Jurnal Nasional | Minggu, 29 November 2009 | Oleh Sjifa Amori *
Saben mendra saking wisma
Lelana leladen sepi
Ngisep sepuhing supama
Mrih pana pranaweng kapti
Kepati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Tanapi ing ari ratri
Amemangun karya nak tiyasing sasama
Barang siapa meninggalkan rumah
Berkelana ke tempat-tempat sepi
Untuk menyerap pelajaran-pelajaran lama
Mencari kefanaan dengan tujuan suci
Berusaha mengendalikan hawa nafsu
Siang dan malam
Melakukan perbuatan terpuji bagi sesama
(Tembang Sinom Jawa)
Prof. Dr. M.Bambang Pranowo melihat bahwa penggunaan tembang Jawa untuk menguraikan keseharian seorang Kyai mungkin membingungkan orang yang biasa menggambarkan Islam sebagai sesuatu yang asing atau antitesis bagi, atau tidak dapat disandingkan dengan, kebudayaan Jawa asli. Hal ini mungkin juga membingungkan orang-orang yang biasa menganalisis Islam Jawa dengan cara-cara dikotomi santri-abangan.
Begitulah, buku terbitan Alvabet berjudul Memahami Islam Jawa yang ditulis Bambang ini memang sengaja ditulis untuk memikirkan ulang dan mencari pendekatan baru terhadap pembagian sosial-keagamaan santri-abangan yang dikonstruksi oleh Clifford Geertz. Nuansa buku yang berisi kajian ini, menurut Bambang mencerminkan sikap skeptis dan tidak mau menerima mentah-mentah ketepatan dikotpmi Geertz dalam studinya tentang kehidupan keagamaan masyarakat Jawa. Dikotomi antara santri (Muslim saleh) dan abangan (Muslim nominal) tidak mewakili situasi aktual di tempat Bambang meneliti, Desa Tegalroso (nama samaran).
Di Tegalroso, sebuah desa tegalan di pedalaman Magelang, Jawa Tengah, banyak memperlihatkan kompleksitas gejala sosial-agama yang tidak sesederhana konsep Geertz. Di sini, kalangan pesantren'"yang banyak memengaruhi pola kehidupan desa- tidak anti-terhadap kesenian-kesenian yang dianggap merupakan ciri abangan. Dalam bab Pesantren dan Pembentukan Tradisi-Tradisi Lokal, penulis menceritakan bagaimana sebuah tradisi budaya dipersilahkan masuk ke lingkungan pesantren, bahkan telah menjadi rutinitas internal kalangan pesantren.
Misalnya ketika pesantren melangsungkan tradisi khataman. Waktu itu, tahun 1986, menjelang acar, pamflet-pamflet telah ditempel di tempat-tempat strategis di Kabupaten Magelang, yang mengumumkan bahwa Pesantren Tegalrejo akan mengadakan festival seni dan dakwah, pada 19-21 April. Berdasarkan pamflet-pamflet tersebut, berbagai kesenian Jawa, seperti: wayang, ketoprak, reog, jatilan, campur sari, dan sorengan, akan ditampilkan. Selain itu juga akan ada film-film Indonesia, sebuah band dan orkestra Melayu, serta penampilan dari seni semi-religius lainnya oleh beberapa rombongan, yaitu badui, kobra, dan samrah.
Khataman, dalam literatur Bambang, dideskripsikan sebagai acara perpisahan bagi santri yang lulus dengan harapan jadi kyai di daerah masing-masing. Penampilan berbagai kesenian populer Jawa dalam kegiatan khataman membuat penulis heran dan makin tertarik untuk memperpanjang penelitian lapangan. Penulis mencoba mendiskusikannya dengan pimpinan pesantren Kyai Abdurrahman dan juga Pak Muh, meski pada akhirnya tokoh yang dianggap Wali ini (Pak Muh) memberikan informasi tentang pertunjukan seni populer:
Banyak orang masih heran kenapa saya mengundang begitu banyak rombongan jatilan untuk khataman. Ya, saya harus menerima saya adalah seorang Kyai Jatilan. Tapi tolong, perhatikan kitab ini (Dia menunjukkan kitab berbahasa Arab yang saya pikir kitab al-Hikam karangan Ibn ' Atha' illah). Maksiat yang dengan cepat membawa orang kepada ketaatan jauh lebih baik daripada ketaatan yang disertai dan menggiring pada takabur. Lebih baik bagi mereka menghabiskan uang pada jatilan daripada berjudi. Lebih dari itu, mereka bermain di lapangan pesantren siapa tahu hati mereka jadi dekat kepada pesantren. Apakah kalian tahu, berapa banyak pemain jatilan yang saya undang beberapa tahun lalu sekarang menjadi santri? Oleh karena itu, jangan pernah mencela orang lain, akan tetapi berdoalah kepada Allah. Semoga saudara-saudara kita menjadi seorang Muslim yang baik suatu hari. (Memahami Islam Jawa, hal. 184-185)
Kenyataan ini tentu meruntuhkan apa yang dilabelkan Geertz pada ciri kegiatan yang memisahkan santri dan abangan, yang banyak berdasar dari konsep Islam modern. Pada kenyataannya, penggunaan dikotomi untuk memahami hubungan Islam dan negara akan menyebabkan terjadinya penyederhanaan yang berlebihan (over-simplifikasi).
Buku yang awalnya merupakan disertasi meraih gelar Ph.D di Department of Anthropology and Sociology, Monash University ini memang hendak menawarkan pendekatan alternatif untuk melihat kehidupan keagamaan masyarakat pedesaan di Jawa. Di satu sisi, penelitian penulis mengungkapkan bagaimana Muslim nominal (abangan) ternyata adalah orang yang punya komitemen serius terhadap Islam.
Sementara di sisi lain, penulis juga memperlihatkan bagaimana kalangan Muslim tradisionalis, yang menekankan dimensi mistik Islam'"di pesantren, pengajian, tradisi khataman, acara haul, serta dalam buku-buku agama-terus memainkan peran dinamis dalam proses kelanjutan Islamisasi di wilayah pedesaan Jawa. Jelas sekali terlihat kalau kalangan Muslim tradisionalis tidak berada dalam posisi bertahan.
Karena merupakan disertasi, wajarlah kalau isi dan metode penggarapan buku ini sangat ilmiah dan penuh dengan data yang mendelaskan secara menyeluruh dan runut mengenai objek yang diteliti. Dimulai dari pembahasan pendekatan Geertz di bab I, perkenalan lokasi penelitian pada bab II dan III, penguraian dan analisis kehidupan keagamaan dan sosial-budaya warga desa dalam rangka menunjukkan kesinambungan Islamisasi pada bab IV, analisis pesantren pada bab V yang memaparkan cara-cara pesantren Tegalrejo berperan besar dalam pelestarian kebudayaan lokal Jawa. Bab VI membahas dimensi mistik kehidupan pesantren, dan bab VII membahas kehidupan mistik dalam konteks desa.
Selain menjabarkan hasil penelitian dengan cara laporan, pengungkapan penulis terbilang cukup naratif sehingga pembaca seolah merasa diceritakan tentang pengalaman seseorang ketika hidup di sebuah desa. Penulis menuliskan hasil pandangan mata, isi obrolan dengan orang-orang yang diwawancarainya, dan juga mengisahkan kembali kesaksian serta kenangan warga desa mengenai Islam dalam sejarah lokal serta perkembangan desa di saatpengaruh NU, PKI atau PNI terhadap ineteraksi sosial-budaya-keagamaan warga desa. Termasuk juga dijelaskan mengenai praktik mistik Islam yang membuktikan bahwa Islam sufistik tetap bertahan dan berkembang di pedesaan Jawa dan berperan penting melanjutkan proses Islamisasi.
Cara bercerita penulis yang sangat nyata, memberikan efek pada membaca sehingga agak sedikit melupakan mengenai konsep ilmiah karena mamou ngembawa alam pikir pembaca pada khayal visualisasi desa. Dalam beberapa konteks, gaya penuturan penulis mengingatkan pembaca pada film-film kolosal era Jawa kuno, seperti Saur Sepuh, Brama Kumbara, atau Tutur Tinular. Kemiripan latar belakang pedesaan dan interaksi sosial-budaya membuat cuplikan film ini muncul kembali di kepala.
Misalnya salah satu pernyataan mantan penjahat desa yang dimuat penulis sebagai hasi wawancara, terkait dengan taibatnya sang tokoh kriminal berkat pendekatan seorang kyai. "Saat itu kerja saya hanya merampok, berjudi, dan main perempuan. Siapa pun takut dan takkan menolak menyetorkan sejumlah uang yang saya minta. Mungkin saat itu saya orang paling jahat di dunia," kata mantan penjahat yang sudah sepuh dan sudah menjadi kalangan alim ini pada penulis.
Efek naratif tersebut membuat buku ini tetap menarik dibaca meski awalnya merupakan disertasi. Hal ini memperlihatkan bagaimana penulis mampu memberikan sentuhan berarti untuk menjadikan karyanya format yang bisa diterima lebih banyak kalangan selain akademisi atau internal kampus saja.
Memahami Islam Jawa sukses membeberkan fakta, mengungkap hasil dari tujuan penelitian, sekaligus membekali pembaca dengan kesimpulan yang pafdat bermakna. Bisa dibilang, membaca buku-disertasi ini selain mengungkap soal ketidakrelevansian pemikiran Geertz dengan fakta lapangan, juga menyajikan gambaran terdekat tentang potret masyarakat Islam-Jawa di pedesaan, khususnya di desa tempat penulis melakukan penelitian. []
* Sjifa Amori, wartawan Jurnal Nasional
______________________________
DATA BUKU:
Judul : MEMAHAMI ISLAM JAWA
Penulis : Prof. Dr. M. Bambang Pranowo
Pengantar : Prof. Dr. Azyumardi Azra
Penerjemah : Inyiak Ridwan Muzir
Editor : Ade Fakih Kurniawan
Genre : Kajian Agama/Sosial/Demokrasi
Cetakan : I, Oktober 2009
Ukuran : 15 x 23 cm (plus flap 9 cm)
Tebal : 410 halaman
ISBN : 978-979-3064-70-3
Harga : Rp. 87.500,-
Saben mendra saking wisma
Lelana leladen sepi
Ngisep sepuhing supama
Mrih pana pranaweng kapti
Kepati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Tanapi ing ari ratri
Amemangun karya nak tiyasing sasama
Barang siapa meninggalkan rumah
Berkelana ke tempat-tempat sepi
Untuk menyerap pelajaran-pelajaran lama
Mencari kefanaan dengan tujuan suci
Berusaha mengendalikan hawa nafsu
Siang dan malam
Melakukan perbuatan terpuji bagi sesama
(Tembang Sinom Jawa)
Prof. Dr. M.Bambang Pranowo melihat bahwa penggunaan tembang Jawa untuk menguraikan keseharian seorang Kyai mungkin membingungkan orang yang biasa menggambarkan Islam sebagai sesuatu yang asing atau antitesis bagi, atau tidak dapat disandingkan dengan, kebudayaan Jawa asli. Hal ini mungkin juga membingungkan orang-orang yang biasa menganalisis Islam Jawa dengan cara-cara dikotomi santri-abangan.
Begitulah, buku terbitan Alvabet berjudul Memahami Islam Jawa yang ditulis Bambang ini memang sengaja ditulis untuk memikirkan ulang dan mencari pendekatan baru terhadap pembagian sosial-keagamaan santri-abangan yang dikonstruksi oleh Clifford Geertz. Nuansa buku yang berisi kajian ini, menurut Bambang mencerminkan sikap skeptis dan tidak mau menerima mentah-mentah ketepatan dikotpmi Geertz dalam studinya tentang kehidupan keagamaan masyarakat Jawa. Dikotomi antara santri (Muslim saleh) dan abangan (Muslim nominal) tidak mewakili situasi aktual di tempat Bambang meneliti, Desa Tegalroso (nama samaran).
Di Tegalroso, sebuah desa tegalan di pedalaman Magelang, Jawa Tengah, banyak memperlihatkan kompleksitas gejala sosial-agama yang tidak sesederhana konsep Geertz. Di sini, kalangan pesantren'"yang banyak memengaruhi pola kehidupan desa- tidak anti-terhadap kesenian-kesenian yang dianggap merupakan ciri abangan. Dalam bab Pesantren dan Pembentukan Tradisi-Tradisi Lokal, penulis menceritakan bagaimana sebuah tradisi budaya dipersilahkan masuk ke lingkungan pesantren, bahkan telah menjadi rutinitas internal kalangan pesantren.
Misalnya ketika pesantren melangsungkan tradisi khataman. Waktu itu, tahun 1986, menjelang acar, pamflet-pamflet telah ditempel di tempat-tempat strategis di Kabupaten Magelang, yang mengumumkan bahwa Pesantren Tegalrejo akan mengadakan festival seni dan dakwah, pada 19-21 April. Berdasarkan pamflet-pamflet tersebut, berbagai kesenian Jawa, seperti: wayang, ketoprak, reog, jatilan, campur sari, dan sorengan, akan ditampilkan. Selain itu juga akan ada film-film Indonesia, sebuah band dan orkestra Melayu, serta penampilan dari seni semi-religius lainnya oleh beberapa rombongan, yaitu badui, kobra, dan samrah.
Khataman, dalam literatur Bambang, dideskripsikan sebagai acara perpisahan bagi santri yang lulus dengan harapan jadi kyai di daerah masing-masing. Penampilan berbagai kesenian populer Jawa dalam kegiatan khataman membuat penulis heran dan makin tertarik untuk memperpanjang penelitian lapangan. Penulis mencoba mendiskusikannya dengan pimpinan pesantren Kyai Abdurrahman dan juga Pak Muh, meski pada akhirnya tokoh yang dianggap Wali ini (Pak Muh) memberikan informasi tentang pertunjukan seni populer:
Banyak orang masih heran kenapa saya mengundang begitu banyak rombongan jatilan untuk khataman. Ya, saya harus menerima saya adalah seorang Kyai Jatilan. Tapi tolong, perhatikan kitab ini (Dia menunjukkan kitab berbahasa Arab yang saya pikir kitab al-Hikam karangan Ibn ' Atha' illah). Maksiat yang dengan cepat membawa orang kepada ketaatan jauh lebih baik daripada ketaatan yang disertai dan menggiring pada takabur. Lebih baik bagi mereka menghabiskan uang pada jatilan daripada berjudi. Lebih dari itu, mereka bermain di lapangan pesantren siapa tahu hati mereka jadi dekat kepada pesantren. Apakah kalian tahu, berapa banyak pemain jatilan yang saya undang beberapa tahun lalu sekarang menjadi santri? Oleh karena itu, jangan pernah mencela orang lain, akan tetapi berdoalah kepada Allah. Semoga saudara-saudara kita menjadi seorang Muslim yang baik suatu hari. (Memahami Islam Jawa, hal. 184-185)
Kenyataan ini tentu meruntuhkan apa yang dilabelkan Geertz pada ciri kegiatan yang memisahkan santri dan abangan, yang banyak berdasar dari konsep Islam modern. Pada kenyataannya, penggunaan dikotomi untuk memahami hubungan Islam dan negara akan menyebabkan terjadinya penyederhanaan yang berlebihan (over-simplifikasi).
Buku yang awalnya merupakan disertasi meraih gelar Ph.D di Department of Anthropology and Sociology, Monash University ini memang hendak menawarkan pendekatan alternatif untuk melihat kehidupan keagamaan masyarakat pedesaan di Jawa. Di satu sisi, penelitian penulis mengungkapkan bagaimana Muslim nominal (abangan) ternyata adalah orang yang punya komitemen serius terhadap Islam.
Sementara di sisi lain, penulis juga memperlihatkan bagaimana kalangan Muslim tradisionalis, yang menekankan dimensi mistik Islam'"di pesantren, pengajian, tradisi khataman, acara haul, serta dalam buku-buku agama-terus memainkan peran dinamis dalam proses kelanjutan Islamisasi di wilayah pedesaan Jawa. Jelas sekali terlihat kalau kalangan Muslim tradisionalis tidak berada dalam posisi bertahan.
Karena merupakan disertasi, wajarlah kalau isi dan metode penggarapan buku ini sangat ilmiah dan penuh dengan data yang mendelaskan secara menyeluruh dan runut mengenai objek yang diteliti. Dimulai dari pembahasan pendekatan Geertz di bab I, perkenalan lokasi penelitian pada bab II dan III, penguraian dan analisis kehidupan keagamaan dan sosial-budaya warga desa dalam rangka menunjukkan kesinambungan Islamisasi pada bab IV, analisis pesantren pada bab V yang memaparkan cara-cara pesantren Tegalrejo berperan besar dalam pelestarian kebudayaan lokal Jawa. Bab VI membahas dimensi mistik kehidupan pesantren, dan bab VII membahas kehidupan mistik dalam konteks desa.
Selain menjabarkan hasil penelitian dengan cara laporan, pengungkapan penulis terbilang cukup naratif sehingga pembaca seolah merasa diceritakan tentang pengalaman seseorang ketika hidup di sebuah desa. Penulis menuliskan hasil pandangan mata, isi obrolan dengan orang-orang yang diwawancarainya, dan juga mengisahkan kembali kesaksian serta kenangan warga desa mengenai Islam dalam sejarah lokal serta perkembangan desa di saatpengaruh NU, PKI atau PNI terhadap ineteraksi sosial-budaya-keagamaan warga desa. Termasuk juga dijelaskan mengenai praktik mistik Islam yang membuktikan bahwa Islam sufistik tetap bertahan dan berkembang di pedesaan Jawa dan berperan penting melanjutkan proses Islamisasi.
Cara bercerita penulis yang sangat nyata, memberikan efek pada membaca sehingga agak sedikit melupakan mengenai konsep ilmiah karena mamou ngembawa alam pikir pembaca pada khayal visualisasi desa. Dalam beberapa konteks, gaya penuturan penulis mengingatkan pembaca pada film-film kolosal era Jawa kuno, seperti Saur Sepuh, Brama Kumbara, atau Tutur Tinular. Kemiripan latar belakang pedesaan dan interaksi sosial-budaya membuat cuplikan film ini muncul kembali di kepala.
Misalnya salah satu pernyataan mantan penjahat desa yang dimuat penulis sebagai hasi wawancara, terkait dengan taibatnya sang tokoh kriminal berkat pendekatan seorang kyai. "Saat itu kerja saya hanya merampok, berjudi, dan main perempuan. Siapa pun takut dan takkan menolak menyetorkan sejumlah uang yang saya minta. Mungkin saat itu saya orang paling jahat di dunia," kata mantan penjahat yang sudah sepuh dan sudah menjadi kalangan alim ini pada penulis.
Efek naratif tersebut membuat buku ini tetap menarik dibaca meski awalnya merupakan disertasi. Hal ini memperlihatkan bagaimana penulis mampu memberikan sentuhan berarti untuk menjadikan karyanya format yang bisa diterima lebih banyak kalangan selain akademisi atau internal kampus saja.
Memahami Islam Jawa sukses membeberkan fakta, mengungkap hasil dari tujuan penelitian, sekaligus membekali pembaca dengan kesimpulan yang pafdat bermakna. Bisa dibilang, membaca buku-disertasi ini selain mengungkap soal ketidakrelevansian pemikiran Geertz dengan fakta lapangan, juga menyajikan gambaran terdekat tentang potret masyarakat Islam-Jawa di pedesaan, khususnya di desa tempat penulis melakukan penelitian. []
* Sjifa Amori, wartawan Jurnal Nasional
______________________________
DATA BUKU:
Judul : MEMAHAMI ISLAM JAWA
Penulis : Prof. Dr. M. Bambang Pranowo
Pengantar : Prof. Dr. Azyumardi Azra
Penerjemah : Inyiak Ridwan Muzir
Editor : Ade Fakih Kurniawan
Genre : Kajian Agama/Sosial/Demokrasi
Cetakan : I, Oktober 2009
Ukuran : 15 x 23 cm (plus flap 9 cm)
Tebal : 410 halaman
ISBN : 978-979-3064-70-3
Harga : Rp. 87.500,-

www.mediabuku.com


0 komentar:
Posting Komentar