Sabtu, 30 Mei 2009

[resensi buku] Seni Memimpin Dari Legenda Jepang

M.Iqbal Dawami, http://resensor.blogspot. com

Jepang, dalam kebanyakan sejarahnya, telah dikuasai oleh para kaisar yang powerfull. Akan tetapi dalam abad XVI – yang disebut orang Jepang sebagai masa peperangan antar-klan (Age of Warring Clans) – penguasa regional (baca: Shogun) berperang satu sama lain dengan sedikit tentara pejuang samurai mereka. Terdapat salah satu pemimpin legendaris Jepang yang berhasil menyatukan antar-klan di abad XVI, yaitu Toyotomi Hideyoshi.

Buku The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI ini bercerita tentang bagaimana Toyotomi Hideyoshi melakukan hal itu. Hideyoshi dilahirkan dari keluarga petani pada 1537 yang menjadi seorang samurai meskipun dia tidak mempunyai keturunan darah samurai. Dengan perawakan pendek, petarung yang payah, dan tidak cukup menarik untuk dipandang, membuat dirinya menjadi bahan olokan, dan sering disebut "monyet." Namun, di balik itu, dengan berbekal hasrat belajar yang besar, Hideyoshi berhasil melejitkan potensinya sehingga dia mencapai status wakil kaisar yang memungkinkan dia menghentikan pertikaian di antara para klan yang telah lama berperang di seluruh pelosok Jepang pada waktu itu.

Hideyoshi dianggap sebagai Swordless Samurai; seorang samurai tanpa pedang, di mana kemampuannya tidak terletak pada kelihaian memainkan pedangnya melainkan otaknya. Dia menapaki tangga batasan kelas yang kuat tanpa bantuan sama sekali. Dia seorang petani asli, yang mengabdi pada Lord Nobunaga yang sangat berkuasa, dan menjadi orang yang terus semakin berguna baginya. Hideyoshi mendapatkan dukungan yang kuat. Kemudian, dia menghancurkan semua batasan kelas dan akhirnya menjadi orang yang paling kuat di Jepang.

Hideyoshi mampu mencapai semua itu melalui kecakapannya yang hebat sebagai seorang perencana dan negosiator, dan kemampuannya untuk memimpin kelompok-kelompok subordinat yang besar melalui komunikasi yang cerdik, bukan melalui kekuatan militer atau pun ketakutan akan pembalasan. Beberapa tindakan heroiknya yang terkenal di antaranya merekrut sejumlah petani untuk mengalihkan aliran sungai dan membanjiri wilayah di sekitar kastil musuh, sehingga dapat menghentikan suplai dan bala bantuan bagi musuhnya, yang kemudian memaksa mereka untuk menyerah.

Selain itu, dalam sebuah pertempuran tanpa pertumpahan darah, dia beberapa kali mengirim pasukannya untuk menyamar sebagai pedagang untuk membeli semua beras musuh. Benteng pertahanan musuh menjual semua beras mereka dari gudang persediaan. Hideyoshi dan tentaranya kemudian hanya menunggu musuhnya kelaparan dan menyerah dengan sendirinya. Legenda lainnya adalah saat dia memerintahkan kepada tentara untuk membangun benteng di sebuah posisi yang strategis hanya dalam semalam. Bagaimana cara dia melakukan hal itu, dipaparkan secara gamblang di buku ini.

Tim Clark, editor edisi bahasa Inggris dari buku ini, memberi catatan bahwa "Swordless Samurai" adalah istilah yang dia temukan sendiri. Hideyoshi tidak pernah dikenal dengan nama itu dan tidak ada persamaannya dalam bahasa Jepang. Namun, istilah tersebut digunakan untuk menyimpulkan filosofi Hideyoshi yang menggunakan perencanaan yang cermat dan tindakan yang menentukan dalam mengganti kekerasan yang telah menjadi cara samurai.

Penulis buku ini, Kitami Masao berhasil menciptakan sebuah autobiografi yang melacak kehidupan Hideyoshi yang mengagumkan dari awal mula sebagai seorang yang sederhana hingga mencapai puncak kekuasaan, dan selanjutnya kemunduran yang berasal dari upaya perluasan kekuasaannya menuju Korea. Masing-masing bab ditandai dengan pepatah yang mencita-citakan seorang eksekutif bisnis seperti "Jadilah seorang pemimpin, bukan seorang yang superior," dan "Ubahlah kelemahan menjadi kekuatan." Sebagaian kecil dari pepatah tersebut menjadi ciri khas perusahaan Jepang pada masa kini, misalnya, "Rendahkan kepentinganmu berada di bawah kepentingan pemimpinmu."

Kitami mengakui bahwa hampir tidak ada yang mengetahui tentang Hideyoshi yang sebenarnya pada masa-masa awal. Beberapa dari pencapaiannya yang lebih spektakuler terlihat sangat meragukan di mata sejarawan. Namun Kitami menerima informasi yang dapat diperoleh dari nilai dan usahanya mengenai kecakapan-kecakapan dalam memimpin dan bernegosiasi. Kitami juga berusaha membahas kelemahan dan kejatuhan Toyotomi dalam bab-bab terakhir, sebagai sebuah aforisme.

Sosok Hideyoshi sejatinya merupakan model bagi pemimpin bisnis masa kini. Para pebisnis saat ini dalam membidik posisi pemimpin, terutama jika mereka terkait dengan perusahaan dan praktik bisnis Jepang akan secara meyakinkan menemukan sesuatu yang dapat diterapkan dalam kerja mereka dari buku ini. Kepemimpinan Hideyoshi dan ajaran kesuksesannya diungkapkan dalam bentuk narasi ketika Hideyoshi mendapatkan banyak kemenangan dan menganalisa kemunculannya menjadi pemimpin yang tertinggi. Intuisinya yang tepat terhadap apa yang terjadi—kemampuan, kecerdasan, antisipasi, dan determinasi—dapat dengan mudah dipahami para pebisnis masa sekarang.

Meskipun kita tidak tertarik dalam aspek untuk membantu pengembangan sendiri (self-help) dari buku ini, kita mungkin mengapresiasi buku ini sebagai sebuah pengantar yang sangat perlu dibaca mengenai seorang figur yang sangat penting dalam sejarah Jepang pada masanya. Untuk itu, kehadiran buku ini dalam edisi Bahasa Indonesia patut dipuji, sebagaimana halnya pujian yang diberikan oleh Arvan Pradiansyah dan Andy F. Noya dalam endorsement buku ini.***

M. Iqbal Dawami
Staf Pengajar STIS Magelang


www.dinamikaebooks.com

0 komentar: