Selasa, 27 Januari 2009

[resensi buku] Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad

Siapa yang menyangka, seorang Presiden negara adidaya yang terhormat di akhir masa jabatannya akan dipermalukan harkat dan martabatnya oleh seorang wartawan dari negara yang di'jajah'nya. Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS yang paling bergengsi di dunia "Air Force One". Selain ingin berpamitan dengan tentara AS di Irak, tujuan utama Bush adalah untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak yang sempat direvisi beberapa kali dan ditentang oleh sebagian faksi di parlemen Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki melakukan konferensi pers. Dan saat itulah Bush menerima perlakuan memalukan yang bakal dikenang sepanjang masa baik oleh Bush pribadi maupun seluruh masyarakat dunia.

Karena peristiwa penandatangan pakta keamanan ini demikian penting, dan konferensi pers tersebut telah diagendakan sebelumnya, tentunya peristiwa ini dihadiri oleh para wartawan dalam dan luar negeri dengan kamera televisi yang siap menayangkannya secara live. Seluruh petugas Secret Service juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum lengkap dengan peralatan canggihnya. Telah dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada, bom, pistol, atau apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba peristiwa luar biasa terjadi. Seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar Al-Zaidi tiba-tiba melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , "Good bye, dog!". Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, Al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, untung Bush pandai berkelit sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Walau luput dari lemparan sepatu, namun peristiwa memalukan yang diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia itu telah tersebar dengan cepat, menghibur banyak pemirsa dan segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjangi sejarah kepresidenan AS karena tapak sepatu adalah simbol penghinaaan pamungkas dalam budaya Arab. Setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad pada April 2003, banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka.

Jika selama ini kita hanya membaca dan melihat peristiwa tersebut melalui koran-koran, televisi, streaming video di internet, dll. Kini kita bisa membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku yang ditulis oleh Muhsin Labib, jurnalis, cendekiawan muslim, salah satu penulis buku best seller "Ahmadinejad! David di tengah angkara Goliath Dunia " (Hikmah, 2006). 

Buku ini tampaknya memang sengaja dibuat secara cepat oleh penerbitnya agar kisah sepatu itu masih segar dalam ingatan kita. Jika diistilahkan mungkin buku ini disebut dengan 'flash book' atau ada juga yang menyebutnya 'magazine book' , buku yang dibuat untuk menangkap sebuah moment peristiwa yang sedang trend secara cepat. Biasanya buku jenis ini tak terlalu tebal dan hanya menyarikan dari berita-berita yang beredar di media masa.

Menurut penerbitnya (Rajut Publishing) Buku Goodbye Bush! ini mungkin merupakan salah satu buku tercepat yang pernah dibuat. Diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Apa yang bisa dihasilkan dengan buku yang dibuat secepat demikian? Walau dibuat secara cepat tampaknya buku ini tidak dibuat secara serampangan karena nama penulisnya dan penerbit tentu saja dipertaruhkan di buku ini. Oleh penulisnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama memuat serangkaian peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak dan polemik-polemiknya . Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut akan terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Bagian kedua memapar peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntahar al-Zaidi yang nyaris mengenai wajah George W. Bush. Lalu peristiwa-peristiwa susulan, atau respon dunia internasional pasca insiden memalukan itu. Di bagian ini akan terungkap hal-hal menarik dan lucu akibat aksi pelemparan sepatu tersebut, seperti bagaimana kini sepatu usang dengan model tahun 99 itu jadi sepatu yang paling dicari sampai-sampai ada yang menawarnya hingga 110 milyar hanya untuk satu buah sepatu.

Dimana kini sepatu itu berada? Jawabannya bisa ditemui di buku ini. Yang pasti kini pabrik pembuat sepatu tersebut kebanjiran order karena pesanan jenis sepatu tersebut naik hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Selain itu terungkap pula bahwa kejaidan aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut. Banyak hal-hal menarik dan lucu di bagian ini tentunya saya tak akan mengungkapkannya dalam tulisan ini agar pembaca merasakan sendiri sensasi kelucuan dan keterkejutan membaca fakta-fakta yang ada akibat insiden ini.

Di Bagian ketiga memuat profil singkat pelempar sepatu, Munthadar dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan, hingga ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi. Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawawan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para infitadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu! 

Pada intinya buku kecil yang juga dilengkapi dengan foto-foto ini memuat secara kronologis latar belakang, sebelum, saat, dan berbagai reaksi setelah insiden pelemparan sepatu terjadi. Tak ada analisis komprehensif atau abstraksi intelektual tingkat tinggi dalam buku ini karena memang bukan untuk tujuan itu buku ini dibuat. Buku ini hanya merangkum berbagai berita dan kisah insiden ini yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun cyber sehingga buku ini sangat renyah, enak dibaca, dan dapat tuntas hanya dalam sekali duduk.

Namun bukan berarti buku ini sekadar 'buku kacangan'. Tampaknya ini buku pertama di Indonesia (bahkan mungkin di dunia?) yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak hal positif yang mungkin bisa diperoleh dalam buku ini. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh dalam sebuah buku, melalui buku kini kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

@h_tanzil
Sumber:

www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad

Siapa yang menyangka, seorang Presiden negara adidaya yang terhormat di akhir masa jabatannya akan dipermalukan harkat dan martabatnya oleh seorang wartawan dari negara yang di'jajah'nya. Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS yang paling bergengsi di dunia "Air Force One". Selain ingin berpamitan dengan tentara AS di Irak, tujuan utama Bush adalah untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak yang sempat direvisi beberapa kali dan ditentang oleh sebagian faksi di parlemen Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki melakukan konferensi pers. Dan saat itulah Bush menerima perlakuan memalukan yang bakal dikenang sepanjang masa baik oleh Bush pribadi maupun seluruh masyarakat dunia.

Karena peristiwa penandatangan pakta keamanan ini demikian penting, dan konferensi pers tersebut telah diagendakan sebelumnya, tentunya peristiwa ini dihadiri oleh para wartawan dalam dan luar negeri dengan kamera televisi yang siap menayangkannya secara live. Seluruh petugas Secret Service juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum lengkap dengan peralatan canggihnya. Telah dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada, bom, pistol, atau apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.

Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba peristiwa luar biasa terjadi. Seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar Al-Zaidi tiba-tiba melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , "Good bye, dog!". Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, Al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, untung Bush pandai berkelit sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.

Walau luput dari lemparan sepatu, namun peristiwa memalukan yang diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia itu telah tersebar dengan cepat, menghibur banyak pemirsa dan segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjangi sejarah kepresidenan AS karena tapak sepatu adalah simbol penghinaaan pamungkas dalam budaya Arab. Setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad pada April 2003, banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka.

Jika selama ini kita hanya membaca dan melihat peristiwa tersebut melalui koran-koran, televisi, streaming video di internet, dll. Kini kita bisa membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku yang ditulis oleh Muhsin Labib, jurnalis, cendekiawan muslim, salah satu penulis buku best seller "Ahmadinejad! David di tengah angkara Goliath Dunia " (Hikmah, 2006). 

Buku ini tampaknya memang sengaja dibuat secara cepat oleh penerbitnya agar kisah sepatu itu masih segar dalam ingatan kita. Jika diistilahkan mungkin buku ini disebut dengan 'flash book' atau ada juga yang menyebutnya 'magazine book' , buku yang dibuat untuk menangkap sebuah moment peristiwa yang sedang trend secara cepat. Biasanya buku jenis ini tak terlalu tebal dan hanya menyarikan dari berita-berita yang beredar di media masa.

Menurut penerbitnya (Rajut Publishing) Buku Goodbye Bush! ini mungkin merupakan salah satu buku tercepat yang pernah dibuat. Diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Apa yang bisa dihasilkan dengan buku yang dibuat secepat demikian? Walau dibuat secara cepat tampaknya buku ini tidak dibuat secara serampangan karena nama penulisnya dan penerbit tentu saja dipertaruhkan di buku ini. Oleh penulisnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama memuat serangkaian peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak dan polemik-polemiknya . Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut akan terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.

Bagian kedua memapar peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntahar al-Zaidi yang nyaris mengenai wajah George W. Bush. Lalu peristiwa-peristiwa susulan, atau respon dunia internasional pasca insiden memalukan itu. Di bagian ini akan terungkap hal-hal menarik dan lucu akibat aksi pelemparan sepatu tersebut, seperti bagaimana kini sepatu usang dengan model tahun 99 itu jadi sepatu yang paling dicari sampai-sampai ada yang menawarnya hingga 110 milyar hanya untuk satu buah sepatu.

Dimana kini sepatu itu berada? Jawabannya bisa ditemui di buku ini. Yang pasti kini pabrik pembuat sepatu tersebut kebanjiran order karena pesanan jenis sepatu tersebut naik hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.

Selain itu terungkap pula bahwa kejaidan aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut. Banyak hal-hal menarik dan lucu di bagian ini tentunya saya tak akan mengungkapkannya dalam tulisan ini agar pembaca merasakan sendiri sensasi kelucuan dan keterkejutan membaca fakta-fakta yang ada akibat insiden ini.

Di Bagian ketiga memuat profil singkat pelempar sepatu, Munthadar dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan, hingga ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi. Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawawan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para infitadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu! 

Pada intinya buku kecil yang juga dilengkapi dengan foto-foto ini memuat secara kronologis latar belakang, sebelum, saat, dan berbagai reaksi setelah insiden pelemparan sepatu terjadi. Tak ada analisis komprehensif atau abstraksi intelektual tingkat tinggi dalam buku ini karena memang bukan untuk tujuan itu buku ini dibuat. Buku ini hanya merangkum berbagai berita dan kisah insiden ini yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun cyber sehingga buku ini sangat renyah, enak dibaca, dan dapat tuntas hanya dalam sekali duduk.

Namun bukan berarti buku ini sekadar 'buku kacangan'. Tampaknya ini buku pertama di Indonesia (bahkan mungkin di dunia?) yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak hal positif yang mungkin bisa diperoleh dalam buku ini. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh dalam sebuah buku, melalui buku kini kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.

@h_tanzil
Sumber:

www.dinamikaebooks.com

Goodbye Bush! - Sepatu Perpisahan Dari Baghdad

by: Muhsin Labib
Setelah celana dalam, sepatu adalah benda paling "pribadi' yang melekat pada tubuh manusia. Meski dijual
dengan harga sangat mahal, ia tetap benda yang "tidak mulia" menurut kitab suci agama apapun.

Tiba-tiba, sepatu menjadi headline berita dunia. Mungkin baru kali ini sepatu bersanding dengan nama pemimpin negara adidaya. Dalam google dan mesin pencari, "shoe" dan "bush" menjadi pasangan keyword yang banyak dicari.

Ternyata kadang "sepatu" wartawan lebih "menjelaskan" dari pena. Pelemparan sepatu itu menjadi aksi jurnalistik dan ungkapan sastrawi.

"Goodbye, Bush!" adalah buku yang mengulas "sepatu", tapi bukan sembarang sepatu. Ia adalah ekspresi penolakan terhadap arogansi dan hegemoni Amerika. Ia adalah benda paling tidak terhormat yang menjadi memori buruk sepanjang hidup manusia paling congkak di dunia itu.


www.dinamikaebooks.com

Goodbye Bush! - Sepatu Perpisahan Dari Baghdad

by: Muhsin Labib
Setelah celana dalam, sepatu adalah benda paling "pribadi' yang melekat pada tubuh manusia. Meski dijual
dengan harga sangat mahal, ia tetap benda yang "tidak mulia" menurut kitab suci agama apapun.

Tiba-tiba, sepatu menjadi headline berita dunia. Mungkin baru kali ini sepatu bersanding dengan nama pemimpin negara adidaya. Dalam google dan mesin pencari, "shoe" dan "bush" menjadi pasangan keyword yang banyak dicari.

Ternyata kadang "sepatu" wartawan lebih "menjelaskan" dari pena. Pelemparan sepatu itu menjadi aksi jurnalistik dan ungkapan sastrawi.

"Goodbye, Bush!" adalah buku yang mengulas "sepatu", tapi bukan sembarang sepatu. Ia adalah ekspresi penolakan terhadap arogansi dan hegemoni Amerika. Ia adalah benda paling tidak terhormat yang menjadi memori buruk sepanjang hidup manusia paling congkak di dunia itu.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Perfume, The Story of a Murderer

Cek & Ricek Edisi 411 Rabu, 12-18 Juli 2006

Dua puluh lima perawan tewas mengenaskan. Pakaian beserta rambut dan kulit kepala mereka hilang. Tubuh mereka benar-benar layu, seolah tak pernah hidup sebelumnya. Seakan seluruh daya hidup yang pernah ada telah terisap tak bersisa. Semua pembunuh identik. Dilakukan dengan amat rapi dan terencana oleh seorang seniman genius.

Jean Baptiste Grenouille, demikian nama seniman itu, Ia lahir tanpa bau tubuh namun memiliki indera penciuman yang luar biasa. Ia juga mampu memilih-milih seluruh bau yang ada. Dari seorang ahli perfume ternama, ia mewarisi seni meramu berbagi minyak dan tumbuhan. Namun, kegeniusan Grenouille melampaui itu semua. Setelah 'menangkap' aroma seorang perawan cantik, ia terobsesi untuk menciptakan 'parfum terbaik' beraroma perempuan.

Dituturkan dengan amat brilian, Perfume adalah kisah yang sungguh memikat tentang pembunuhan dan kegeniusan yang menyimpang. Novel best seller yang eksotis dan sensasional ini membangkitkan rasa penasaran yang menakutkan tentang apa yang terjadi ketika bakat, hasrat, dan kecenderungan seseorang akan bau dan aroma mengubahnya menjadi seorang pembunuh.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Perfume, The Story of a Murderer

Cek & Ricek Edisi 411 Rabu, 12-18 Juli 2006

Dua puluh lima perawan tewas mengenaskan. Pakaian beserta rambut dan kulit kepala mereka hilang. Tubuh mereka benar-benar layu, seolah tak pernah hidup sebelumnya. Seakan seluruh daya hidup yang pernah ada telah terisap tak bersisa. Semua pembunuh identik. Dilakukan dengan amat rapi dan terencana oleh seorang seniman genius.

Jean Baptiste Grenouille, demikian nama seniman itu, Ia lahir tanpa bau tubuh namun memiliki indera penciuman yang luar biasa. Ia juga mampu memilih-milih seluruh bau yang ada. Dari seorang ahli perfume ternama, ia mewarisi seni meramu berbagi minyak dan tumbuhan. Namun, kegeniusan Grenouille melampaui itu semua. Setelah 'menangkap' aroma seorang perawan cantik, ia terobsesi untuk menciptakan 'parfum terbaik' beraroma perempuan.

Dituturkan dengan amat brilian, Perfume adalah kisah yang sungguh memikat tentang pembunuhan dan kegeniusan yang menyimpang. Novel best seller yang eksotis dan sensasional ini membangkitkan rasa penasaran yang menakutkan tentang apa yang terjadi ketika bakat, hasrat, dan kecenderungan seseorang akan bau dan aroma mengubahnya menjadi seorang pembunuh.


www.dinamikaebooks.com

Senin, 26 Januari 2009

[resensi buku] Sisi Lain Jenghis Khan

Muhammad Husnil, Seputar Indonesia Minggu, 11 Januari 2009

Masih menganggap Jenghis Khan sebagai seorang penjagal dan tokoh yang bengis? Renungkan kembali anggapan Anda. Soalnya, Jenghis Khan: Legenda Sang Penakluk dari Mongolia karya John Man ini menceritakan banyak hal tentang sisi humanis pemimpin Mongol abad ke-12 itu.

Senada dengan buku ini adalah film Mongol: The Untold Story of Gengis Khan (2007) besutan sutradara Rusia, Sergei Bodrov,yang masuk nominasi Academy Awards 2008 untuk kategori film berbahasa asing terbaik.Dua karya itu menampilkan sisi lain Jenghis Khan yang selama ini tidak diketahui orang banyak. Yang pasti, dia hanyalah seorang manusia biasa. Kesuksesan yang membuatnya besar justru bermula dari kepahitan yang mesti dia telan saat berusia delapan tahun.

John Man mengisahkan bagian ini dengan sangat menarik dan menyentuh.Ketika itu,dia diajak sang ayah untuk mencari istri. Seusai mendapatkan jodoh dari suku Ongirad yang bernama Börte, ayahnya meninggal karena diracun suku Tartar. Selaku penerus klan, dia terus diincar untuk dibunuh. Bahkan,dia pernah sembunyi di bawah air es selama satu malam lebih demi menghindari penangkapan. Di samping itu, di usianya yang masih muda itu, dia mesti menanggung beban sebagai pemimpin keluarga dan klannya.

Tetapi, segala beban itulah yang menyumbang banyak dalam pembentukan karakternya kelak.Kendati demikian, dia tak bisa lepas dari ketakutan. Ketakutan terbesarnya adalah terhadap anjing.Dari sini, tampak bahwa Jenghis yang hebat itu sesungguhnya adalah pria biasa dengan ketakutan yang biasa pula. Tak pelak,karya John Man dan Sergei tersebut berusaha mengikis prasangka yang selama ini mengakar dalam benak khalayak ramai tentang Jenghis Khan. Tak bisa dipungkiri memang, selama ini orang lebih menganggap salah satu tokoh besar dalam sejarah itu sebagai "monster".

Prasangka itu tertanam, terutama dalam benak bangsa Eropa,Rusia,dan Islam.Ketiga bangsa itu memandang Jengis Khan sebagai seorang pembantai. Prasangka itu kian kukuh dengan hadirnya The Legend of the Black Arrow (1990) karangan sejarawan Rusia, Lev Gumilev, yang menggambarkan Jenghis Khan dengan sangat emosional dan tak lebih dari seseorang yang haus darah. Dalam hal pembantaian yang dilakukan Jenghis terhadap muslim,Eropa,dan Rusia, penulis mengungkap tafsir yang berbeda.Apakah peristiwa itu ada?

Penulis meyakini peristiwa holocaust muslim (juga Eropa dan Rusia) benar adanya. Bahkan, memakan korban yang sangat fantastis, mengingat konteks sosial ketika itu. Tetapi, dia menolak anggapan bahwa pembantaian yang dilancarkan berdasarkan agama atau rasisme adalah sebuah anggapan yang selama ini berkembang.Satu-satunya pertimbangan yang melebihi segalanya adalah penaklukan dan itu merupakan konsekuensi yang mesti diambil.

Untuk menghadirkan sisi lain Jenghis Khan, buku ini menggelar segalanya tentang Jenghis Khan,mulai dari masa sang ayah mencari istri hingga kematian Jenghis yang hingga kini menjadi misteri.Terlahir dengan nama Temujin, dia mengalami masa kanak-kanak yang sama sekali tak bahagia. Namanya sendiri diambil dari nama musuh yang ayahnya taklukkan saat dia lahir.

Banyak penulis tergoda untuk menyingkap makna Temujin. Ada yang mengatakan,Temujin berarti pandai besi yang kemudian dikaitkan dengan keberhasilan yang diraihnya. Tetapi, John Man meragukan dan mencemooh tafsir yang mereka berikan.Temujin, ya nama seorang kepala suku Tartar yang ditaklukkan ayahnya,tandas John Mann. Saat Temujin lahir, bangsa Mongol terkenal sebagai bangsa nomaden dan gemar berperang.

Bahkan, perang saudara sudah biasa terjadi di antara mereka. Oleh karena itu,dia ingin membuat hukum dan menyatukan bangsa Mongol di bawah kendalinya.Hukum itulah yang kemudian membawanya ke tampuk kepemimpinan. Selain itu,Jenghis tercatat sebagai pemimpin jenius yang melakukan pembaharuan sistem pemerintahan yang sangat maju untuk zamannya. Sejarah mencatat, Jenghis adalah pendiri kerajaan darat terbesar dunia, dua kali lipat luas Romawi.

Hal itu karena upaya pembaharuan yang dilakukannya, antara lain penerapan sistem administrasi kenegaraan, pembakuan sistem menulis untuk bangsa Mongol, strategi perang, dan pemberian pangkat yang berdasarkan jasa bukan atas pertimbangan keluarga.

* Muhammad Husnil, peneliti di Laboratorium Kota Paramadina dan mantan Ketua HMI Cabang Ciputat.



www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Sisi Lain Jenghis Khan

Muhammad Husnil, Seputar Indonesia Minggu, 11 Januari 2009

Masih menganggap Jenghis Khan sebagai seorang penjagal dan tokoh yang bengis? Renungkan kembali anggapan Anda. Soalnya, Jenghis Khan: Legenda Sang Penakluk dari Mongolia karya John Man ini menceritakan banyak hal tentang sisi humanis pemimpin Mongol abad ke-12 itu.

Senada dengan buku ini adalah film Mongol: The Untold Story of Gengis Khan (2007) besutan sutradara Rusia, Sergei Bodrov,yang masuk nominasi Academy Awards 2008 untuk kategori film berbahasa asing terbaik.Dua karya itu menampilkan sisi lain Jenghis Khan yang selama ini tidak diketahui orang banyak. Yang pasti, dia hanyalah seorang manusia biasa. Kesuksesan yang membuatnya besar justru bermula dari kepahitan yang mesti dia telan saat berusia delapan tahun.

John Man mengisahkan bagian ini dengan sangat menarik dan menyentuh.Ketika itu,dia diajak sang ayah untuk mencari istri. Seusai mendapatkan jodoh dari suku Ongirad yang bernama Börte, ayahnya meninggal karena diracun suku Tartar. Selaku penerus klan, dia terus diincar untuk dibunuh. Bahkan,dia pernah sembunyi di bawah air es selama satu malam lebih demi menghindari penangkapan. Di samping itu, di usianya yang masih muda itu, dia mesti menanggung beban sebagai pemimpin keluarga dan klannya.

Tetapi, segala beban itulah yang menyumbang banyak dalam pembentukan karakternya kelak.Kendati demikian, dia tak bisa lepas dari ketakutan. Ketakutan terbesarnya adalah terhadap anjing.Dari sini, tampak bahwa Jenghis yang hebat itu sesungguhnya adalah pria biasa dengan ketakutan yang biasa pula. Tak pelak,karya John Man dan Sergei tersebut berusaha mengikis prasangka yang selama ini mengakar dalam benak khalayak ramai tentang Jenghis Khan. Tak bisa dipungkiri memang, selama ini orang lebih menganggap salah satu tokoh besar dalam sejarah itu sebagai "monster".

Prasangka itu tertanam, terutama dalam benak bangsa Eropa,Rusia,dan Islam.Ketiga bangsa itu memandang Jengis Khan sebagai seorang pembantai. Prasangka itu kian kukuh dengan hadirnya The Legend of the Black Arrow (1990) karangan sejarawan Rusia, Lev Gumilev, yang menggambarkan Jenghis Khan dengan sangat emosional dan tak lebih dari seseorang yang haus darah. Dalam hal pembantaian yang dilakukan Jenghis terhadap muslim,Eropa,dan Rusia, penulis mengungkap tafsir yang berbeda.Apakah peristiwa itu ada?

Penulis meyakini peristiwa holocaust muslim (juga Eropa dan Rusia) benar adanya. Bahkan, memakan korban yang sangat fantastis, mengingat konteks sosial ketika itu. Tetapi, dia menolak anggapan bahwa pembantaian yang dilancarkan berdasarkan agama atau rasisme adalah sebuah anggapan yang selama ini berkembang.Satu-satunya pertimbangan yang melebihi segalanya adalah penaklukan dan itu merupakan konsekuensi yang mesti diambil.

Untuk menghadirkan sisi lain Jenghis Khan, buku ini menggelar segalanya tentang Jenghis Khan,mulai dari masa sang ayah mencari istri hingga kematian Jenghis yang hingga kini menjadi misteri.Terlahir dengan nama Temujin, dia mengalami masa kanak-kanak yang sama sekali tak bahagia. Namanya sendiri diambil dari nama musuh yang ayahnya taklukkan saat dia lahir.

Banyak penulis tergoda untuk menyingkap makna Temujin. Ada yang mengatakan,Temujin berarti pandai besi yang kemudian dikaitkan dengan keberhasilan yang diraihnya. Tetapi, John Man meragukan dan mencemooh tafsir yang mereka berikan.Temujin, ya nama seorang kepala suku Tartar yang ditaklukkan ayahnya,tandas John Mann. Saat Temujin lahir, bangsa Mongol terkenal sebagai bangsa nomaden dan gemar berperang.

Bahkan, perang saudara sudah biasa terjadi di antara mereka. Oleh karena itu,dia ingin membuat hukum dan menyatukan bangsa Mongol di bawah kendalinya.Hukum itulah yang kemudian membawanya ke tampuk kepemimpinan. Selain itu,Jenghis tercatat sebagai pemimpin jenius yang melakukan pembaharuan sistem pemerintahan yang sangat maju untuk zamannya. Sejarah mencatat, Jenghis adalah pendiri kerajaan darat terbesar dunia, dua kali lipat luas Romawi.

Hal itu karena upaya pembaharuan yang dilakukannya, antara lain penerapan sistem administrasi kenegaraan, pembakuan sistem menulis untuk bangsa Mongol, strategi perang, dan pemberian pangkat yang berdasarkan jasa bukan atas pertimbangan keluarga.

* Muhammad Husnil, peneliti di Laboratorium Kota Paramadina dan mantan Ketua HMI Cabang Ciputat.



www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Jenghis Khan, Sang Penguasa Dua Benua

Republika Online Minggu, 21 Desember 2008

Pada Maret 2003, sebuah artikel mengagumkan muncul di American Journal of Human Genetics. Dari sebanyak 2.000 pria di seluruh Eurasia yang diuji DNA-nya, ditemukan beberapa lusin pria di antaranya mempunyai struktur genetik yang mirip. Struktur yang juga dimiliki tidak kurang dari 16 kelompok populasi yang menyebar antara Laut Kaspia dan Samudera Pasific.

Jika 16 kelompok itu diperhitungkan ke seluruh populasi kawasan tersebut, maka ada sekitar 16 juta pria yang merupakan bagian dari satu keluarga yang sangat besar. Sebuah hipotesis pun dikemukakan bahwa pada sekitar abad ke-12 ada seorang pria yang menyebarkan benih genetiknya di hampir seluruh Eurasia. Serorang pria bernama Jenghis Khan-lah yang paling mungkin untuk melakukan hal tersebut.

Saat kematiannya pada 1227, Jenghis Khan telah membangun sebuah kerajaan yang mampu menguasai kawasan dari Laut Kaspia hingga Samudera Pasifik. Dia adalah orang yang menaklukkan daratan Cina hingga sebagian Eurasia. Daerah kekuasaannya empat kali lebih besar dari Alexander Agung, dan dua kali lebih besar dari imperium Roma. Dalam setiap penaklukannya, wanita cantik merupakan bagian dari harta rampasan dalam peperangan dan merupakan persembahan dari perwara bawahan sebagai sebuah pernyataan kepemimpinan.

Jenghis Khan juga merupakan orang yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang, termasuk kaum Muslim, kurun 1209 - 1227. Meski demikian, dia adalah orang pertama yang menghubungkan perdagangan antara dataran Cina dan bangsa-bangsa di kawasan Eurasia melalui jalur sutra. Dia adalah pria yang menjamin keamanan dan perdamaian di sepanjang jalur tersebut. Jenghis juga mulai mengenalkan penggunaan bubuk mesiu, uang kertas, serta kitab hukum yang mengatur tentang pemerintahan, dan undang-undang, Yassa Agung.

Sejarawan Inggris, John Man, membeberkan tentang seluk-beluk Jenghis Khan itu melalui bukunya, Genghis Khan Life, Death and Ressurection atau dalam cetakan Indonesianya, Jenghis Khan, Legenda Sang Penakluk Dari Mongolia. Dalam penceritaannya, John tidak hanya berpaku pada literatur-literatur yang sudah ada. Penulisannya juga berdasarkan tapak tilas perjalanan sang penakluk itu dari kawasan Asia hingga Eropa. Dia juga mewawancara beberapa penduduk lokal tentang keberadaan makam Jenghis Khan yang masih misterius.

John juga mengungkap sesuatu yang berbeda di balik buku The Secret History: Sebuah buku kisah perjalanan Jenghis Khan yang ditulis saat dia masih berkuasa hingga kematiannya. Seperti sebuah fakta bahwa orang yang telah bertarung dalam banyak peperangan itu ternyata takut dengan anjing-anjing dari Mongolia.

Kisah Jenghis Khan diawali dari seorang anak bernama Temujin yang merupakan seorang pelarian. Anak yang terus hidup dengan dendam dari orang-orang yang pernah menyiksa dan menganiaya dirinya. Seiring waktu dan pencapaiannya selama 10 tahun menyatukan bangsa Mongol yang terpisah-pisah karena kesukuan, Temujin diangkat menjadi Jenghis Khan, sang pemimpin.

Jenghis Khan merupakan pemimpin yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan dari bawahannya. Sejak masa kepemimpinannya dari tahun 1209 tidak ada satu pun jenderalnya yang berkhianat. Dia membalas tindakan suku-suku yang bergabung dengan dirinya dengan sebuah kesetiaan yang tinggi.

Penaklukan Jenghis Khan dimulai dari daratan China pada 1211. Di dalam buku tersebut disebutkan pula bahwa Jenghis merupakan salah satu bapak pendiri dinasti di Cina yang merupakan efek dari penyerangan itu. Untuk mengepung Kota Terlarang dia menggunakan senjata terkuat bangsa Mongol, yaitu kuda dan busur kecil yang dapat melontarkan anak panah berkilo-kilo meter. Untuk berkoordinasi antarpasukan, dia menggunakan kurir yang mampu mengantarkan pesan berjarak ratusan kilometer dalam sehari. Dia juga mengadaptasi alat pelontar batu, busur raksasa, serta tangga besar yang digunakannya dalam setiap pengepungan kota.

Pada 1218, Jenghis mulai bergerak ke wilayah barat. Termasuk di dalamnya penyerangannya  ke wilayah kaum Muslim di kawasan Asia Tengah. Disebutkan dalam buku tersebut, pembantaian jutaan kaum Muslim di kota Merv, Khwarezm, atau kota berpenduduk Muslim yang lain, adalah karena sikap pimpinan kota Khwarezm yang terlalu paranoid dengan kedatangan Jenghis Khan. Utusan pimpinan bangsa Mongol itu yang bertujuan membuka perdagangan di jalur sutra dibunuh oleh pimpinan Khwarazem. Jenghis yang sangat mengagungkan kesetiaan akhirnya membalas dendam atas penghinaan itu dengan membantai hampir 1,3 juta Muslim dalam perjalanannya menuju Rusia.

Perjalanan hidup Sang Penakluk akhirnya berakhir dalam perjalanan pulangnya ke Xi Xia, pintu gerbang dataran China. Saat melintasi Sungai Kuning, dia diceritakan menderita sakit yang parah. Mendekati kematiannya, dia berwasiat kepada para jenderalnya untuk merahasiakan kematiannya agar rencana-rencana penaklukannya bisa terus berjalan melalui penggantinya.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Jenghis Khan, Sang Penguasa Dua Benua

Republika Online Minggu, 21 Desember 2008

Pada Maret 2003, sebuah artikel mengagumkan muncul di American Journal of Human Genetics. Dari sebanyak 2.000 pria di seluruh Eurasia yang diuji DNA-nya, ditemukan beberapa lusin pria di antaranya mempunyai struktur genetik yang mirip. Struktur yang juga dimiliki tidak kurang dari 16 kelompok populasi yang menyebar antara Laut Kaspia dan Samudera Pasific.

Jika 16 kelompok itu diperhitungkan ke seluruh populasi kawasan tersebut, maka ada sekitar 16 juta pria yang merupakan bagian dari satu keluarga yang sangat besar. Sebuah hipotesis pun dikemukakan bahwa pada sekitar abad ke-12 ada seorang pria yang menyebarkan benih genetiknya di hampir seluruh Eurasia. Serorang pria bernama Jenghis Khan-lah yang paling mungkin untuk melakukan hal tersebut.

Saat kematiannya pada 1227, Jenghis Khan telah membangun sebuah kerajaan yang mampu menguasai kawasan dari Laut Kaspia hingga Samudera Pasifik. Dia adalah orang yang menaklukkan daratan Cina hingga sebagian Eurasia. Daerah kekuasaannya empat kali lebih besar dari Alexander Agung, dan dua kali lebih besar dari imperium Roma. Dalam setiap penaklukannya, wanita cantik merupakan bagian dari harta rampasan dalam peperangan dan merupakan persembahan dari perwara bawahan sebagai sebuah pernyataan kepemimpinan.

Jenghis Khan juga merupakan orang yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang, termasuk kaum Muslim, kurun 1209 - 1227. Meski demikian, dia adalah orang pertama yang menghubungkan perdagangan antara dataran Cina dan bangsa-bangsa di kawasan Eurasia melalui jalur sutra. Dia adalah pria yang menjamin keamanan dan perdamaian di sepanjang jalur tersebut. Jenghis juga mulai mengenalkan penggunaan bubuk mesiu, uang kertas, serta kitab hukum yang mengatur tentang pemerintahan, dan undang-undang, Yassa Agung.

Sejarawan Inggris, John Man, membeberkan tentang seluk-beluk Jenghis Khan itu melalui bukunya, Genghis Khan Life, Death and Ressurection atau dalam cetakan Indonesianya, Jenghis Khan, Legenda Sang Penakluk Dari Mongolia. Dalam penceritaannya, John tidak hanya berpaku pada literatur-literatur yang sudah ada. Penulisannya juga berdasarkan tapak tilas perjalanan sang penakluk itu dari kawasan Asia hingga Eropa. Dia juga mewawancara beberapa penduduk lokal tentang keberadaan makam Jenghis Khan yang masih misterius.

John juga mengungkap sesuatu yang berbeda di balik buku The Secret History: Sebuah buku kisah perjalanan Jenghis Khan yang ditulis saat dia masih berkuasa hingga kematiannya. Seperti sebuah fakta bahwa orang yang telah bertarung dalam banyak peperangan itu ternyata takut dengan anjing-anjing dari Mongolia.

Kisah Jenghis Khan diawali dari seorang anak bernama Temujin yang merupakan seorang pelarian. Anak yang terus hidup dengan dendam dari orang-orang yang pernah menyiksa dan menganiaya dirinya. Seiring waktu dan pencapaiannya selama 10 tahun menyatukan bangsa Mongol yang terpisah-pisah karena kesukuan, Temujin diangkat menjadi Jenghis Khan, sang pemimpin.

Jenghis Khan merupakan pemimpin yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan dari bawahannya. Sejak masa kepemimpinannya dari tahun 1209 tidak ada satu pun jenderalnya yang berkhianat. Dia membalas tindakan suku-suku yang bergabung dengan dirinya dengan sebuah kesetiaan yang tinggi.

Penaklukan Jenghis Khan dimulai dari daratan China pada 1211. Di dalam buku tersebut disebutkan pula bahwa Jenghis merupakan salah satu bapak pendiri dinasti di Cina yang merupakan efek dari penyerangan itu. Untuk mengepung Kota Terlarang dia menggunakan senjata terkuat bangsa Mongol, yaitu kuda dan busur kecil yang dapat melontarkan anak panah berkilo-kilo meter. Untuk berkoordinasi antarpasukan, dia menggunakan kurir yang mampu mengantarkan pesan berjarak ratusan kilometer dalam sehari. Dia juga mengadaptasi alat pelontar batu, busur raksasa, serta tangga besar yang digunakannya dalam setiap pengepungan kota.

Pada 1218, Jenghis mulai bergerak ke wilayah barat. Termasuk di dalamnya penyerangannya  ke wilayah kaum Muslim di kawasan Asia Tengah. Disebutkan dalam buku tersebut, pembantaian jutaan kaum Muslim di kota Merv, Khwarezm, atau kota berpenduduk Muslim yang lain, adalah karena sikap pimpinan kota Khwarezm yang terlalu paranoid dengan kedatangan Jenghis Khan. Utusan pimpinan bangsa Mongol itu yang bertujuan membuka perdagangan di jalur sutra dibunuh oleh pimpinan Khwarazem. Jenghis yang sangat mengagungkan kesetiaan akhirnya membalas dendam atas penghinaan itu dengan membantai hampir 1,3 juta Muslim dalam perjalanannya menuju Rusia.

Perjalanan hidup Sang Penakluk akhirnya berakhir dalam perjalanan pulangnya ke Xi Xia, pintu gerbang dataran China. Saat melintasi Sungai Kuning, dia diceritakan menderita sakit yang parah. Mendekati kematiannya, dia berwasiat kepada para jenderalnya untuk merahasiakan kematiannya agar rencana-rencana penaklukannya bisa terus berjalan melalui penggantinya.


www.dinamikaebooks.com