Minggu, 18 Juli 2010

[resensi buku] Satu Peluru Untuk Vicky Rai, Khallas!

Rini Nurul Badariah, rinurbad.multiply.com

Masa lalu punya kebiasaan jelek, yakni menyusulmu pada saat tak terduga. [hal. 258]

Kasta berlaku dalam segala segi kehidupan, bahkan ketika seseorang kehilangan nyawa. Bila yang tewas adalah orang papa, kematiannya dianggap kejadian biasa dan akan cepat dilupakan. Tetapi tidak jika sang korban adalah ''seseorang'' seperti Vicky Rai, putra Menteri Dalam Negeri India, Jagannath Rai, yang kemudian menyeret enam orang tersangka dengan beraneka motif.

Sepak terjang Vicky Rai, yang membuatnya tergolong sosok memuakkan bagi banyak lapisan masyarakat, didukung oleh sang ayah yang senantiasa memanfaatkan setiap celah guna menyalahgunakan kekuasaan. Jagannath Rai bukan hanya buas di kancah politik, tetapi juga tersohor sebagai bos mafia. 

Ketukan palu hakim yang membebaskan Vicky dari jerat hukum atas pembunuhan Ruby Gill, seorang pramuniaga yang mengembuskan napas terakhir hanya karena tidak mau memberikan pria itu minuman, membuat geram banyak orang. Toh, masyarakat - termasuk kolomnis Arun Advani - pun merasa berkepentingan untuk mengulik dan menyidik pelaku pembunuhan si playboy.

Satu demi satu jalan hidup para tersangka dikuak, bagaikan bawang yang dikuliti sedikit demi sedikit. Kelihaian Vikas Swarup, penulis kelahiran Allahabad yang berprofesi diplomat, ini menjadikan alur yang panjang dan dipaparkan bergantian dari karakter ke karakter membuat pupil mata membesar menyimak setiap alineanya, sedangkan tangan sukar berhenti membalik halaman. 

Semua hiburan dewasa ini sudah direncanakan sebelumnya. Perang sekalipun. Tidak heran kematian juga kehilangan kemampuannya untuk menggerakkan hati kita. [hal. 504]

Melalui kacamata Shabnam Saxena, seorang aktris Bollywood yang menjadi idaman para pria India, kita mengecap berbagai sudut dunia hiburan. Shabnam yang terusir dari keluarga lantaran tidak mematuhi orangtua untuk menikah segera, dan malah melarikan diri untuk berkarier di Mumbai, sering merasa kesepian pada hari-hari tertentu. Hatinya tergedor oleh surat seorang gadis miskin, Ram Dulari, yang kemudian diboyongnya tinggal bersama. Kisah Shabnam ini cocok secara aktual untuk disimak guna mempelajari sensitifnya sebuah kepercayaan, ditambah kasus video porno yang membuat sang aktris tersandung dan terancam tamat kariernya. Tak pelak, riset sang penulis agaknya cukup dengan menoleh pada istri tercinta, Aparna, yang pelakon layar perak.

Kecermatan dan kekayaan novel ini mengemuka kala Swarup menghadirkan karakter tersangka lain, Eketi dari Andaman Kecil. Misinya sederhana ketika meninggalkan kediamannya, mencari ingetayi yakni sebentuk batu berharga yang dibawa pergi orang dan diyakini akan membahayakan keselamatan sukunya. Eketi yang hitam dan asing terlunta-lunta di India dengan kepolosannya menggenggam identitas palsu, tercengang oleh peradaban canggih, sekaligus resah karena rencananya bukan hanya sulit diwujudkan, tetapi berbelok jauh dan berputar-putar. Dengan cerdik, Swarup menciptakan jalinan dengan karakter lain. Siapakah dia? Silakan cari tahu sendiri.

Masih dengan teknik cerita yang luar biasa, Swarup memunculkan birokrat korup bernama Mohan Kumar. Setelah menghadiri sebuah acara pemanggilan arwah yang dianggapnya konyol semata untuk menyenangkan wanita simpanannya, mantan pejabat yang mengalami post power syndrome ini kerasukan. Sebentar-sebentar ia menyebut dirinya Gandhi, berperilaku seratus delapan puluh derajat yang membuat istri dan para bawahannya bahagia. Episode Mohan yang sempat diasumsikan menderita kepribadian ganda, mondar-mandir menjadi sosok budiman yang mulia dan pria pemberang yang rakus akan membuat pembaca tergelak-gelak. Sebut saja ketika Mohan menuduh seorang perwakilan sebuah sekolah menarik rekeningnya secara ilegal untuk amal. Tentu saja serpihan budaya tidak ketinggalan, di antaranya kala Mohan yang ''dirasuki'' Gandhi mendemo bioskop sebab memutar film-film panas.

Karakter Mohan ini terkait pada seorang bernama Brijlal, sopir pribadinya yang sangat setia sampai-sampai ia ikut pensiun dini meski masa kerjanya masih panjang saat Mohan lengser. Loyalitasnya bukan tanpa alasan. Brijlal mengidamkan pernikahan meriah untuk putrinya, dengan sokongan dana berikut kehormatan keluarga majikannya, sehingga ia dapat menepuk dada di kalangan yang satu kasta. 

Dendam tidak punya tanggal kedaluwarsa. [hal. 630]

Bagaimana seorang pria Amerika dapat terseret dalam jalinan ruwet ini? Larry Page, lelaki setampan Michael J. Fox yang kerap dikelirukan orang sebagai pencipta Google, membawa cita-cita romantis menemukan calon istrinya di India. Ternyata pengirim surat yang telah meminta uang muka guna persiapan pernikahan itu sukar dilacak. Larry terjerembab dalam keseharian rakyat India yang membuatnya ternganga-nganga, sampai akhirnya ia beradaptasi dan bahkan memperoleh pekerjaan di sana. Pada satu titik mencekam, ia berjumpa secara tidak menyenangkan dengan Vicky Rai. Potret ini menampilkan sisi kelam upaya mencari jodoh via korespondensi, ditambah dunia kerja di India yang konon mudah bagi mereka yang cakap berbahasa Inggris.

Masih ada lagi Munna Mobile, spesialis pencuri sandal dan sepatu yang ''naik derajat'' menjadi maling ponsel. Merk-merk ponsel yang disebut dalam novel ini tergolong lama, mengindikasikan bahwa Six Suspects berlatar waktu tahun 90-an walaupun isu yang dikemasnya tidak aus karena itu. Penerjemahan yang lincah, penyuntingan yang cermat, dan gaya tutur Swarup sendiri yang bak angin berkesiur lagi enak diikuti menjadikan paruhan cerita Munna Mobile, yang berangkat dari jatuh-bangun orang tak berpunya di India dengan mimpi setinggi bintang kejora, mengundang senyum, kerut prihatin dan kepedihan. Ada cinta Munna untuk Ritu, gadis kaya yang tidak pongah sama sekali, juga untuk adik angkatnya, Champi yang dikenal sebagai Wajah Bhopal lantaran raut mukanya rusak berat oleh tragedi gas tahun 1984 yang mengharuskan para korban berunjuk rasa meminta pertanggungjawaban sebuah perusahaan besar. Apakah ada campur tangan Vicky dan Jagannath Rai di situ? 

Jangan lewatkan konflik menarik kala penasihat spiritual Jagannath harus melarikan diri ke luar negeri karena ditengarai melecehkan beberapa pengikut wanita secara seksual. Hasilnya berupa sebuah fiksi thriller bernuansa pembunuhan yang penuh citarasa. Di dalamnya terkandung ungkapan-ungkapan berbahasa Urdu, Pashto dan Hindi, meliputi syair romantis yang digunakan untuk merayu kekasih sampai obrolan sehari-hari seperti Pao lagu: Saya sentuh kaki Anda (tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua) dan zerrgay [bahasa Pashto untuk ''sayang'']. Bertebaran pula analogi-analogi khas semisal ''sama menariknya dengan menonton rumput tumbuh'' yang berarti ''amat membosankan'', ''sejernih lumpur'' untuk menyatakan ''sukar dipahami'' dan ''Saat kau merapikan ranjangmu, kau harus menidurinya'' yang bermakna ''Kau harus menanggung konsekuensi dari tindakanmu''. 

Bagi saya, investigasi yang sarat dalam setiap bab Six Suspects tetap memukau dikarenakan menggunakan sudut pandang non detektif. Mengorek politik, sosial, budaya, dengan penceritaan yang bening dan tidak membuat otak letih sehingga karya Swarup yang telah diterjemahkan dalam 24 bahasa ini, termasuk Korea, amat pantas disemati lima bintang.

Catatan: Khallas dalam bahasa Arab, juga Hindi, berarti ''Selesai!'' [lihat http://www.grapeshisha.com/culture/inshallah.html] Ini adalah perkataan salah satu karakter ketika menetapkan hati untuk membunuh Vicky Rai.


www.mediabuku.com

0 komentar: