Senin, 03 November 2008

[resensi buku] Lima Pertanyaan yang Selalu Mengusik

Koran Tempo Edisi 26 Oktober 2008

Tatkala sebagian Aceh dihempas gelombang tsunami, Desember 2004, seorang kawan bertanya dengan rasa gundah: "Mengapa Aceh? Kenapa bukan Jakarta?" Pertanyaan serupa, untuk banyak sekali masalah yang berbeda, niscaya terlontar dari kita. Bahkan, mungkin dengan nada agak menggugat kepada Tuhan yang dianggap memiliki maha-kekuasaan untuk memutuskan segala sesuatu.

Ketika pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan terbongkar, sebagian kita barangkali juga mempertanyakan mengapa Tuhan tidak menghentikannya lebih awal. Mengapa seorang anak kecil harus turut menjadi korban? Mengapa Tuhan seakan "membiarkan" pembunuhan itu berlangsung, sebagaimana kejahatan yang lain, juga peperangan yang menelan ribuan korban di Irak?

Siapa pun yang mencari kebenaran niscaya akan terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Seorang yang skeptis akan berargumen bahwa beragam peristiwa itu membuktikan bahwa Tuhan yang Maha Penyayang itu tidak ada. Dunia, dengan semua yang ada di dalamnya, menjalani waktu tanpa campur tangan apa atau siapa yang disebut Tuhan.

Pertanyaan tentang ada atau tidak adanya Tuhan merupakan pertanyaan klasik yang terus diperdebatkan oleh kalangan teis, ateis, maupun agnostik --sampai kapan pun. Banyak teori dilahirkan untuk menjawab pertanyaan fundamental ini, dari teori desain, teori sebab pertama, sampai teori pengalaman. Nabi Ibrahim, dengan caranya sendiri, menemukan Tuhan setelah melewati pergulatan batin yang keras: mula-mula ia menyangka rembulan sebagai tuhan, tetapi ia tak puas ketika rembulan "dikalahkan" matahari; ia lalu menduga matahari adalah tuhan, tapi ia tidak puas karena matahari pun tenggelam, sampai ia menyimpulkan bahwa tuhan ialah yang menciptakan matahari dan rembulan.

Pertanyaan kedua yang niscaya juga mengusik kita ialah "masuk akalkah keimanan kepada Tuhan"? Fokus perhatian Fareed Ahmad dan Salahuddin Ahmad dalam membahas masalah ini ialah mencari jawaban atas pertanyaan: apakah gagasan tentang Tuhan sejalan dengan sains dan nalar dan seberapa pasti pengetahuan dan keyakinan kita terhadap Tuhan. Dengan terlebih dulu memperlihatkan kontradiksi dan kelemahan-kelemahan di dalam pengetahuan ilmiah modern, keduanya berkesimpulan bahwa mustahil ada konflik antara Tuhan dan sains karena pada kenyataannya sains tunduk kepada perintah Tuhan. Setidaknya, dalam pandangan keduanya, di dalam Islam. Artinya, keimanan kepada Tuhan itu rasional.

Buku ini juga membahas isyu yang tak habis-habis dipertentangkan, yakni "determinisme" versus "kehendak bebas." Isyu ini berkaitan dengan pembuka ulasan buku ini, apakah bencana dan kejahatan yang terjadi di muka bumi ini sepenuhnya kehendak Tuhan? Jika ya, mengapa manusia dimintai pertanggungjawaban? Fareed dan Salahuddin menawarkan "jalan tengah," bahwa kekuasaan memilih yang dianugerahkan kepada manusia bersifat terbatas dan bahwa Tuhan "memilih untuk tidak menentukan pilihan kita" karena Tuhan memandang tindakan patuh yang disertai dengan kebebasan memilih lebih tinggi nilainya daripada tindakan patuh tanpa disertai kebebasan memilih.

Dua pertanyaan mendasar lain yang dikupas dalam buku ini tak kalah mengusik: bila agama benar, mengapa ada banyak agama, dan apakah agama diperlukan bagi moralitas? Mengapa Tuhan membiarkan adanya banyak agama, yang berbeda satu sama lain dan yang pengikutnya saling bermusuhan, bahkan saling membunuh? Karena ada orang yang mengaku tak beragama namun berakhlak baik, dan ada yang mengaku beragama tapi berkelakuan buruk, apakah ini berarti untuk menjadi orang baik seseorang tidak harus beragama?

Dalam bahasannya yang renyah dan fair, Fareed dan Salahuddin berusaha menguraikan berbagai sudut pandang atas lima pertanyaan fundamental ini untuk kemudian bersikap secara kritis dari posisinya sebagai muslim. Kendati ini pertanyaan-pertanyaan yang pelik, keduanya mampu meramu kupasannya dalam paragraf-paragraf yang niscaya dapat dipahami oleh kalangan pembaca yang luas tanpa kehilangan bobot argumentatifnya.

Bagi yang skeptis, mungkin jawaban mereka tidak kunjung memuaskan --dan ini lumrah-lumrah saja. Sampai kapan pun, lima pertanyaan mendasar ini akan tetap menyibukkan para teolog, agamawan, filosof, ilmuwan, maupun orang awam. Ini memang pertanyaan "abadi" yang senantiasa menantang.

Dian R. Basuki


www.dinamikaebooks.com

0 komentar: