceh mengilhami sebuah inspirasi untuk bertaruh di negeri Belanda. Menyusul kemudian para pemuda Ambon yang diajak oleh De Houtman, yang ketika pulang mereka dijadikan pengajar sekolah rakyat. Dari pemuda Ambon ini terkisah sebuah harapan bahwa pergi ke negeri Belanda bisa membuka jendela pengetahuan yang lebih baik. Inilah yang kemudian dijalakan Raden Saleh. Tahun 1829 Raden Saleh ikut berlayar ke negeri Belanda sebagai Klerek Inspektur Keuangan De Linge. Selain belajar melukis yang memang menjadi bakatnya, Raden Saleh juga belajar ihwal pendidikan, pengajaran, juga nasionalisme dan kedaulatan sebuah bangsa. Lukisan-lukisan Raden Saleh terlihat sekali bahwa dia ingin menentukan sendiri siapa dan apa yang dilukisnya. Kebebasan dan kedaulatan diri dalam berkarya sangat dipegang teguh olehnya. Poeze mencatat Raden saleh sebagai pelopor para mahasiswa Indonesia yang sejak akhir abad ke-19 bertaruh ke negeri Belanda.

Pada tahun 1835, Raden Ngabehi Poespa menyusul. Kemudian disusul Mas Ismangoen Danoe Winoto (orang pertama kali yang menikmati pendidikan tinggi di Belanda), Raden Montajib Moeda (orang yang menuliskan kisah perjalanan pertama tentang negeri Belanda), dan Sasrokartono (ahli bahasa yang sangat mahir). Tibalah kemudian sosok dokter yang juga wartawan, Abdul Rivai. Dialah orang Indonesia pertama yang dapat menyebut dirinya "doktor", walaupun gelar yang diperoleh tanpa menulis disertasi (hal. 56). Rivai datang ke Belanda pad tahun 1899, tahun penghujung abad ke-19, dimana Belanda sedang memutus kebijakan politik etisnya.

Sosok Abdul Rivai menjadi istimewa bagi para pelajar Indonesia, karena Rivai selain diakui sebagai dokter yang cerdas dan tangkas, juga dikenal sebagai wartawan yang piawai dalam menulis berbagai persoalan nasionalisme, kebangsaan, dan kenegaraan. Karya dari buah tangannya tayang diberbagai majalah dan newsletter, baik di Melayu dan Belanda sendiri. Jiwa kewartawanan menjadikan Rivai selalu hadir dengan ide-ide kreatif yang bisa mengilhami lahirnya sebuah pergerakan kebangsaan bagi kaum pribumi. Apalagi tulisannya dikenal sangat kritis terhadap kaum kolonial Belanda, sehingga dia dicurigai, bahkan akhirnya dibenci Belanda yang gerak-gerik politiknya mendapatkan pengawasan ketat.

Pada tahun 1908, Rivai dengan teman-teman pelajarnya kaum pribumi mendirikan perkumpulan yang bernama "Perhimpunan Kaum Muda" yang kemudian dikenal dengan Perhimpunan Hindia. Salah satu tugas terpenting dalam perhimpunan, menurut Rivai, adalah memajukan pengajaran dengan jalan melancarkan desakan kepada pemerintah, menerbitkan buku-buku sekolah, dan membentuk dana-dana pendidikan (juga untuk belajar ke Eropa). Dari sinilah, datang berduyun-duyun pelajar Indonesia yang belajar di Belanda. Ada Noto Soeroto (sastrawan), Bung Hatta, Bung Syahrir, Ki Hadjar Dewantara, Tjipti Mangoenkoesoemo, termasuk juga Tan Malaka yang banyak menulis cacatan gugatan selama di negeri Belanda.

Semakin hari, jumlah pelajar dan cendekiawan yang lahir dari negeri Belanda semakin besar. Mereka yang masih di Belanda, pengharapan akan kebebasan mereka tuangkand an mereka perjuangkan di Belanda. Semakin hebat, karena sekembalinya di Indonesia, mereka juga membentuk persekutuan untuk membebaskan tanah airnya. Padahal, hal tersebut snagat tidak dikehendaki oleh Belanda. Pada awalnya, Belanda ingin tetap menjadi "monyet" yang bisa dibohongi yang dipekerjakan dengan seenaknya. Tetapi pencerahan yang mereka dapatkan justru menjadi cambuk bagi Belanda.

Gerakan pengharapan akhirnya tiba dalam susana kebebasan. Gerak-gerik kaum terpelajar sangat berpengaruh atas kebebasan Indonesia dan juga atas terbentuknya Indonesia masa kini. Disinilah, buku menjadi penting untuk membaca secara kritis gerak Indonesia masa depan.

* Peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) Fak Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta .


www.mediabuku.com

Solusi Sehat Mengatasi Stroke

by: Redaksi AgroMedia Pustaka
Stroke bisa menyerang siapa saja, dari eksekutif muda, pegawai kantoran, buruh, ibu rumah tangga di perkotaan hingga di pedesaan. Penyebabnya bukan hanya faktor keturunan dan pola hidup yang tidak sehat. Bagi Anda yang terlalu sibuk dan sering mengalami stres, harus waspada karena penyakit ini juga bisa menyerang Anda.
 

Gejala stroke sering tidak terasa sampai seseorang terkena serangan dan divonis dokter sebagai stroke. Penderita akan mengalami kelumpuhan hingga kematian. Sangat sedikit orang yang bisa pulih seperti semula. Karena itu, penycbab dan gejala penyakit ini harus diketahui sejak dini. Jenis pengobatan apa yang bisa digunakan untuk mengatasi stroke? Buku ini akan membahasnya dari segi pengobatan medis, terapi diet (makanan), terapi jus, dan ramuan herbal. Jauhkan diri Anda dari risiko terkena stroke dengan menjalani hidup sehat dan seimbang.



www.mediabuku.com

[artikel dinamika] Pidi, Mr Bean dari Bandung

Kompas.com 26 Juli 2008

NAMANYA Pidi Baiq. Kocaknya luar biasa. Ia biasa memperlakukan dunia seperti Mr Bean, tokoh kocak dalam serial televisi  yang nama aslinya Rowan Atkinson itu.

Yang membedakan adalah kegilaan Mr Bean muncul karena tuntutan dan arahan skenario, sedangkan Pidi melakukannya dari dan untuk dirinya sendiri. Ia memang menilai hidup perlu diperlakukan gila.

Pidi bukan pelawak, ia  mantan dekan di Institut Teknologi Bandung (ITB), anggota tim kreatif kelompok parodi Project-P, konsultan seni, dan ilustrator pada Penerbit Mizan yang semuanya berlokasi di Bandung.

Perilaku iseng dan selera humor Pidi Baiq di luar takaran dan tidak terpikirkan orang kebanyakan, bahkan mungkin oleh pelawak profesional sekali pun.

Si aneh bin ajaib yang memandang, menafsirkan, dan memperlakukan apa pun di luar dirinya dengan cara yang menentang arus dan sangat iseng ini selalu mengundang derai tawa. Sebagian dari kegilaannya dituturkan dalam buku berjudul Drunken Monster yang diterbitkan DAR! Mizan pada Januari 2008.

Sejak halaman pertama hingga lembar terakhir, buku yang tata bahasanya sengaja dibuat kacau ini tidak henti memberondong pembaca dengan kisah-kisah lucu nan nakal, tapi orisinal. Gayanya membuat pembaca tak berhenti tertawa sambil terus mengikuti kekayaan imajinasi seorang Pidi Baiq.  

Prof Dr Bambang Sugiharto, guru besar ITB dan Universitas Parahyangan (Unpar), mengaku terpaksa memberi pengantar bernada lucu seolah kegilaan Pidi menjadi epidemi hingga seorang profesor filsafat seperti Bambang pun tertulari.

"Buku ini seperti menyarankan bahwa kegilaan, dalam arti bermain, bukanlah penyakit, melainkan justru terapi yang penting. Manusia telah menjadikan hidup terlampau serius, terencana, dan rasional hingga hidup tak lagi menawan menggemaskan," kata Bambang di Bagian Pengantar.

Pidi yang bukan miliarder atau pesohor kelas atas itu membuktikan kebahagian hidup tidak harus digapai dengan menumpuk harta sebanyak mungkin, mengejar karier dan jabatan sekeras-kerasnya, atau dengan bersolek sejadi-jadinya untuk menjadi selebritis paling "beken" se-Nusantara. 

Dengan gayanya yang "sok akrab" dan penuh percaya diri, Pidi tidak henti mengusili orang, tak peduli siapa mereka, tak kenal tempat, tak kenal waktu. Di pagi buta, di kesenyapan malam, di ruang peturasan, simpang lampu merah, pokoknya di mana dan kapan saja, begitu ada dorongan maka iseng pun ia lakukan.

Ia menyapa orang-orang tak dikenalnya seolah telah mengenal mereka. Setelah membuat bingung orang-orang malang itu, ia pergi meninggalkan mereka sambil permisi dengan alasan telah salah menyapa orang. Tentu saja, sejak awal ia memang tak tahu siapa orang-orang itu.

Siapa pun diusili

Suatu kali ia merasa menemukan keanehan di satu sudut Kota Bandung yang biasanya macet dan bising oleh klakson kendaraan bermotor. Ia rindu suasana itu, maka tak ada hujan tak ada badai, klakson mobil ia bunyikan keras-keras hingga semua orang sekitar berasa aneh dan terganggu.

Pidi juga memiliki cara unik dalam mengungkapkan kepedulian pada sesamanya yang kurang beruntung. Satu hari, ia mengajak empat orang kawan yang semuanya tukang becak untuk menumpang mobilnya guna membantunya mengangkut barang-barang yang hendak dibeli di suatu tempat.  

Di tengah perjalanan, Pidi mengajak keempatnya singgah makan di satu kafe yang pengunjungnya kebanyakan anak muda bertampang "keren" berdandan perlente. Saat makanan dalam pesanan, Pidi malah meninggalkan keempat pengayuh becak itu dengan alasan hendak berbelanja sesuatu dulu di satu toko.  

Padahal, ia mampir di kafe sebelah, memesan kopi di sana sambil memerhatikan dari kejauhan keempat kawannya yang celingukan menungguinya sekaligus resah telah berada di tempat yang sepanjang hidupnya baru kali itu mereka singgahi.

Bukan hanya tukang becak, siapa pun yang dianggapnya layak diusili maka segera ia isengi sesukanya. Sopir angkot, kawan akrabnya, pengemudi taksi, tetangganya, penjual pulsa telepon, satpam kampus, penjual tiket kebun binatang, bahkan polisi adalah sebagian dari deretan daftar panjang korban kegilaan Pidi Baiq. 

Kampus juga tak luput

Akan tetapi, ia juga pandai menyindir yang tentu saja dengan cara pandang yang unik, misalnya saat mengkritik pola pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang menjadi almameternya.  

Ia menilai kehidupan kampus semakin asosial karena menyepi dari kehidupan berorganisasi dan bermain yang justru diperlukan untuk mematangkan kehidupan sosial dan mental manusia. "Sekarang kampus banyak sepi. Gara-gara empat tahun katanya. Empat tahun harus lulus. Mahasiswa jadi tidak ada waktu bikin acara macam-macam. Mahasiswa jadi tidak bisa macam-macam.  Mahasiswa jangan lagi macam-macam. Mahasiswa harus jadi satu macam," kata Pidi.

Begitu juga saat Indonesia sewot pada Malaysia karena mematenkan produk-produk buatan Indonesia atas nama negeri itu, Pidi justru menjadi seorang dari sedikit orang di Indonesia yang melihat permasalahan dalam perspektif yang kritis sekaligus introspektif.

"Terima kasih Malaysia sudah bikin kami tahu bahwa kami punya banyak apa-apa yang bagimu hebat, adalah itu, apa-apa yang justru kami anggap remeh, itu yang justru kami abaikan. Sungguh, betapa sibuknya kami mengurus pelestarian budaya bangsa lain. Sibuk menangkap rajawali hingga burung nuri di tangan dibiar lepas," tulis Pidi.

Ungkapan cinta

Ia juga mungkin salah seorang dari sedikit orang di dunia yang memiliki cara yang tidak lazim dalam mengungkapkan cinta dan sayangnya pada istri dan anak-anaknya.  Ia bahkan memiliki kiat jenius dalam melunturkan hati istri yang tengah dongkol pada suami.

Suatu hari ia mendapati istrinya duduk cemberut karena semalaman menungguinya pulang dari tempat kerja. Bukannya menjelaskan keterlambatannya pulang ke rumah, Pidi malah bercerita lucu bahwa ia mesti berkelahi dulu dengan "drunken monster" (hantu pemabuk) sehingga terpaksa terlambat tiba di rumah.

"Drunken Monster" dipelesetkan dari film mandarin berjudul Drunken Master, lalu dipilih menjadi judul buku ini.  

Editor dan Penerbit Mizan boleh jadi menganggap "drunken monster" pas untuk mewakili keseluruhan cerita dalam buku ini yang memang berkisah tentang kegilaan yang memabukkan dari Pidi Baiq hingga ia mungkin pantas disebut monster (rajanya) orang-orang berperilaku iseng.

www.mediabuku.com

Sukses Bertanam Pepaya Unggul Kualitas Supermarket

by: Sobir, Ph.D.
Tak hanya fesyen yang punya model terkini. Pepaya pun punya tren dari masa ke masa. Beberapa dekade lalu, konsumen lebih menggemari pepaya berukuran besar dengan kulit buah yang halus. Kini, seiring perkembangan sosio-ekonomi masyarakat, pepaya tersebut tergeser dengan kehadiran primadona baru, yakni pepaya tipe kecil dan sedang.
 

Terbukti, pepaya tipe kecil dan sedang hanya bisa ditemui di pasar modern, seperti toko buah, supermarket, dan hypermarket. Artinya, harga jualnya tinggi dan menguntungkan secara ekonomi dibandingkan dengan pepaya tipe besar, mengingat pasar yang dibidik adalah kalangan ekonomi menengah ke atas. Di lain pihak, suplai pepaya ini masih belum berbanding seimbang dengan permintaan yang besar. Salah satunya, karena orang yang mengusahakan pepaya ini belum banyak.

Buku ini sengaja dirancang untuk membantu siapa pun yang ingin mulai berbisnis melalui usaha bertanam pepaya unggul kualitas supermarket. Temukan berbagai teknis praktis budi daya pepaya untuk menghasilkan buah pepaya unggul berkualitas yang siap dijual ke pasar modern.


www.mediabuku.com

12 Langkah Praktis Mahir Bahasa Jepang untuk Pemula

by: Heny Fitria P. S.
Dewasa ini bahasa Jepang semakin diminati oleh berbagai kalangan. Namun, orang sering malas untuk memperlajarinya begitu melihat bentuk hurufnya yang tampak rumit dan materinya sulit dipahami.

Buku ini mengulas 12 langkah praktis belajar bahasa Jepang, dari pengalaman huruf sampai penerapan berbagai pola kalimat. Materi dalam buku ini disajikan secara praktis dan sederhana sehingga mudah dipahami.
  • Dilengkapi tabel huruf Hiragana dan Katakana
  • Disertai Contoh percakapan yang berhubungan langsung dengan materi
  • Dilengkapi tabel perubahan bentuk kata kerja


www.mediabuku.com

Aku Pintar Menulis Huruf dan Mewarnai

by: Hannah Arumbei
Buku ini berisi pengenalan huruf a-z berikut latihan cara menulisnya. Materi dalam buku ini antara lain:
  • Mengenal huruf a-z, besar dan kecil
  • Latihan menulis huruf a-z, besar dan kecil
  • Mengenal binatang, benda, dan buah dalam dua bahasa, Indonesia-Inggris
  • Latihan menulis kosakata dan kalimat
  • Mewarnai aneka gambar lucu


www.mediabuku.com

Terampil Menulis Huruf Tegak Bersambung

by: Hanah Arumbei
Buku ini disusun untuk membantu anak belajar menulis huruf kecil tegak bersambung a-z. Materi dalam buku ini antara lain:
  • Belajar menulis huruf a-z
  • Mengenal aneka objek gambar, Inggris-Indonesia
  • Belajar menulis suku kata dan kosakata
  • Belajar menulis kalimat
  • Mewarnai aneka objek gambar


www.mediabuku.com

1000 Soal Matematika Dasar

by: Suherman
Matematika dasar menjadi tolok ukur diterima atau tidaknya seorang siswa menjadi mahasiswa. Meskipun terkesan sulit, pelajaran ini sebenarnya mudah ditaklukkan apabila kita tahu cara mengatasinya. Mengerjakan soal adalah kata kuncinya.

Buku ini mengakomodasi semua kebutuhan soal, baik dari UAN, UMB, UM UGM, UM UNDIP, maupun SNMPTN dalam sepuluh tahun terakhir. Setiap rumus dijelaskan secara rinci disertai berbagai contoh tipe soal. Setiap materi dilengkapi dengan konsep dasar yang memudahkan Anda memahami materi secara keseluruhan. Selain untuk SNMPTN ataupun UM, berbagai soal di dalam buku ini juga dapat dijadikan media latihan Anda sewaktu ulangan harian dan UN tiba.

Buku ini adalah sahabat terbaik Anda dalam berlatih berbagai soal matematika karena membahas secara detail pokok materi:

- persamaan kuadrat, - statistika, - fungsi kuadrat, 
- matriks, - trigonometri, - barisan dan deret, - pertidaksamaan,   - garis lurus, - eksponen,
- program linear, - logaritma, 
- peluang, - turunan, 
- fungsi komposisi dan
  invers, serta - limit fungsi,   
  - integral.


www.mediabuku.com