Rabu, 12 Januari 2011

[resensi buku] The Iron King: Let’s Go To NeverNever

by Silvero

Sejak kecil Meghan Chase normal, well, tidak benar-benar normal sih. Kadang-kadang ia bisa melihat bayangan yang tidak dilihat oleh orang lain. Namun itu tidak seberapa dibanding serentetan kejadian yang terjadi saat usianya hampir menginjak enam belas tahun.

Kejadian pertama ketika ia hendak memberi tambahan pelajaran komputer kepada Scott Waldron, cowok paling populer di sekolahnya. Di lab, tiba-tiba komputer-komputer bertingkah aneh dan mempermalukannya. Dia juga melihat sesosok makhluk aneh di monitor komputernya, sosok yang hanya ada dalam imajinasi, mimpi, dan dunia dongeng.

Kejadian kedua adalah anjing Meghan yang bernama Beau. Anjing paling manis dan penurut sedunia itu tiba-tiba menyerang Ethan, adik Meghan yang masih kecil. Beau pun harus disingkirkan oleh Luke, ayah tirinya.

Belum pulih dari keheranannya mengalami kejadian-kejadian aneh berturut-turut, Meghan mendapati bahwa adiknya, Ethan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Akhirnya, Meghan mempelajari sebuah kenyataan, bahwa ada sebuah dunia yang terhubung dengan dunia yang sekarang didiaminya. Dunia tempat semua makhluk dalam dongeng hidup. Dunia tempat semua impian dan imajinasi manusia mewujud. Di dunia itu lah Ethan diculik dan Ethan yang berada di rumahnya itu ternyata bukan Ethan yang sesungguhnya.

Ketidaktahuan adalah anugrah terbesar……

Begitu yang dikatakan Robbie, sahabat dekat Meghan yang ternyata adalah makhluk dari Faeryland atau Nevernever. Rob menawari Meghan 2 pilihan, minum anggur-kabut, melupakan semuanya, dan menjalani kehidupannya seperti biasa, atau mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, memasuki dunia dongeng untuk menyelamatkan Ethan, dan menempuh perjalanan berbahaya yang mungkin akan membuatnya terbunuh. Meghan mengambil yang kedua.

Nevernever terbagi menjadi dua bagian. Setengahnya dikuasai musim panas, dengan Raja Musim Panas sebagai raja yang berdiam di Istana Musim Panas. Setengahnya lagi dikuasai oleh Ratu Musim Dingin- daerah kekuasaannya bernama Tir Na Nog- yang berdiam di Istana Musim Dingin. Saat ini, Raja Musim Panas dan Ratu Musim Dingin tidak lagi berperang, mereka mengadakan gencatan senjata.

Banyak bahaya yang mengadang Meghan di Nevernever. Makhluk-makhluk di sana kebanyakan menganggap manusia adalah cemilan atau makanannya. Di Nevernever, Meghan terpaksa meminta bantuan kepada caet sith, makhluk legenda berwujud kucing yang bernama Grim untuk menemukan Istana Raja Musim Panas dan menyelamatkan Ethan. Untuk itu ia terikat perjanjian dengan Grim.

Perjalanan Meghan mencari Ethan ternyata tidak mulus. Banyak sekali pihak yang menginginkan dirinya, demi kepentingannya masing-masing. Meghan melanjutkan perjalanannya ditemani Robbie, sahabat lamanya, Grim, dan Ash, sang pangeran dari Istana Musim Dingin. Banyak hal mengerikan terungkap seiring dengan semakin dekatnya dia ke tujuan, musuh yang dihadapinya ternyata di luar dugaan dan kehancuran Nevernever sudah di ambang mata. Mampukah Meghan, si darah-campuran menyelamatkan Ethan dan Nevernever dari kehancuran? Nampaknya kita harus membaca sampai halaman terakhir untuk mendapatkan jawabannya.

Membaca buku ini seperti membaca kisah dongeng untuk orang dewasa. Sangat indah dan seru sampai lembar terakhir. Sebagai pecinta monster, saya sangat puas dengan keragaman monster yang bertebaran di halaman-halaman buku ini, beberapa sangat akrab, beberapa kurang dikenal, namun berkat kegemaran saya bermain game, saya jadi tahu asal makhluk-makhluk tersebut ^^

Saya menyukai ide dasar cerita ini, mengingatkan saya pada sebuah novel yang kurang lebih idenya sama tapi penggarapannya jauh lebih vulgar hehehe…

Petualangan seru, makhluk mitologi yang beragam, kisah cinta antara terang dan gelap, apa lagi yang bisa diharapkan dari sebuah novel YA? Semua unsur itu terangkum indah dalam Iron King. Ngga akan nyesel deh ikut berpetualang bareng Meghan di Nevernever.


www.mediabuku.com

0 komentar: