Senin, 02 Maret 2009

[resensi buku] Meramal Dunia Masa Depan

Rakyat Merdeka | Minggu, 25 Januari 2009 | Oleh Awinullah

Keingintahuan akan masa depan memang menjadi naluri alamiah yang melekat pada diri manusia, bahkan sejak zaman baheula. Peradaban masa lalu mengenal para ahli nujum atau ahli ramal yang dipercaya mengetahui apa yang akan terjadi kelak. Muncullah nama-nama seperti Nostradamus, Ronggowarsito, Joyoboyo, dan sosok-sosok lain yang dipercaya bisa "melihat" apa yang akan terjadi di masa depan.

Mengetahui masa depan ternyata tidak hanya didominasi oleh para "aktivis mistis" semata. Banyak pula para saintis yang mengabdikan diri mereka untuk mengetahui perihal apa yang akan terjadi di masa depan. Tentu saja, metode mereka lebih menggunakan logika dan analisis-analisis ilmiah, bukan dengan jampi-jampi atau ramalan tertentu. Upaya akademik mereka kemudian melahirkan sebuah disiplin ilmu yang tenar dengan nama futurologi.

Disiplin ilmu futurologi dipopulerkan pada periode 1970-an oleh saintis bernama Alvin Toffler. Ia mengajukan ramalan  bahwa gelak dunia akan berubah seiring cepatnya teknologi, dan yang paling cepat mempengaruhi dunia adalah teknologi informasi. Ramalannya terbukti benar, saat ini dunia sedang berpesta pora atas mudahnya akses informasi melalui bebagai macam media: internet, televisi, telepon selluler, yang mau tidak mau mengubah cara hidup manusia.

Salah satu ilmuwan yang juga layak disebut futurolog adalah Samuel Huntington, yang pada 27 Desember 2008 lalu meninggal dunia. Huntington meramalkan, selepas berakhirnya perang dingin, persaingan antar macam peradaban di dunia ini tetap akan berlanjut. "Benturan antar peradaban", begitu Huntington mengistilahkan, bahkan akan mengambil basis agama dalam pertarungan mereka. Ramalan itupun terbukti. Pasca terjadinya pengeboman di gedung WTC, apa yang ia ramalkan terjadi. Invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak semakin mengukuhkan kebenaran tesisnya. Dan yang lebih ironi, detik-detik menjelang kematiannya justru "dirayakan" oleh invasi Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 1000 penduduk sipil. Perang berbasis agama telah terjadi, sebagaimana yang telah diramalkan Huntington.

Sebagaimana Toffler dan Huntington, James Canton, sang penulis buku ini juga layak mendapat predikat sebagai futurolog. Ia adalah murid langsung Alvin Toffler yang melanjutkan metode ilmiah sang guru dalam memprediksi apa yang akan dialami dunia di masa depan. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa prediksinya mengenai bagaimana keadaan dunia hingga 20 tahun ke depan.

Canton menulis banyak hal mengenai masa depan, di antaranya perihal nasib energi minyak yang akan habis dan tergantikan dengan energi yang terbarukan. Pada 2025 kelak, Canton meramalkan, sains masih akan berkembang dengan sangat pesat. Teknologi kedokteran akan semakin maju sehingga usia manusia akan kian panjang. Selain itu, Canton  juga meramalkan bahwa iklim di masa depan akan semakin buruk akibat pemanasan global.

Hal yang menarik dari ramalan Canton adalah bahwa "Benturan Peradaban", sebagaimana diramalkan Huntington, masih akan terus terjadi. Globalisasi adalah penyebabnya. Semakin mudahnya manusia terhubung satu sama lain justru akan membuat nilai-nilai yang mereka anut saling bertabrakan. Selain itu, Canton memprediksi, Cina akan tumbuh menjadi negara yang sangat kuat, dan menjadi negara penentu dalam ekonomi global.

Walaupun masih terkesan "mengekor" para futurolog pendahulunya dalam beberapa ramalan, Canton juga cukup berani melakukan beberapa prediksi yang agak "aneh". Misalnya, ia memprediksi bahwa bumi akan menemukan kontak dengan alien (hlm. 352), dan bahwa tahun 2050 kecerdasan buatan (artificial intelegence) atau robot akan sanggup mengalahkan manusia (hlm. 355). Terlepas dari benar tidaknya ramalan tersebut, Canton mengaku bahwa ia sudah memakai metode yang logis dan ilmiah, sebagaimana yang juga digunakan Alvin Toffler.

Bagi Anda yang tertarik untuk berpikir dan memperbincangkan masa depan, buku ini menarik untuk dibaca.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Meramal Dunia Masa Depan

Rakyat Merdeka | Minggu, 25 Januari 2009 | Oleh Awinullah

Keingintahuan akan masa depan memang menjadi naluri alamiah yang melekat pada diri manusia, bahkan sejak zaman baheula. Peradaban masa lalu mengenal para ahli nujum atau ahli ramal yang dipercaya mengetahui apa yang akan terjadi kelak. Muncullah nama-nama seperti Nostradamus, Ronggowarsito, Joyoboyo, dan sosok-sosok lain yang dipercaya bisa "melihat" apa yang akan terjadi di masa depan.

Mengetahui masa depan ternyata tidak hanya didominasi oleh para "aktivis mistis" semata. Banyak pula para saintis yang mengabdikan diri mereka untuk mengetahui perihal apa yang akan terjadi di masa depan. Tentu saja, metode mereka lebih menggunakan logika dan analisis-analisis ilmiah, bukan dengan jampi-jampi atau ramalan tertentu. Upaya akademik mereka kemudian melahirkan sebuah disiplin ilmu yang tenar dengan nama futurologi.

Disiplin ilmu futurologi dipopulerkan pada periode 1970-an oleh saintis bernama Alvin Toffler. Ia mengajukan ramalan  bahwa gelak dunia akan berubah seiring cepatnya teknologi, dan yang paling cepat mempengaruhi dunia adalah teknologi informasi. Ramalannya terbukti benar, saat ini dunia sedang berpesta pora atas mudahnya akses informasi melalui bebagai macam media: internet, televisi, telepon selluler, yang mau tidak mau mengubah cara hidup manusia.

