Selasa, 18 November 2008

[resensi buku] Pencarian Cinta Gadis Eropa

TEMPO Interaktif,Senin, 27 Oktober 2008 | 13:58 WIB

Hidup Lilly adalah taman keberagaman. Orang tuanya pengelana sejati asal Eropa. Lilly lahir di Yugoslavia, disusui di Ukraina, disapih di Corsica, berhenti menggunakan popok di Sisilia, dan mulai bisa berjalan di Al-Gharb. Saat sudah nyaman berbahasa Prancis, bersama orang tuanya, Lilly pindah ke Spanyol. Ketika mulai punya sahabat baru, dunia Lilly harus dipenuhi oleh orang asing.

Hidup Lilly hampir berhenti ketika kedua orang tuanya meninggal tanpa sebab yang jelas. Beruntung, ada Abdal Akbar, penganut sufi asal Maroko, yang bersedia melindunginya. Abdal mendidiknya dengan pengetahuan Islam.

Menjelang dewasa, bersama Hussein, yang dianggapnya kakak, Lilly hijrah ke Harar, Ethiopia, untuk mendapat pengajaran dari Syekh Jami. Namun, di kota suci bertembok tempat bermukim para wali itu, bukan ilmu penuh kasih yang didapatinya.

Syekh membenci kaum farenji, kaum berkulit putih seperti Lilly. Demi mengambil hati sang Syekh, ia harus menjalani hidup zuhud bersama masyarakat setempat. Hidup penuh kekurangan untuk mengalahkan nafsu duniawi.

Di keluarga Noura, si janda miskin beranak tiga, Lilly harus mengikuti tradisi Harar. Ia mendeskripsikan pelbagai ritual masyarakat setempat dengan sangat terperinci, mulai acara kumpul-kumpul khas masyarakat Harar; menikmati buna, kopi khas olahan Harar; mengunyah daun qat yang pahit; hingga upacara absuma, upacara khitan untuk anak perempuan, yang sangat mengerikan. Tapi, justru dari tragedi absuma, Lilly mengenal dokter Aziz Abdulnasser, yang idealis, cinta dalam hidupnya.

Pada 1984, ketika setengah juta orang mati kelaparan, setengah juta lagi meninggalkan Ethiopia, Lilly ikut ke London. Ia pun terpaksa meninggalkan anak-anak didiknya dan hatinya yang telah terpaut pada dokter Aziz Abdulnasser.

Di London, kehidupan Lilly tak lebih baik. Ia tetap dianggap kelas dua karena agama dan lingkungan Afrikanya. Ada banyak kombinasi konflik dalam hidup Lilly, banyak perubahan, kecuali satu hal satu, agama yang dipeluknya.

Begitulah kisah hidup Lilly, tokoh utama dalam novel Lilly, Pencarian Cinta Seorang Gadis Eropa di Ethiopia karya Camilla Gibb.

*******

Camilla Gibb, penulis novel ini, lahir di Inggris dan besar di Toronto, Kanada. Ia mendapat gelar doktor antropologi sosial dari Universitas Oxford pada 1997. Novel Lilly, yang judul aslinya Sweetness in the Belly (2005) adalah novel ketiganya, setelah Mounting the Words (1999) dan The Petty Details of So-and-So\\\'s Life (2002).

Novel pertama dan kedua berlatar Kanada. Adapun Lilly adalah novel yang mengambil latar cerita di luar Kanada dan bertokoh dewasa. Berkat ketiga novel itu, Camilla dinobatkan oleh Orange Prize Jury sebagai salah satu dari 21 penulis masa depan yang patut diperhitungkan karyanya.

Meski Lilly adalah novel ketiga Camilla, sesungguhnya justru konsep novel ini lahir terlebih dulu dibanding dua novel lainnya. Camilla merasa perlu mengendapkan kisah perjalanannya ke Harar, sebelum membentuknya menjadi sebuah novel.

\"Saya merasa perlu menjadi novelis dulu, jadi saya menulis dua novel lainnya. Saat saya sudah menguasai gaya bahasa novel, barulah saya kembali ke cerita Ethiopia,\" kata Camilla saat ditemui Tempo di Hotel Icon Kemang, Rabu pekan lalu.

Buat Camilla, kisah Lilly memang bukan fiksi sembarang fiksi. Banyak kenangan Camilla yang ditanamnya dalam fiksi ini. \"Saya mengunjungi Harar pada 1994 sampai 1995 untuk mengerjakan tesis,\" kata Camilla.

Camilla terpesona oleh praktek keagamaan dengan banyak pengaruh sufisme di Harar. \"Saat di sana, saya tinggal bersama satu keluarga Islam. Mereka menganggap saya seperti anak perempuan mereka sendiri,\" katanya.

Banyak hal unik yang dicatatnya, seperti Ethiopia, yang biasa dipandang sebagai negara berpenduduk Kristen, ternyata memiliki komunitas muslim yang punya hubungan erat dengan sejarah Islam. Sebut saja sang pengazan pertama, Bilal, yang dalam buku ini disebut wali.

Ia merasa layaknya sebuah laporan ilmiah, tesisnya soal masyarakat Islam di Ethiopia sangat kering dan membosankan. \"Sama sekali tak menggambarkan betapa hidupnya masyarakat di sana,\" kata Camilla.

Banyak hal dialaminya, tapi tak bisa dituliskannya. Dengan bahasa tesis yang sangat akademis, cakupannya tertekan. Akhirnya ia memutuskan, cara terbaik menuangkan pengalamannya adalah melalui novel. Ia sengaja mengambil latar waktu 25 tahun sebelum kedatangannya demi membentuk banyak imajinasi tentang Harar.

Proses kreatif Camilla membentuk kehidupan Lilly lumayan panjang. Misalnya ia sempat menulis masa kanak-kanak Lilly hingga 400 halaman. \"Tapi saya harus menulis sebanyak itu untuk mengenal dekat Lilly seperti apa dia akan tumbuh. Memang bukan proses yang efisien,\" dia mengakui.

Meski menggunakan bahan dasar pengalaman hidup layaknya seorang muslimah, ada beberapa kehidupan Lilly yang hanya rekaan Camilla. \"Saya mencoba menyelami perasaan seorang yang memeluk Islam. Memang berisiko, tapi biarlah pembaca yang menilai cara saya itu berhasil atau tidak,\" katanya.

Camilla merasa pengalamannya hidup di Harar adalah masa belajar yang sangat berharga. \"Memang kita bisa baca di koran dan buku sejarah tentang budaya tertentu, tapi pasti mereka ada biasnya. Sedangkan saya punya pengalaman sosial dan personal dengan masyarakat yang saya tulis,\" katanya.

Camilla menekankan, Lilly bukan novel tentang Islam. \"Saya menulis tentang Afrika. Kelaparan dan konflik yang menjadi citra yang erat dengan negara itu. Juga pengalaman pengungsian, bagaimana rasanya terpaksa terusir dari rumah sendiri, dan kehilangan banyak orang yang dicintai,\" kata Camilla. Buat Camilla, ini isu penting yang memprihatinkan karena pengungsi sering hanya dilihat secara statistik.

Camilla menulis buku ini sebelum tragedi 11 September. Ia mengatakan sangat sedih oleh berbagai konflik yang mengikuti tragedi itu. Ia merasa novelnya penting untuk memberi perspektif berbeda soal komunitas Islam.

\"Semua pemberitaan tentang komunitas Islam membicarakan soal kekerasan dan ekstremisme, tapi cerita saya justru tentang komunitas Islam yang mayoritas tidak menyukai kekerasan,\" katanya. Ia melihat ada kehausan dalam masyarakat akan cerita soal muslim yang selama ini disampaikan secara salah oleh pemerintah Amerika dan media massa.

Camilla mengaku awalnya pesimistis ada orang yang peduli untuk membaca novelnya, mengingat betapa jauhnya Ethiopia dan kisah masyarakat Islam yang tak ada kaitannya sama sekali dengan orang Kanada atau Amerika.

Karena itu, ia sangat terkejut ketika banyak orang yang tertarik mencari cara masuk ke isu pelik soal Islam. \"Saya sangat senang, paling tidak atas nama kemanusiaan bahwa orang mau pergi begitu jauh di luar dunia mereka sendiri,\" katanya.

Oktamandjaya Wiguna | Utami Widowati



www.dinamikaebooks.com

0 komentar: