Republika, Minggu, 19 Juli 2009
Buku Obama ini berkisah tentang kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, serta toleransi yang nyata.
Sebelum, menjelang, maupun setelah terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, berbagai versi buku mengenai Barack Obama diterbitkan di Indonesia. Hampir di semua buku, menampilkan sosok Obama yang pernah tinggal di Indonesia.
\\\'Anak Menteng\\\' itu kini sudah menjadi orang nomor satu di negara adikuasa. Berbagai narasumber ditampilkan di buku, mulai dari adik tiri, pembantu yang merawat Obama kecil, teman-teman SD, para guru, tetangga, hingga sahabat dari ibunya.
Dari berbagai versi tersebut, rasanya belum lengkap jika bukan Obama sendiri yang mengisahkan kehidupannya selama di Indonesia. Ternyata jauh sebelum menjadi presiden, bahkan sebelum menjadi senator, Obama telah menulis kisah itu dalam buku. Isinya tergulatan hidup Obama saat tinggal di Jakarta. Buku terbitan tahun 1995 aslinya berjudul Dream from My Father: A story of Race and Inheritance. Kini buku tersebut diterjemahkan menjadi versi Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Mizan.
Buku setebal 493 halaman ini bagaikan biografi perjalanan hidup Obama. Secara detail pria berayahkan pria kulit hitam asal Kenya dan ibu asli Amerika, menuturkan asal-usulnya, masa kecil di Hawaii, lalu pindah ke Jakarta, kuliah di Chicago. Ia pun melakukan perjalanan mencari akar budayanya di Afrika, di tengah-tengah kerabatnya yang Muslim.
Di buku itu, Obama yang akrab disapa Barry mengaku sempat kehilangan jati diri. Ia marah dan frustasi akibat diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, Barry tak mampu menuangkan amarah tersebut, karena selalu teringat ibunya yang berkulit putih. Akibat kekesalan itu Obama sempat putus asa, hidup tak bersemangat, dan akrab dengan madat, serta minuman beralkohol.
Untungnya, keadaan itu tak berlangsung lama. Ia bangkit merengkuh semangat persaudaraan yang melintasi warna kulit yang menyatukan ayah dan ibunya. Obama merasa menemukan kembali impian yang diwariskan ayahnya. Dulu, ayahnya seorang anak miskin kulit hitam dari desa terpencil di Kenya mengejar ilmu sampai ke Amerika. Barry pun mengikuti jejak sang ayah. Dia menjadi aktivis, satu-satunya senator dari kulit hitam, hingga menjadi presiden Amerika Serikat.
Yang menarik di buku ini, dia menulis bagian khusus mengenai Indonesia. Ibunya menikah dengan Lolo Soetoro yang bertemu saat di Hawaii. Awalnya Barry menganggap Indonesia sebagai negara miskin, belum berkembang yang sama sekali asing dibandingkan negara lain. Namun, setelah menikmati hidup di Jakarta bersama ayah tirinya banyak pelajaran berharga yang dia dapatkan. Apa saja itu, silakan melanjutkan membaca bagian \\\'Indonesia\\\' mulai halaman 50-77 di buku ini.
Di buku ini Obama mencurahkan rasa sayang dan bangga terhadap ayahnya,Barack Hussein Obama Sr, dan ibunya, Shirley Ann Dunham. Mereka berpisah tahun 1963, saat Obama berusia dua tahun. Walaupun Obama tinggal dan dibesarkan oleh ibunya, namun hubungan dengan ayah dan keluarga besarnya yang masih tinggal di Kenya, Afrika, tak pernah putus. Dari sini pula Barry mengetahui ayahnya lebih mendalam dan impian yang belum tercapai. Impian lebih rinci terpapar dalam buku ini.
Obama bersyukur buku ini masih sempat dibaca ibunya. Bahkan ibunya ikut membaca draf, memperbaiki yang salah, serta mengomentari penggambaran mengenai dirinya. Beberapa bulan setelah buku ini terbit, ibunya meninggal akibat kanker. Di akhir hidupnya, kata Obama, \"Ibu menghabiskan waktu hampir 10 tahun keliling dunia. Ia bekerja ke desa-desa pelosok di Asia, Afrika, membantu kaum perempuan membeli mesin jahit atau memberi pendidikan sebagai modal bagi perekonomian keluarganya.\"
Mereka tetap sering bertemu. \"Ikatan di antara kami tak akan lepas. Namun, ibu telah pergi menghadapi penyakitnya dengan anggun dan rasa humor yang baik. Dia membantu saya dan adik saya untuk terus melanjutkan hidup. Meskipun ada ketakutan, penolakan, rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dalam hati kami,\" ungkap Obama dalam pengantarnya.
Buku pergulatan Obama ini menjadi inspirasi bagi pembaca, karena memiliki kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, serta toleransi yang nyata. Hal ini pula yang menjadikan buku bestseller versi New York Times itu sebagai peraih British Book Award 2009 kategori Bigorafi Terbaik.
Peluncuran buku Dreams from My Father edisi bahasa Indonesia dilakukan Jumat (26/6) di Jakarta. Peluncuran dikemas meriah, mengundang \\\'orang-orang dekat\\\' Obama, seperti guru SD 01 Menteng tempatnya menimba ilmu, sahabat dari ibunya, perwakilan keluarga dari adik tirinya Maya Sutoro. Hadir pula dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, serta mereka yang memiliki jalinan kuat antara Indonesia dan Amerika.
Menurut Abdillah Thoha dari Mizan, perjalanan Obama sampai ke kursi presiden America Serikat bagaikan sinetron. \"Sampai sekarang saya masih tidak percaya Obama menjadi presiden. Seseorang yang berasal dari warna kulit dan datang dari berbagai suku bangsa bisa merealisasikan impiannya. Orang lain pun kalau mau mewujudkan impiannya bisa,\" ujar Thoha.
Sejak Obama menjadi presiden, Abdillah yang juga Anggota DPR RI tak pernah mau kehilangan berita mengenai Obama. November tahun ini Obama akan ke Indonesia. \"Obama sudah kangen dengan nasi goreng dan bakso,\" kata Abdillah mengutip hasil wawancara Obama di sebuah majalah.
Peluncuran buku Obama ini sekaligus peluncuran forum dialog Indonesia-Amerika, Indonesia-Amerika People to People Dialogue (IAP2P). Tujuan forum ini untuk meningkatkan hubungan Indonesia-Amerika serta menghilangkan salah pengertian antara dunia Islam dan Amerika (Barat). \"Kami menawarkan langkah kecil, namun kami yakin sangat penting. Indonesia sebagai pintu peluang mewujudkan upaya mempererat hubungan antara Amerika (barat) dan Islam, Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia,\" papar Thoha. vie

www.mediabuku.com


0 komentar:
Posting Komentar