Salah satu ilmuwan yang juga layak disebut futurolog adalah Samuel Huntington, yang pada 27 Desember 2008 lalu meninggal dunia. Huntington meramalkan, selepas berakhirnya perang dingin, persaingan antar macam peradaban di dunia ini tetap akan berlanjut. "Benturan antar peradaban", begitu Huntington mengistilahkan, bahkan akan mengambil basis agama dalam pertarungan mereka. Ramalan itupun terbukti. Pasca terjadinya pengeboman di gedung WTC, apa yang ia ramalkan terjadi. Invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak semakin mengukuhkan kebenaran tesisnya. Dan yang lebih ironi, detik-detik menjelang kematiannya justru "dirayakan" oleh invasi Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 1000 penduduk sipil. Perang berbasis agama telah terjadi, sebagaimana yang telah diramalkan Huntington.

Sebagaimana Toffler dan Huntington, James Canton, sang penulis buku ini juga layak mendapat predikat sebagai futurolog. Ia adalah murid langsung Alvin Toffler yang melanjutkan metode ilmiah sang guru dalam memprediksi apa yang akan dialami dunia di masa depan. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa prediksinya mengenai bagaimana keadaan dunia hingga 20 tahun ke depan.

Canton menulis banyak hal mengenai masa depan, di antaranya perihal nasib energi minyak yang akan habis dan tergantikan dengan energi yang terbarukan. Pada 2025 kelak, Canton meramalkan, sains masih akan berkembang dengan sangat pesat. Teknologi kedokteran akan semakin maju sehingga usia manusia akan kian panjang. Selain itu, Canton  juga meramalkan bahwa iklim di masa depan akan semakin buruk akibat pemanasan global.

Hal yang menarik dari ramalan Canton adalah bahwa "Benturan Peradaban", sebagaimana diramalkan Huntington, masih akan terus terjadi. Globalisasi adalah penyebabnya. Semakin mudahnya manusia terhubung satu sama lain justru akan membuat nilai-nilai yang mereka anut saling bertabrakan. Selain itu, Canton memprediksi, Cina akan tumbuh menjadi negara yang sangat kuat, dan menjadi negara penentu dalam ekonomi global.

Walaupun masih terkesan "mengekor" para futurolog pendahulunya dalam beberapa ramalan, Canton juga cukup berani melakukan beberapa prediksi yang agak "aneh". Misalnya, ia memprediksi bahwa bumi akan menemukan kontak dengan alien (hlm. 352), dan bahwa tahun 2050 kecerdasan buatan (artificial intelegence) atau robot akan sanggup mengalahkan manusia (hlm. 355). Terlepas dari benar tidaknya ramalan tersebut, Canton mengaku bahwa ia sudah memakai metode yang logis dan ilmiah, sebagaimana yang juga digunakan Alvin Toffler.

Bagi Anda yang tertarik untuk berpikir dan memperbincangkan masa depan, buku ini menarik untuk dibaca.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Ajakan untuk Mengenal Anak-anak

Republika Online, Minggu, 18 Januari 2009

\"Sesungguhnya anak-anak adalah anugerah Tuhan. Mereka adalah makhluk-makhluk yang mengagumkan. Anda bisa melarang mereka masuk ke tempat apa pun yang Anda kehendaki, tapi tidak hati Anda.\" (Ann Peck)

Mendidik anak bukan berarti mengabulkan setiap keinginannya. Tetapi, bagaimana cara yang tepat mengenalkan kepada anak segala sifat terbaik dan mengajarkan keberanian untuk menghadapi kesulitan.

Buku karya Tasbih Nada (Mesir) ini merumuskan pola pendidikan ke dalam dimensi baru lengkap dengan studi ilmu psikologi dan manajemen. Menurut dia, sistem ini terbukti efektif menciptakan perubahan perilaku anak-anak. Buku ini menampilkan 2.000 cara praktis mendidik anak menjadi cerdas. Kiat-kiat ini merujuk hasil pemikiran para ahli pendidikan, serta pengalaman para orangtua yang sukses mendidik anak-anaknya.

Larry J Koenig adalah salah satu peneliti yang menyusun sistem pendidikan yang sesuai dengan kaidah smart parenting. Sistem ini dilakukan dengan eksperimen-eksperimen dan dilakukan berulang-ulang. Menurut dia, secara umum sistem pendidikan baru tersebut hasilnya mengagumkan terutama bagi anak usia dini. Karena sistem ini berfokus pada perhatian terhadap anak, dan menyadarkan anak bahwa mereka adalah pusat perhatian. Tapi, anak usia 10 tahun atau lebih, merespons peraturan sistem ini dengan cara negatif. Penyebabnya apa, tidak dijelaskan secara gambling. Hanya dipaparkan bagaimana menghentikan respon negatif tersebut.

Cara menghentikannya dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak mengungkapkan pendapat mereka. Selain itu, mengajaknya menyusun peraturan secara keseluruhan, sehingga anak mudah menerima melaksanakan program smart parenting tanpa paksaan.

Di antara petunjuk yang diajukan Larry J Koenig membuat sistem smart parenting yang efektif, kredibel, dan teliti yaitu:
  • Melarang memberikan peringatan atau kesempatan dua kali agar suatu aturan tidak terlihat terlalu penting, dan serius.
  • Memberlakukan tanda X pada seluruh anak yang turut serta dalam sistem ini jika melanggar aturan. Tanda ini agar anak-anak tidak meneruskan perilaku buruk tersebut.
  • Memberikan penghargaan yang wajar terhadap anak yang menaati peraturan.
  • Berhenti mencela, dan memberikan \\\'ceramah\\\' terhadap anak yang memperoleh tanda X. Tujuannya agar anak-anak sendiri yang mencela dirinya atas kerugian yang mereka derita.
  • Memberikan perhatian lebih terhadap peraturan tertulis. Namun, peraturan tak tertulis yang sudah berlaku umum harus juga dipegang teguh.
  • Menanamkan keyakinan-keyakinan positif.

Program smart parenting terdiri dari dua bagian. Pertama, berkaitan dengan peraturan-peraturan yang ditentukan untuk dijalankan anak dengan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung saat terjadi pelanggaran. Kedua, berkaitan penanaman keyakinan-keyakinan positif ke dalam diri anak. Anak-anak yang memiliki pikiran, dan keyakinan positif tentang dirinya, mereka bertindak lebih baik dibandingkan yang berpikiran negatif tentang diri mereka sendiri.

Orangtua sangat andil dalam pembentukan keyakinan anak mengenai diri anak itu sendiri. Agar pembentukan itu efektif, tiga langkah yang harus dilakukan, pertama, memberi informasi positif kepada anak-anak melalui percakapan secara langsung. Percakapan idealnya dilakukan satu jam sebelum anak tidur. Karena kalimat-kalimat pada waktu itu akan masuk ke dalam pikiran anak, dan menggema berulang-ulang sebelum anak terlelap tidur.

Kedua, berbicara kepada orang lain mengenai sisi positif anak dan berupaya agar pembicaraan tersebut sampai kepada anak secara tidak langsung. Ketiga, menulis informasi-informasi positif yang diharapkan orangtua bisa menjadi sifat anak. Tulisan di atas kertas itu ditempel di setiap penjuru yang selalu dilewati anak agar bisa terbaca.

Bagaimana dengan anak-anak yang berbakat? Anak yang memiliki bakat luar biasa ibaratnya memiliki \\\'wilayah istimewa\\\'. Dari keistimewaan itu anak-anak bisa menjadi pribadi yang sukses dalam kehidupannya kelak. Sayangnya sedikit sekali orang-orang yang mengetahui dengan pasti apa \\\'wilayah istimewa\\\' yang dimilikinya. Lebih sedikit lagi orangtua mau \\\'berinvestasi\\\' untuk bakat anak tersebut. Anak-anak malah diproyeksikan sesuai keinginan orang tua. Akibatnya anak terjun ke bidang yang tidak sesuai dengan dirinya sendiri.

Di buku setebal 395 halaman ini orang tua diajak mengenal anak-anak, bakat istimewa mereka, dan mengarahkan ke jalan yang benar. Inilah capaian terpenting dari sistem smart parenting.  vie


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Ajakan untuk Mengenal Anak-anak

Republika Online, Minggu, 18 Januari 2009

\"Sesungguhnya anak-anak adalah anugerah Tuhan. Mereka adalah makhluk-makhluk yang mengagumkan. Anda bisa melarang mereka masuk ke tempat apa pun yang Anda kehendaki, tapi tidak hati Anda.\" (Ann Peck)

Mendidik anak bukan berarti mengabulkan setiap keinginannya. Tetapi, bagaimana cara yang tepat mengenalkan kepada anak segala sifat terbaik dan mengajarkan keberanian untuk menghadapi kesulitan.

Buku karya Tasbih Nada (Mesir) ini merumuskan pola pendidikan ke dalam dimensi baru lengkap dengan studi ilmu psikologi dan manajemen. Menurut dia, sistem ini terbukti efektif menciptakan perubahan perilaku anak-anak. Buku ini menampilkan 2.000 cara praktis mendidik anak menjadi cerdas. Kiat-kiat ini merujuk hasil pemikiran para ahli pendidikan, serta pengalaman para orangtua yang sukses mendidik anak-anaknya.

Larry J Koenig adalah salah satu peneliti yang menyusun sistem pendidikan yang sesuai dengan kaidah smart parenting. Sistem ini dilakukan dengan eksperimen-eksperimen dan dilakukan berulang-ulang. Menurut dia, secara umum sistem pendidikan baru tersebut hasilnya mengagumkan terutama bagi anak usia dini. Karena sistem ini berfokus pada perhatian terhadap anak, dan menyadarkan anak bahwa mereka adalah pusat perhatian. Tapi, anak usia 10 tahun atau lebih, merespons peraturan sistem ini dengan cara negatif. Penyebabnya apa, tidak dijelaskan secara gambling. Hanya dipaparkan bagaimana menghentikan respon negatif tersebut.

Cara menghentikannya dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak mengungkapkan pendapat mereka. Selain itu, mengajaknya menyusun peraturan secara keseluruhan, sehingga anak mudah menerima melaksanakan program smart parenting tanpa paksaan.

Di antara petunjuk yang diajukan Larry J Koenig membuat sistem smart parenting yang efektif, kredibel, dan teliti yaitu:
  • Melarang memberikan peringatan atau kesempatan dua kali agar suatu aturan tidak terlihat terlalu penting, dan serius.
  • Memberlakukan tanda X pada seluruh anak yang turut serta dalam sistem ini jika melanggar aturan. Tanda ini agar anak-anak tidak meneruskan perilaku buruk tersebut.
  • Memberikan penghargaan yang wajar terhadap anak yang menaati peraturan.
  • Berhenti mencela, dan memberikan \\\'ceramah\\\' terhadap anak yang memperoleh tanda X. Tujuannya agar anak-anak sendiri yang mencela dirinya atas kerugian yang mereka derita.
  • Memberikan perhatian lebih terhadap peraturan tertulis. Namun, peraturan tak tertulis yang sudah berlaku umum harus juga dipegang teguh.
  • Menanamkan keyakinan-keyakinan positif.

Program smart parenting terdiri dari dua bagian. Pertama, berkaitan dengan peraturan-peraturan yang ditentukan untuk dijalankan anak dengan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung saat terjadi pelanggaran. Kedua, berkaitan penanaman keyakinan-keyakinan positif ke dalam diri anak. Anak-anak yang memiliki pikiran, dan keyakinan positif tentang dirinya, mereka bertindak lebih baik dibandingkan yang berpikiran negatif tentang diri mereka sendiri.

Orangtua sangat andil dalam pembentukan keyakinan anak mengenai diri anak itu sendiri. Agar pembentukan itu efektif, tiga langkah yang harus dilakukan, pertama, memberi informasi positif kepada anak-anak melalui percakapan secara langsung. Percakapan idealnya dilakukan satu jam sebelum anak tidur. Karena kalimat-kalimat pada waktu itu akan masuk ke dalam pikiran anak, dan menggema berulang-ulang sebelum anak terlelap tidur.

Kedua, berbicara kepada orang lain mengenai sisi positif anak dan berupaya agar pembicaraan tersebut sampai kepada anak secara tidak langsung. Ketiga, menulis informasi-informasi positif yang diharapkan orangtua bisa menjadi sifat anak. Tulisan di atas kertas itu ditempel di setiap penjuru yang selalu dilewati anak agar bisa terbaca.

Bagaimana dengan anak-anak yang berbakat? Anak yang memiliki bakat luar biasa ibaratnya memiliki \\\'wilayah istimewa\\\'. Dari keistimewaan itu anak-anak bisa menjadi pribadi yang sukses dalam kehidupannya kelak. Sayangnya sedikit sekali orang-orang yang mengetahui dengan pasti apa \\\'wilayah istimewa\\\' yang dimilikinya. Lebih sedikit lagi orangtua mau \\\'berinvestasi\\\' untuk bakat anak tersebut. Anak-anak malah diproyeksikan sesuai keinginan orang tua. Akibatnya anak terjun ke bidang yang tidak sesuai dengan dirinya sendiri.

Di buku setebal 395 halaman ini orang tua diajak mengenal anak-anak, bakat istimewa mereka, dan mengarahkan ke jalan yang benar. Inilah capaian terpenting dari sistem smart parenting.  vie


www.dinamikaebooks.com

Minggu, 01 Maret 2009

[resensi buku] Lukisan Istanbul yang Melankolik

Jawa Pos, Minggu, 01 Maret 2009

Istanbul dan Pamuk merupakan satu kesatuan yang saling membentuk dalam proses kepengarangan Orhan Pamuk. Istanbul dengan latar sejarahnya yang pernah gemilang di bawah Kesultanan Usmani berabad lampau dan mengalami kemunduran di abad ke-20, pada saat Turki perlahan mengubah menjadi republik dan berkiblat ke Eropa; sementara di sisi lain Orhan Pamuk yang mengambil jalan hidup yang berseberangan dengan rata-rata keluarga kaya dengan memilih menjadi pelukis kemudian pengarang. Antara kota yang membentang kesejarahannya dan pilihan hidup Pamuk tersebut bisa dikatakan paduan yang memukau bagi novel-novel karya Orhan Pamuk di kemudian hari.

Apa yang membedakan seseorang yang menjalani kehidupannya sebagai seorang pengarang dan yang bukan pengarang terletak pada kemampuannya menghayati tempat di mana mereka hidup. Bagi yang bukan pengarang, kota sebatas panggung kontestasi ekonomi-politik yang berujung pada seseorang menjadi penghuni kelas yang bermartabat atau penghuni kelas yang tidak mendapat penghormatan alias menjadi papa di kotanya. Bagi yang bukan pengarang kota tidak lebih medan persaingan tak berujung bagi nasib penghuninya. Kota bak papan catur penuh kemungkinan antara kehidupan yang beruntung atau sial. Dalam arti ini, gambaran kota yang sering diasosiasikan dengan kejam atau penuh kemewahan ada pada pemahaman apakah kota tersebut dialami sebagai suatu penderitaan atau sebaliknya, penuh keberuntungan. Kota menjadi kering dan tidak memiliki makna yang mendalam di luar kategori sial atau beruntung.

Namun demikian, bagi mereka memilih jalan kehidupannya sebagai pengarang sebagaimana ditunjukkan dengan meyakinkan sekaligus indah oleh Pamuk, kota akan menyuguhkan sebuah pemandangan yang menarik dan pada titik-titik tertentu sangat bermakna dan hidup. Sebelum Pamuk mengetengahkan pendapat bahwa Istanbul merupakan kota yang paling berkesan sepanjang hidupnya, dia telah mengadakan penelusuran bagaimana para pengarang dan penyair terdahulu mengalami bagaimana Kota Istanbul hidup dalam karya maupun kehidupan pribadinya.

Istanbul yang terwujud dalam karya-karya Abulhak Sinasi Hisar, Yahya Kemal, Ahmet Hamdi Tanpinar, atau Resat Ekrem Kocu adalah para penulis yang Orhan Pamuk anggap berhasil menyelami jiwa kehidupan Kota Istanbul. Menurutnya, dalam karya maupun kehidupan keempat penulis tersebut Istanbul hadir dalam kenyataan yang melankolik. Sifat melankoli yang dirundung Istanbul setelah kota ini mengalami kemunduran dengan jatuhnya Kesultanan Usmani dan pada 1920-an dengan mengambil sistem republik dalam pemerintahan untuk mengelola Turki. Jalur nasionalis inilah yang mula-mula mengubah, bukan hanya seluruh aspek budaya dan politik di Turki, tetapi secara lebih spesifik mengubah secara mendasar Istanbul yang pada abad ke-19 menjadi tujuan utama para pelancong-penulis Prancis untuk mencari akar-akar oriental. Perubahan di Istanbul dengan memilih jalur nasionalisme ini tidak menghendaki adanya perbedaan dalam bahasa, etnik, selera, dan secara umum tentunya sebuah bentuk kebudayaan. Nilai-nilai chauvimisme yang dengan sengaja diperbolehkan oleh rezim berkuasa telah mematikan perlahan-lahan keanekaragaman dalam berbahasa di Istambul dan tentunya ini mematikan kebudayaan yang pernah menawan seantero Asia maupun Eropa.

Dalam masa Kesultanan Usmani, Istanbul tempat tumbuh suburnya berbagai bahasa dari orang Rusia, Armenia, Albania, Yunani, Prancis, Inggris --terutama daerah kekuasaan kesultanan. Setelah Republik Turki berdiri, terutama setelah kekalahan selama Perang Dunia I, sikap chauvimisme ini kian menguat dengan kehendak untuk mendirikan sebuah Turki yang tunggal. Dilematisnya, kehendak Turki yang tunggal secara politik menjadi mendua tatkala Turki berkeinginan untuk menjadi sekuler seperti Eropa. Kemenduaan ini menjadikan Turki dan secara khusus Istanbul membuat silang sengkarutnya identitas yang ingin dikenakan oleh warganya.

Dilematis dalam menentukan identitas inilah yang ditangkap keempat penulis yang disebutkan Orhan dan juga yang dialami Orhan Pamuk sendiri. Keinginan untuk menjadi Eropa dan keinginan untuk mencari identitas nasionalnya yang khas memerangkap mereka dalam sebuah situasi melankolik, murung atau h�z�n dalam bahasa Turki. Situasi melankolik ini terpapar di seantero Kota Istanbul. Bagi Pamuk, kemurungan ini terlihat pada jalan-jalan, gang-gang sempit di komunitas warga miskin, pelabuhan, asap-asap kapal di pantai Bosphorus, kemiskinan yang merajalela, bangunan-bangunan lama peninggalan Kesultanan Usmani yang terbengkelai, kehidupan warga kaya yang berorientasi barat tetapi gagal dan justru kering secara spiritual.

Ambivalensi yang merundung Istanbul terus-menerus semenjak jatuhnya Kesultanan Turki dan berdirinya Republik Turki ini secara serentak juga memengaruhi kehidupan Orhan Pamuk secara pribadi. Sepanjang halaman buku Istanbul, suasana melankoli membayang begitu pekat. Seolah Pamuk tidak memiliki satu titik pun untuk keluar dari perangkap melankoli yang terbentuk secara sosial dan politik dan seluruh penghuni Istanbul secara tidak sadar mengalaminya. Semenjak Pamuk bayi hingga ia berusia 20 tahun ketika ia memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya di Fakultas Arsitektur dan keinginannya untuk menjadi pelukis dan memutuskan hidup untuk menulis, suasana melankolik demikian kental.

Apa yang Pamuk alami kala ia lahir dengan membandingkan situasi yang berkembang saat itu, kala ia masih bocah, kala remaja, dan kala perantara menjadi dewasa, tak lain adalah gambaran suasana melankolik. Ia menggambarkan dirinya seorang yang tidak pernah mengalami suasana riang dan penuh kegembiraan kecuali ketika ia mabuk-mabukan bersama teman sekolah menengahnya dan menggoda gadis-gadis seusianya dengan kendaraan mewah ayah-ayah mereka. Semenjak remaja pun ia tidak memiliki sikap yang demikian optimistis sebagaimana yang terangkum dalam kehidupan kakaknya yang ia gambarkan sebagai tertib dan terampil terutama dalam kaitannya dengan pelajaran matematika dan fisika.

Dilematis dan ambivalensi antara kehidupan pribadi Pamuk dan suasana Kota Istanbul inilah yang menjadi dasar dari semangat novel-novel yang Orhan Pamuk tulis di kemudian hari. Suasana melankolik dan seakan tidak memiliki masa depan yang menghinggapi semua tokoh-tokoh novelnya dapat diperbandingkan dengan apa yang ia tuturkan dalam buku memornya ini. Sekalipun karya My Name is Red dan Snow mengambil latar waktu yang berbeda, dapat dirasakan kemurungan Kota Istanbul itu. Kemurungan yang menjadi tema semua novelnya memang dialami oleh semua warga Istanbul, tetapi yang menangkap jiwanya adalah seorang Orhan Pamuk. Dan tema kemurungan inilah yang kemudian ditangkap oleh juri Nobel Sastra yang mengantarkan Orhan Pamuk meraihnya pada 2006. (*)

*) Imam Muhtarom, peminat sastra dan kota.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Lukisan Istanbul yang Melankolik

Jawa Pos, Minggu, 01 Maret 2009

Istanbul dan Pamuk merupakan satu kesatuan yang saling membentuk dalam proses kepengarangan Orhan Pamuk. Istanbul dengan latar sejarahnya yang pernah gemilang di bawah Kesultanan Usmani berabad lampau dan mengalami kemunduran di abad ke-20, pada saat Turki perlahan mengubah menjadi republik dan berkiblat ke Eropa; sementara di sisi lain Orhan Pamuk yang mengambil jalan hidup yang berseberangan dengan rata-rata keluarga kaya dengan memilih menjadi pelukis kemudian pengarang. Antara kota yang membentang kesejarahannya dan pilihan hidup Pamuk tersebut bisa dikatakan paduan yang memukau bagi novel-novel karya Orhan Pamuk di kemudian hari.

Apa yang membedakan seseorang yang menjalani kehidupannya sebagai seorang pengarang dan yang bukan pengarang terletak pada kemampuannya menghayati tempat di mana mereka hidup. Bagi yang bukan pengarang, kota sebatas panggung kontestasi ekonomi-politik yang berujung pada seseorang menjadi penghuni kelas yang bermartabat atau penghuni kelas yang tidak mendapat penghormatan alias menjadi papa di kotanya. Bagi yang bukan pengarang kota tidak lebih medan persaingan tak berujung bagi nasib penghuninya. Kota bak papan catur penuh kemungkinan antara kehidupan yang beruntung atau sial. Dalam arti ini, gambaran kota yang sering diasosiasikan dengan kejam atau penuh kemewahan ada pada pemahaman apakah kota tersebut dialami sebagai suatu penderitaan atau sebaliknya, penuh keberuntungan. Kota menjadi kering dan tidak memiliki makna yang mendalam di luar kategori sial atau beruntung.

Namun demikian, bagi mereka memilih jalan kehidupannya sebagai pengarang sebagaimana ditunjukkan dengan meyakinkan sekaligus indah oleh Pamuk, kota akan menyuguhkan sebuah pemandangan yang menarik dan pada titik-titik tertentu sangat bermakna dan hidup. Sebelum Pamuk mengetengahkan pendapat bahwa Istanbul merupakan kota yang paling berkesan sepanjang hidupnya, dia telah mengadakan penelusuran bagaimana para pengarang dan penyair terdahulu mengalami bagaimana Kota Istanbul hidup dalam karya maupun kehidupan pribadinya.

Istanbul yang terwujud dalam karya-karya Abulhak Sinasi Hisar, Yahya Kemal, Ahmet Hamdi Tanpinar, atau Resat Ekrem Kocu adalah para penulis yang Orhan Pamuk anggap berhasil menyelami jiwa kehidupan Kota Istanbul. Menurutnya, dalam karya maupun kehidupan keempat penulis tersebut Istanbul hadir dalam kenyataan yang melankolik. Sifat melankoli yang dirundung Istanbul setelah kota ini mengalami kemunduran dengan jatuhnya Kesultanan Usmani dan pada 1920-an dengan mengambil sistem republik dalam pemerintahan untuk mengelola Turki. Jalur nasionalis inilah yang mula-mula mengubah, bukan hanya seluruh aspek budaya dan politik di Turki, tetapi secara lebih spesifik mengubah secara mendasar Istanbul yang pada abad ke-19 menjadi tujuan utama para pelancong-penulis Prancis untuk mencari akar-akar oriental. Perubahan di Istanbul dengan memilih jalur nasionalisme ini tidak menghendaki adanya perbedaan dalam bahasa, etnik, selera, dan secara umum tentunya sebuah bentuk kebudayaan. Nilai-nilai chauvimisme yang dengan sengaja diperbolehkan oleh rezim berkuasa telah mematikan perlahan-lahan keanekaragaman dalam berbahasa di Istambul dan tentunya ini mematikan kebudayaan yang pernah menawan seantero Asia maupun Eropa.

Dalam masa Kesultanan Usmani, Istanbul tempat tumbuh suburnya berbagai bahasa dari orang Rusia, Armenia, Albania, Yunani, Prancis, Inggris --terutama daerah kekuasaan kesultanan. Setelah Republik Turki berdiri, terutama setelah kekalahan selama Perang Dunia I, sikap chauvimisme ini kian menguat dengan kehendak untuk mendirikan sebuah Turki yang tunggal. Dilematisnya, kehendak Turki yang tunggal secara politik menjadi mendua tatkala Turki berkeinginan untuk menjadi sekuler seperti Eropa. Kemenduaan ini menjadikan Turki dan secara khusus Istanbul membuat silang sengkarutnya identitas yang ingin dikenakan oleh warganya.

Dilematis dalam menentukan identitas inilah yang ditangkap keempat penulis yang disebutkan Orhan dan juga yang dialami Orhan Pamuk sendiri. Keinginan untuk menjadi Eropa dan keinginan untuk mencari identitas nasionalnya yang khas memerangkap mereka dalam sebuah situasi melankolik, murung atau h�z�n dalam bahasa Turki. Situasi melankolik ini terpapar di seantero Kota Istanbul. Bagi Pamuk, kemurungan ini terlihat pada jalan-jalan, gang-gang sempit di komunitas warga miskin, pelabuhan, asap-asap kapal di pantai Bosphorus, kemiskinan yang merajalela, bangunan-bangunan lama peninggalan Kesultanan Usmani yang terbengkelai, kehidupan warga kaya yang berorientasi barat tetapi gagal dan justru kering secara spiritual.

Ambivalensi yang merundung Istanbul terus-menerus semenjak jatuhnya Kesultanan Turki dan berdirinya Republik Turki ini secara serentak juga memengaruhi kehidupan Orhan Pamuk secara pribadi. Sepanjang halaman buku Istanbul, suasana melankoli membayang begitu pekat. Seolah Pamuk tidak memiliki satu titik pun untuk keluar dari perangkap melankoli yang terbentuk secara sosial dan politik dan seluruh penghuni Istanbul secara tidak sadar mengalaminya. Semenjak Pamuk bayi hingga ia berusia 20 tahun ketika ia memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya di Fakultas Arsitektur dan keinginannya untuk menjadi pelukis dan memutuskan hidup untuk menulis, suasana melankolik demikian kental.

Apa yang Pamuk alami kala ia lahir dengan membandingkan situasi yang berkembang saat itu, kala ia masih bocah, kala remaja, dan kala perantara menjadi dewasa, tak lain adalah gambaran suasana melankolik. Ia menggambarkan dirinya seorang yang tidak pernah mengalami suasana riang dan penuh kegembiraan kecuali ketika ia mabuk-mabukan bersama teman sekolah menengahnya dan menggoda gadis-gadis seusianya dengan kendaraan mewah ayah-ayah mereka. Semenjak remaja pun ia tidak memiliki sikap yang demikian optimistis sebagaimana yang terangkum dalam kehidupan kakaknya yang ia gambarkan sebagai tertib dan terampil terutama dalam kaitannya dengan pelajaran matematika dan fisika.

Dilematis dan ambivalensi antara kehidupan pribadi Pamuk dan suasana Kota Istanbul inilah yang menjadi dasar dari semangat novel-novel yang Orhan Pamuk tulis di kemudian hari. Suasana melankolik dan seakan tidak memiliki masa depan yang menghinggapi semua tokoh-tokoh novelnya dapat diperbandingkan dengan apa yang ia tuturkan dalam buku memornya ini. Sekalipun karya My Name is Red dan Snow mengambil latar waktu yang berbeda, dapat dirasakan kemurungan Kota Istanbul itu. Kemurungan yang menjadi tema semua novelnya memang dialami oleh semua warga Istanbul, tetapi yang menangkap jiwanya adalah seorang Orhan Pamuk. Dan tema kemurungan inilah yang kemudian ditangkap oleh juri Nobel Sastra yang mengantarkan Orhan Pamuk meraihnya pada 2006. (*)

*) Imam Muhtarom, peminat sastra dan kota.


www.dinamikaebooks.com

Asa, Malaikat Mungilku

by: Astuti J. Syahban
KETIKA serigala itu mulai merayapi tubuh anak keduaku, Asa Putri Utami, hati dan pikiranku sebagai ibu pun tersayat-sayat nyeri. Usaha meminta pertolongan dari para ahli untuk mematikan atau paling tidak melumpuhkan serigala itu tak pernah henti dilakukan. Lantunan kalimat suci dari Yang Maha Suci juga tidak pernah jeda meluncur dari lisan dan hati seisi rumah.

Namun, serangan itu tak dapat dihentikan. Jantung, ginjal, hati, daun paru-paru, saluran kencing, otak, saraf, darah, rongga pernapasan, tulang, dan otot-otot, semua dimangsanya. Namun eloknya, Asa tetap bertahan. Dia punya kiat dan sikap sendiri untuk menghadapinya dengan totalitas diri yang dibungkus keikhlasan, kepasrahan, dan kesabaran.

"Serigala" itu adalah kelainan yang mendekam di dalam tubuh Asa sendiri. Dunia medis membahasakannya dengan sebutan Lupus. Nama formalnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE), penyakit langka yang hingga kini masih menjadi "misi mustahil" untuk disembuhkan.

Melalui kisah nyata yang dinarasikan bak novel ini terpancar jejak-jejak hikmah yang dapat kita petik dari seorang bocah dalam mengimani takdir-Nya. Penulisnya, tak lain, ibu kandung si malaikat mungil.


www.dinamikaebooks.com

Asa, Malaikat Mungilku

by: Astuti J. Syahban
KETIKA serigala itu mulai merayapi tubuh anak keduaku, Asa Putri Utami, hati dan pikiranku sebagai ibu pun tersayat-sayat nyeri. Usaha meminta pertolongan dari para ahli untuk mematikan atau paling tidak melumpuhkan serigala itu tak pernah henti dilakukan. Lantunan kalimat suci dari Yang Maha Suci juga tidak pernah jeda meluncur dari lisan dan hati seisi rumah.

Namun, serangan itu tak dapat dihentikan. Jantung, ginjal, hati, daun paru-paru, saluran kencing, otak, saraf, darah, rongga pernapasan, tulang, dan otot-otot, semua dimangsanya. Namun eloknya, Asa tetap bertahan. Dia punya kiat dan sikap sendiri untuk menghadapinya dengan totalitas diri yang dibungkus keikhlasan, kepasrahan, dan kesabaran.

"Serigala" itu adalah kelainan yang mendekam di dalam tubuh Asa sendiri. Dunia medis membahasakannya dengan sebutan Lupus. Nama formalnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE), penyakit langka yang hingga kini masih menjadi "misi mustahil" untuk disembuhkan.

Melalui kisah nyata yang dinarasikan bak novel ini terpancar jejak-jejak hikmah yang dapat kita petik dari seorang bocah dalam mengimani takdir-Nya. Penulisnya, tak lain, ibu kandung si malaikat mungil.


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Pencarian Matzuyama Kaze

Koran Republika. Minggu, 22 Februari 2009

Seorang pria ditemukan tewas mengenaskan dengan sebuah anak panah menancap di tubuhnya. Di persimpangan Desa Suzaka mayat itu ditemukan oleh penjual arang, Jiro. Maka mengalirlah cerita, dalam novel berjudul Kaze, karya Dale Furutani. Misteri di balik kematian ganjil pria tak dikenal itu membawa pembaca mengikuti jejak penyelidikan Matsuyama Kaze mengungkap kasus tersebut. Kaze adalah seorang ronin, samurai tak bertuan, yang secara tidak sengaja melewati persimpangan tersebut dalam pengelanaannya untuk menemukan seorang gadis yang sangat berarti.

Novel dengan judul asli Death at the Crossroad ini bisa dikatakan sebagai bacaan misteri bercampur dengan penceritaan sejarah Jepang pada masa pergolakan. Pada sekitar tahun 1603 saat Hideyoshi, sang pemersatu Jepang, meinggal dunia dan Tokugawa Ieyasu yang berambisi mengambil alih kekuasaan mengobarkan peperangan besar dengan pewaris tahta. Perang besar itu biasa disebut sebagai perang Sekighara yang menewaskan puluhan ribu samurai dan pengikut dua pihak yang bersengketa. Tokugawa berhasil menang dan memenjarakan sang pewaris bersama ibunya. Di pihak yang kalah Kaze harus kehilangan keluarga dan tuannya.

\"Berikan aku wakizashi-mu... ini mewakili kehormatanmu dan kemampuan untuk mencabut nyawamu. Pedang ini sekarang menjadi milikku sampai anakku kau temukan,\" ujar istri tuannya yang sudah kurus kering tak berdaya karena harus hidup dalam pengejaran. Sebuah janji penting telanjur terucap, yang membuatnya terikat untuk menemukan putri sang tuan yang seolah menghilang ditelan bumi. Peristiwa inilah yang membuat samurai berumur 30 tahunan ini mulai berkelana ke seluruh wilayah Jepang.

Dua hal penting
Dale memilih novel Kaze ini sebagai pembuka dari dua novel berikutnya. Trilogi yang bercerita tentang sebuah pencarian dan penggambaran kebudayaan Jepang pada masa transisi kekuasaan. Tetapi, karena alasan itulah novel pertama ini hanya samar-samar saja mengungkap tujuan utama Matsuyama Kaze untuk mencari sang putri.

Pada buku ini justru banyak menceritakan keterlibatan Ronin tersebut dalam menyelesaikan masalah misterius yang melanda Desa Suzaka. Penggambaran tujuan cerita ketiga novel tersebut diselipkan di antara ketegangan-ketegangan yang dibangun saat Kaze seolah-olah bertindak sebagai semacam detektif.

Sepanjang membaca novel setebal 381 halaman ini, ada dua hal yang sangat menarik. Pertama adalah cara Dale mengemas cerita miteri dengan latar belakang Jepang pada masa peralihan. Plot-plot yang dihadirkan seakan membuat pembaca merasa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi, kemudian terkejut karena prediksi pembaca ternyata salah. Alur cerita meski sederhana tetapi menarik karena sedikit sulit untuk tertebak. Meski di bagian tengahnya sedikit membingungkan karena menampilkan cerita-cerita yang kurang berhubungan.

Hal kedua yang membuat novel ini begitu menarik adalah penggambaran suasana Jepang di tahun-tahun pertama sang Shogun besar, Tokugawa Ieyasu memegang kekuasaan. Jepang digambarkan sebagai sebuah wilayah yang belum kondusif dengan banyaknya bandit dan pembunuhan-pembunuhan terhadap pengikut penguasa terdahulu. Senjata-senjata kembali beredar setelah pada masa Hideypshi sempat dilarang.

Cuplikan-cuplikan sejarah tentang pergolakan itu secara apik disisipkan oleh Dale dalam bercakapan-percakapan yang sengaja diarahkan atau pada kenangan-kenangan Kaze yang muncul melalui lamunan atau sebuah peristiwa. Tengok saja salah satu fragmen dalam novel tersebut yang membawa lamunan Kaze kepada rencana-rencana sang Shogun besar untuk mendapatkan kekuasaan setelah Hideyoshi wafat.

Lamunan itu begitu saja muncul ketika Kaze melihat penampilan mempesona dari seorang penari Noh, bentuk tarian tradisional Jepang yang pemerannya menggunakan topeng. Selain peristiwa-peristiwa sejarah, Dale juga menyisipkan banyak sekali unsur-unsur budaya Jepang, seperti pentingnya sebuah wakizashi, pedang kecil yang biasa digunakan untuk pertahanan atau ritual bunuh diri bagi para samurai.

Atau tentang bentuk pemahaman filosofis kehidupan samurai dan peperangn melalui permainan Go, semacam permainan strategi menggunakan bidak bundar pipih berwarna hitam dan putih. Tidak ketinggalan pula, sang penulis juga menggambarkan pola-pola kehidupan masyarakat Jepang pada zaman itu bersama dengan pola kehidupannya sehari-hari.

Bagi pembaca yang menyukai cerita misteri berbau detektif tetapi ingin melihatnya melalui latar belakang sejarah yang sama sekali tidak terduga, novel ini bisa menjadi bacaan. Buku ini juga menarik untuk orang-orang yang hendak mengetahaui sejarah Jepang, budaya, kepercayaan, dan kehidupan para Samurai, Penguasa Wilayah, serta para petani yang berada pada kasta paling bawah.kim

Judul: Kaze
Penulis: Dale Furutani
Penerbit: Mizan


www.dinamikaebooks.com

[resensi buku] Pencarian Matzuyama Kaze

Koran Republika. Minggu, 22 Februari 2009

Seorang pria ditemukan tewas mengenaskan dengan sebuah anak panah menancap di tubuhnya. Di persimpangan Desa Suzaka mayat itu ditemukan oleh penjual arang, Jiro. Maka mengalirlah cerita, dalam novel berjudul Kaze, karya Dale Furutani. Misteri di balik kematian ganjil pria tak dikenal itu membawa pembaca mengikuti jejak penyelidikan Matsuyama Kaze mengungkap kasus tersebut. Kaze adalah seorang ronin, samurai tak bertuan, yang secara tidak sengaja melewati persimpangan tersebut dalam pengelanaannya untuk menemukan seorang gadis yang sangat berarti.

Novel dengan judul asli Death at the Crossroad ini bisa dikatakan sebagai bacaan misteri bercampur dengan penceritaan sejarah Jepang pada masa pergolakan. Pada sekitar tahun 1603 saat Hideyoshi, sang pemersatu Jepang, meinggal dunia dan Tokugawa Ieyasu yang berambisi mengambil alih kekuasaan mengobarkan peperangan besar dengan pewaris tahta. Perang besar itu biasa disebut sebagai perang Sekighara yang menewaskan puluhan ribu samurai dan pengikut dua pihak yang bersengketa. Tokugawa berhasil menang dan memenjarakan sang pewaris bersama ibunya. Di pihak yang kalah Kaze harus kehilangan keluarga dan tuannya.

\"Berikan aku wakizashi-mu... ini mewakili kehormatanmu dan kemampuan untuk mencabut nyawamu. Pedang ini sekarang menjadi milikku sampai anakku kau temukan,\" ujar istri tuannya yang sudah kurus kering tak berdaya karena harus hidup dalam pengejaran. Sebuah janji penting telanjur terucap, yang membuatnya terikat untuk menemukan putri sang tuan yang seolah menghilang ditelan bumi. Peristiwa inilah yang membuat samurai berumur 30 tahunan ini mulai berkelana ke seluruh wilayah Jepang.

Dua hal penting
Dale memilih novel Kaze ini sebagai pembuka dari dua novel berikutnya. Trilogi yang bercerita tentang sebuah pencarian dan penggambaran kebudayaan Jepang pada masa transisi kekuasaan. Tetapi, karena alasan itulah novel pertama ini hanya samar-samar saja mengungkap tujuan utama Matsuyama Kaze untuk mencari sang putri.

Pada buku ini justru banyak menceritakan keterlibatan Ronin tersebut dalam menyelesaikan masalah misterius yang melanda Desa Suzaka. Penggambaran tujuan cerita ketiga novel tersebut diselipkan di antara ketegangan-ketegangan yang dibangun saat Kaze seolah-olah bertindak sebagai semacam detektif.

Sepanjang membaca novel setebal 381 halaman ini, ada dua hal yang sangat menarik. Pertama adalah cara Dale mengemas cerita miteri dengan latar belakang Jepang pada masa peralihan. Plot-plot yang dihadirkan seakan membuat pembaca merasa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi, kemudian terkejut karena prediksi pembaca ternyata salah. Alur cerita meski sederhana tetapi menarik karena sedikit sulit untuk tertebak. Meski di bagian tengahnya sedikit membingungkan karena menampilkan cerita-cerita yang kurang berhubungan.

Hal kedua yang membuat novel ini begitu menarik adalah penggambaran suasana Jepang di tahun-tahun pertama sang Shogun besar, Tokugawa Ieyasu memegang kekuasaan. Jepang digambarkan sebagai sebuah wilayah yang belum kondusif dengan banyaknya bandit dan pembunuhan-pembunuhan terhadap pengikut penguasa terdahulu. Senjata-senjata kembali beredar setelah pada masa Hideypshi sempat dilarang.

Cuplikan-cuplikan sejarah tentang pergolakan itu secara apik disisipkan oleh Dale dalam bercakapan-percakapan yang sengaja diarahkan atau pada kenangan-kenangan Kaze yang muncul melalui lamunan atau sebuah peristiwa. Tengok saja salah satu fragmen dalam novel tersebut yang membawa lamunan Kaze kepada rencana-rencana sang Shogun besar untuk mendapatkan kekuasaan setelah Hideyoshi wafat.

Lamunan itu begitu saja muncul ketika Kaze melihat penampilan mempesona dari seorang penari Noh, bentuk tarian tradisional Jepang yang pemerannya menggunakan topeng. Selain peristiwa-peristiwa sejarah, Dale juga menyisipkan banyak sekali unsur-unsur budaya Jepang, seperti pentingnya sebuah wakizashi, pedang kecil yang biasa digunakan untuk pertahanan atau ritual bunuh diri bagi para samurai.

Atau tentang bentuk pemahaman filosofis kehidupan samurai dan peperangn melalui permainan Go, semacam permainan strategi menggunakan bidak bundar pipih berwarna hitam dan putih. Tidak ketinggalan pula, sang penulis juga menggambarkan pola-pola kehidupan masyarakat Jepang pada zaman itu bersama dengan pola kehidupannya sehari-hari.

Bagi pembaca yang menyukai cerita misteri berbau detektif tetapi ingin melihatnya melalui latar belakang sejarah yang sama sekali tidak terduga, novel ini bisa menjadi bacaan. Buku ini juga menarik untuk orang-orang yang hendak mengetahaui sejarah Jepang, budaya, kepercayaan, dan kehidupan para Samurai, Penguasa Wilayah, serta para petani yang berada pada kasta paling bawah.kim

Judul: Kaze
Penulis: Dale Furutani
Penerbit: Mizan


www.dinamikaebooks.com