Jumat, 11 September 2009

[resensi buku] Mencegah Dunia dari Kiamat Dini

Harian Bhirawa, 11 September 2009

SEBAGAI kota besar yang jadi salah satu pusat peradaban manusia modern, Kota New York seperti gula yang mampu menarik minat semut untuk datang ke daerahnya. Namun kondisi itu ternyata tak hanya menarik masyarakat biasa, juga memicu terjadinya serangkaian ancaman keamanan dari kelompok tertentu yang ditujukan untuk menghancurkan New York.

Kita tentu ingat tragedi 11 Sepetember 2001, di mana pesawat pembajak berhasil merontokkan menara kembar World Trade Center. Tak hanya itu, 14 Agustus 2003, juga terjadi peristiwa Great Blackout, yang membuat seluruh penghuni New York, terutama Manhattan berada dalam kegelapan sebab aliran listrik putus sementara waktu.

Seperti diketahui, pemerintah setempat saat itu menyebut hal itu akibat masalah teknis. Padahal kegelapan yang diakibatkan putusnya pasokan listrik ke pusat kota bukan karena unsur teknis semata, melainkan akibat sabotase yang dilakukan makhluk jahat yang berusaha ingin menghancurkan kehidupan umat manusia.

Mengapa memilih New York? Karena kota yang memiliki ikon Patung Liberty tersebut dianggap sebagai pusat peradaban dunia, tempat kendali perekonomian dunia dijalakan. Sehingga jika mampu melumpuhkan New York, pasti dunia dengan sendirinya akan mampu ditakhlukkan. Begitu alasan yang dikemukakan makhluk jahat yang mengidentifikasi dirinya dengan sebutan IWNW, yang ingin melenyapkan manusia dari muka bumi.

The Malice Box hadir untuk mengungkap sepak terjang IWNW yang berusaha merebut kekuasaan dunia dari tangan manusia. Novel yang berlatarbelakang kehidupan warga negeri Paman Sam masa kini tersebut berupaya menjabarkan bagaimana upaya sistematis sang superjahat, IWNW, dalam tujuannya membunuh manusia melalui agen manusia yang dikuasinya, Adam Hale. Dan satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan kehancuran dunia adalah sang terpilih, Robert Reckliss.

Menyelamatkan Bumi
Setahun pasca Great Blackout, Robert Reckliss, seorang wartawan senior GBN, menerima sebuah paket berisi seperangkat tabung logam kemerahan yang asing. Sejak menerima bingkisan yang dikemudian hari disebut Malice Box -Sang Wahana—yang berarti kotak muslihat penuh dendam dari Adam Hale.

Sejak saat itu, Robert tak menyangka hidupnya bakal berubah drastis. Malam hari setelah menerima paket seorang narasumber yang akan diwawancarainya bunuh diri dalam situasi ganjil, yang menimbulkan berbagai spekulasi terkait kematiannya. Esok harinya, seorang teman lama mengungkap keberadaan sebuah bom misterius yang mampu menyapu habis peradaban barat dari muka bumi.

Tanggungjawab untuk menjinakkan bom berada di tangan Robert. Dirinya harus segera memulai penjelajahan menjalani serangkaian ujian yang berlangsung di berbagai sudut Manhattan, New York, untuk mengumpulkan tujuh kunci dalam waktu tujuh hari dengan merasakan tujuh ujian demi mencegah terjadinya ledakan besar dari Sang Wahana yang dilakukan IWNW.

Dalam situasi yang kritis pencarian Robert guna mengungkap teka-teki dimulai ketika sebuah komputer milik Adam Hale di tempat yang beralamat West Village dihidupkannya sesuai feeling yang mengantarkannya menuju tempat itu. Tak dinyana, ketika online jaringan komputer di depannya langsung menghubungkan Robert dengan pemilik identitas TerriC1111.

Tanpa diduga, keduanya seperti dipertemukan takdir dengan saling mengungkap segala teka-teki yang ada di benak masing-masing. Akhirnya dari komunikasi via dunia maya didapati bahwa kondisi itu sudah dirancang Adam Hale jika sewaktu-waktu dirinya sedang dalam bahaya. Meskipun tak saling mengenal sesuai petunjuk yang didapatkan, keduanya saling bertukar informasi.

Robert Rickless memulai misi menghentikan kekuatan jahat yang sedang mengancam kehidupan manusia di bumi dan menyelamatkan nyawa Adam, dengan dibimbing Terri seorang cenayang misterius, yang buta tetapi mampu memiliki penglihatan batin. Serta di bawah pengawasan khusus seorang Nadir, yang memiliki kekuatan istimewa yang bertugas menjaga dan mengawasi setiap langkah yang ditempuhnya agar tak tersesat mengikuti segala petunjuk guna mencegah IWNW mengaktifkan Sang Wahana.

Dalam misi pencarian itu, Robert yang tetap dalam kebingungannya tak kuasa menolak semua petunjuk Terri walaupun dia sendiri belum paham benar apa yang dilakukannya. Karena dia tak yakin sepenuhnya ada makhluk selain manusia di dunia yang berupaya ingin melenyapkan manusia.

Perjalanan mengungkap tabir itu bukannya berjalan mulus sebab ada sesi di mana Robert diserang pria asing yang wajahnya ditutupi balaklava, yang menginginkan benda yang berhasil didapatkannya.

Bukannya takut, yang terjadi malah Robert berhasil keluar dari situasi yang mengancam jiwanya tersebut setelah secara tiba-tiba mendapati dirinya menjadi kuat. Maka dia menyadari bahwa dirinya adalah Sang Unicorn yang memiliki kekuatan cahaya murni, yang harus menghadapi Minotaurus, yang berhasil marasuki tubuh Adam.

Setelah berhasil melewati semua tahapan, Robert dengan keberaniannya bertemu dan melihat sendiri sosok pemakan jiwa, IWNW. Sebagai parasit yang merasuki jiwa Adam, yang mereka ingin melenyapkan pusat pengendali perekonomian dunia dengan cara meledakkan pikiran milyaran orang dalam beberapa detik melalui Sang Wahana. Robert harus bertindak cepat dengan bertarung melawan 3 makhluk IWNW yang mengendalikan Adam. Mengingat jika terjadi ledakan, maka antar-etnis, suku, dan bangsa akan saling serang. Dan peperangan modern yang melibatkan seluruh negara di dunia akan berlangsung.

Di sinilah letak kehebatan penulis yang berupaya menyuguhkan cerita agar khas seperti novel thriller lainnya, di mana pembaca akan dibuat berdebar-debar menyaksikan perjalanan Robert menghentikan Adam yang ternyata sudah berhasil mendapatkan semua kunci untuk mengaktifkan Sang Wahana melalui perintah IWNW. Akankah kiamat itu benar-benar terjadi?

Untuk itu, Martin Langfield mengajak pembaca untuk tegang sampai akhir cerita dengan menikmati novel thriller yang berbalut sains ini agar membacanya sampai akhir, sebab pembaca sengaja tak diberikan kesempatan untuk berhenti sejenak menikmati isi novel.

Peresensi : Erik Purnama Putra, Aktivis Pers Bestari Unmuh Malang


www.mediabuku.com

0 komentar: