

www.mediabuku.com
Media Buku Online adalah situs penyedia buku secara online. Kami memberi pilihan bermacam-macan jenis buku lebih dari 70-an penerbit terkemuka di indonesia.
-------------------------www.mediabuku.com-------------------------


Diposting oleh Toko buku Dinamika di 20.43 0 komentar
Jostein Gaarder memang kerap menggugat kecenderungan orang dewasa yang menyerap banyak hal tanpa banyak tanya dan karenanya gagal untuk menghirup kehidupan hingga ke sarinya. Dalam novel Dunia Sohie, gugatan ia lancarkan melalui Sophie. Dalam buku ini Cecilia, gadis yang sedang sakit dan hanya bisa berbaring seharian, serta malaikat penghiburnya yang bernama Ariel, menjadi penyambung lidah Gaarder untuk menggugat kemapanan berpikir manusia.
Dengan jenial, Gaarder mengulas berbagai gagasan unik dalam dialog kritis namun ringan yang sangat thought-provoking. Pilihan kata yang sederhana dan gaya penulisan yang santai berbanding terbalik dengan pemikiran-pemikiran besar dan mendasar yang tersimpan rapi di dalamnya.
Malaikat Ariel hadir sebagai sosok jahil, botak tanpa sayap yang gemar ngobrol dengan malaikat-malaikat lain di surga tentang manusia berikut keanehannya. Ia pernah iseng pergi ke bulan untuk memata-matai Neil Armstrong. Ariel membuat Cecilia berpikir ulang mengenai berbagai hal yang dengan nyaman telah menghuni pikirannya selama belasan tahun."Saat manusia mendarat di bulan, itu menjadi lelucon di kalangan malaikat. Banyak sekali dari kami yang hadir di bulan saat itu namun mereka begitu bangga karena menganggap merekalah yang pertama kali mengunjungi bulan", ujar Ariel (hal.160)
Ketika Cecilia bercerita bahwa gurunya berpendapat masa kanak-kanak adalah tahapan menuju kedewasaan, Ariel menyergah dengan cepat,"Justru masa dewasalah yang merupakan tahapan menuju lahirnya anak-anak baru". (hal.38). Saat Cecilia mengatakan bahwa Adam dan Hawa adalah orang dewasa, Ariel pun dengan serta-merta mengoreksi kalimat tersebut. "Mereka tumbuh dewasa", sanggahnya. "Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, mereka adalah anak-anak kecil yang dipenuhi rasa ingin tahu
Tak ada gunanya membikin taman luas kalau tidak ada anak-anak yang bermain di dalamnya" (hal.39).
Selama membaca buku ini, kita akan terpesona dengan kedalaman berpikir dan ketinggian imajinasi Gaarder. Ariel yang begitu kebingungan dengan berbagai aspek kehidupan manusia banyak mengajukan pertanyaan yang membutuhkan kecerdasan tersendiri sebelum menjawabnya. "Malaikat hanya bisa merasakan kata-kata", ujar Ariel."Apa rasanya enak?" Tanyanya (hal.70). "Rada aneh juga, sih", hanya itu yang bisa keluar dari mulut Cecil. Ketika Cecil melontarkan keheranannya akan ketidakmampuan malaikat untuk merasakan sesuatu, dengan cerdik Ariel menyahut,"Tapi pikiranmu tidak bisa merasakan apa yang dipikirkannya, tidak seperti kau bisa merasakan bola salju di tanganmu" (hal.85).
Adapun kehadiran Ariel di kamar Cecil yang tak bisa diindrai manusia dianalogikan sebagai kehadiran tubuh kita di pantai dalam sebuah mimpi."Apakah kau akan mengatakan bahwa dalam mimpimu, kau berada-dalam makna tertentu-di pantai itu?" (hal.123), begitulah Ariel bertanya yang diiyakan tanpa ragu oleh Cecilia. Dialog tentang mimpi akhirnya ditutup Ariel dengan uraian mendalam sekaligus menarik.
" ..Saat manusia bermimpi, kalian menjadi aktor sekaligus penonton
Idealnya, kau seharusnya punya kemampuan menghentikan sebuah mimpi jika kau tak menyukainya. Seharusnya ada pintu darurat di dalam bioskop tapi karena bioskop itu adalah jiwamu sendiri-yang memutuskan film apa yang diputar-itu menjadi mustahil karena kau tak bisa lari dari jiwamu sendiri" (hal 140).
Dialog bernas seperti di atas memang amat mungkin ditemukan dalam cerita yang mengambil malaikat sebagai salah satu karakter. Sebagai mahkluk yang berlainan dunia dengan manusia, malaikat memang berpotensi dijadikan sumber kutipan cerdas atas dasar asumsi bahwa cara ia menalar dan merasa pastilah amat berbeda dengan manusia. Film 'Touched by an Angel' yang diputar DAAI TV adalah salah satu produk sarat nilai yang menggunakan malaikat sebagai pemeran utama. Arswendo Atmowiloto juga pernah menjadikan malaikat sebagai tokoh sentral dalam novelnya yang berjudul 'Kau Memanggilku Malaikat'.
Membaca buku ini akan (semakin) memampukan kita untuk melihat banyak hal biasa dengan cara pandang yang sungguh tidak biasa karena,"Sebagian malaikat percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan sendiri" (hal.100). Kalimat cerdas bertebaran di berbagai halaman, berebutan untuk memberikan kita pemikiran baru tentang kehidupan.
Alam semesta dan kehidupan di dalamnya telah lama dimaknai sebagai sekumpulan teka-teki akbar. Dan dengan bantuan Ariel serta Cecil, nampaknya Gaarder berhasil memecahkan lebih banyak teka-teki daripada yang dilakukan manusia jika berusaha seorang diri.
---
*Guru Pelita Harapan Lippo-Cikarang, Penulis 'Keberanian Bernama Munir:Mengenal Sisi-sisi Personal Munir' (Mizan, 2008).

Diposting oleh Toko buku Dinamika di 20.37 0 komentar
Juhua tinggal bersama ketiga anaknya yang dengan seluruh upaya berusaha ia sekolahkan. Bagaimanapun, kemiskinan yang mencengkeram membuat Juhua terpaksa mengeluarkan Ma Yan dari sekolah. Ma Yan lantas melancarkan protes "Jadi, anak laki-laki boleh terus bersekolah dan aku bekerja?" begitu ia menggugat. "Begitulah", sahut sang Ibu (Hal.130).
Keputusan Juhua sebenarnya mudah dipahami karena perempuan memang warga negara kelas dua di negerinya. Bagaimanapun, Junhua tersentuh dengan antusiasme Ma Yan untuk tetap sekolah dan sebagai seorang ibu, ia pun melakukan semua yang mungkin dan mencoba apa yang terlihat mustahil untuk mewujudkan cita-cita anaknya. Ada pun Ma Yan yang tumbuh sebagai figur pantang menyerah, terus belajar di tengah-tengah kelaparan yang kerap melilit perutnya. Tak hanya memeras keringat, kedua perempuan ini pun tak putus mendaraskan doa-doa kepada Tuhan dengan iman dan air mata.
Lantas, apa hasil dari seluruh tetesan keringat dan air mata mereka yang nampaknya membasahi telinga Tuhan hingga basah kuyup? Hasilnya adalah sebuah cerita penggugah semangat yang dimuat media Perancis, diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dalam waktu kurang dari 4 tahun dan berhasil mendorong sebuah lembaga untuk memberikan bea siswa kepada Ma Yan dan sekitar 250 temannya dari desa yang sama.
***
Kisah perempuan kelahiran 6 Maret 1988 ini sekarang hadir dalam bentuk novel yang benar-benar menguras emosi. Karena menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya, Ma Yan bertekad untuk terus sekolah, apapun taruhannya. Ia bahkan rela kelaparan selama dua minggu agar bisa membeli sebuah pena yang akan membantu kelancarannya dalam belajar. Pena ini jugalah kelak yang akan ia gunakan untuk mengisi buku hariannya, benih dari buku laris Diary of Ma Yan yang pertama kali terbit di London pada tahun 2005.
Catatan harian ini membuka mata dunia mengenai apa yang terjadi pada diri Ma Yan. "Akan kubawa keluargaku menjauh sejauh-jauhnya dari takdir kemiskinan", demikian ia menuliskan tekadnya (hal.162). Komitmen ini membuatnya rela berjalan kaki, atau kadang-kadang menumpang traktor dengan membayar satu yuan, ke sekolah yang berjarak 5 jam dari rumah dengan resiko bertemu ular atau perampok. Ia pun tak keberatan tinggal di asrama dengan menu sehari-hari satu potong roti agak keras serta nasi yang hanya dibumbui dengan sedikit sayur kubis.
Dari catatan ini pula dunia tahu tentang betapa dahsyatnya upaya yang dilakukan Juhua agar Ma Yan tak bernasib seperti anak perempuan lainnya:Miskin, bodoh lalu menikah dan tetap menjadi miskin serta bodoh. Hidup denga rasa perih yang amat menyakitkan karena sebagai ibu ia hanya mampu memberi makan anaknya dua kali sehari, Juhua bertekad untuk mematahkan kemiskinan yang telah turun-temurun melingkari keluarganya. Ia bahkan rela menjadi pemanen fa cai, tumbuhan yang biasa dikonsumsi dalam bentuk salad atau sop, di Mongolia Dalam demi beberapa puluh yuan untuk membayar uang sekolah Ma Yan:Menumpang traktor sejauh 400 kilometer, diterpa pasir dan angin, berangkat memanen jam setengah enam pagi dan membungkuk hingga jam tujuh malam untuk menebas fa cai dan tidur beratapkan bintang, tak perduli betapapun dinginnya udara ketika itu.
Kerja keras ibu dan anak ini digulirkan Sanie B. Kuncoro dari sudut pandang Juhua dan Ma Yan sekaligus, sebuah cara penulisan yang membuat keterlibatan emosi pembaca menjadi lebih dalam. Bagaimana tidak, penerapan dua sudut pandang semacam ini memberi gambaran yang lebih utuh tentang peristiwa yang baru saja terjadi dan secara otomatis, melahirkan intensitas emosi yang lebih kuat di hati pembaca.
Perasaan kita akan dibuat haru biru oleh uraian Junhua yang merasa gagal sebagi ibu karena ia merasa terus-menerus memberikan kepahitan hidup kepada anak-anaknya (hal.115-126). Kita juga 'dipaksa' untuk kembali mengingat cinta dan jasa orang tua, terutama ibunda, saat membaca curahan hati Ma Yan tentang Junhua: Ibu yang menyembunyikan rasa sakit dan letih agar anaknya bisa belajar dengan tenang (hal.88), ibu yang memberikan seluruh makanan yang ada untuk anaknya dan membiarkan dirinya kelaparan dan kehausan hingga bibirnya kering (hal.94).
Kasih ibu bagaikan mentari yang membuat rumput bertumbuh namun tak menerima apapun sebagi balasan, begitu makna yang tersirat dari 'Yai Zi Yin' atau 'Traveler's Recite', sebuah puisi indah karya Meng Jiao yang hidup di era Dinasti Tang. Keindahan serupa dengan mudah bisa kita jumpai dalam novel ini mengingat Sanie memang penulis senior yang kerap menulis dengan gaya puitis serta melankolis.
Sayangnya, dalam novel ini cerita mengalir begitu saja tanpa ada pendahuluan atau penutupan apa pun. Hal ini tak menjadi masalah jika saja cerita semata-mata adalah hasil imajinasi si pengarang namun kenyataannya novel ini diangkat dari kisah yang benar-benar terjadi. Tentu akan jauh lebih baik jika pembaca diberi beberapa keterangan sehubungan dengan tokoh yang asli seperti yang bisa kita temukan dalam cerita The Life of Pi karya Yann Mattel yang sudah diterbitkan juga dalam Bahasa Indonesia.
Novel The Life of Pi, yang juga ditulis berdasarkan kisah nyata, dibuka dengan penjabaran tentang awal-mula proses penulisan buku dan ditutup dengan penjelasan tentang bagaimana nasib Pi selanjutnya. Mengingat Ma Yan masih hidup dan masih amat muda, wajar jika pembaca ingin tahu apa yang terjadi setelah catatan hariannya dipublikasikan.
Lepas dari kekurangan di atas yang kelak bisa dengan mudah ditutup saat buku dicetak ulang, novel ini sungguh adalah sebuah santapan yang menghangatkan jiwa. Seperti halnya Laskar Pelangi, yang bukan hanya judul nove dan film melainkan juga nama dari lini yang mendukung penerbitan buku ini, catatan Ma Yan bisa menggiring kita untuk kembali merenung tentang signifikansi pendidikan, pentingnya bermimpi dan sikap pantang mundur, isu kemiskinan dan ketidakadilan serta, ah tentu saja, kasih ibu yang kelembutannya melebihi kulit bayi.
*Guru Pelita Harapan Lippo-Cikarang, Penulis 'Keberanian Bernama Munir: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir' (Mizan, 2008).

Diposting oleh Toko buku Dinamika di 20.33 0 komentar


Diposting oleh Toko buku Dinamika di 20.25 0 komentar
Sumber: Mizan.com
Sebagai salah seorang yang pernah membaca karya Dee, saya sangat menikmati Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, dan Supernova: Akar. Boleh dibilang, melalui Supernova keping pertama, pergumulan menemukan bacaan bermutu dan hasrat intelektual terpuaskan. Sebagai mahasiswa yang masih hijau daun dan sok ngilmiah (bahkan saya ingat betul kosa kata ilmiah dicari dan dihafal mati untuk memuaskan narsisisme kemahasiswaan saya), saya betul -betul tersihir dengan hadirnya kosa kata asing yang harus dibantu dengan membaca catatan-catatan kaki yang ditulis oleh Dee.
Membaca Supernova melambungkan saya pada gagasan novel saintifik dengan bumbu chaotic yang kental. Maka bertemulah saya pada istilah bifurkasi yang menawan pada Supernova. Kata ini, dan kata-kata saintifik lainnya, segera menyita seluruh perhatian sayamenciptakan semacam gelegar. Namun, membaca Akar, dengan tokoh utamanya yang bernama Bodhi, saya segera teringat Chin Mi dengan jurus pamungkas Ilmu Peremuk Tulang dari Kuil Dairinji. Saya masih bisa menemukan keasyikan yang sama tetapi dengan gaya menulis yang sama sekali berbeda.
Tahun berlalu, saya seakan lupa dengan novel-novel Dee sampai kemudian saya larut membaca manuskrip terbaru Dee, Perahu Kertas, lalu merampungkan Rectoverso setelahnya. Novel yang awalnya dirilis melalui versi WAP, menggandeng salah satu operator seluler, ini memang unik. Dibandingkan dengan karya Dee lainnya, novel ini segar dan tidak banyak diimbuhi catatan kaki seperti pada Supernovakecuali ungkapan khusus bahasa Sunda dan Bali.
Mungkin karena Dee ingin menyuguhkan sesuatu yang berbedasebuah proyek bunuh diri, demikian Dee menyebutnya, yang dituntaskan secara maraton selama 55 hari di sebuah kos-kosan mahasiswi di utara kota Bandung. Meskipun demikian, karya Dee ini tetap memiliki aroma khas Dee yang filosofis dan penuh permenungansisi remajanya sangat akrab dan pas, tetapi tetap penuh kendali bahkan dengan sengaja meremas emosi pembaca, menahannya selama mungkin sampai mencapai kulminasi di akhir babak. Mantap!
Kisah di Balik Perahu
Penerbitan Perahu Kertas merupakan kolaborasi apik antara Bentang Pustaka, Truedee, dan Dewi Lestari sebagai penulis. Saya memang tidak mengikuti proses kreatif awalnya dari blog, tetapi saya langsung jatuh hati saat membaca versi WAP-nya. Biarpun pegal dan mata perih melihat teks di ponsel yang cuma sebesar semut, saya bisa bertahan hingga 100-an halaman. Nah, ide pun muncul kenapa tidak diterbitkan Bentang saja versi cetaknya. Saya tahu Dee telah memiliki penerbitan sendiri dengan nama Truedee; akan tetapi, keberuntungan tentu perlu dicoba. Lalu berlayarlah pinangan Bentang sejak awal 2009 kepada Dewi Lestari. Dan seperti yang dibilang orang, the rest is history.
Ada kebiasaan saya yang selalu ingin bertanya, entah kepada editor penanggung jawab, asisten editor, atau para proofreader yang sudah menikmati sebuah karya. Saya selalu tanya kesan mereka setelah membaca naskah. Apakah mendebarkan, seru, atau malah biasa-biasa saja. Komentar mereka saya perlukan untuk melihat apakah timbul passion setelah membaca naskah bagus. Apakah gagasan penulis memantik ide teman-teman di penerbit untuk memperlakukan karya secara kreatif, unik?!
Bagi saya sendiri Perahu Kertas adalah pengalaman mencicip novel bergizi secara Dee. Jika Anda tekun membaca, Anda akan menemukan daya magis tulisan Dee dan tahu-tahu anda ikut tumbuh bersama tokoh-tokoh di dalamnya. Rasanya sungguh menyenangkan saat kita melihat semua karakter yang kita baca bergulat bersama waktu dan tumbuh dewasa. Mungkin inilah candu yang diberikan Deesebuah konsep cerita serial yang membuat kita ketagihan sampai tak tahan harus menuntaskan dengan sekali membaca. [salman/2009]

Diposting oleh Toko buku Dinamika di 01.01 0 komentar


Diposting oleh Toko buku Dinamika di 00.27 0 komentar


Diposting oleh Toko buku Dinamika di 00.24 0 komentar


Diposting oleh Toko buku Dinamika di 00.20 0 komentar


Diposting oleh Toko buku Dinamika di 00.12 0 komentar


Diposting oleh Toko buku Dinamika di 00.03 0 komentar