Minggu, 19 Desember 2010

[resensi buku] Berguru Pada Burung Hantu

Kekuatan sebuah cerita, pada dasarnya tidaklah sekedar terletak pada narasi kisah itu sendiri. Namun juga pada substansi atau makna yang hendak di tawarkan dari penulis cerita kepada pembaca, dengan buku sebagai medianya.

Dengan demikian keberadaan sebuah buku mesti memiliki pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh penulisnya, baik secara terang benderang maupun tersamar. Sehingga menangkap pesan dalam sebuah buku sangat ditentukan oleh kemampuan abstraksi pembaca dalam mengunyah sebuah cerita.

Hal demikian terdapat pula dalam novel berjudul lengkap Guardians of Ga'hoole: The Journey ini. Sekuel dari novel pertamanya yang berhasil merebut hati pembaca dunia sehingga mendapat kehormatan untuk diangkat ke layar lebar.

Melanjutkan kisah kawanan burung hantu yang bermaksud hendak mencegah kehancuran dunia mereka, yang terancam oleh keberadaan sebuah kerajaan bernama St. Aegolius.

Diceritakan setelah Soren, Gylfie, Twilight dan Digger menemukan Mrs. Plithiver, kawanan burung hantu muda ini kemudian memutuskan untuk melanjutkan misi semula mereka, menemukan dan mengabdi pada pohon Ga'Hoole agung sekaligus untuk mengabarkan keberadaan St. Aegolius yang mengancam.

Sayangnya misi tersebut tak seindah yang dibayangkan. Selain mendapat ancaman dari patroli pasukan patroli St. Aegolius, di tengah perjalanan mereka juga dihadang kawanan burung gagak, yang menjadi musuh abadi burung hantu dan mendapat serangan yang berbahaya. Beruntung berkat trik yang dilakukan Mrs. P, mereka akhirnya lolos dari bahaya maut tersebut.

Pepatah yang mengatakan bahwa musuh terberat adalah diri kita sendiri, nampaknya benar-benar dirasakan Soren dan kawan-kawan. Mengingat ujian terbesar yang sesungguhnya dan nyaris menggagalkan misi suci tersebut adalah motivasi diri mereka sendiri.

Hal ini terbukti ketika mereka singgah di Danau Cermin untuk melepas lelah. Keadaan pulau yang gemah ripah loh jinawi, dengan tersedianya makanan yang melimpah ruah dan tempat tinggal yang nyaman, membuat mereka lengah dan lupa akan misi utama yang mulia. Sekali lagi, seekor ular buta pembantu keluarga bernama Mrs. Plithiver-lah yang menjadi pahlawan dan mengingatkan kembali kepada tujuan mereka semula.

Setelah melewati pergulatan batin yang keras dan perdebatan yang sengit, akhirnya kawanan ini berhasil menyingkirkan ego masing-masing dan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan demi menyelamatkan dunia burung hantu.

Badai angin dan salju yang ganas harus dilalui hingga akhirnya berhasil menemukan pohon yang dimaksud. Bahkan, mereka berhasil bertatap muka dengan pemimpin pohon Ga'Hoole, Boron raja Hoole dan sang istri Barran yang menjadi ratunya, keduanya berjenis burung hantu salju.

Hoole membuat mereka serasa menemukan kehidupan baru, terutama bagi Soren dan Gylfie yang pernah tinggal di St. Aegolius. Mengingat meski menerapkan disiplin yang tinggi, namun bertanya merupakan hal yang lumrah diajukan disini. Sedangkan di St. Aegolius hal itu merupakan sebuah larangan besar.

Selain itu, jika di St.Aegolius perpustakaan dan aktifitas membaca termasuk larangan lainnya, sebaliknya, Hoole justru mewajibkan para peserta didiknya untuk mampu membaca dan belajar di perpustakaan. Maka dengan semangat yang membara, keempatnya menggembleng diri di pohon Ga'Hoole agung.

Buku kedua dari dua belas jilid ini, mengisahkan tentang perjalanan dan perjuangan Soren, Gylfie, Twilight dan Digger untuk mengejar cita-cita yang mereka idamkan. Petualangan di dalamnya, selain mampu menyihir pembaca karena liku-liku ceritanya, juga akan menemukan kekayaan makna yang jika digali lebih dalam terkandung nilai filosofi yang luar biasa.

Misalnya bagaimana penulis mendeskripsikan pergulatan batin Soren dan kawan-kawan ketika harus meninggalkan Pulau Cermin yang menggoda, menjadi catatan tersendiri betapa meraih sebuah cita-cita tidaklah semudah membalikan telapak tangan.

Bagi para pecinta cerita petualangan, keberadaan buku ini merupakan sebuah anugerah tersendiri. Tawaran cerita yang disuguhkan dengan mengisahkan dunia burung hantu, membuat buku ini istimewa karena mampu memperkaya gagasan pembaca.

Kemasan ceritanya yang ringan dan mudah dicerna, tidak membuat alur di dalamnya terasa hambar. Sebaliknya, karakter dan kejutan-kejutan kecil yang muncul membuat siapa pun yang membaca buku ini di jilid pertama, maka dipastikan ia akan membaca tuntas hingga jilid terakhir. Meskipun harus sedikit bersabar untuk menanti lanjutannya.

Buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah candu dari Kisah Burung Hantu yang justru memiliki implikasi positif bagi pembacanya. Bagaimana nilai-nilai setia kawan, berani dan kukuh mengejar apa yang harus dicapai, hal-hal yang terdapat di dalamnya.

Sehingga dengan demikian, bagi Katryn Lasky, penulisnya, keberadaan buku ini diharapkan mampu menjadi inspirasi positif bagi para pembacanya, dengan mengangkat kearifan kawanan burung hantu sebagai obyek cerita.

Judul Buku: Guardians of Ga'hoole: The Journey
Penulis: Kathryn Lasky
Penerbit: Kubika
Cetakan: Pertama, September 2010
Tebal: 301 Halaman

Sumber: Hilya Liya


www.mediabuku.com

0 komentar: