by: Taufiqurrahman al-Azizy

Apakah orang yang cerdas dan shalih suatu saat akan bisa mengalami kehancuran hidup? Bukankah kecerdasan dan keshalihan adalah jaminan bagi siapa pun untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaandi dunia maupun di akhirat? Ternyata tidak! Tatkala kecerdasan dan keshalihan tidak ditempatkan sebagai karunia yang suci dari Yang Ilahi dan ketika jiwa dikotori keangkuhan, ego, dan kesombongan, maka Kecerdasan dan keshalihan justru bisa menjadi bencana.
Kenyataan itulah yang dialami Naufal, putra tunggal seorang kiyai besar, kaya, tampan, cerdas, dan shalih. Dia merasa telah memiliki segalanya, bisa mengejar segalanya. Lulus kuliah dengan predikat cumlaude, Naufal langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan. Cintanya kepada Naura juga dia anggap sebagai puncak kesuksesan yang dapat ia raih.
Tetapi karena itulah, Naufal tidak menyadari bahwa kesombongan telah merasuki jiwanya, menjelma menjadi iblis yang menghancurkan kehidupannya. Perusahaannya bangkrut. Istrinya terlibat narkoba. Dan anaknya yang masih balita harus meninggal di pangkuannya sendiri. Sungguh, novel Kuhapus Namamu dengan Nama-Nya ini mengajak kita untuk merenungi bahwa kesucian hati pada akhirnya adalah hal yang paling utama, yang harus dimiliki oleh seorang hamba di hadapan Tuhannya.
"Seseorang yang terbiasa hidup dalam lingkungan agamis, berpendidikan tinggi, sekaligus baik ternyata memiliki potensi yang menakutkan: Berubah menjadi orang yang buruk akhlaknya, dan hancur kehidupannya. Dengan gaya bahasa yang khas, tajam, dan sarat makna, novel yang ditulis akhi Taufiqurrahman al-Azizy ini layak untuk dibaca."
Opick, Artis dan Penyanyi

www.mediabuku.com

0 komentar:
Posting Komentar