Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Selasa 4 Agustus 2009
Bermula dari pertemuan di Hotel Bilderberg, Belanda, pada 1954, Bilderberg Group menjelma menjadi sebuah organisasi rahasia yang mengendalikan dunia. Banyak hal yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesiakrisis ekonomi, pergantian rezim, perang, dan lain sebagainyatak lepas dari peran kelompok rahasia ini. Semua ini demi memantapkan hegemoni mereka.
Daniel Estulin, penulis buku ini, seorang jurnalis investigasi kelahiran Rusia yang telah menginvestigasi Bilderberg Group selama lebih 15 tahun. Buku ini menjadi international bestseller, telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dan diterbitkan lebih dari 49 negara.
Menurut hasil penelusurannya, komplotan Bilderberg ini tidak punya nama dan eksistensi resmi. Mereka beranggotakan politisi elite dunia yang berjumlah 100 orang lebih, terdiri dari para pakar keuangan internasional, bos-bos internasional, para pemimpin politik, dan keluarga-keluarga kerajaan Eropa, termasuk Pangeran Charles, Ratu Sophia dari Spanyol, dan Ratu Beatrix dari Belanda. Broker politik terkemuka, keluarga Rockefeller Amerika dan Rotchschilds Eropa, dikabarkan juga menjadi pilar-pilar komplotan tersebut.
Pengejaran yang tak kenal lelah oleh Daniel Estulin terhadap apa yang dibicarakan para pemimpin politik dan keuangan dunia dalam pertemuan tahunan mereka yang bersifat rahasia mengarah kepada pembongkaran rahasia yang mengejutkan, prediksi atas peristiwa-peristiwa di dunia, dan upaya mematikan cahaya yang dinyalakan oleh Daniel di tengah-tengah kumpulan rahasia yaitu peristiwa-peristiwa di dunia hanyalah permainan belaka, presiden-presiden dipilih, perang dibentuk, pasar energi pasar energi dimanipulasi, dan masih banyak lagi. Semua dengan kehadiran pers berskala besar, tetapi tidak pernah dilaporkan.
Mereka mengundang orang-orang yang dianggap sebagai perangkat yang berguna di dalam rencana globalis mereka dan kemudian dibantu untuk meraih posisi-posisi yang sangat kuat dalam pemilu. Contoh yang paling dramatis dari ini adalah Gubernur Arkansas yang tidak terlalu populer, Bill Clinton, yang menghadiri pertemuan Bilderberg pertamanya di Baden-Baden, Jerman, 1991. Di sana, David Rockefeller mengatakan kepada Clinton bahwa North America Free Trade Agreement (NAFTA) adalah prioritas Bilderberg. Untuk itu, kelompok tersebut membutuhkan Clinton demi mendukung mereka. Setahun kemudian, Clinton terpilih sebagai presiden, dan ia adalah pendukung kuat NAFTA.
Tokoh lainnya lagi, misalnya, Tony Blair. Ia menghadiri pertemuan Bilderberg pada tahun 1993, menjadi pemimpin partai pada bulan Juli 1994, dan terpilih sebagai perdana menteri pada bulan Mei 1997.
Daniel melukiskan bahwa anggota Bilderberg sangat piawai dalam melobi. Mereka juga perkasa menentukan kebijakan publik karena memiliki kekuatan politik yang sangat besar pengaruhnya di dua sisi Atlantik.
Uni Eropa, Perjanjian Roma, mata uang tunggal Eropa (Euro), akhir Perang Dingin, NAFTA, Brady Plan (Presiden Ronald Reagan menyediakan 50 miliar dollar AS untuk negara-negara dunia ketiga dan komunis) dan dipecatnya Margaret Thatcher dari kursi Perdana Menteri Inggris karena menolak dibentuknya Uni Eropa adalah contoh kecil dari sederet kuasa komplotan Bilderberg.
Mereka juga mengekspansi dunia internasional. Mereka menjalankan proyek-proyek internasional demi mengeruk kekayaan dunia dan mengokohkan kekuasaan mereka hingga bangsa-bangsa di negara berkembang menjadi "bangkai".
Jika mereka mengincar kekuasaan demi terlaksananya rencana, maka mereka segera ciptakan dan sebarkan politisi-politisi dan para ekonom kawakan. Mereka tak segan menebar suap, korupsi, dan pengaruh kepada organisasi-organisasi wadah berhimpunnya beberapa negara. Iming-iming imbalan kepada para pemimpin dunia itu berupa keuntungan besar.
Bagaimana mendapatkannya? Ide "internasionalisme" harus diterapkan. Caranya: petinggi dunia yang berhimpun itu diiming-imingi banjir dana proyek-proyek di negara-negara mereka. Tapi sebenarnya semua itu jeratan semata. Kekayaan bangsa-bangsa di negara dunia ketiga dikeruk habis.
Penjelasan tentang keputusan komplotan Bilderberg saat mereka mengadakan pertemuan tak pernah dipublikasikan. Sungguh, hal ini bertentangan dengan demokrasi dan hukum yang mereka gembor-gemborkan. Buku ini memperlihatkan bagaimana orang-orang yang paling berpengaruh memanipulasi dan mengontrol dunia demi melaksanakan agenda mereka.***
M. Iqbal Dawami
Blogger buku di

www.mediabuku.com
Bermula dari pertemuan di Hotel Bilderberg, Belanda, pada 1954, Bilderberg Group menjelma menjadi sebuah organisasi rahasia yang mengendalikan dunia. Banyak hal yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesiakrisis ekonomi, pergantian rezim, perang, dan lain sebagainyatak lepas dari peran kelompok rahasia ini. Semua ini demi memantapkan hegemoni mereka.
Daniel Estulin, penulis buku ini, seorang jurnalis investigasi kelahiran Rusia yang telah menginvestigasi Bilderberg Group selama lebih 15 tahun. Buku ini menjadi international bestseller, telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dan diterbitkan lebih dari 49 negara.
Menurut hasil penelusurannya, komplotan Bilderberg ini tidak punya nama dan eksistensi resmi. Mereka beranggotakan politisi elite dunia yang berjumlah 100 orang lebih, terdiri dari para pakar keuangan internasional, bos-bos internasional, para pemimpin politik, dan keluarga-keluarga kerajaan Eropa, termasuk Pangeran Charles, Ratu Sophia dari Spanyol, dan Ratu Beatrix dari Belanda. Broker politik terkemuka, keluarga Rockefeller Amerika dan Rotchschilds Eropa, dikabarkan juga menjadi pilar-pilar komplotan tersebut.
Pengejaran yang tak kenal lelah oleh Daniel Estulin terhadap apa yang dibicarakan para pemimpin politik dan keuangan dunia dalam pertemuan tahunan mereka yang bersifat rahasia mengarah kepada pembongkaran rahasia yang mengejutkan, prediksi atas peristiwa-peristiwa di dunia, dan upaya mematikan cahaya yang dinyalakan oleh Daniel di tengah-tengah kumpulan rahasia yaitu peristiwa-peristiwa di dunia hanyalah permainan belaka, presiden-presiden dipilih, perang dibentuk, pasar energi pasar energi dimanipulasi, dan masih banyak lagi. Semua dengan kehadiran pers berskala besar, tetapi tidak pernah dilaporkan.
Mereka mengundang orang-orang yang dianggap sebagai perangkat yang berguna di dalam rencana globalis mereka dan kemudian dibantu untuk meraih posisi-posisi yang sangat kuat dalam pemilu. Contoh yang paling dramatis dari ini adalah Gubernur Arkansas yang tidak terlalu populer, Bill Clinton, yang menghadiri pertemuan Bilderberg pertamanya di Baden-Baden, Jerman, 1991. Di sana, David Rockefeller mengatakan kepada Clinton bahwa North America Free Trade Agreement (NAFTA) adalah prioritas Bilderberg. Untuk itu, kelompok tersebut membutuhkan Clinton demi mendukung mereka. Setahun kemudian, Clinton terpilih sebagai presiden, dan ia adalah pendukung kuat NAFTA.
Tokoh lainnya lagi, misalnya, Tony Blair. Ia menghadiri pertemuan Bilderberg pada tahun 1993, menjadi pemimpin partai pada bulan Juli 1994, dan terpilih sebagai perdana menteri pada bulan Mei 1997.
Daniel melukiskan bahwa anggota Bilderberg sangat piawai dalam melobi. Mereka juga perkasa menentukan kebijakan publik karena memiliki kekuatan politik yang sangat besar pengaruhnya di dua sisi Atlantik.
Uni Eropa, Perjanjian Roma, mata uang tunggal Eropa (Euro), akhir Perang Dingin, NAFTA, Brady Plan (Presiden Ronald Reagan menyediakan 50 miliar dollar AS untuk negara-negara dunia ketiga dan komunis) dan dipecatnya Margaret Thatcher dari kursi Perdana Menteri Inggris karena menolak dibentuknya Uni Eropa adalah contoh kecil dari sederet kuasa komplotan Bilderberg.
Mereka juga mengekspansi dunia internasional. Mereka menjalankan proyek-proyek internasional demi mengeruk kekayaan dunia dan mengokohkan kekuasaan mereka hingga bangsa-bangsa di negara berkembang menjadi "bangkai".
Jika mereka mengincar kekuasaan demi terlaksananya rencana, maka mereka segera ciptakan dan sebarkan politisi-politisi dan para ekonom kawakan. Mereka tak segan menebar suap, korupsi, dan pengaruh kepada organisasi-organisasi wadah berhimpunnya beberapa negara. Iming-iming imbalan kepada para pemimpin dunia itu berupa keuntungan besar.
Bagaimana mendapatkannya? Ide "internasionalisme" harus diterapkan. Caranya: petinggi dunia yang berhimpun itu diiming-imingi banjir dana proyek-proyek di negara-negara mereka. Tapi sebenarnya semua itu jeratan semata. Kekayaan bangsa-bangsa di negara dunia ketiga dikeruk habis.
Penjelasan tentang keputusan komplotan Bilderberg saat mereka mengadakan pertemuan tak pernah dipublikasikan. Sungguh, hal ini bertentangan dengan demokrasi dan hukum yang mereka gembor-gemborkan. Buku ini memperlihatkan bagaimana orang-orang yang paling berpengaruh memanipulasi dan mengontrol dunia demi melaksanakan agenda mereka.***
M. Iqbal Dawami
Blogger buku di

www.mediabuku.com


0 komentar:
Posting Komentar