Minggu, 08 November 2009

[resensi buku] Memaknai Puasa Secara Holistik

Kompas.com, Selasa, 27 Oktober 2009

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang yang sangat istimewa bagi umat Islam. Dalam bulan ini, umat Islam akan melakukan kontemplasi secara universal untuk merefleksikan keberagamannya yang telah dilakukan selama ini. Dengan berkontemplasi, umat Islam akan mengarungi samudra ruhani keilahiahan yang akan mengantarkannya menuju hamba pilihan, yakni hamba yang bertaqwa [Al-Baqoroh: 183]. Namun, jalan menuju pribadi paripurna yang bertaqwa ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak duri-duri ditengah jalan yang begitu tajam, sehingga apabila kita tersandung sedikit saja, tidak hanya kana mematahkan kualitas puasa kita, namun juga mematahkan idealisme kita menuju yang namanya muttaqin.

Dan ini sekarang banyak terjadi bagi umat Islam. Puasa banyak dimaknai hanya sebagai menahan makan dan minum saja, sehingga berbagai kemaksiatan dan kejahatan terselubung lainnya tetap subur. Lihat saja mereka yang mengaku sebagai pemimpin bangsa dan wakil rakyat, disaat rakyat menderita karena ditekan krisis yang beiutu akut, mereka berlomba-loma menaikkan gajinya dengan begitu semangat dan meriah. Seolah tidak ada beban moral terhadap kondisi mencekam yang tengah diderita rakyat yang dilanda stres dan depresi.

Buku yang ditulis Kang Jalal –panggilan akrab Jalaluddin Rahmat- ini berusaha memaparkan makna puasa secara holistik, menyeluruh. Memaknai puasa secara holistik merupakan keniscayaan ditengah bangsa yang akut sekarang. Dalam pandangan Kang Jalal, puasa seara holistik adalah abagiaman kita mampu mengkhidmatkan diri kita epada tuhan dan manusia. Berkhidmat kepada tuhan yakni degan melakukan ritual yang telah diatur dalam ajaran fiqh, seperti puasa, shalat, zakat, berzikir, dan ibadah ritual lainnya.

Sementara berkhidmat kepada manusia adalah bagaiman kita mampu mentransformasikan nilai-nilai luhur puasa kedalam kehidupan sosial kemasyarakatan empirik. Keduanya harus beriringan. Karena terjadi berat sebelah, maka hanya kenistaan dan kehampaan yang akan diperoleh manusia. Atau dalam haditsnya Nabi menyebutkan "Betapa banyak orang yang berpuasa, tetpai tidak emmeproleh apapun dari puasanya keuali lapar dan dahaga".

Untuk mampu mensinergikan keduanya,bagi Kang Jalal, menundukkan nafsu ammarahnya. Karena seseorang yang mampu pada tingkat yang keterikatan ruhnya lebih besar dari pada keterkaitan kepada tubuhnya, akan mampu mengendalikan tubuhnya. Orang yang sangat terikat dengan tubuh, akan sangat mudah sekali dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Dia bisa kedinginan kalau suhu udara turun. Dia juga bisa kegerahan kalau suhu udara naik. Sedangkan orang yang sudah terbiasa lebih terikat kepada ruh, akan bisa mencipta. Dia bisa membuat tubuhnya hangat ketika udara sedang dingin.

Menurut Murtadha Muthahhari, salah satu tahap dalam wilayah atau kewaliyan seseorang adalah tahap ketika ketika ia sudah mengendalikan hawa nafsu. Manahan makan dan minum serta menahan diri dari perbuatan zina sudah termauk tingkat wilayah yang paling awal. Jika seseorang sudah berhasil mengendalikan seluruh hawa nafsunya, dia akan naik kepada wilayah kedua, yakni ketika ruhnya sudah bsia mengendalikan tubuhnya. Tingkat yang ke tiga adalah ketika ruhnya sudah bisa mengendalikan gerakan alam semesta. Kalau ia menyatakan sesuatu itu jadi, maka terjadilah sesuatu itu. Menurut Muhammad Iqbal, orag seperti ini adalah orang yang sudah bisa menentukan takdirnya. Ketika ia bisa menetukan takdir, menggenggam takdir ditangannya, dan tidak lagi tunduk kepada takdir, maka bahkan Allah pun menentukan takdir dengan berkonsultasi terlebih dahulu kepadanya. [hal. 26-27].

Penjelasan yang diuraikan Kang Jalal tersebut mengarahkan manusia agar berlomba-lomba menjadi manusia rabbani. Atau dalam bahasnya Muhammad Asad, pakar tafsir terkemuka, manusia rabbani adalah manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya mampu menghadirkan kesadaran ilahi [god concisiuonues] dalam wilayah kesadaran kemanusiaan. Dialah manusia yang akan mampu mentransformasikan akhlaq tuhan dalam wujud manusia sebagaimana yang disabdakan Nabi "berakhlaklah kalian sebagaimana akhlaknya Allah".

Kemampuan menghadirkan akhlaq tuhan dalam wilayah kemanusiaan sudah barang tentu akan menghasilakn kualitas manusia yang sempurna, paripurna. Yakni manusia yang selalu memberontak terhadap tatanan kehidupan yang bertentangan dengan nilai ilahi. Praktek-praktek korupsi, kolusi, nepotisme dan berbagai kejahtan lainnya tidak hanya dihindai, namun juga diusahakan untuk dibasmi dan dimusnahkan.

Inilah kekuatan jiwa seorang yang bertaqwa, yang dalam penjelasan Kang Jalal dalam bukunya ini,  akan merubah siste sosial yang despotik dan absolut. Kehadiran manusi-manusia rabbani akan selalu dinantikan di mua bumi untuk mengajarkan nilai ketuhanan kepada segenap alam semesta. Dan Kang Jalal dalam buku ini hadir untuk membawa pembaa menuju manusia-manusia rabbani tersebut. Walaupun buku yang menjelaskan ritual seperti ini terkesan doktriner, namun Kang jalal mampu menyajikannya dengan enak.

Dengan gaya bertutur yang lentur dan urut disertai dengan cerita-cerita yang menggugah, Kang Jalal mampu menggugah nalar kritis dan nalar spiritual kita dengan penuh kesabaran dan kesadaran tinggi. Inilah yang membuat buku layak kita jadikan pedoman, baik dalm bulan puasa, terlebih pasca-ramadhan nanti. Karena tatangan utama orang yang puasa sebenarnya adalah mampu menstrasnformaiskan nilai-nilai puasa pasca-ramadhan.

Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh, Peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) Fak Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


www.mediabuku.com

0 komentar: