Sabtu, 03 Oktober 2009

Menu Sehari-hari dan Akhir Pekan :Volume 2

by: Yasa Boga
Bosan memikirkan menu setiap hari? Jenuh karena akhirnya memasak hidangan yang itu-itu saja?

Pasal menu, Yasa Boga pakarnya. Berpengalaman lebih dari 40 tahun Yasa Boga menyimpulkan bahwa makanan sehat untuk keluarga tak boleh ditawar. Tetapi factor variasi menu dari hari ke hari, padu rasa dan kelezatan tiap hidangan jangan disepelekan. Apa gunanya bersusah payah bila salah satu masakan ludas disantap, sedangkan yang lain tidak disentuh?

Seri Menu Sehari-hari dan Akhir Pekan Yasa Boga terdiri dari 3 buku. Masing-masing merangkum 30 set menu sehari-hari, dilengkapi dengan 12 set menu untuk akhir pekan/hari istimewa. Khas Yasa Boga, semua menu dipilih dengan criteria: pilihan resep yang bervariasi, cocok untuk selera lidah Indonesia, bahan mudah didapat, cara membuat yang simpel, serta memenuhi persyaratan asupan gizi sehari-hari.


www.mediabuku.com

1 Menu Lezat 2 Hidangan Nikmat untuk 30 Hari : Ala Resto Terpopuler

by: Fajar Ayuningsih
Buku karya Fajar Ayuningsih Satu Menu Lezat Dua Hidangan Nikmat adalah suatu perwujudan konsep tren pola hidup modern yang sedang digandrungi masyarakat perkotaan.

Menu yang disusun dalam buku ini telah direncanakan dengan siklus kebutuhan gizi seimbang, sehingga kecukupannya sesuai dengan kebutuhan tubuh secara baik dan benar. Variasi dan kombinasi bahan makanan diatur sedemikian rupa. Selain untuk menghindari kebosanan, juga untuk memenuhi selera seluruh anggota keluarga.

Langkah-langkah menyusun menu tersebut dibuat berdasarkan satu pola "two in one" dengan sekali penyajian. Ada 30 set menu yang menarik untuk dicoba, antara lain variasi menu dari Italia, Jepang, Korea, Thailand, Malaysia, serta variasi menu hidangan peranakan yang sedang "in" di Indonesia.

Buku ini wajib dimiliki bagi mereka yang baru saja terjun di dapur atau sedang tertarik dunia masak-memasak. Susunan menu terdiri dari resep masakan yang cukup popular, bahan yang digunakan gampang didapat dan cara pembuatannya pun mudah diikuti, meski bagi pemula sekalipun.



www.mediabuku.com

Short Story : Haircuts for Short Hair (Teknik Guntingan Rambut Pendek)

by: Jonki Pitoi
Kekagumannya akan keindahan rambut perempuan menggugah dan menginspirasi Jongki Pitoi untuk menekuni profesinya kini. Menurutnya, rambut perempuan Indonesia, dengan jenis dan kelenturan yang khas, adalah rambut terbaik yang pernah disentuhnya. Dengan daya elastisitas yang tinggi, rambut perempuan Indonesia akan jatuh maksimal saat diberi perlakuan khusus, misalnya di-blow, persis seperti rambut perempuan Kaukasia atau Barat.

Sebagai seorang penata rambut, Jonki adalah salah satu yang terbaik. Memuat beberapa teknik guntingan untuk rambut pendek berikut cara menatanya, Short Story by Jonki Pitoi bisa menjadi solusi untuk mendapatkan rambut pendek yang modern. Teknik guntingan rambut dalam buku ini dibagi dalam kategori Super Short, Medium Short, dan Short, sesuai dengan kepribadian Anda. Buku ini akan membimbing Anda untuk mendapatkan teknik guntingan yang tepat agar rambut jatuh dengan lebih indah dan mudah diatur.

Prinsip dan teknik guntingan rambut ini akan mengantarkan Anda menuju cara mengekspresikan diri dengan lebih maksimal. Tak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan berbagai tip untuk memilih peralatan dasar, dan menyempurnakan teknik guntingan rambut.


www.mediabuku.com

Usagi Yojimbo :Musim-Musim Seasons

by: Stan Sakai
Angin sepoi musim semi menggelitik kenangan akan pertempuran-pertempuran lampau. Ladang-ladang musim panas terbakar api pengkhianatan. Malam-malam dingin musim gugur menggemakan jeritan-jeritan setan. Salju musim dingin bernoda merah oleh darah kehormatan. Musim datang silih berganti, membawa kelahiran, kehidupan, dan kematian---cerminan alam atas pengembaraan Miyamoto Usagi, samurai tak bertuan yang mengembara di pedesaan Jepang zaman feodal, memerangi ketidakadilan sambil mengasah kecakapan spiritual dan bertempurnya.

Bakat-bakat dan karakter Usagi mendapatkan ujian berat dalam serangkaian petualangan yang unik dan berbeda-beda, seperti musim yang bergulir. Sebuah persik dari keramik menyimpan kunci rencana jahat seorang panglima perang. Kompetisi berpedang menjadi tujuan akhir perjalanan balas dendam seorang ronin. Seorang pejuang misterius memiliki kemampuan melihat maut di mata orang-orang lain. Seorang saudagar yang menjelang ajal diselamatkan oleh kasih sayang tak putus dari anak perempuannya. Kisah-kisah ini menandai petualangan Usagi seiring berjalannya musim---musim-musim yang dijalani dengan keberanian, kesetiaan, dan pencerahan.


www.mediabuku.com

Masak Cepat dan Lezat :Hidangan Tumis 5 Bahan

by: Dapur Kirana
Mengolah bahan masakan dengan cara menumis adalah salah satu teknik masak. Kata lain dari tumis adalah ca, yang berasal dari bahasa China. Waktu yang diperlukan untuk membuat tumis sangat singkat, menumis adalah memasak dengan cepat. Bahan yang digunakan untuk tumis dipotong kecil-kecil sehingga panas yang sampai ke dalam setiap bahan masakan tersebut merata dengan cepat, sehingga bahan masakan matang dalam waktu bersamaan dan memasaknya bisa secepat kilat.

Buku ini menampilkan resep hidangan tumis yang ;ezat dan sehat, menggunakan 5 bahan utama, tidak termasuk bumbu-bumbu. Bagi Anda yang sibuk tak banyak waktu di dapur, buku ini dapat membantu Anda untuk tetap dapat menyiapkan hidangan lezat dan sehat bagi keluarga tercinta.


www.mediabuku.com

Penindas, Pembual, & Teman Palsu (Bullies, Bigmouths, & So-Called Friends)

by: Jenny Alexander
Penindas seneng ngancem kamu. Pembual ngelontarin komentar sinis tentang kamu. Teman palsu nyuekin kamu tanpa mengatakan sebabnya. 

Kamu nggak mau dipermainkan sama mereka, kan? Gampang kok. Bangun pertahanan diri, agar para penindas nggak mendekati kamu. 

Gimana caranya? Semuanya ada dalam buku ini.


www.mediabuku.com

Jumat, 02 Oktober 2009

[resensi buku] Little Women

@h_tanzil, Bukuygkubaca.blogspot.com

Little Woman adalah novel klasik karya Lousia May Alcott (1832-1888) yang pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1868. Dalam novel ini Alcott menciptakan empat sosok perempuan yang paling populer dalam sastra Amerika hingga kini. Mereka adalah Meg, yang tertua diantara keempat anak perempuan keluarga March, berusia enam belas tahun, sangat cantik dan lembut. Jo, 15 tahun, pribadi yang penuh semangat, temperamental, suka bereksperimen dan senang menulis. Beth,  13 tahun gadis yang lembut, pendiam dan baik hati, serta si bungsu Amy, 12 yang memiliki jiwa seni, egois, manja serta kekanak-kanakan.

Keempat anak ini tinggal bersama ibu mereka, sementara sang ayah pergi bertempur dalam perang saudara. Keluarga ini hidup dalam kesederhanaan, sementara ayahnya pergi ibu serta keempat anak gadis March bahu membahu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sementara utuk melakukan pekerjaan rumah tangga, mereka dibantu oleh Hanah yang setia mengabdi pada keluarga March.

Keseharian yang dialami oleh keempat wanita keluarga March inilah yang dieksplorasi dengan baik oleh Alcott dalam novelnya ini. Walau mereka memiliki ibu yang bijak dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya namun keempat gadis dengan karakter yang berlainan ini membuat mereka tak luput dari berbagai pertengkaran, kadang mereka saling memuji namun ada juga ejek mengejek, perkelahian, cemburu, dll seperti yang dialami oleh sebuah keluarga pada umumnya. Selain itu persahabatan mereka dengan Laurie, pemuda kaya tetangga mereka yang tinggal bersama kakeknya ikut mewarnai kehidupan keluarga sederhana ini. Bersama Laurie, mereka menikmati masa remaja dan persahabatan yang indah

Pada intinya dalam novelnya ini Alcott menuturkan keseharian keempat gadis March dengan begitu hidup dan menarik, seperti bermain teater dalam rumah, berpikinik, membuat koran sendiri, dan kejadian-kejadian lainnya yang ikut membentuk mereka menjadi perempuan dewasa. Eksplorasi karakter dan berbagai peristiwa yang dialami oleh keempat gadis March ini dideskripsikan dengan porsi yang hampir sama, tiap babnya secara bergantian menceritakan salah satu dari mereka sebagai pusat cerita. Walau demikian karakter Jo yang merupakan cermin dari kepirbadian Alcott sendiri tampak selalu muncul dan mengambil peran dibanding yang lainnya.

Apa yang dikisahkan oleh Alcott sangat manusiawi dan wajar, tidak berlebihan, seperti halnya keluarga kita pada umumnya sehingga membaca novel ini seperti membaca kehidupan kita sendiri. Ada berbagai peristiwa keseharian yang menarik yang dikisahkan Alcott misalnya bagaimana pertengkaran antara Jo dan Amy karena hal yang sepele malah membuat Jo begitu membenci Amy yang telah memusnahkan buku karangannya yang telah lama ia tulis untuk ia persembahkan pada ayahnya kelak.

Novel ini juga memuat kisah yang mengandung nilai-nilai pengorbanan dan kemanusiaan baik antara keluarga March atau dengan orang lain. Misalnya ketika Jo rela mengorbankan rambutnya untuk dijual ke sebuah salon demi menambah ongkos perjalanan ibunya ke Washington untuk menjenguk ayah mereka yang sakit keras.

Lalu ada pula kisah Beth yang tetap menolong bayi tetangganya yang menderita penyakit menular hingga akhirnya bayi tersebut meninggal di pangkuannya. Karenanya tak lama kemudian Beth pun tertular penyakit yang mematikan ini. Saat inilah saat yang paling berat yang dialami keempat gadis keluarga March. Mereka harus merawat Beth ketika kedua orang tua mereka tak ada di rumah. Saat-saat mereka menolong Beth yang sedang berjuang melawan maut inilah yang membuat mereka menyadari bahwa kehadiran keluarga mereka jauh lebih berharga dibanding apapun

Ada banyak hal tema menarik yang diangkat oleh Alcott dalam novelnya ini, selain masalah kehangatan keluarga, pengorbanan, cinta kasih antar saudara dan cinta romantis Meg, novel ini juga mengangkat isu feminisme melalui sosok Jo yang mandiri dan selalu menentang aturan yang membatasi kebebasannya. Menarik karena ketika novel ini dibuat, isu feminisme belum sepopuler saat ini sehingga bisa dikatakan bahwa Alcott adalah penulis yang memiliki wawasan berpikir melebihi zamannya.

Selain itu novel ini juga memberikan contoh bahwa dalam kehidupan perempuan yang sederhana, kehidupan yang berhasaja dan berkualitas masih mungkin diperoleh. Tak ada yang lebih berharga ketimbang memiliki keluarga yang saling mencintai. Hal ini seolah mendobrak pandangan umum bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh melalui oleh kelimpahan materi semata.

Dengan segala kelebihan yang ada dalam novel ini maka tak heran jika novel yang ditulis Alcott hanya dalam tempo dua setengah bulan (antara 1867 dan awal 1868) ini langsung menuai sukses ketika pertama kami diterbitkan pada 30 September 1868. Lebih dari 2000 ekslempar terjual seketika. Novel ini juga direspon secara positif oleh para kritikus sastra dan langsung menyebut novel baru itu sebagai sastra klasik. Hal ini kelak terbukti karena novel ini menjadi novel yang laris selama puluhan tahun dan dibaca hingga kini dari generasi ke generasi.

Sesaat setelah novel ini terbit dan banyak dibaca orang, Alcott kebanjiran surat dari pembacanya yang menuntut sekuel dari novelnya tersebut. Memenuhi keinginan pembacanya untuk menulis kelanjutan dari kisah keempat gadis keluarga March ini, Alcott pun akhirnya menulis sekuel Little Woman yang diberinya judul Good Wives pada tahun 1869. Kedua bagian ini sering disebut dengan Little Women or Meg, Jo, Beth and Amy. Tak hanya berhenti sampai di situ, kisah keluarga March terus berlanjut Alcott terus menulis dan menerbitkan Little Men (1871) dan Jo's Boys (1886), yang menceritakan kehidupan anak-anak dari perempuan-perempuan keluarga March. Pada 1880 kedua bagian digabung ke dalam satu volume di Amerika dengan judul Little Women or, Meg, Jo, Beth and Amy.

Hingga kini kisah keempat perempuan keluarga March terus dibaca orang . Sejumlah karya merujuknya. Geraldine Brooks, misalnya, menerbitkan novel March pada 2005, novel ini bercerita tentang Tuan March, ayah keempat perempuan March, selama Perang Saudara. Novel ini kemudian dianugerahi Pulitzer Prize for Fiction 2006. Tak hanya dalam ranah buku, kisah keluarga March juga telah menggelitik para sineas untuk melayar lebarkan karya Alcott ini, hingga kini Little Woman sudah 14 kali diadaptasi ke layar lebar . Selain film, Little Woman juga dibuatkan versi serial TVnya, anime-nya, panggung opera, drama musical, dll

Selain itu menurut buku " 1001 Books You Must Read Before You Die karya Peter Boxall. Novel Little women ini menginspirasi banyak penulis perempuan antara lain Simone Beauvoir, Joyce Carol Oates, dan Cynthia Ozick (salah satu penulis amerika paling top saat ini). Karenanya hadirnya terjemahan novel ini patut dipresiasi dengan baik karena jika sebelumnya novel klasik ini hanya dibaca dan dibicarakan di lingkungan terbatas yang melek sastra, kini novel ini menjadi lebih terbaca oleh kalangan yang lebih luas lagi.

@h_tanzil


www.mediabuku.com

[resensi buku] Legenda Bangsa Pemburu Mimpi

Singgalang edisi Minggu, 29 September 2009

"Mimpi adalah taman setan, dan semua mimpi di dunia ini sudah dimimpikan dahulu kala. Kini mimpi-mimpi itu ditukar begitu saja dengan realitas yang tak kalah bekas dan usangnya, persis seperti uang logam ditukar dengan surat obligasi dan sebaliknya, dari tangan ke tangan…"

Khazar adalah nama sebuah bangsa pengembara yang berasal dari Timur. Bangsa ini suka berperang dan memeluk sebuah keyakinan asing. Sekitar abad ketujuh dan kesepuluh, pernah berdiam di sebuah negeri antara Laut Kaspia dan Laut Hitam, hingga kemudian, setelah berperang dengan berbagai bangsa, seperti Arab dan Rusia akhirnya hilang dari muka bumi.

Musnahnya bangsa Khazar diyakini bukan karena ditumpas perang, namun karena berganti keyakinan yang disertai dengan mengubah jatidiri. Namun orang-orang tidak tahu, apakah hal itu benar atau tidak, dan apabila benar, berpindah ke keyakinan apakah bangsa Khazar? Satu hal yang dipercayai adalah, awal mula perubahan besar itu ketika penguasa bangsa Khazar yang disebut khagan, bermimpi dan mengundang tiga filsuf dari tiga agama besar yang mengapit bangsa Khazar; Islam, Kristen dan Yahudi untuk menafsirkan mimpi tersebut. Khagan berjanji bahwa dia dan seluruh rakyatnya akan pindah ke agama yang bisa memberikan penjelasan paling benar. Peristiwa unik itu disebut Polemik Khazar.

Menggunakan perspektif Islam, Kristen, dan Yahudi, novel bergaya ensiklopedi ini mencoba menyibak kembali teka-teki yang menimpa nasib bangsa Khazar. Buku ini terdiri atas tiga jilid, yakni Buku Merah (dengan sudut pandang Kristen), Buku Hijau (dengan sudut pandang Islam), dan Buku Kuning (dengan sudut pandang Yahudi) yang masing-masingnya memberikan penjelasan tentang bangsa Khazar dan polemik yang menjadi bagian sejarahnya. Ada informasi yang sama, namun antar versi lebih sering berbeba (bertentangan). Misalnya, menurut Buku Merah, yang berhasil memenangkan Polemik Khazar adalah filsuf Kristen, yakni St. Cyril atau Konstantin Sang Filsuf, sehingga khagan Khazar dan rakyatnya masuk agama Kristen. Sedangkan menurut versi Buku Hijau, utusan Arab yang bernama Farrabi bin Qurrah-lah yang berhasil memberikan argumentasi paling memuaskan khagan sehingga dia dan pengikutnya masuk Islam. Lain lagi menurut Buku Kuning, Rabi Isaac Sangari-lah yang berhasil membimbing rakyat Khazar jadi pemeluk Yahudi.

Meski beranjak dari polemik tiga agama besar yang terkesan faktual, novel ini tidak kehilangan rasa fiksinya. Kemenarikan novel ini tidak saja pada puzzle aneka legenda dan anekdot yang membangun imajinasi kita tentang bangsa Khazar, namun juga dengan adanya tantangan pembacaan. Membaca novel ini, seperti bertualang meneruka hutan lebat. Akan sampai di mana dan mendapatkan apa, itu tergantung dari usaha pembacaan kita karena novel ini tak berjalan dengan alur linear. Novel disajikan berupa topik-topik tercerai berai yang dapat dimualai dari mana saja dan dilanjutkan ke mana saja. Untuk mengenali sebuah nama dan memahami sebuah persoalan, kita juga akan ditantang untuk membuka lembaran-lembaran lain berulang kali.

Fantasi yang sangat memikat disuguhkan Milorad Pavic melalui tiga orang tokoh Kyr Avram Brankovich, Yusuf Masudi, dan Samuel Cohen yang bisa membaca mimpi orang lain serta masuk ke dalamnya. Mereka disebut pemburu mimpi. Dalam mimpinya, Avram Brankovich menyaksikan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Samuel Cohen. Cohen memimpikan kehidupan Brankovich, dan Masudi berusaha menemukan Cohen dengan mengejar Brankovich. Ketiga orang tersebut sama-sama menjadi penulis Kamus Khazar di bawah pengaruh Putri Ateh.

Metafora tentang bangsa Khazar seperti persoalan besar bangsa-bangsa di dunia yang terkepung oleh pengaruh kuat globalisasi, apakah akan bertahan dengan jati diri atau mencebur menjadi sama dengan yang lain. Tak salah bila novel ini termasuk dalam program Penerjemahan Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) karena merupakan salah satu karya sastra dunia yang mengesankan.[]

Peresensi : Ade Efdira


www.mediabuku.com

Doa-Doa Mustajabah

by: Abu Qalbina
Doa adalah pilar ibadah. Setiap gerak dari seorang muslim pada hakikatnya adalah doa. Buku yang sederhana ini akan memberikan manfaat yang sangat besar karena mengetengahkan doa-doa yang praktis, lengkap, dan mudah digunakan bagi segala usia. Doa-doa yang terdapat dalam buku ini bisa langsung digunakan untuk membentuk kepribadian muslim. 

Di saat kita berdoa akan merasakan ketenangan batin. Sebab itu, hidup ini akan terasa indah dan nikmat jika dijalani dengan doa. Buku ini adalah salah satu jalan kenikmatan batin itu... 



www.mediabuku.com

Kamis, 01 Oktober 2009

Ghostgirl: Rest in Popularity

by: Tonya Hurley
Inilah faktanya. Charlotte Usher telah meninggal dunia. Dengan cara terkonyol: tersedak permen kenyal berbentuk beruang. Di tengah sebuah misi terpenting: menjadi cewek terpopuler di sekolah. Sebelum berhasil mencapai tujuan termulia: merebut hati Damen Dylan, cowok terkeren di Hawthorne High.

Dan sekarang, dia menjadi hantu. Bayangkan, HANTU! Dia bergentayangan di sekolah, tidak terlihat, bisa menembus dinding, dan menjadi penghuni rumah hantu. Tetapi, sama seperti kehidupan, ternyata kematian juga penuh tantangan. Setidaknya, Charlotte tetap harus bersekolah hingga lulus dan menghadapi persaingan dengan hantu tergarang di kelasnya.

Lalu, apakah dengan menjadi hantu berarti Charlotte harus melupakan misi dan tujuan hidupnya? Ataukah  justru semua itu lebih mudah tercapai? Dan relakah Charlotte menerima "takdir" barunya dan menjalani hari-hari sebagai hantu?


www.mediabuku.com